Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 28: Gang 3


__ADS_3

Dikira mau ke pesta ga butuh gaun baru?


Datul hampir stres setengah mati saat memikirkan hal itu. Belum di tambah bagaimana nanti dia menutupi jerawat-jerawat di wajahnya. Alamak, mana Hamam ngancem ga mau berteman. Kehilangan teman ganteng itu bagi Datul kayak bakal kehilangan harta karun. Meski belum pernah sama sekali nemuin harta Karun sih.


Maka dari itu, Datul tidak berpikir dua kali saat di ajak temannya untuk bekerja di sebuah warung makan. Entah nanti di suruh jadi tukang cuci piring tak apa, yang penting dapat upah buat beli gaun baru.


Namanya Siti, teman SMA Datul yang senasib karena sama-sama belum mendapatkan pekerjaan semenjak lulus sekolah.


"Siti, sebelah mana warungnya?"


Datul mulai lelah, terik matahari pun ikut andil membuat Datul yang berjalan, berkeringat pula. Percuma pakai parfum banyak-banyak tadi.


"Aku juga belum tahu pastinya, kalau di lihat dari alamatnya sih udah ga jauh dari sini ya"


Ada satu hal yang mengganjal di pikiran Datul sejak tadi. "Aku ga lihat ada warung, malahan dari tadi adanya cuma rumah-rumah bergambar aneh-aneh. Terus itu, kenapa tiap kita lewat orang-orang pada ngelihatin sih?"


"Ya mungkin bagi mereka gambar-gambar itu seni, atau gang ini niatnya mau di bikin kayak kampung pelangi pakai konsep mural gitu, kalau orang-orang pada ngeliatin mungkin karena kita cantik" jawab Siti polos. Mereka berdua memang minim pengalaman.


Cantik di lihat dari ujung sedotan ale-ale? Datul mencibir, lalu bertanya lagi.


"Oh ya, apa iya nanti gajinya UMR? baru tahu aku kalau kerja di warung makan ada yang berani gaji sebesar itu"


"Yaaa, si ibu yang punya warung beneran bilang gitu kog, tadi kan udah sempet telpon"


Mungkin Siti paham kalau Datul khawatir, lagi-lagi gadis itu berusaha meyakinkan Datul.


"Jangan khawatir, kalau ga cocok tinggal pulang aja, yang penting kita lihat kerjaannya dulu"


Mereka semakin berjalan masuk ke dalam gang itu. Semakin masuk, deretan rumah berjejeran semakin padat saja. Di bayangan Datul, mungkin warung makan itu cukup besar sehingga tawaran gaji besar pun tak mustahil.


"Mana warungnya, jangan-jangan kita nyasar"


"Kamu telpon lagi deh ibu itu"


"Iya ini aku telpon, moga aja pulsanya cukup,"


Siti mendeal satu nomor, untung langsung di angkat.


"Hallo MAK, INI SAYA SUDAH DI GANG TIGA, WARUNGNYA SEBELAH MANA???"


Datul menjawil Siti, mulutnya komat-kamit protes gara-gara Siti telpon dengan nada yang keras. Siti tak bergeming, masih aja ngomong keras sampe urat-urat di lehernya kelihatan.


"KOWE NANG NDI?!" (kamu di mana)


Walah ternyata yang di telpon sama saja. Datul yang jadi pendengar mereka ngomong aja capek sendiri.


"UDAH MASUK GANG INI!"

__ADS_1


"HLAYO ANCER-ANCER MU NANG NDI!" (posisimu dimana)


Siti memindai sekitar, tak ada papan alamat atau nama gedung berarti di sana. Ya sudah yang di mata Siti mencolok dia sebutkan.


"DEKAT RUMAH DUA LANTAI, WARNA PINK, ADA GAMBARNYA BARBIE, TERUS ADA TULISAN, eeuumm... RUMAH BARBIE..."


Belum ada sahutan dari seberang. Malah yang terdengar suara brebek-brebek ga jelas.


"MAK, DENGAR GA SIH???"


"IYO!!! KRUNGU!!! WES CEDAK KUI, MLAKU LURUS SITIK, TEROS NGULON, TAK ADANG NANG NGAREP KIE" (Dengar, sudah dekat itu, jalan lurus sedikit, terus ke barat, tak tunggu di depan)


"O... YA, YA... KITA JALAN LAGI" akhir Siti.


"Kata Mak e, kita tinggal lurus terus belok ke barat sedikit, udah di tunggu, ayo!'


"Syukurlah kalau sudah dekat"


Di hati keduanya kini bersemangat lagi. Harapan mereka sangat besar. Dua tahun setengah menganggur, bukan hanya masalah tak berpenghasilan, tapi juga kenyang cibiran saudara atau tetangga julid.


Sambil berjalan Datul bercicit. "Siti, tadi itu rumah Barbie maksudnya jualan boneka Barbie kali ya?"


"Wah andai aku punya uang, kalau mau membelikan boneka Barbie buat ponakan, beli di situ aja barangkali lebih murce"


"Iya kali... " balas Siti singkat.


Baru belok ke arah barat mereka sudah di sambut lambaian tangan ibu-ibu berbadan gempal dengan rambut merah menyala.


Datul menelan ludah. Di pikirannya ibu-ibu dengan penampilan seperti itu terkesan galak dan cerewet. Mengerikan, bisa-bisa tiap hari Datul makan ati lanjut bronkitis.


Mereka pun mendekat. Di benak keduanya mungkin ada tanda tanya yang sama. Di mana warung makannya? Kenapa cuma tenda biru ala kadarnya?


Informasi tambahan, Siti ini bertemu wanita gempal berambut merah menyala itu kemarin saat naik busway. Terus ngobrol singkat di akhiri dengan tawaran kerja di warung dengan upah menggiurkan. Tapi kalau warungnya cuma tenda macam itu. Masak iya si ibu sanggup mengaji UMR, untuk dua orang lagi.


Mereka menyalami si ibu kemudian di persilahkan duduk di bangku panjang yang ada di depan warung.


"Meh ngombe opo tak gawekno" (mau minum apa tak buatin)


"Ga usah repot Mak, ini kenalin teman saya, namanya Datul" Datul mengangguk sopan.


"Kesel mesti, mlakune rene rodo adoh yo" (capek mesti, jalan kesini agak jauh)


"Lumayan Mak, kita baru kali ini masuk sini, kayaknya penduduknya cukup padat ya Mak, tapi rumah-rumahnya kelihatan sepi, ada orang nongkrong cuma beberapa tadi pas di depan sana" Datul biarkan Siti yang bicara banyak. Dia jadi pengikut seperti biasa.


"Iyolah, kene rame nak bengi, wes do kesel melek bengi, yur yahene wayahe do turu leren, kesel nak mekangkang" (Iya, disini ramai kalau malam, sudah pada capek begadang, jadi waktunya pada tidur istirahat, capek mekangkang)


Sek, Datul mencerna kata-kata terakhir Mak e itu. Mekangkang? Kerja apa itu?

__ADS_1


"Hlah, jualan apa Mak mekangkang itu? sahut Siti mewakili pikiran Datul.


Si Emak malah ketawa ngakak. "Hahaha...Dodol apem!"


Datul membayangkan jualan apem sambil mekangkang. Pantes capek! Kenapa sih mereka ga jualan sambil duduk aja?


"Piye gelem kerjo nang kene? Mangkat sore balik bengi... rame warungku iki sampe jam loro isuk, kadang sampe jam papat Yo seh ngedoli wedang" (Gimana mau ga kerja sini? berangkat sore pulang malam... ramai warung saya ini, jam dua pagi, kadang sampai jam empat ya masih ada yang beli minum)


"Pulange malem jam berapa Mak?"


"gampang mengko kui, delok sikon, penting gajine gede nak awakmu pinter nyambi"


"Gajimu bakal ngeluwihi UMR, wes toh percoyo"


Datul dan Siti meringis. Semakin ragu. Meski polos tapi namanya manusia pasti punya firasat saat berada di zona bahaya.


"Mak, maksudnya nyambi gimana? kita kerja di warung bisanya bantu-bantu, kalau di minta nyambi masak maaf ga bisa?"


"Ora-ora! kalian ngeladeni wae nang ngarep, urusan dapur ono dewe" (Tidak, kalian melayani saja di depan urusan dapur ada nanti)


"Tapi, koncomu kui wajahe Kon ndempul sing kandel, jerawate parah yo" ( temenmu suruh bedakan yang tebal, jerawatnya parah ya)


Datul terperanjat, jualan di warung pun harus kelihatan cantik ya?


"Gimana Tul, terima ga ini?" bisik Siti.


"Ragu aku, kayane Bapak ga bakal ngijini kalau pulange sampe malem, belum lagi kalau di suruh sampai jam dua pagi, bisa-bisa aku ikutan di goreng bareng kerupuknya, Sit"


"Hmm... aku juga, mana kalau kena angin malam biduren ku suka kambuh tiba-tiba, bisa garuk-garuk gatel semua badanku"


"Piye? gelem toh?"


"Eummm... eummm...."


Datul dan Siti saling pandang. Mau nolak tapi ga enak hati juga.


Bersambung....


_


_


_


_


Dimana sih mereka? kog saya malah yang ketar-ketir 😁

__ADS_1


Like, komen, bagi hadiah...


Sampai jumpa Minggu depan🥰 suwun😁


__ADS_2