
Hari berikutnya mereka bekerja sangat giat. Mas Hamam sibuk lembur demi mendapatkan uang tambahan modal nikah. Sedangkan Datul giat bekerja karena hanya tersisa dua bulan lagi dia di sana. Peraturan SPBU di tempat Datul bekerja tertulis jika karyawan akan menikah, maka wajib mengajukan resign satu bulan sebelumnya.
Datul sudah tahu sejak pertama kali menandatangani kontrak kerja di awal. Maka dari itu batinnya sudah siap jika nantinya predikat pengangguran akan dia sandang kembali. Ah sudahlah, toh nanti dia dapat predikat baru lagi. Jadi seorang istri dari Hamam Amirul Mukminin. Bukankah bisa menjadi istri dari laki-laki tampan sekabupaten itu juga prestasi? Ya setidaknya bagi Datul.
Datul melipat mukena yang baru saja dia pakai ibadah. Masih tersisa tiga puluh menit jam istirahatnya. Dia tidak ingin makan siang, bukan karena tidak punya uang seperti dulu. Datul cuma ingin menjaga berat badan menjelang pernikahan. Bagaimanapun caranya saat menikah nanti tubuhnya harus kelihatan bagus, jadi pas di foto terlihat estetik dan pantas di pajang di figuran ruang tamu.
Datul memutuskan untuk rebahan saja sambil berbalas pesan dengan ayang. Bibirnya terus tertarik, tersenyum seperti orang gila. Mas Hamam selalu mengirimkan pesan-pesan romantis meski terkadang garing. Tapi tak apa Datul tetap suka. Sesekali Datul membuka galeri di ponselnya. Seperti tidak ada bosan-bosannya dia mengamati foto-foto pertunangannya dengan Mas Hamam tempo hari.
Hah, apa aku bilang, diam-diam aku memang cantik, hehe....
Datul terkekeh sendiri setelah membatin seperti itu. Di ingat lagi tingkah lakunya memang konyol. Sengaja dia bilang ke sahabat-sahabatnya yang datang, agar mereka tidak dandan. Karena mereka sayang Datul, jadilah mereka turuti saja keinginan Datul. Teman-temannya tidak bedakan tidak juga pakai lipstik. Jadilah Datul yang terlihat paling glow up di antara mereka yang kusam.
"Hehehe..."
Indah yang baru masuk jadi berjingkat kaget. "Mbak Datul ngagetin!"
"Hahahaha..." Yang di tegur malah tambah menjadi-jadi ketawanya.
"Apaan sih Mbak, Mbak enggak kesurupan kan?"
"Hahaha... enggaklah, aku cuma lagi bahagia..."
Indah mendengus baru kemudian menjatuhkan pantat di samping Datul yang tetap rebahan. "Iya tahu, yang otw halal!" Datul masih senyum saja.
"Lihatin apaan sih Mbak?"
"Foto-foto pas lamaran kemarin dong, aku cantik ya..."
"Agh, terus aja di pelototi, Mbak Datul yang sendirian terlihat cantik, aku sih trauma lihat wajahku sendiri, ampunnnn keluwusnya..." Indah terlihat menyesal karena mengikuti ide sesat temannya itu.
"Hahahaha... tidak apa, nanti ada hari dimana kamu berhak terlihat paling cantik sendiri, btw makasih bestie," ucap Datul sambil menepuk-nepuk bahu kawannya.
"Lagian Mbak Datul ide dari mana juga, demi terlihat cantik sahabatnya di suruh jelek, cih!"
"Hmm, itu buah pemikiran ku sendiri tau, dengernya, kalau kamu tidak bisa terlihat cantik meski di make up, maka buatlah orang-orang di sekitar mu terlihat burik, wkwkwkwkwk!"
Dalam hati Datul bangga sekali, ternyata dia cukup pintar. Ah bolehkah itu di patenkan jadi quotes?
"He-he-he, ngakak aja teros!" Indah bangkit lalu pergi keluar.
"Woi, jangan ngambek! nanti kan masih bisa di filter kalo mau di bikin story"
Apa Datul kelewatan ya? Indah seperti marah sungguhan. Tapi setelah Datul pastikan lagi, ternyata Indah pergi bukan karena marah, tapi kebelet pup. Syukurlah.
Saat Datul akan bersiap untuk kembali bekerja. Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk. Dari nomor yang tidak di kenal.
__ADS_1
Pesan pertama berupa gambar screenshot foto Datul dan Mas Hamam saat tunangan kemarin. Datul sengaja menguploadnya di Instagram. Agar dunia tahu kalau sebentar lagi Mas Hamam miliknya seorang.
Mata Datul membola saat membaca pesan di bawahnya.
^^^Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia!^^^
Datul tidak punya kekuatan untuk membalas pesan itu. Baru kali ini dia mendapat pesan jahat seperti itu. Lalu pesan berikutnya muncul. Jari Datul langsung memencet video yang masih ngeblur karena harus di download dulu. Sebuah video. Tubuh Datul bergetar sangking shocknya. Satu tangannya membekam mulutnya sendiri agar dia tidak berteriak histeris.
Video itu menampilkan Datul yang sedang membuka baju. Dari baju atas hingga bawah. Wajah Datul terlihat jelas. Begitu juga saat bajunya dia lepas sendiri, menampilkan penutup gunung berwarna merah jebret. Lalu tubuh Datul yang telanjang terekspos meski dari atas.
^^^LIHAT! APA KAU INGIN VIRAL! MENYAINGI KEBAYA MERAH???^^^
^^^DUA GUNUNG MILIK MU TERNYATA BENAR - BENAR INDAH, SANGAT MENGODA ^^^
^^^KALAU TIDAK INGIN VIDEO ITU TERSEBAR DI MEDSOS ^^^
^^^SIAPKAN UANG 50 JUTA!^^^
^^^WAKTU MU HANYA DUA MINGGU UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN ^^^
^^^JANGAN COBA LAPOR POLISI ATAU CALON SUAMI MU YANG KAMPRET ITU, KARENA SETIAP GERAKAN MU TERPANTAU OLEH KU^^^
^^^HAHAHA^^^
Datul malu pada Mas Hamam dan keluarganya. Dia di terima dengan tangan terbuka. Datul tidak bisa membayangkan bagaimana kalau vidio itu tersebar. Itu artinya Datul seperti melempar kotoran di wajah mereka. Pernikahan Datul bahkan bisa terancam gagal.
Lalu apa? kalaupun Datul bisa memberikan uang sejumlah yang laki-laki itu minta, terus mendapatkan Vidio itu. Apa Datul mampu menyimpan kejadian ini seumur hidupnya. Tubuhnya telah di lihat laki-laki lain, sebelum suaminya.
Aku harus membatalkan pernikahanku, bagaimana pun caranya!
****
Mas Hamam merasakan ada yang aneh dengan Datul. Datul tidak seperti hari-hari sebelumnya. Gadis itu banyak diam dan mengabaikan Mas Hamam. Entah berapa pesan yang di abaikan Datul. Saat Mas Hamam ingin menemuinya langsung, Datul selalu menghindar. Dia bilang dia sedang tidak enak badan dan butuh istirahat.
Mas Hamam jadi uring-uringan. Pun dia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Berangkat pagi pulang malam. Tubuh dan pikirannya sudah lelah. Di tambah sikap Datul yang aneh.
Apa hal itu wajar terjadi pada pasangan yang akan menikah. Atau aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari? dan Datul jadi marah?
Mas Hamam menjatuhkan kepalanya di antara kertas yang berserakan di meja kerjanya. Komputer masih menyala di depannya.
Aku tidak bisa biarkan ini berlarut-larut, malam ini juga jika harus menerobos masuk ke kamar Datul lewat atap, aku jabani!
****
Mas Hamam mengendap-endap di samping kamar Datul. Penerangan lampu yang temaram membantu menyembunyikan bayangan laki-laki itu. Jam menunjukkan sudah hampir jam dua pagi. Mas Hamam nekat.
__ADS_1
Setelah di pikir lagi terlalu merepotkan kalau lewat atap rumah. Maka dari itu Mas Hamam menyiapkan alat untuk mencongkel jendela kamar Datul saja. Tingkahnya sudah mirip maling yang sedang beraksi. Mas Hamam bahkan pakai baju serba hitam lengkap dengan penutup wajah.
Ada alasan kenapa dia nekat. Kalau di temui pagi-pagi sebelum Mas Haman berangkat kerja, Datul sudah lebih pagi pergi. Di temui di tempat kerja pun, Datul menghilang duluan.
Satu congkelan gagal. Dengan sekuat tenaga Mas Hamam mencongkel kembali jendela itu. Dan berhasil setelah keringat membasahi tubuhnya.
Ternyata jadi maling juga butuh keahlian. Beuhhhh!
Mas Hamam melompat dengan hati-hati. Dan sialnya kaki Mas Hamam terhalang meja kecil tempat Datul menyimpan alat makeup dan cepuk-cepuk krim jerawat. Botol handbody terjatuh menimbulkan suara, Mas Hamam meringis karena tahu bakal ketahuan.
Eh tapi, ternyata Datul masih anteng terlelap. Mas Hamam lanjut masuk, dan ciahhhhh.... berhasil! Mas Hamam melepas penutup wajahnya.
CK! dia bisa tidur nyenyak sementara aku kelimpungan gara-garanya!
Mas Hamam mode jengkel. Dia berfikir harus memberikan Datul pelajaran karena berani mengabaikannya. Mas Hamam menelusup ikutan tidur di samping Datul. Laki-laki tampan itu memeluk tubuh Datul dari belakang. Diam-diam dia juga memendam rindu.
Datul yang terlelap mulai terusik karena merasakan ada tangan yang melingkari tubuhnya. Tubuh Datul membalik. Matanya mulai mengerjap-ngerjap. Lalu sesosok wajah tampan terpampang tepat di wajahnya. Menyisakan jarak yang tak seberapa.
"Hai, Maidatul Khan, maaf mengganggu tidur mu"
Sebelum Datul berteriak, Mas Hamam mengecup bibir Datul lebih dulu. Hening. Datul merasakan jantungnya sedang jumpalitan di sana. Dia sebenarnya juga merindukan Mas Hamam. Tapi keputusannya sudah bulat untuk membatalkan pernikahan itu. Dia bahkan sudah merancang akan kabur kemana saat hari itu tiba.
Datul tidak berkutik seperti sedang di hipnotis dengan wajah di hadapannya. Mas Hamam mengamati wajah Datul lekat-lekat. Tangannya dengan lembut menyelipkan helaian rambut Datul yang menutupi mata gadis itu.
"Jangan abaikan aku, kamu tahu seberapa aku sudah jatuh mati di pelukan mu"
"Aku sudah tergila-gila padamu, wahai Maidatul Khan"
"Jadi jangan abaikan aku, hmm! "
_
_
_
_
Maaf updatenya lama, othor beberapa hari tidak enak badan mungkin karena cuaca. Kepala sering pusing, tapi ini sudah mendingan🙏
Di ingatkan kembali kalau cerita ini tidak akan panjang ya, jadi sewaktu-waktu bisa tamat. 😁
Siapkan jantung kalian karena kita akan masuk ke konflik akhir.
Terimakasih sudah sabar menunggu 🙏
__ADS_1