Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 89: Happy Ending


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kesedihan, keterpurukan dan luka hati, berganti dengan sebuah kebahagiaan yang tiada terkira.


Maidatul Khan tidak pernah berdoa meminta suami yang tampan, doanya hanya ingin mendapatkan suami yang mencintai dan mau menerima dirinya beserta jerawat-jerawatnya. Tapi Tuhan begitu baik dengan menuliskan nama Hamam Amirul Mukminin sebagai jodohnya. Meski hati Datul harus jungkir balik lebih dulu. Bertemu dan menitipkan hati pada orang yang salah. Datul patut banyak-banyak bersyukur.


Pelan-pelan kehidupan Datul sudah kembali normal. Kakinya sudah bisa berdiri tegak menjijak bumi. Selama masa fisioterapi kemarin-kemarin, Datul tinggal di rumah orang tuanya. Mas Hamam mengalah menuruti keinginan Datul. Dia juga ikut tinggal di sana. Yang penting Datul nyaman, serta tidak mau membebani pikiran istrinya itu barang secuil.


"Aku belum bisa jalan Mas, aku enggak enak kalau tinggal di rumah kamu, nanti malah ngerepotin ibu" terang Datul saat itu. Untungnya ibu Mas Hamam bukan tipe-tipe ibu mertua sinetron burung terbang. Legowo dia menyerahkan keputusan pada anak-anak.


Sat-set, was-wus! Hasilnya Datul sembuh dengan waktu yang tidak begitu lama. Sembuh secara fisik maupun psikis. Mas Haman menghujaninya dengan begitu banyak cinta, lalu alasan apa yang membuat Datul harus terpuruk?


Rasa bencinya pada satu manusia bernama Ali tidak mau dia pupuk seumur hidupnya. Meski harus berusaha keras memaafkan, tetap akan Datul usahakan. "Anggap laki-laki itu sudah mati", kata Mas Hamam. Datul menggangguk kecil, menyetujui saran Mas. Detik itu juga, jauh di bawah alam sadarnya, Datul benar-benar menanamkan pikiran kalau Ali sudah mati.


Tetangga-tetangga mereka sudah tahu kalau mereka sudah menikah saat Datul koma. Tapi tetap saja, dalam bisik-bisik mereka masih menunggu acara ngunduh mantu yang di gadang-gadang bakal di adakan besar-besaran. Edan po! Juragan ayam tersohor mantu kog biasa-biasa. Nanti jadi bahan ghibah sekampung. Wkwkwkwk...


"Mas, aku enggak apa-apa hlo, misal enggak di buatin acara resepsi"


"Iya paham, tapi kamu tahu sendiri ibu gimana" Mas Hamam mengabaikan Datul yang merengek, matanya fokus ke layar laptop yang dia pangku. Pekerjaannya sangat banyak, sampai masih harus di kerjakan di rumah.


"Ya kamu ngomong ke ibu lagi, Mas. Eman uang ibu, daripada buat acara rame-rame, mending di simpan" Datul merasa sudah banyak merepotkan, tidak mau semakin merepotkan dengan acara yang menurutnya sudah tidak penting lagi.


Merasakan aura kesedihan istrinya, Mas Hamam mendesah pelan. Terpaksa mencampakkan pekerjaannya. "Sayanggg... aku udah bilang berapa kali, huh?"


"Jangan pasang wajah menyedihkan kayak gitu, aku enggak suka. Udah jelek, nanti kamu tambah jelek!" candaan itu langsung dapat balasan pelintiran maut di pinggang kanannya. Si empu mengaduh namun masih kuat tertawa. Sedangkan Datul makin sebal sendiri.


"Udah turuti ibu saja, kamu bakal shock kalau tahu alasan ibu apa, enggak usah perlu merasa merepotkan, ibuku itu lebih unik dari pada kamu"


"Enggak heran kalau aku bisa senyaman ini sama kamu" batin Mas Hamam.


"Emang alasannya apa?" tanya Datul penasaran.


Mas Hamam menegakkan tubuhnya. Berdehem sebentar lalu heboh menirukan gaya ibunya sendiri. "Begini kata ibu, ehem!"


"Pokoknya acara ngunduh mantu harus besar-besaran, ibu udah nabung banyak, enggak usah khawatir, nanti nasi berkatnya ibu jamin lauknya enak-enak, daging empalnya bakal tebel-tebel enggak tipis kayak triplek. Biar temen-temen ibu terkagum-kagum. Ibu sih yakin, modal ibu bakal balik, toh selama ini ibu kamu ini kalau nyumbang enggak pernah lima puluh ribu, minim seratuslah"


"Begitu kata ibu..."


Datul melongo. Jadi acara ngunduh mantu notabennya ada niat terselubung. Apa semua ibu-ibu punya pemikiran yang sama seperti ibu Mas Hamam? Kayaknya sebagian besar iya. Enggak munafik juga kog.


"Gitu?"


Mas Hamam mengangguk-angguk. Mas Hamam pikir Datul masih akan mendebat. Ternyata tidak.


"Ya udahlah manut. Mari kita sukseskan acara resepsi kita, biar ibu balik modal"


Kalau bersangkutan dengan uang, hati wanita memang mudah di bolak-balik. Hmmm...


****

__ADS_1


Dang ding dung suara musik bertalu-talu, hingga terdengar dari jarak yang cukup jauh.


"Selamat ya Nak Hamam, jodohnya dekat sekali, satu kampung hlo" Mas Hamam menyalami teman ibunya yang dia kenali sebagai juragan beras di pasar. Entah sudah berapa ratus kali tangannya menyalami tamu undangan, rasanya tangannya mau putus.


Giliran tamu yang lain, "Selamat, selamat, wah istrinya cantik, mangklingi ya ibu-ibu"


"Iya, ini anaknya Pak Farkhan yang sering bantu-bantu nyetor kerupuk ya?"


Datul menarik senyum kaku, kadang celetukan ibu-ibu itu drawasi. Patut di waspadai. Kalau tidak siap mental bisa mental jauh.


"Eh, dulu jerawatan ya? ini kog sudah mulus?"


Tuh, kan.... di pelaminan hlo ini Bu. Besok aja julidnya, bisa enggak!


Mendengar menantunya di beri pertanyaan sulit, ibu Mas Hamam pasang badan.


"Jeng Rini, sini deh saya kasih tahu"


Yang di panggil merapat antusias. Ibu Mas Hamam menarik temannya ke tepi panggung. Lalu setengah berbisik, "Jeng, di gigi depan ada slilit empalnya tuh!"


"Aduh masak?" Jeng Rini panik. Kenapa dari tadi dia tidak sadar, malu dong ketahuan baru makan empal tebal. Nambah ambil dua potong juga.


"Iya, mending jangan banyak buka mulut dulu"


"Hehe... makasih Jeng udah di kasih tahu" Si Jeng Rini langsung turun panggung sambil merapatkan bibir.


Huh! Ibu Mas Hamam memutar bola mata, jengah sendiri. Begitu ingat bayangan amplop berisi lembaran uang merah-merah, beliau jadi semangat lagi.


****


Acara resepsi selesai tepat jam sembilan malam. Meskipun kelelahan, Mas Hamam dan Datul butuh mandi. Tubuh mereka rasanya lengket setelah seharian berdiri menyalami tamu-tamu yang didominasi tamu ibunya.


Malam ini menjadi malam pertama mereka akan tidur di kamar Mas Hamam. Kamar bujang yang sekarang resmi menjadi kamar milik Datul juga. Mas Hamam lebih dulu mandi setelah itu Datul. Istrinya itu sepertinya betah sekali di dalam kamar mandi. Sudah hampir setengah jam, tidak juga keluar. Lama-lama Mas Hamam jadi menggerutu.


Begitu pintu kamar mandi terbuka. Mas Hamam lompat dari tempat tidur. "Stop di situ!"


Datul tercengang setengah terkaget-kaget. Langkah kaki kanannya batal menyentuh lantai.


"Ada apa Mas?"


Detik berikutnya Mas Hamam langsung membopong tubuh Datul. Membuat Datul semakin terperanjat kaget.


"Aghh... biar romantis..." jawab Mas Hamam cengengesan. Datul tersipu. Tidak perlu di gendong begini pun bagi Datul Mas Hamam sudah romantis-tis-tisssss.


Kontan Datul melingkarkan tangannya ke leher Mas Hamam. Meniru adegan-adegan drama Korea. Meski tidak menyangka akhirnya bisa mempraktekkan adegan itu juga. Pandangan mata mereka saling mengunci. Apa malam ini malam yang tepat? Setelah sekian bulan purnama meminta suaminya bersabar?


Pelan Mas Hamam menjatuhkan tubuh Datul ke kasur yang sudah di ganti size lebih besar oleh ibu Mas Hamam. Pengertian sekali ibunya itu.

__ADS_1


Tubuh Mas Hamam mengukung tubuh Datul di bawahnya. Mas Hamam yakin mampu menjajah tubuh Datul saat ini juga. Tapi dia masih mempertimbangkan kesehatan Datul. Sebenarnya hasratnya untuk bercinta sudah meletup-letup. Apalagi dengan kondisi Datul yang hanya memakai handuk.


"Mas Hamam mau apa?" tanya Datul malu-malu. Sekarang dia tidak berani menatap mata Mas Hamam. Isin ndaa...


Mas Hamam tidak menjawab, melainkan menatap Datul dengan tatapan yang semakin sayu. Atau bagaimana sih? Yang jelas Datul jadi semakin berdebar.


"Mas, aku belum pakai krim malam nih" Datul menginterupsi karena jadi kik-kuk sendiri.


"Tidak usah pakai krim dulu, nanti kalau aku cium pasti rasanya pahit"


"Boleh ya?"


"Apa?" Datul membeo. Padahal aslinya paham ding.


"Naik-naik ke puncak gunung?" tanya Mas Hamam dengan nafas mulai memburu. Tanpa menunggu persetujuan Datul. Jari-jari tangan Mas Hamam mulai nakal. Membuat Datul jadi merinding tak karuan. Keputusan Mas Hamam sudah bulat, Datul terlihat sehat wal Afiat.


"Memang tahu caranya?" Sempat-sempatnya Datul bertanya.


"Aku laki-laki dewasa Datul mentul-mentul, kalau kau lupa"


Datul memejamkan mata. Saat bibir Mas Hamam mulai menyusuri lehernya. Sepertinya lebih baik dia ikut saja, biarkan Mas Hamam yang memandu naik-naik kepuncak gunung.


****


Seperti sihir, malam berganti malam selalu memabukkan bagi Mas Hamam dan Datul. Sampai terlampau sering bercinta sebelum tidur, Datul jadi melupakan ritual memakai krim malam sebelum tidur. Tapi anehnya, jerawat di wajahnya mengering dan perlahan hilang dengan sendirinya. Apa ini karena percampuran dua sel yang berbeda? Wow, kalau itu benar, Datul patut berterima kasih pada Mas Hamam. Lagi, teori Bapak Farkhan benar dong. Jerawat Datul akan hilang setelah dia menikah. Tepuk tangan pemirsa!


Datul menerima menjadi istri yang di nafkahi suaminya saja. Lagian pengalaman mendapatkan pekerjaan yang susah membuat Datul jadi malas mengulang sejarah. Saat Mas Hamam bekerja, Datul yang sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, biasanya memilih main ke rumah Bapaknya. Bantu-bantu membungkusi kerupuk di sana. Mertuanya juga tidak keberatan. Karena rumahnya tidak jauh, Datul lebih senang jalan ketimbang naik motor.


"Cie Mbak Datul, semakin hari semakin kinclong aja, kata-katanya Mbak Datul!" itu suara cempreng Zida. Rupanya dia sedang membuat konten Tok Tok. Dan mengarahkan kamera ke wajah Datul yang benar-benar kinclong.


"Ingin jerawat-jerawat di wajah kalian hilang tak berbekas? Menikahlah secepatnya! Karena bertemunya sel ****** dan sel ovum akan menghasilkan jenis hormon yang membuat jerawat lekas kering dan memghilang..."


Zida mematikan ponselnya. "Dasar Mbak Datul sesat!"


"Setahuku bertemunya sel ****** dan sel ovum itu ya menghasilkan anak, huh!"


Lalu mereka berdua terkekeh masuk ke dalam rumah. Datul hutang budi banyak pada Zida. Semoga kelak Zida mendapatkan suami yang tampan setampan suami Datul.


_


_


_


Author: Woi Datul! kamu udah jadi istrinya orang tertampan se kecamantan hlo, masih aja kucluk!


Datul: No comment Thor! Aku udah bahagia.😍

__ADS_1


Author: Ok, fix Tamat!


✌️✌️✌️✌️


__ADS_2