Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 43: Ploong!


__ADS_3

Pencet like bagi hadiah dulu...


kalau malas baca, skip! yg penting di like dulu...wkwkekkwkw....🤣


"Aku yang malu, dari tadi jadi pusat perhatian, orang-orang pasti pada mikir, aku ini jelek, ga pantes buat di ributin"


Orang-orang berlalu lalang semakin ramai. Beberapa kali Datul menangkap mereka melirik ke arahnya. Meski ada yang cuek berjalan dengan cepat, mungkin ingin mengejar barang diskonan di lantai atas.


"Jangan ngomong gitu Mai sayang, kamu itu cute, nyenengin ga ngebosenin buat di sayang, gue sayang Lo meski Lo berjerawat, percaya deh..."


Datul batal sedih, nyatanya mulut Tomi minta di tabok pakai sandal buluk. Muji kog nggak niat. Datul mencebik kesal jadinya.


"Dengerkan Tul, dia itu sinting! makanya mending kamu nurut sama aku"


"Mana ngajaknya ke jalan sesat, ngajak kog selingkuh, bangsat banget jadi cowok"


Hamam ngedumel. Jengkelah. Dia yang tampan dan berjiwa dasa darma Pramuka saja tidak pernah berpikiran seperti Tomi. Tomi jelek kog nggak tahu diri.


Tomi menyeringai, "Come on man, Lo ga ada hak sama sekali buat ngatur Mai,"


"Mai, sekarang mending kita cari makan, jauh-jauh sama nih orang, pembohong sekaligus penguntit!"


"Bangsat! Gue masih nganggap Lo temen ya ini!" Hamam mulai emosi, tangannya terkepal sempurna. Kalau saja tidak di tempat ramai. Bonyok tuh muka Tomi yang jelek.


"Kenapa, mau mukul gue?!" Tomi maju satu langkah, meski sering haha hehe bareng Hamam, kalau masalah perempuan dia nggak mau ngalah. Harga diri.


Datul merinding, aura kemarahan sudah di puncak ubun-ubun dua laki-laki berbeda strata ketampanan itu.


"Cukup! cukup! cukup!"


"Mas Hamam udah! Tomi kamu mundur! ini nggak lucu sama sekali" Datul menarik-narik ujung baju Tomi. Tapi keduanya tidak ada yang mau mundur.


"Aku mau pulang"


"Pulang bareng aku!" Meski matanya masih berperang dengan mata Tomi, Hamam lebih gesit menarik pergelangan tangan Datul.


"Eh.. dia kesini bareng gue! Lo jangan seenaknya!" Tomi pengen menarik tangan Datul satunya, tapi...


Bugghhhhhhh!!!!!


Satu pukulan mendarat cepat di pipi Tomi. Hamam sudah males bicara. Ciwi-ciwi yang sedang hang out di sana berteriak manja.

__ADS_1


"Ahhhhhh.....!!!"


Heboh sekaligus ngeri ada yang gelut di dalam mall. Bukan gelut adu jotos sih, Tomi yang di jotos. Dia mengalah untuk saat ini. Dari pada tambah ramai, bisa-bisa keamanan mall turun tangan, tambah ribet. Tomi membiarkan Hamam pergi membawa Mai kesayangan, calon selingkuhannya.


****


Hamam butuh waktu untuk meredakan emosinya. Entah kenapa dia jadi gampang marah akhir-akhir ini. Setelah mengambil motor di parkiran mall, Hamam membawa Datul ke taman Indonesia kaya. Hamam merasa perlu memberikan kultum pada Datul meski bulan Ramadhan masih jauh.


Minum, mereka butuh minum. Hamam yang selalu pengertian dan tidak pelit. Langsung membelikan minuman dingin untuk dirinya dan Datul. Mereka berdiri di sudut taman dengan pencahayaan remang. Agak jauh dari pusat taman yang di bangun megah oleh pemerintah kota Semarang.


Datul menerima minuman kaleng pemberian Hamam, namun enggan membukanya. Bukan berniat membawa minuman itu pulang hlo, cuma di otaknya sekarang banyak sekali pertanyaan yang menari-nari. Lagi-lagi Mas Hamam membuat Datul ingin gede rasa.


Hamam meneguk minumannya dalam satu kali teguk. "Huhhh... dari awal aku sudah memperingatkan, Tomi itu sudah punya pacar, gila kalau kamu mau di jadikan selingkuhannya"


Datul masih diam.


"Ckkk... okelah Tul, dia bantu kamu dapat kerjaan, tapi asal kamu ingat, kamu nggak perlu balas budi apapun,"


"jangan mau di manfaatkan, jangan sampai-,,


jangan sampai kamu di bodohi"


"paham nggak sih aku ngomong!" Hamam sedikit memekik karena Datul hanya diam. Takutnya habis diam ujug-ujug kesurupan.


"Cuma aku ga paham, Mas Hamam itu kenapa?"


"kenapa begini?"


"Maksudnya?" Hamam jadi bodoh, ucapan Datul terlalu drama bagi Hamam yang nggak suka nonton sinetron.


Datul mendesah tapi bukan sebuah ******* erotis. Cuma merasa lelah. Kali ini dia harus dapat jawaban. Kenapa Mas Hamam terlihat terusik, bahkan ini sudah yang kedua kalinya dia meluapkan emosinya. Pertama pas acara pesta pernikahan temannya, dan sekarang sampai memukul Tomi yang statusnya bolo kentel.


"Mas Hamam cemburu?" tembak Datul langsung.


"Apa Mas Hamam menyukaiku?"


Terserah mau di anggap apa, kenyataannya Datul merasa seperti itu.


Hamam gelagapan. Apa itu cemburu? Menyukai Datul? Merci de votre attention. Gayanya, nanti ada yang mati-matian mengejar cinta hlo.


Hamam menyentil kepala Datul dengan ujung jarinya. "Sayangnya, sama sekali tidak tuh!"

__ADS_1


Hamam lancar berkelit, atau dia yang tidak sadar jika sebenarnya ada Mak glender-glender aneh yang mulai bersemayam di segumpal hatinya?


"Yakin?"


"YAKIN!!!!" jawab Hamam tegas.


"Sedikit barangkali Mas, satu ons, atau setengah ons? hmmm?" tawar Datul murah.


"Nggak ada Tulaikhan! dasar!"


Giliran hati Datul yang berkeping-keping.


"Hemnffttt... baiklah, sekarang aku perjelas kalau begitu, pertama, aku belum kepikiran menerima atau menolak jadi selingkuhan Tomi,"


"Kedua, aku memang merasa berhutang budi sama dia, sama Mas Hamam juga, kalian berdua sama baiknya, tapi aku rasa, Tomi juga nggak manfaatin aku sama sekali"


"Kayak Mas Hamam yang baik, dia juga baik sama aku, meski kadang mulutnya ceplas-ceplos, tapi nggak pernah aku masukin ati, aku seneng jadi punya teman baru yang asyik"


"Ketiga, anggap saja aku bodoh. Memang aku bodohkan?!" Kalimat tanya yang penuh sarkasme. Mengena sekali di hati Hamam pasti.


"Mas Hamam tidak punya perasaan istimewa untukku, aku paham dan percaya, aku nggak bakal GeEr lagi"


"Terimakasih Mas Hamam sudah banyak mengkhawatirkan aku"


Datul diam beberapa detik. Menguatkan hatinya sendiri, jangan sampai dia lemah. Cukup selama ini mencintai dengan diam, cukup mengagumi terlalu lama. Percuma memupuk cinta, jika tak terbalas. Mending berkelana mencari cinta sejati meski tertatih-tatih dan tergores-gores. Ya itu keputusan Datul.


"Mas Hamam tidak menyukaiku, tapi aku menyukai Mas Hamam, aku jatuh cinta sama Mas Hamam, sudah lama, lama sekali"


Lalu air mata Datul menetes dengan halus. Tidak apa-apa, setidaknya dadanya sekarang plooong. Begitu...


_


_


_


_


To be continue...


Aku ikutan lega, akhirnya Datul mau speak up kalau dia suka Mas Hamam.

__ADS_1


Kira-kira Mas Hamam bakal gimana nih?


Komen ya😁


__ADS_2