
"Kamu yang namanya Datul?"
"Ya..." Datul tidak kenal dengan gadis yang berdiri di depannya saat ini. Dari mana gadis itu tahu namanya? lalu tiba-tiba...
Plak!
Pipi Datul terasa panas. Tangan gadis bertubuh kerempeng itu terasa membekas di pipi Datul.
"DASAR PELAKOR! PEREMPUAN MURAHAN! JAUHI PACAR SAYA ATAU KAMU BAKAL DAPAT LEBIH DARI INI!!!"
Baru pertama kali Datul mendapat perlakuan bar-bar seperti ini. Datul kaget dan tidak tahu harus melakukan apa selain menangis. Bahkan mereka sudah jadi tontonan orang-orang yang sedang mengantri membeli bensin. Datul di labrak Vivi, salah satu petugas tiket busway, sekaligus pacar Mas Ali.
Indah yang melihat tak tinggal diam. "Heh mbak siapa!? jangan buat keributan di sini!"
"KAMU TEMAN PELAKOR INI? Bilang ke temenmu ini buat jauhi Mas Ali, dia pacar saya, paham kalian!?"
Bagai di sambar petir padahal cuaca sedang panas-panasnya. Datul ternganga dengan apa yang barusan dia dengar. Sudah empat bulan dia menjalin hubungan dengan Mas Ali, tapi apa ini? ada gadis yang mengaku kalau dia pacar Mas Ali. Lalu apa selama ini Datul cuma selingkuhan? atau malah gadis ini yang selingkuhan Mas Ali.
"Jangan norak Mbak! enggak pantes sama sekali main labrak kayak gini!"
"Pergi atau saya panggilkan keamanan!"
"Huh, saya tidak takut. Siapa? saya kenal keamanan sini,"
"Songong! pergi sana!" usir Indah lagi. Jengkel sekali, kalau tidak ingat membunuh orang itu dilarang agama dan negara, sudah Indah siram tuh gadis bar-bar pakai solar lalu tinggal di nyalakan api. Kobong-kobong deh.
"Ada apa ini ribut-ribut!" Pak Imran sampai keluar dari ruangan.
"Nih Pak ada cewek gila tiba-tiba labrak Mbak Datul"
Tidak basa-basi, aura Pak Imran lebih-lebih cuma untuk mengintimidasi Vivi.
"Saya tidak mau tahu siapa kamu, kamu membuat keributan di tempat saya, pilih pergi atau saya panggil polisi!"
Mampus! sukurin!
Vivi salah tingkah lalu lari terbirit-birit. Sebelum bayangan Vivi menghilang gadis itu sempat nabrak tempat sampah nyaris jatuh.
Pak Imran membubarkan semua orang yang menonton. "Bubar! balik kerja semua!"
"Yaaaaaaa...." sorak mereka kecewa, gila mereka pikir nonton Drakor kali ya.
"Indah kamu temani Datul istirahat dulu, kasihan dia" Indah mengangguk lalu membawa Datul ke dalam ruangan khusus petugas.
****
"Minum dulu Mbak"
Datul sudah cukup tenang. Meski dadanya masih sesak, terasa baru saja di hantam benda berat.
"Hiks... hiks..."
"Tadi kenapa enggak di bales aja sih Mbak, ganti cakar aja wajahnya, aku gemes sendiri!"
Bagaimana terpikir untuk membalas? Datul sudah shock duluan. Di labrak gara-gara laki-laki, di tuduh pelakor, sungguh hal yang memalukan luar biasa. Ya meski pernah gila karena bersedia jadi selingkuhan orang, tapi hubungan itu aman sentosa. Apa mungkin ini karma, kata orang pasti kita tuai apa yang kita tanam.
"Hiks... srooooootttttttt!!!!" ingus Datul meler-meler jadinya. Untung ada tisu gratisan.
"Mbak, mending klarifikasi sama pacar Mbak segera. Aku kog kayak udah enggak respect blas sama tuh cowok"
"Terlepas itu benar atau tidak, nyatanya sampai ada gadis bar-bar kayak gitu, nyeruduk!"
Datul mengangguk kecil. Hatinya sakit bukan main, ingin emosi juga rasanya semua energi sudah tersedot habis oleh gadis bar-bar tadi.
__ADS_1
Jari ringkih Datul menari di atas layar ponselnya.
[Mas aku ingin bertemu]
****
Malam mereka bertemu. Lagi-lagi Datul yang harus mengalah. Mas Ali bilang motornya mogok, jadi Datul yang di minta menghampirinya. Mereka berdiri di bawah redupnya lampu taman yang cukup sepi.
"Jadi siapa gadis itu? selingkuhan Mas Ali atau malah pacar Mas Ali?"
"Lantas? aku yang ternyata selingkuhan mu Mas?"
"Aku udah tanya kamu berkali-kali, gadis mana? siapa? aku belum paham arah pembicaraanmu dari tadi sayang" Mas Ali meraih lengan Datul, tapi secepatnya Datul menepis. Bukan luapan emosi Datul yang menggebu, lutut Datul malah seperti tak bertulang. Frustasi Datul jongkok.
Mas Ali ikutan jongkok. "Hei, kenapa sih ini?"
"Aku capek Mas, kenapa sih Mas Ali tidak jujur aja, jangan pura-pura tidak tahu"
"Aku yakin Mas Ali udah paham siapa gadis yang aku maksud"
"Gadis siapa? apa maksudnya, kamu cerita dong"
"Oke, aku cerita. Tadi siang aku di labrak. Di tampar sama gadis yang ngaku pacar kamu. Orangnya tinggi, cantik, rambutnya sebahu, dia satu tempat kerja sama kamu, aku tahu karena seragamnya sama"
"Vivi maksud kamu? Vivi nampar kamu?"
Sorot mata Mas Ali terlihat kaget. Datul tidak tahu itu kebenaran atau sandiwara.
"Jadi namanya Vivi?"
Mas Ali berdiri, mengacak rambutnya frustasi. Lalu satu tangannya berkacak pinggang, satu tangannya lagi memegang kening. Persis aktor sinetron di tipi.
"Terserah kamu ingin percaya atau tidak, dia itu yang ngejar-ngejar aku selama ini, aku enggak pernah kasih respon, karena aku enggak suka dia, dia bukan pacar atau selingkuhan ku, asal kamu tahu"
"Cuma kamu pacar ku, kamu Datul"
"Aku bilang terserah..."
Kenapa sih Mas Ali tidak memohon, merayu, atau sedikit lagi berusaha meyakinkan aku, kenapa malah terserah. Seakan dia tidak bersalah dan tidak mau repot memperpanjang masalah ini. Seakan dia berdiri di tempat yang benar. Mas Ali justru membuat semuanya terasa abu-abu dan menyerahkan agar aku berusaha sendiri.
"Aku sayang kamu Mas"
Hujat saja Datul yang bodoh, bucin akut padahal sudah di cekik sedemikian rupa.
Mas Ali tersenyum di dalam hati. Menang tanpa perlawanan. Bangga dengan dirinya sendiri karena selalu bisa membuat wanita bertekuk lutut.
"Kalau begitu, tetaplah percaya aku, Vivi bukan siapa-siapa, besok aku sendiri yang bakal kasih dia pelajaran karena udah nampar kamu"
Mas Ali membawa Datul ke dalam pelukannya. Daripada sakit di tinggalkan Mas Ali, mending sakit di tampar gadis bar-bar. Datul rela asal jangan di lepas. Datul ingin memperjuangkan hubungan ini hingga ke liang lahat, astoge salah, hingga ke pelaminan maksudnya.
"Terimakasih kamu masih percaya sama aku, kita bisa lewati ini, kamu bilang kamu pengen serius sama aku, aku juga. Doakan aku bisa ngumpulin uang buat kita, aku bakal ngelamar kamu kalau itu bisa bikin hubungan kita lebih kuat"
Dusta, itu hanya dusta yang di rangkai untuk Datul. Sayangnya Datul lemah, dan mudah percaya begitu saja.
"Iya, aku percaya..."
"Sekarang ayo pulang, udah malem tidak baik anak gadis Pak Farkhan masih di luar"
Datul tersenyum lebar. Perlakuan manis seperti ini yang Datul suka dari Mas Ali.
"Mas Ali pulangnya bagaimana? katanya motornya rusak"
Padahal motor Mas Ali sedang di gadaikan sama temannya sendiri, Mas Ali butuh uang untuk foya-foya, jadi dia pinjam uang dengan cara menggadai motor. Tapi ya gitu, ngomongnya ke Datul motornya rusak. Mas Ali ini definisi orang kere yang banyak tingkah. Playboy kadal yang tak bermodal. Paham kalian?
__ADS_1
"Nanti gampang cari angkot, tapi sori ya jadinya enggak bisa antar kamu"
Datul menggeleng, mana tega dia membuat kekasihnya kesusahan menunggu angkutan.
"Aku anter Mas Ali pulang, ayok!"
Huh, dasar bodoh!
"Enggak usah, sana pulang!"
"Ayolah Mas, aku juga kepengen lihat rumahmu"
"Nanti pulang mu kemalaman"
"Aku berani!'
"Serius?"
"Hooh"
Tidak ada adegan huru hara. Datul lemah. Dia dengan senang hati mengantar Mas Ali pulang.
Minggu berikutnya Mas Ali menelpon Datul dengan nada cemas. Datul jadi ikutan khawatir.
"Kamu kenapa Mas?"
"Ngomong apa yang bisa aku bantu"
"Itu... itu--- aku, aku menabrak mobil, kaca bus sampai pecah"
"Astaghfirullah, Mas Ali gimana? ada yang luka?
Rasanya Datul ingin menyusul, memastikan sendiri keadaan kekasihnya. Barangkali ada yang lecet atau bulu hidungnya rontok karena baru saja tabrakan. Datul khawatir.
"Aku baik-baik saja, cuma agak ribet ini, yang punya mobil ngotot minta ganti, padahal bukan kesalahanku sepenuhnya, dia yang ngerem dadakan, aku kaget enggak bisa langsung berhenti bus ku"
"Penyoklah mobil dia, kaca bus ku juga pecah"
"Terus?"
"Aku bingung dia minta ganti rugi, klaim perusahaan cuma lima puluh persen, aku butuh uang"
"Berapa? Mas Ali butuh berapa? biar aku carikan"
"Enggak usah, aku enggak enak sama kamu,"
"Mas, siapa aku?"
"Kenapa harus enggak enak? kalau aku bisa pasti aku bantu"
"Aku butuh tiga juta"
Deg! banyak juga ternyata... tapi aku harus bantu, kasihan Mas Ali...
"Aku janji carikan uang buat kamu, secepatnya..."
_
_
_
Di persilahkan menguhujat Datul!😁
__ADS_1
Sabar ya bagi yang kangen Mas Hamam, nikmati alurnya dulu, emang kudu gini...
Tipe Mas Ali ini ada di dunia nyata, jadi kalian para jomblo harus hati-hati ya🤗