Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 66: Jam Tiga Pagi


__ADS_3

Datul membuang gengsi ke laut, demi Mas Ali.


Membayangkan Mas Ali kesusahan sungguh Datul tak sanggup.


"Gimana Mas, ada?"


"Buat apa kamu pinjam uang sebanyak itu hah?"


Hamam menautkan kedua alisnya, curiga. Pasalnya Datul itu hanya butuh menyicil motor. Bapaknya juga sehat, sedang tidak di rawat di rumah sakit. Masak mau buat beli skincare? itu lebih tidak masuk akal. Apalagi jika di telisik penampilan Datul saat ini. Wajahnya kusam, bekas jerawat di mana-mana, di tambah tubuh Datul yang terlihat kurusan.


"Ada deh, aku benar-benar butuh secepatnya"


"Berikan alasan yang masuk akal dulu, baru aku bantu"


"Aku butuh uang Mas, alasan apa Mas Hamam tidak perlu tahu,"


"kalau Mas Hamam enggak bisa bantu, ya udah aku pinjam ke rentenir aja" Datul merenggut, mungkin ada baiknya dia mencari pinjaman ke orang lain.


"Heh, jangan sembarangan, rentenir itu kalau ngasih bunga enggak main-main, kamu mau terjerat hutang?"


Aku terjerat cinta Mas Paijo, asal Mas Hamam tahu. Eh, kayak judul novel😁


Maksudnya, terjerat cinta Mas Ali.


"Gimana lagi wong Mas Hamam enggak ngasih, temenku juga enggak banyak yang bisa di utangi"


"Jujur dulu, buat apa uang sebanyak itu?!"


"Ah sudahlah Mas, aku gadaikan ATM ajalah ke rentenir"


Datul bangkit hendak pulang. Tapi Mas Hamam menahan lengannya. Mana tega dia sama Datul. Lagi-lagi bayangan Datul yang kayak hilang akal dan nyaris tertabrak kereta api melintas begitu saja. Aneh memang, bukan Datul yang trauma karena kejadian itu, malah Mas Hamam. Yang notabene saksi mata sekaligus penolong Maidatul Khan.


"Aku pinjami, tapi awas aja kalau kamu pakai uang itu buat macam-macam!"


Mata Datul berbinar. Angin segar karena itu artinya dia tidak perlu berurusan dengan rentenir.


"Buat satu macam aja kog Mas, enggak buat macam-macam"


"Ckkk!"


"Bisa cair sekarang juga kan Mas?" Tanya Datul cengengesan. Seakan Mas Hamam itu bank tongol yang tiap datang para ibu-ibu yang ngutang malah pura-pura tidur atau malah menutup pintu rapat-rapat.


"Ikut aku ambil uang ke ATM dulu, jangan bocor, apalagi ngadu ke emak ku kalau aku punya uang banyak"


"Oh... jadi budhe Hindun enggak tahu nih?"


"Bubar jalan kalau sampai tahu, nanti malah di kira aku suka korup uang kuliah, bisa di potong uang saku-ku, padahal kamu tahu sendiri uang ku itu dari mana"


"Main judi online, sama gantangan burung, bener enggak sih?"


"Hush! enggak perlu keras-keras juga kali Tul"


"Hehehe... maap"


Keesokan harinya, Datul menemui Mas Ali di depan terminal. Seperti biasa, laki-laki itu melarang Datul menemuinya di parkiran busway dengan alasan tidak mau di lihat teman-temannya. Pas hari itu sudah terlanjur saja Datul datang. Mengenai Vivi, Mas Ali memilih memutuskan gadis rewel itu daripada resiko kehilangan Datul. Datul itu bagai ATM hidup bagi Mas Ali.


"Ini Mas uangnya..."


"Kamu, kamu dapet uang ini dari mana?"


"Pinjam temen," jawab Datul jujur.

__ADS_1


"Hmm...aku jadi enggak enak sama kamu"


"Enggak apa Mas, pakai aja dulu,"


"Makasih ya sayang, aku pasti balikin uang ini secepatnya"


"Aku enggak tahu gimana nasibku, kalau kamu enggak bantuin, kamu terbaik sayang"


Datul berbangga hati. Lega rasanya bisa membantu Mas Ali.


****


Juli adalah bulan kelahiran Datul. Sejak awal bulan, Datul sudah memberi kode tipis-tipis pada Mas Ali. Mulai dengan menunjukkan KTP yang Datul bilang fotonya masih terlihat unyu-unyu. Berharap Mas Ali melirik tanggal lahirnya. Sampai kode barang apa yang dia inginkan.


Bukan mau pamrih ya, ingat saat Mas Ali ulang tahun. Datul rela berhutang demi bisa membelikan Mas Ali kado spesial. Jadi wajar saja Datul ingin mendapatkan perlakuan yang sama.


Hari berganti hari, tanggal di kalender Datul sudah penuh coretan. Tanggal enam belas Juli, tepatnya besok hari. Hati Datul tetap berharap. Barangkali Mas Ali ingin memberikannya surprise. Atau saat tengah malam nanti, pria itu akan menghujaninya dengan penuh cinta. Lalu esoknya akan mengajak Datul untuk makan malam romantis. Atau, atau.... Mas Ali bakal tiba-tiba berlutut di hadapan Datul untuk melamar dirinya. Dengan setangkai bunga dan cincin.


Malam datang, Datul rela terjaga menahan kantuk. Menunggu pesan atau panggilan dari ayang. Tepat jam dua belas malam kenyataan nya yang Datul dengar hanya suara dengkuran keras Pak Farkhan. Sesekali suara burung hantu lewat, atau suara cekikikan di susul tangisan yang mungkin itu Mbak Kunti yang sama galaunya dengan Datul.


Jam satu dini hari, lanjut jam dua pagi, yang di tunggu tak kunjung menghubungi. Fix, Mas Ali tidak peduli dengan hari ulang tahun Datul.


Datul menangis meringkuk, kini dia bertanya-tanya tentang keseriusan perasaan pria itu. Datul galau setengah mati. Akibatnya dia susah tidur. Padahal masih ada hari esok.


Tepat jam tiga pagi dia menghubungi Mas Hamam. Panggilan pertama tak diangkat. Kedua, ketiga, sama. Baru panggilan ke dua puluh dua, akhirnya suara serak pria tampan itu terdengar di kuping Datul.


"Enggak waras kamu hah? jam berapa ini? Hoaaammmmm...."


"Mas... hiks... hiks...Mas..." rengek Datul.


"Haaa... apalagi? ngantuk aku Tul!"


Di sebrang sana Hamam menjauhkan ponselnya. Kebayang Datul yang biasa jorok, ngelap ingus sembarangan. Jijik lah.


"Iya selamat ulang tahun, udah aku tutup!"


Tut.... Tut... Tut....!


Panggilan terputus.


Datul tidak menyerah. Malam ini dia tidak mau sendiri. Setidaknya dia butuh teman untuk di ajak galau. Walau harus mengganggu orang lain. Tidak apa, Mas Hamam temannya, teman paling dekat yang selalu ada untuknya.


"Apaan sih Datul!!!!!"


"Temani aku Mas, rasanya ada yang berbisik di telinga ku, nyuruh aku gantung diri aja! please, temeni aku Mas..."


Mas Hamam terduduk, di paksa sadar oleh kata-kata Datul yang ngawur. Ngawur, hanya karena tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun dia bisa se frustasi itu.


"Jangan gila kamu Tul!" lalu Mas Hamam beralih ke Vidio call. Mas Hamam berjingkat kaget karena saat itu wajah Datul langsung memenuhi layar. Mana maskeran putih. Horor.


"ASTAGA!!!!"


"Biasahhh aja Mas, enggak usah lebay"


"Aku kira kamu udah jadi hantu aja"


"Ngawur!"


"Habis tadi bilang mau gantung diri"


"Aku lagi sedih, hibur aku Mas"

__ADS_1


"Oi Datul, kamu pikir aku ini laki-laki penghibur apa? jam tiga pagi kamu ganggu aku cuma minta di hibur?" Mas Hamam pengen misuh, tapi kog cewek. Mana tega dia.


Lalu wajah Datul kembali sendu, meski pakai masker wajah sekalipun, Mas Hamam bisa melihat kesedihan itu.


"Aku tidak minta banyak, tidak minta yang muluk-muluk, cuma ya itu, aku ingin di perlakukan spesial, tapi apa? pacarku sendiri bahkan tidak ingat kalau hari ini aku ulang tahun..."


"Hmmm... masih ada hari esok, esoknya lagi,"


"belum tentu besok dia ingat" sambar Datul.


"jadi ceritanya kamu mulai ragu?"


"Ckkk... begitulah..."


"tidur! dunia tidak akan kiamat hanya karena kamu tidak dapat ucapan happy birthday dari laki-laki itu"


"Nggak bisa, aku sedihnya sekarang, aku--


enggak tahu kenapa pengen nangis terus"


Mas Hamam tidak tega melihat Datul yang rapuh seperti itu. Masker di bawah kelopak mata Datul sampai terlepas, kintir karena air mata Datul.


"Hiks... hiks... hikss... apa aku tidak layak di cintai dengan perasaan yang lebih? kesannya aku yang terlalu mencintai dia..." Datul masih nangis.


"Udah Tul udah...kasihan tetangga kamu"


"Dikira demit nangis, kamu ini"


"Hiks... hiks... enggak bisa berhenti nangisnya" bela Datul pada dirinya sendiri.


"Oke, aku nyanyi buat kamu, tapi janji kamu diem, enggak usah nangis lagi, kamu udah jelek nanti tambah jelek!"


"Huaaaa... mulutmu Mas!"


"Ekhemmm... dengerin!"


"Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap, datang seekor Datul, Hap! cicaknya di lahap Datul! Hahahaha..."


"Sialan!" umpat Datul.


"Baguskan Tul?!!"


Mas Hamam tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Datul yang di kata melahap cicak jadi mencak-mencak.


Bukannya di nyanyikan lagu happy birthday, malah lagu cicak-cicak di dinding. Dasar Mas Hamam juga sentet sedikit otaknya.


"Mas, kayaknya kamu pernah jatuh enggak konangan ya?"


"Hahahaha..."


_


_


_


_


Tipis-tipis buat yang kangen Mas Hamam, gih gabung temenin Datul begadang.


🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2