Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 48: Perjalanan Malam


__ADS_3

Datul lupa kalau teman-teman Tomi yang di maksud ada Hamam di dalamnya. Saat menerima Tomi jadi pacarnya, yang ada di pikiran Datul hanya akan di ajak liburan ke Jogja. Sesederhana itu Datul tertarik. Datul tidak menyangka akan jadi sekompleks ini, apalagi ini tetang hati dan penilaian bolo-bolo Tomi yang lain.


Mereka pasti menilai Datul cewek gampangan. Datang ke pesta jadi pacar Hamam, sekarang pergi ke Jogja jadi selingkuhan Tomi. Sungguh Datul merasa bodoh sendiri.


Tahu gitu tadi aku nggak maksa Tomi buat pakai kaos couple ini... huh konyol sekali...


Pandangan Hamam yang bersandar di body mobil elf berwarna hijau pupus itu serasa menguliti Datul. Mereka sedang menunggu satu orang lagi, pacar Gilang. Selang beberapa menit gadis yang terlihat manja itu datang dengan koper pink berukuran besar. Entah mau piknik apa mau jadi TKW.


Mas Hamam pasti eneg banget, lihat kami berdua... sudah gitu dari tadi dia tidak menyapaku dan Tomi. Mau gimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Aku hanya berharap bubur itu bisa jadi bubur ayam, biar lebih sedap di makan. Sudah di tengah jalan, rasanya mustahil buat minta pulang.


Total ada sepuluh orang di dalam mobil itu. Dwi yang jadi supir malam ini, dan Hamam anteng duduk di sebelahnya sejak tadi. Tomi dan Datul duduk bersebelahan di jok tengah, persis di belakang Hamam. Teman Tomi yang lainnya mengajak pacar masing-masing, cuma Hamam dan Dwi yang tidak membawa pasangan, dan cuma Tomi yang bawa selingkuhannya, yaitu Datul.


Karena tempat yang dituju mereka adalah pantai, dan rencana ingin menikmati matahari terbit di sana. Maka dari itu mereka pergi sejak dini hari. Untuk tiga jam ke depan mereka harus berbagi oksigen di dalam benda besi yang bergerak itu. Datul merasa canggung luar biasa, entah dengan yang lainnya.


"Aku kira kamu punya teman lain, selain teman-temanmu ini" bisik Datul di sela rasa kantuknya. Datul ingin protes meski sebenarnya dia yang bodoh.


Tomi yang malam itu hanya pakai kolor ijo dan kaos couple dari Datul tetap santai menanggapi.


"Hlah... Lo kira gue gabung ke grup mana? Fatayat NU? temen-temen gue ya cuma ini Mai sayang... kenapa? terusik sama yang di depan?"


Hamam yang masih terjaga pun sedikit menoleh, lalu memilih abai.


"Enggak! apaan sih kamu Tom!" Datul jadi tidak enak hati. Sungguh. Untung saja yang lainnya sudah pada teler, bahkan ada yang ngorok keras.


"Ya udah sih, nggak usah di anggep" Dari situ Datul paham kalau antara Hamam dan Tomi masih perang dingin.


"Sini Mai, kamu pasti ngantuk, gue pinjemin bahu buat Lo sandaran" tanpa aba-aba si luwak mengapit leher Maidatul. Gadis itu memberontak kecil saat kepalanya terapit ketiak Tomi yang basah.


"lepas! ketek kamu astaga!"


"Kenapa Mai? wangi kog" Tomi terkekeh.


"Wangi apanya? bau comberan ini Tom!"

__ADS_1


"Udah diem! banyak gerak kamu ternyata ya Mai!"


Datul tidak enak dengan yang lainya, karena takut mengganggu dia pun pasrah di bawah ketek Tomi yang basah. Sialan memang Tomi ini!


Dada Hamam rasanya memanas. Aslinya dia malas ikut. Berhubung denger kalau Datul ikut rombongan temannya, Hamam jadi khawatir. Bukan apa-apa, Hamam paham bagaimana tabiat teman satu genknya itu. Sebagai laki-laki dewasa, hak masing-masing mau jadi setan atau malaikat. Yang bobrok ada, yang alim juga ada. Kalau Hamam sih tengah-tengahnya. Nakal bisa, alim kadang-kadang. Tapi alhamdulilah Hamam masih mau sholat. Meski kadang bolong-bolong dan masih hobi main judi online. Hamam juga bukan tipe playboy yang suka celap-celup sembarangan. Dia masih perjaka ting-ting hingga detik ini.


Mobil melaju membelah jalanan yang lenggang dengan kecepatan maksimal. Dwi yang sedari tadi diam fokus menyetir, tiba-tiba menginjak rem.


Shiiiittttttttttttt!!!!


Tomi dan Datul jidatnya nyaris mencium jok di depannya. Sedangkan Hamam yang di depan beruntung pakai seat belt. Tubuh laki-laki yang tampannya minta ampun itu ikut terdorong ke depan. Jangan tanya yang lainya, yang dari tadi ngorok, mereka ada yang terjatuh di kolong bawah. Si gadis manja sebut saja Mawar, merintih kesakitan minta di elus-elus jidatnya. Gilang terlihat mengkhawatirkan pacarnya itu.


"Ehhhh.... ada apa si Dwik!"


"Lo ngantuk ya!"


"Sori, gue kayak lihat bayang putih lewat tadi"


Padahal aslinya, Dwi hanya ingin membantu Datul lepas dari ketiak Tomi yang basah. Kasihan, Dwi melihat wajah Datul tersiksa.


Tomi memekik. Emosi jiwa, mana lagi asik permulaan sayang-sayangan.


"Sori, sori gue yang agak ngantuk mungkin"


"Lo mau gantiin gue sini!?"


"Enggak, males banget gue!"? Tomi tolak mentah-mentah. Selain nggak bisa Deket sama Mai tercinta, dia terlalu males buat capek-capek nyetir.


"Ya udah jangan banyak ngomong" tembak Dwi dengan nada datar tapi terdengar cukup horor.


"Biar gue yang nyetir, Lo geser sini" Hamam menawarkan diri, andai memang Dwi memang ngantuk, bahaya jika di paksa.


"Dih, rupanya ada yang mau cari muka" sindir Tomi terang-terangan. Ingin rasanya Datul mengucir mulut Tomi, dari tadi ucapan laki-laki itu terdengar nyelekit ngajak padu.

__ADS_1


Hamam sudah ancang-ancang mau menimpali omongan Tomi. Tapi Gilang di belakang mereka lebih sigap dan tanggap.


"Kalian berdua kalau mau ribut, keluar saja sana! dari awal gue udah ngerasa kalian berdua bermasalah, jangan rusak momen kita main kali ini, terutama Lo Tom! berisik dari tadi"


"Heh, kog malah gue?!" Datul reflek menggenggam tangan Tomi, barang kali di sentuh begitu Tomi bisa tenang. Dan terbukti sentuhan Datul cukup ampuh.


Tomi menghela nafas, sebelum setelahnya mengalah. "Oke, sori... gue diem!" Tomi membuat gerakan mengunci mulut. Lalu berbisik lirih tepat di cuping telinga Datul.


"Demi lo, gue diem... gue ngalah, gue sayang Lo"


Sumpah, Datul jadi merinding. Sengaja banget Tomi memancing perhatian Hamam. Hamam membuang wajah, jengah.


Hamam yang melanjutkan menyetir. Dari posisinya, dia lebih mudah memantau Datul. Perjalanan di lanjutkan. Mereka kembali ngorok dan tertidur dengan mulut terbuka. Hanya Datul yang masih terjaga. Tubuhnya kaku, demi menjinakkan luwaknya yang sedang badmood, Datul rela bahunya jadi bantalan. Manja sekali luwaknya satu itu.


"Tidur, kamu nggak ngantuk apa?"


Datul tercekat. Hanya Hamam dan dirinya yang melek saat itu. Jelas pertanyaan itu untuk dirinya. "belum ngantuk kog"


"Ck... kamu udah nguap lebih dari tiga kali, masih bilang tidak ngantuk"


Datul menarik bibirnya tipis, tersenyum tapi tidak mau tersipu. Tiga kali lebih, itu artinya Mas Hamam memperhatikan dan sempat-sempatnya menghitung. Perasaan Datul carut marut. Di saat seperti ini Hamam terasa sangat perhatian. Datul lemah diperhatikan seperti itu.


Susah sekali menghapus rasa yang di miliki untuk Mas Hamam. Meski sudah mencari sandaran agar terlihat kuat. Rasanya sama saja. Hati Datul gopok tinggal menunggu waktunya runtuh berkali-kali. Perjalanan malam yang harusnya hanya perlu di tempuh tiga jam terasa tiga abad lamanya.


-


-


-


-


to be continue....

__ADS_1


Absen dulu Yoh, like, komen, bagi hadiah🥰


__ADS_2