Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 39: Si Ceriwis Tomi


__ADS_3

Datul buru-buru memakai masker. Padahal aslinya masih betah menghirup dalam-dalam bau wangi pengharum ruangan yang namanya mirip nama orang itu.


Mas Tomi, kenapa sih kudu hadir...


Datul ketar-ketir, tidak menduga sama sekali kalau akan bertemu sohib Hamam yang banyak cakap. Haduh, duh! bisa-bisa Mas Tomi pingsan lihat Datul yang buruk rupa.


"Ngeyel terus kalau di bilangin, ngapain pagi-pagi udah kesini!" meski terdengar galak, Datul sudah bisa menilai jika mereka berdua berhubungan baik.


"Mau ngajak Om sarapan, nyabu yok, Om yang traktir tapi"


"Dih, yang ngajak siapa yang suruh bayar siapa, lagian sarapan kog bubur sudah kayak orang penyakitan"


Datul menunduk semakin dalam. Dalam hati dia berdoa, semoga Tomi tidak mengenalinya. Pak Imran yang berwibawa di hadapan Tomi saja bisa ikutan slegekan. Oke, Datul pura-pura saja tidak mendengar obrolan mereka. Anggap dia memang hanya orang baru yang baru saja bertemu dengan dua laki-laki beda generasi.


Datul menunduk, wajahnya ia tenggelamkan di balik kertas-kertas soal.


"Sombongnya cie..." Laknat memang. Mulut Tomi seperti didesain tanpa filter dari sananya. Tiap ngomong renyah dan kriukkk.


"Mai, jangan pura-pura ga kenal. Apa perlu gue yang memperkenalkan diri lagi"


Datul cosplay jadi budek. Ini kalau boleh doa bangunan ini runtuh gitu, Datul aminin. Yang penting Tomi tidak mendekatinya. Tapi mustahil, decit sepatu mahal Tomi bahkan terdengar mengerikan di telinga Datul.


"Jangan di ganggu deh Tom, orangnya lagi serius juga"


"Hilih, hilih, lagian buat apaan coba pakai di tes segala, Om ini mempersulit yang tidak sulit"


"Prosedur!" Pak Imran mendengus lalu bangkit dari duduknya. "Buruan katanya mau cari sarapan"


Bukannya mengikuti Pak Imran, Tomi malah duduk tepat di depan Datul. "Om duluan, aku di sini aja mantau dia, kalau di tinggal sendiri malah nanti nyontek di google, keenakan dia dong"


"Wes embuh, terserah kamu Tom" Pak Imran keluar melewati pintu kaca. Samar masih terdengar dia memanggil nama seseorang.


"Fokus banget sih Mai, sini gue bantu" Tomi menarik kertas yang di pakai Datul menutupi wajahnya. Dan jreng, jrenggggg....


Wajah Datul merah menahan malu.


"Astaga!" Tomi berjingkat, Mai yang dia temui di pesta glow to the up. Bagaimana bisa sekarang wajah Mai jadi sebelas dua belas mirip pace krakal (mengkudu).

__ADS_1


Datul tidak berani mengangkat kepalanya. Kena mental sudah pasti. "Mas Tomi sudah tahu sekarang wajah asli saya, saya yang tempo hari hanya polesan make up, saya aslinya seperti ini Mas"


Tomi tergagap. Bukan maksud menyinggung, dia cuma kaget. "Ehem! bukan begitu"


"Sori, sori Mai, gue ga maksud"


"Ga apa Mas, saya di bantu begini saja sudah makasih banget"


"Semua ini ga bakal merubah keputusan Mas Tomi buat bantu sayakan?"


"Tidak, sama sekali tidak Mai!" Tomi menjeda kalimatnya. Ada hal yang masih membuatnya penasaran.


"Btw Mai, sori nih ya, gue mau Lo jujur. Fix ga apa, gue ga merasa di bohongi kog, wajar aja ke pesta orang itu cantik, pengen terlihat keren, it's oke. But, beneran Lo sama Hamam pacaran? jawab jujur Mai"


"Menurut Mas Tomi?"


Tomi mode slegekan sekarang. "Mana mungkin, tipe cewek Hamam kalau belum kiamat ga bakal berubah, pasti ya yang cantik-cantik"


"Dih, jujur banget, langsung Mak jleb" Datul cemberut dong. Meski itu benar, hati tetap saja cenut-cenit.


"Wakakakka... kita berteman!" Tomi mengulurkan tangannya, baginya pertemanan itu tidak memandang isi dompet apalagi wajah. Meski dia termasuk dari kalangan berada, dia tidak pernah pilih-pilih teman. Semua di jadikan teman, termasuk teman yang suka ngutang.


"Baikkan gue, hihihi..."


"Iya, baik... hwhwhwh" cibir Datul.


"Oi Mai, bagi nomor WhatsApp dong"


"Kasihhh mazeeehhh... catet! 089503810123" maka Datul tidak perlu pikir-pikir memberikan nomor teleponnya.


"Sip! buruan di kerjakan noh, habis itu kita cari makan Mai, gue kelaparan"


"Bantu dong Mas, buntu otakku seketika karena ketemu kamu"


"Hilih, ngomong aja ga bisa, sini gue lihat"


"Pertanyaan gampang ini sih, jawabannya yang susah, hihihi" Datul ngakak so hard. Gila memang si Tomi ini.

__ADS_1


"SPBU adalah singkatan dari?" eja Tomi keras-keras.


"Stasiun Pegadaian Barang dan Uang"


"Ngawur eh, sini ah biar aku yang ngisi"


"Udah biar gue aja,"


Tomi memang gila, soal-soal itu dijawab sesuka hatinya. Datul hanya bisa duduk anteng sambil ketawa-ketawa. Mau gimana wong kertas soal dan lembar jawaban di sita Tomi. Lima belas menit berikutnya, semua sudah terisi lengkap.


"Yoh cari makan, makan petis kangkung enak nih kayaknya"


Datul masih ketar ketir dengan lembar jawaban itu. "Ini gimana heh?"


"Udah tinggal aja, Lo itu udah pasti keterima di sini, percaya deh"


"Makan yok Mai ah, ayang Tomi lapar"


"Aku udah makan kog Mas, kamu aja sana"


"Dih, udah sarapan kog mulutnya masih bau jigong"


"Asemmmmmmmmmmm!!!"


"Wakakakkkaka... canda Mai" Tomi menarik turunkan alisnya. Wes embuh, kalau di suruh menyamakan frekuensi maka fix Datul jadi ikutan gendeng. Hlah tadi aja dia yang ngasih julukan ke Hamam Mas gendeng, jadi Mbak gendeng toh dia, kualat!


Apaan sih author ini, Hamam lagi Hamam lagi. Hus! jauh jauh sana!


Author: šŸ™„


_


_


_


like, komen, bagi hadiah....

__ADS_1


mumpung ide lancar jaya nih... kasih mazehhhhhšŸ˜‹


__ADS_2