
Happy reading 🥰
"Ali siapa?"
"Apa aku mengenalnya?" tanya Mas Hamam kikuk, menyembunyikan agar tidak terlalu ketara kepo.
"Mengenal personal sepertinya tidak, tapi Mas Hamam pernah ketemu dia sih"
"Sekampung sama kita? Apa yang kamu maksud Mas Ali yang biasa nganter air galon?"
Datul menggeleng, dia mencampakkan seblak yang tinggal beberapa suap itu, lalu berbisik dengan raut wajah sok cute.
"Nei... ngawur! Eummm... Mas Hamam ingat supir bus yang kita tumpangi pas pulang dari Jogja? Yang ngasih kita gratisan..."
"Hlah itu dia orangnya, namanya Mas Ali... ughh... dia sangat baik tau Mas..." Pujian itu lolos begitu saja dari mulut Datul.
"Dia juga manis, suka ngirim makanan buat aku, hmmm... kayaknya fix dia jodoh yang selama ini aku tunggu"
Kalau ngirim makanan saja definisi orang manis bagi Datul, itu artinya Mas Hamam orang termanis dong, ambil kalkulator deh wahai Datul mentul-mentul. Berapa kali Mas Hamam traktir kamu makan.
"Ckk! ternyata ada udang di balik bakwan, yakin dia belum punya istri?"
"Udah cek KTP dia belum? SIM atau yang lainnya?"
"Dahlah Mas Hamam! kayak operasi tilang aja, pake minta KTP dan SIM gitu... aku tidak segila itu deh Mas"
Datul merasa Mas Hamam terlalu berlebih-lebihan sungguh. Lebih baik meneguk kuah seblak langsung dari mangkuknya daripada menanggapi serius ocehan Mas Hamam.
"Srrruuuupuuutttt....!!!"
"Barangkali! kamu kayak enggak tau trek record supir gimana, doyan wanita"
Hilih-hilih, mulai deh julidnya.
"Kasihan ya profesi supir, kesannya sudah di cap buruk dulu,"
"Ya emang gitu tabiatnya, doyan wanita, doyan mabok, doyan selingkuh. Jangan jauh-jauh deh, kamu kenal Yanto tetanggamu satu RT itu, gimana tabiatnya?"
"Istrinya masih hamil, malah dia juga hamilin anak SMA pelanggan naik bus dia, enggak ngeri kamu?"
Datul menggeleng cepat. Kalau belum dia telan kuah seblak tadi, ingin rasanya dia semburkan ke wajah Mas Hamam. Heran, mbok ya jangan gitu. Galon kan jadinya si Datul.
"Enggak! Mas Ali beda pokoknya! Mas Hamam mana boleh sama ratakan tabiat orang. Mas Ali sama Yanto itu beda, jangan di samakan mending di banding-bandingkan aja, jelas bagusan Mas Ali. Mas Ali orang baik, sopan, enggak aneh-aneh"
"Itu karena kamu baru kenal dia, laki-laki dewasa mana mungkin pacaran enggak aneh-aneh, yang ada banyak maunya nanti, pegang omongan ku"
"Tau ah, katanya temen, ikut seneng sedikit aja enggak bisa, males jadinya,"
"Terserah kamu, nanti kalau ada orang patah hati, aku tinggal keplok-keplok aja udah"
"Aghhhhhh... jahat sih Mas, sadis mulutnya"
"Udah bayarin Mas, mau pulang aku"
"Wenakk, obrolan kita belum selesai, jadi gimana mau latihan naik motor dulu pakai motorku atau nunggu beli motor dulu baru latihan?"
"Mas Hamam nawarin? jangan-jangan mau membelikan aku motor, jangan repot-repot Mas beneran!" Datul berbinar, jiwa pengemisnya mencuat di kala seperti ini. Meski dengan halus meminta.
Cetakk!
__ADS_1
Jidat Datul yang selebar satu kecamatan itu di sentil Mas Hamam. Hobi kayaknya gituin Datul.
"Kalau begitu tunggu aku jadi presiden dulu baru aku kasih sepeda motor"
"Mustahil dong"
"Hla itu tahu, lagian aku juga enggak tertarik jadi presiden. Seriusan ini, kalau enggak minta ajarin tuh pacar kamu dulu, nanti kalau udah bisa, baru aku antar buat beli, janji aku sumbang nanti,"
"Sumbang uang muka ya Mas? atau cicilan bulan pertama juga boleh"
"Dua puluh ribu buat ngisi bensin, hehe..." di ikuti cengiran Mas Hamam yang memabukkan. Datul masih menyimpan rasa hlo ini. Jangan nyengir gitu kenapa sih Mas? Datul mleot ini.
"Kirain... udah seneng dulu aku, huuu..."
"Hmmm... Mas setelah aku timbang, mending latihan sama Mas Hamam dulu, pakai motor Mas Hamam yang itu, kalau ada jatuh-jatuhnya yang penyok kan motor Mas Hamam. Hehe..."
"Lagian kalau minta latihan sama Mas Ali aku takut..."
"Takut apa?"
"Takut terlalu dekat, lalu dia bakal denger suara jantung ku yang dangdutan, jedag-jedug"
"Hehehe..."
"Kumat Tul? ayok pulang minum obat dulu"
Mas Hamam sianida! di pikir aku ini wong edan!
****
A Few moments later...
"Gas pelan-pelan aja Datul, jangan lupa rem tangan kanan dan kiri bareng-bareng,"
"Jangan rem kiri doang nanti kamu kejungkel bisa-bisa!"
"Rem Datul!"
Tubuh Mas Hamam sampai merosot ke depan. Dadanya jadi nempel kan di punggung Datul. Belum lagi bagian bawahnya. Duh ini Datul sengaja kali ya.
"Udah di bilangin, rem sambil gas di kendorin, astaga Datul!
Datul belajar mengendarai motor. Di jalan menuju pelabuhan, jalan kenangan yang mengingatkan Datul pada sosok brondong yang hampir saja mencuri ciuman pertama Datul. Siapa sangka ciuman pertama Datul malah orang yang duduk di belakangnya sambil terus ngomel sedari tadi.
"Datul! jangan belok-belok gitu, tangannya yang kuat!"
"Eh... eh... eh..."
Hembusan nafas Mas Hamam menyentuh leher belakang Datul. Sepertinya Mas Hamam mulai frustasi.
"Udah berhenti dulu!"
Mas Hamam turun motor, "Matikan dulu mesinnya!" lalu laki-laki tampan itu berkacak pinggang.
"Huh, sekarang aku tahu kenapa kamu malu minta latihan naik motor sama Mas Ali mu itu"
"Haaa... sudah aku duga. Bukan karena takut detak jantung mu bakal kedengaran dia, tapi kamu itu bodoh, lemot, masak dari tadi gitu aja enggak bisa-bisa!!!" Bentak Mas Hamam.
Mata Datul berkaca-kaca. Ini hari ke tiga mereka latihan, wajar saja aslinya Mas Hamam jengkel. Dari kemarin Datul tidak ada peningkatan.
__ADS_1
"Motor matic gini gampang pakai banget sih Tul, tinggal gas rem! gas rem! apa susahnya sih?"
Datul hanya diam. Merasai kebodohannya.
"Jangan diam aja, jawab apa susahnya!?"
Kali ini air mata Datul lolos begitu saja. Di bentak-bentak hati siapa yang tidak sakit. Iya Datul lama belajarnya, tapi bukan berarti Datul senang di katai bodoh.
"Huh, malah nangis lagi. Kapan bisanya coba!"
"Ayo coba sekali lagi!"
"Ogah! biarin enggak bisa naik motor! biarin kalau seumur hidup aku cuma bisa bonceng! dari pada di marah-marahi kamu terus Mas! Hiks... hiks..."
"Eh... nangis beneran?" Mas Hamam sungguh terlaluuu kamu.
"Huaaa... begituu syulit... belajar motor..."
"Begitu syulit... begitu syulitttt... begitu syuliittt... hiks, hiks..."
Mas Hamam tidak jadi kasihan. Ternyata air mata Datul hanya air mata buaya. Apaan nangis sambil nyanyi begitu sulit lupakan Raihan. Dih!
"Ayolah sekali lagi, enggak pakai drama nangis, enggak bakal kasihan aku!"
Datul menyeka air matanya. Dasar Mas Hamam sialan!
"Cepat Datul!"
"Nye-nye, nye-nye!"
Sore itu Mas Hamam bertekad mengajari Datul sampai bisa. Seakan besok kiamat dan mereka tidak bisa latihan lagi. Bukan tanpa alasan, besok-besok Mas Hamam bakal lebih sibuk lagi. Makanya Datul di paksa harus bisa hari ini.
Matahari sore menyisakan cahayanya yang berubah menjadi merah di sudut barat. Mas Hamam berdiri menyaksikan Datul yang sudah berani mengendarai motor sendiri, meski kecepatannya tak lebih cepat dari jalannya Gary, si siput milik Spongebob yang hobi tidur.
"Yeay, yeay, yeay! Mas Hamam aku bisa naik motor!" ucap Datul kegirangan. Dia bahkan mengendari motor beat itu memutari Mas Hamam yang berdiri di tengahnya. Sombongnya Datul. Sudah kayak pemain motor trail.
"Sini boncengin aku Tul, ayo pulang bentar lagi gelap"
Datul berhenti. Oke Datul mau coba memboncengkan Mas Hamam. Tapi nanti nyebrang jalan raya gimana. Datul lupa belum belajar bab itu.
"Hehe... Mas tapi aku belum berani kalau menyebrang jalan raya... kamu belum ajari yang itu..."
Mas Hamam meraup wajahnya keras-keras. Mas Hamam lupa, Datul kan bodoh.
Begitu syulit... begitu syulitttt....
_
_
_
_
Ada yang kangen enggak sih sama mereka?
Hihi, maap sibuk di real life... jadi bolong update 😁
Tapi syukurlah sekarang Datul udah nemu endingnya bakal gimana... cerita ini enggak bakal panjang-panjang. Jadi mohon dukungannya ya kakak-kakak cantik😚
__ADS_1
Love kalian❤️