
Masa training Datul sudah selesai. Dua hari ini dia sudah bekerja sendiri. Memakai seragam merah kebanggaan, dengan tulisan bordir Pertamina di dada kanannya. Akhirnya dia bisa jadi orang sibuk.
Datul sangat sibuk hari ini, pembeli mengekor sejak pagi tadi. Hari ini dia jatah jaga dispenser bensin pertalite. Sebagai bensin yang bersubsidi dan lebih murah daripada pertamax tentu saja pertalite jadi primadona. Antrean semakin memanjang karena tidak hanya banyak pembeli, tapi juga karena Datul belum bisa sat-set saat melayani pembeli.
Wajah-wajah pembeli yang seperti tidak sabar mengantri benar-benar membuat Datul frustasi. Rasanya ingin menyerah saja. Kakinya pegal karena harus berdiri terus.
"Dua belas ribu Mbak"
Datul hanya mengangguk lalu memasukan ujung noozle pada lubang tangki bensin, kemudian mengatur sesuai harga yang di inginkan pembeli. Untung Datul memakai masker menutupi mulutnya, kalau tidak, pembeli pasti tahu kalau dia sedang cemberut.
Capek ya Allah, kog yang beli ga ada habisnya... fiuhhhhh...
Saat Datul tenggelam dengan pikirannya sendiri, motor berikutnya maju. Bukannya segera membuka tutup tangki motornya, laki-laki itu malah mematung.
"Berapa?"
"Full Mbak, sekalian minta Full senyum juga kalau boleh"
Datul meneliti suara itu, "hoooo... Tomiiii..." Datul memekik.
"Hahaha... ketahuan juga padahal udah rapet gini," Pasalnya Tomi brukut memakai jaket kulit dan helem full face. Tampak keren meski tidak setampan Mas Hamam.
"Aku isi ya... buka tutupnya Tom "
"gue ga mau ngisi bensin, cuma mau ngasih ini" Tomi mengulurkan satu kantong jajan. Datul menerimanya dengan senang hati dan full senyum.
Keduanya saling menatap untuk beberapa detik. Sampai suara klakson saling sahut menyahut.
Tit... tit... tit....!
Titttttttttttttttt!!!!!
"Woi Mas, buruan maju!"
"Iyah, mau ngisi bensin apa mau pacaran sih!" sahut yang lain.
__ADS_1
Wah kalian berdua bisa-bisa di amuk massa. Tomi buru-buru memajukan motornya.
"Maap, maap pak"
"BURUAN PINDAH!"
"Sabarrrr" Tomi mengeram jengkel.
Datul cuma cengar-cengir dan buru-buru melayani yang lain.
"Berapa Pak?"
"Lima belas ribu"
Tomi sudah pergi saat Datul celingukan mencari bayangannya. Cepet banget ilangnya, batin Datul.
Tiga puluh menit kemudian Datul masih sama sibuknya seperti tadi. Tenggorokannya kering pengen minum tapi tidak sempat beli. Panas, debu, gerah jadi sahabat Datul sekarang.
Tanpa Datul sadari Tomi ikut mengantre lagi.
"Berapa?"
"Tomi!!!!"
"Buruan di terima, keburu di marahi orang lagi gue"
Datul terharu, Tomi so sweet banget sih. Bikin baper sekaligus laper.
"Di makan langsung, ntar lumer lagi"
"Iya makasih..." ice cream, bikin good mood sih ini.
"Bye... gue pergi dulu"
"Bye! ati-ati..."
__ADS_1
Datul meletakkan ice cream pemberian Tomi di samping kantong jajan tadi. Masih ada tiga motor yang antre, Datul harap setelah ini dia bisa istirahat. Bokongnya sudah merindukan kursi.
Tiga motor yang mengantre tadi sudah pergi, Datul ingin segera duduk dan memakan ice creamnya. Tapi datang lagi satu motor, Datul meraih noozle dengan cepat. Cepat di isi cepat istirahat pikirnya.
Tepat motor itu berhenti, sang pengendara motor mengulurkan dua cup minuman. Sepertinya jus. Datul belum begitu memperhatikannya. Tapi dari motor dan helem yang di pakai dia sudah bisa menebak.
"Apalagi sih Tom?!!! yang ini aja belum aku minum"
"Hamam, aku Hamam bukan Tomi" Hamam membuka kaca full face yang menutupi wajahnya. Dia melirik seonggok kantung plastik yang di sebut Datul.
Datul tidak enak hati sekali karena salah orang. Dia gelagapan padahal sedang tidak berenang.
"Ehhh.... Mas Hamam, aku kira tadi..."
"Terima ini, sepertinya sekarang sudah ada yang lebih perhatian sama kamu, pesanku, cari tahu dulu dia sudah punya pacar belom, jangan mau di buat main-main sama dia"
Hamam pergi setelah mengatakan itu. Datul tercekat. Meski Datul akui dia semakin dekat dengan Tomi, sejauh ini perasaannya biasa saja. Ibaratnya, Datul hanya butuh pinjam payung sebentar saat badai hujan. Jelas bagi Datul Hamam sumber badai itu dan Tomi datang menawarkan payung agar Datul tidak tenggelam dengan kesedihannya. Itu saja tidak lebih. Apa dia salah?
"Wah Mbak Datul, jajannya banyak"
Datul sadar dari lamunannya. "Kamu mau Er? ambil ini, bagi buat yang lain juga"
Erna, teman satu grup Datul tersenyum lebar, ikut kecipratan dapat jatah jajan. Alhamdulillah. Dia ngacir kembali ke tempatnya lagi.
Mata Datul berkaca-kaca. Embuhlah... aku pusing...
-
-
-
-
To be continue...
__ADS_1
Terimakasih 🥰