Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 52: Gazebo


__ADS_3

Datul duduk di gazebo memangku kotak P3K sembari memainkan kakinya, sesekali kaki Datul berayun menendang pasir di bawahnya. Sedangkan Mas Hamam, orang yang akan dia obati luka-lukanya itu sedang berdiri lima ratus meter darinya bersama Gilang. Dua laki-laki itu nampak mengobrol serius sebelum akhirnya Gilang menepuk bahu Mas Hamam lalu pergi.


Hamam berjalan tertatih ke arah Datul. Biar saja, Datul tak berniat membantu karena sudah lelah sendiri memapah laki-laki itu turun dari bukit karang. Itu kakinya beneran sakit apa kesemutan ya? Keterlaluan banget sih si luwak, udah bikin Mas Hamam cidera.


"Udahan ngobrolnya? ngomongin apa sih Mas?" Datul udah kepo sejak tadi, jadi belum sempurna pantat Mas Hamam nempel di gazebo gadis itu sudah mengajukan pertanyaan.


"Tomi udah cerita ke yang lain kalau kita berantem tadi"


"Berantem apa? ada Mas Hamam di pukuli, heran, kenapa Mas Hamam enggak ngelawan sama sekali?" Hamam menatap manik mata Datul. Gadis yang kaya akan jerawat itu terlihat lucu kalau sedang mengomel.


"Hei, malah bengong!"


"Sejak kapan kamu ceriwis!" Duh, Mas Hamam apaan sih, mana pakai acara menowel hidung Datul yang tidak begitu mancung. Datul hatinya gampang mleot. Apalagi tadi udah, khem... di kecup.


Wajah Datul jadi merona. Malu. Tiba-tiba Datul kayak orang bisu.


"Bakal enggak enak kalau kita semobil bareng Tomi, pasti canggung, dari pada ganggu liburan yang lainnya, aku tadi ngomong ke Gilang minta di tinggal aja"


Sek, sek, nass sek! Otak Datul masih lemot. Mas Hamam minta di tinggal, terus bagaimana nasib mereka. Pulang naik apa? Tapi masak iya jauh-jauh dan waktu masih panjang mereka harus sudah pulang. Ah Datul belum puas kalau belum ke Malioboro. Datul pengen foto di depan tiang papan bertuliskan Jalan Malioboro. Itu hlo yang sering di buat foto-foto.


"Kamu enggak keberatan kalau kita cuma berdua kan?"


Sebenarnya enggak, seneng malah. Tapi Datul takut kalau habis seneng terus baper terus nangis.


"Eumm... terus kita kemana? langsung pulang? naik apa? emang ada angkutan dari sini?" Malu bertanya sesat di perempatan, Datul langsung aja tanya daripada bingung sendiri.


"Kamu maunya gimana? sebenarnya aku kalau wisata di Jogja udah hampir semuanya udah pernah, jadi males pengennya istirahat tidur"


Yah kalau gitu ngapain dari awal Mas Hamam ikut? Masak ke Jogja mau pindah tidur doang, mana asyik!


"Aku pengen ke Malioboro" ucap Datul cepat.


"Eh mau ngapain? di sana enggak ada apa-apa, cuma kayak pusat oleh-oleh aja sih"


"Aku pengen, kelihatannya asyik aja, menikmati suasana malam di sana, tapi kalau Mas Hamam ngajak pulang ya ayo, aku manut"


Hamam menilik jam di pergelangan tangannya. Baru jam sebelas. Bingung juga mau kemana selanjutnya. Mana sekarang mereka tidak ada alat transportasi. Hamam baru ingat saat berangkat dia sama sekali tidak menghitung uang di dompetnya. Sok pisah dari kelompok lagi. Mereka juga belum makan dari pagi.


"Dari sini kalau mau ke pusat kota butuh waktu dua jam, kalau kita pergi sekarang sampai sana masih siang, mau ngapain coba? panas-panasan?"


"Hla terus kita ngapain di sini? nyemplung lagi ke air? bisa-bisa mateng juga Mas"


"Ya udah sih tinggal tiduran aja..."


"Dimana?"


"Di sini boleh, gratis" Hamam drengesan.


"Mas!"


"Apalagi?"


"Laper, mau makan"


Hla ini, jiwa Hamam langsung ketar-ketir. Datul makannya banyak, Hamam hafal karena sering jajanin dia. Udah makan nasi mesti nanti masih minta siome, cilok, dan kawan-kawan. Minta ke Malioboro bisa-bisa ke sana jalan kaki karena uang habis duluan.


"itu kotak P3K fungsinya buat apaan sih?" Hamam mengalihkan pembicaraan. Habis ini mau ijin ke toilet dulu ngitung uang.


"Ah sampai lupa, tadi aku kan mau ngobati luka kamu Mas, geseran sini, aku obati"

__ADS_1


Hamam menggeser duduknya jadi berhadapan dengan Maidatul. Gadis yang kaya akan jerawat itu membuka kotak P3K lantas bingung sendiri. Mau mengambil obat apa. Betadin? Balsem? Minyak kayu putih? Diapet? Datul menyesal semasa sekolah tidak ikut PMR.


Luka Hamam itu berupa lebam-lebam di area mata dan sudut bibirnya. Masak iya di kasih balsem.


"Bingung kan kamu?"


Datul mengangguk lalu nyengir pamer gigi. Padahal giginya tidak begitu bagus buat di pamerin.


"Kompres pakai es batu Tul!"


"Oh... tahu gitu tadi pinjam kain sekalian beli es, tolol banget sih aku ini malah minta kotak P3K"


"Baru sadar?"


Datul berdecak lalu berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Balikin ini, terus pinjam kain ke warung, sekalian minta es batu kan?"


"Makasih... jangan lama-lama!"


Tidak lama kog Mas, gitu amat kayak kita pasangan ke kasih aja. Enggak bisa lama-lama jauhan!


Berhubung Datul pergi, Hamam cepat-cepat mengeluarkan dompetnya. Menghitung uang yang ternyata cuma ada empat lembar uang seratusan. Mana cukup buat berdua. Hamam berpikir keras. Bagaimana cara berhemat agar uang itu cukup untuk ongkos pulang juga. Gengsi kalau minta Datul patungan.


Detik berikutnya Datul kembali, terlihat jalan sambil nyedot es teh. Hamam nyir-nyir dalam hati.


Kayak gitu kog berharap jadi pacar gue, enggak ada anggun-anggunnya.


Di batin seperti itu Datul tersedak. Terbatuk-batuk.


Datul mengelap air es teh yang lewat lubang hidungnya. Pedih rasanya kayak hidup Datul.


"Kayaknya ada yang ngomongin aku deh Mas" Padahal Haman yang nyir-nyir tadi.


"Ngada-ngada, mana kompresnya"


"Nih!" Datul menunjukkan serbet kotak-kotak yang biasa buat ngelap meja di warung.


"Bersih enggak itu? jangan sembarangan"


"Ceriwis! bersihlah masak serbet kotor buat ngompres wajah Mas Hamam yang glowing, Yo rak tegel aku Mas"


"Es batunya?"


"Nih, pakai es batu yang ada di es teh ku aja Mas, mau beli nanti malah mubazir di buang sisanya"


"Ya Tuhan, nanti mukaku lengket semua Tulai Khan!"


"Hih, Mas Hamam dari tadi ceriwis, udah diem, sini mukanya" Datul memaksa wajah Hamam agar sedikit mendongak. Biar mudah ngompresnya.


Nyuttt!!!!


Baru sekali tempel. Hamam sudah memekik kesakitan.


"Gayanya tadi bilang nyeri doang sih ini, dih ujungnya sambat sakit juga"


"Ya kamu pelan-pelan nempelnya, enggak perlu sambil emosi"

__ADS_1


Duh, enggak tahu aja Mas Hamam. Itu karena hati Datul sedang indianan. Deg-degan asli, apalagi lihat bibirnya Mas Hamam yang begitu dekat. Kan jadi ingat yang tadi.


Astaghfirullah...


"Kamu kenapa merem-merem gitu?"


Bushett, Datul tidak sadar berekspresi seperti itu.


"Cacingan?" sambung Hamam. Enak aja, gizi Datul terpenuhi kali Mas.


"Apaan? aku cuma lagi mikir" elak Datul. Mana mungkin jujur kalau Datul terbayang-bayang.


"Apa?"


"Tomi bakal maafin kita enggak ya?"


"Pesanku dari tadi cuma centang satu"


"Udah pasti kamu di blokir, apal aku sama tingkah dia, ngambekkan kek perawan"


"Mas Hamam enggak takut gitu kehilangan teman?"


"kami temenan udah lama, biasa dia pasang alarm kapan harus baikan, kalau alarm itu blom bunyi ya selama itu dia ngambek, jadi kamu enggak usah khawatir,"


"Dia pasti kecewa banget sama aku Mas, aku enggak bisa jadi selingkuhan yang baik"


Mata Hamam langsung melotot. "Ckkk... kalian itu dari awal udah salah menjalin hubungan, bagusan putus"


"Sok paling bener kamu Mas" Padahal kayak gini juga dia sebabnya.


"Emang aku benar, aku enggak pernah salah!"


"Terus tadi ciuman itu apa? kebenaran atau kesalahan?" tembak Datul.


Hamam auto megap-megap. "it--u..."


"Itu apa hah? udah kompres sendiri nih, sebel jadinya aku Mas"


Orang kog suka tarik ulur perasaan, di kira aku celana kolor?!


"Tul woi! mau kemana heh?"


"BELI MAKAN! MAS HAMAM PIKIR DI BOHONGI ENGGAK BIKIN LAPER!!?"


Hamam tertohok, dia yang bohong tadi pagi.


Sampai mereka terlantar belum makan sampai siang.


"Bungkus buat aku ya Tulai Khan!"


"Ckk..."


Meski sebel, Datul tetap membungkuskan nasi gudeg buat Hamam. Itung-itung gantian, biasa juga Mas Hamam yang jajanin. Tapi Datul masih jengkel ya... jangan harap Datul lupa kalau ciuman pertamanya di curi begitu saja.


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2