
Like dan komen dulu...
baca kapan-kapan ga papa π
Krim malam Datul sudah hampir habis. Itu saja sudah diirit-irit sejak tiga hari yang lalu. Andai krim malam bisa di oplos air macam botol sampo yang hampir habis, Datul pasti melakukan itu.
Sebab itulah Datul menerima tawaran Hilda untuk bekerja di apotik milik saudara Hilda. Sebenarnya jika di lihat dari gajinya sangat kecil. Tapi terdesak kebutuhan krim tadi akhirnya Datul terima saja. Butuh cuan.
"Cari apa Bu?" tanya Datul ramah pada salah satu pengunjung.
Pengunjung ibu-ibu berdaster batik itu agak ragu-ragu namun kemudian menjawab juga.
"Saya mau beli itu mbak, o-ne met" jawab si Ibu dengan ejaan medoknya.
Datul mengernyit, mengabsen semua nama-nama obat yang beberapa hari ini dia pelajari. Tapi nihil, apa itu. Datul bingung.
"Maaf, obat apa yang Ibu maksud? maksudnya obat sakit kepala atau apa?"
"Itu hlo mbak, saya ini sebenarnya sudah tidak mau punya anak lagi, tapi saya lupa bulan kemarin ga suntik KB, dan sudah satu bulan lebih saya tidak menstruasi, bagaimana ini saya khawatir sekali"
Datul melongo, ini kenapa jadi sesi curhat sih.
Masih belum paham juga Datul, sebenarnya ibu ini mau beli apa. "Kesimpulannya ibu mau beli obat apa?"
"Ishh... mbaknya kog ga paham-paham sih maksud saya, mbak baru ya kerja di sini?" Datul pun mengiyakan.
"Pantas ga nyambung-nyambung dari tadi!" keluar galaknya, Datul jadi beringsut kaget.
"saya takut hamil dan takut kalau suami saya curiga jika saya minta diantar ke bidan buat periksa, suami saya juga sudah tidak mau nambah anak sebenarnya, maka dari itu saya mau coba tes sendiri, saya mau beli itu apa namanya, tes peck yang murah o-ne met!"
"Yang bungkusnya biru hlo..."
Tak sadar Datul membuang nafas kasar. Emak memang selalu benar. Bagaimana dia ga bingung jika si Ibu menyebutkan merek tespeck itu dengan ejaan yang jujur sekali. Datul yang lulusan SMA negeri 1 kan jadi cengo.
"Wanmed Bu... ini harganya tiga setengah"
"Hla ini maksud saya" tatap si Ibu dengan sorot mata lega.
"Mau berapa Bu?"
"Kasih dua biji mbak," Datul mengangsurkan dua tespeck yang sudah terbungkus kantung plastik berwarna putih, lalu menerima uang dari si Ibu. Datul kira si Ibu sudah selesai dengan percakapan tadi, ternyata belum.
"Mbak itu wajahnya kog sampai rusak banget gitu, apa ga cenat-cenut rasanya? saya udunen satu aja rasanya kemranyas, kog itu satu wajah penuh jerawat gitu..."
Oke, ini nyakitin banget. Kenapa juga harus perhatian banget sama aku. Udah bikin pusing masih nyir-nyir juga, emak julidin emang.
"Ini sakit Bu, sakit banget, nusuk sampai ati" jawab Datul agak ketus. Biar saja, mumpung si bos ga ada. Pembeli julid cepat pergilah. Usir Datul dalam hati.
Dan si Ibu perasa juga di ketusi, langsung pergi dengan tatapan mata membunuh.
Hih malesi, besok lagi ogah beli di apotik ini!
"Humftttt...."
Datul meletakkan kepalanya di atas etalase. Kerja yang membosankan. Menunggu pembeli datang dan sendirian. Tidak ada teman mengobrol, giliran ada pengunjung julid gitu.
"Malesin, udah jam kerjanya lama banget... ampuni hamba ya Allah, yang selalu sambat ini"
Datul bergumam sendiri. Lupa ada CCTV di pojok atas.
__ADS_1
"Oi, mbak!"
Datul menjendil kaget. Ternyata ada pembeli lagi. "Iya mas, mau beli apa?"
Diam-diam Datul memperhatikan mas-mas di depannya. Kulitnya sawo matang, matanya bagus. Tinggi juga. Manis kalau ini mah. Wah tapi masih pakai seragam SMA. Inikah yang namanya brownis? brondong manis? hehe...
Datul senyam-senyum tak sadar.
"Mbak terpesona sama saya?"
"Eh..."
Buru-buru Datul memperbaiki raut muka. "Mase mau beli apa?"
"Obat panu mbak..."
Dih, manis-manis panuan.
"Bukan saya yang panuan, Bapak saya..."
Datul nyengir, kampret kog tahu sih aku batin gitu...
"Tahulah, mbaknya wajahnya mudah di tebak"
"Apaan sih, ngaco! Kamu pikir wajah saya TTS, seenaknya kamu tebak-tebak"
Datul mengelak lalu mengulurkan salep Miconazole pada cowok itu. "Nih ambil!"
"Kog ini mbak?"
"Itu lebih aman, salep anti jamur, tinggal oles-oles aja" Brondong manis itu seperti tak percaya.
"Kalau begitu minta nomor teleponnya mbaknya, barangkali ga cocok saya mau komplain langsung"
"Bisa dong, kalau Mbak ga mau ngasih nomor nanti aku komplain langsung sama Bu Haji mau? mbaknya ketus melulu, saya jadi pembeli merasa tidak di layanani dengan baik"
Hah, Datul rasanya pengen menjitak kepala cowok di depannya ini. Ga jadi gemas yang ada sekarang gondok. Mau tak mau Datul memberikan nomor telponnya. Cowok itu nyengir lalu pergi begitu saja.
"Bye mbak, besok saya jemput ya" ucap cowok itu sambil melambaikan tangan berjalan menjauh.
"Ini aku yang gila apa dia yang edan, kenapa aku jadi es degan gini, eh maksudnya deg-degan, haaaa...."
****
089503000010
[Mbak...]
[Mbak...]
[Mbak sarangheooo...π]
Datul mendesah, nomor tanpa nama sudah pasti cowok itu. Datul hanya membuka pesan itu, tanpa berniat membalas. Dasar bocil!
[mbak tadi aku ke apotik hlo... mbak namanya Datul kan?]
[aku tanya sama mbak nur]
[ternyata Mbak Datul libur ya]
__ADS_1
[wah pdhl aku tadi niatnya jemput hlo]
[besok mau aku jemput di mana, di depan gang atau di depan rumah? sekalian pdkt sama camerπ€]
Wah sinting!
Datul kemomosen, akhirnya di bales singkat.
[Blok!!!!]
Di blokir nomor brondong manis itu. Datul tidak mau jadi gila mendadak karena meladeni bocah.
***
Besok malamnya, Datul bersiap akan pulang. Badan capek, pikiran apalagi. Masih harus jalan gara-gara ga punya sepeda apalagi motor. Mau ngojek juga eman. Gajinya sebulan hanya cukup buat beli krim.
Tot tot.... tot...!
Berisik!
"Oi, mbak Datul ayo saya antar!"
Brondong manis itu mengikuti Datul yang berjalan lewat trotoar. Sambil mengendarai sepeda motornya pelan-pelan. Datul mengabaikannya saja, meski beberapa orang yang lewat kini mulai menoleh memerhatikan mereka. Memalukan.
"Heh, orang asing stop saya bilang! jangan ikuti saya lagi atau saya teriak!"
"Teriak aja, biar semua orang tahu kalau kita pacaran dan kamu lagi ngambek"
"Sinting! pulang sana bobok udah malam!"
"Mbak Datul kira aku anak kecil? kecil-kecil gini aku juga bisa bikin anak kecil, mau bukti?"
Wajah Datul memanas, malu sendiri. Datul mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari. Sampai nafas Datul tersengal-sengal, lututnya juga kelu, dia pun istirahat di persimpangan jalan.
Aman, aku berhasil lolos... untungnya tahu jalan tikus, jadi dia ga berhasil ngikuti aku... Datul kamu memang Joss!
Datul memuji dirinya sendiri, lalu sebuah suara membuat jantungnya hampir melompat masuk ke selokan.
"Oi, Mbak Datul... perkenalkan nama saya Andi Nugroho, panggil saya Andi atau kalau mau Mbak Datul panggil saja Andi sayang, saya akan lebih senang..."
Bahu Datul merosot. Datul kira dia berhasil lolos tapi ternyata zonk. Datul menyerah.
"Jadi, masih mau lari atau membonceng nih?"
Datul menghentakkan kaki lalu pasrah membonceng.
"Pegangan mbak!"
"Ga perlu!"
"Saya ngebut hlo...!"
Dengan satu kali sentakan motor itu ngetril di udara. Brondong kurang ajar, hampir saja Datul terjengkang. Mau tidak mau Datul pegangan pinggang brondong manis yang menyebalkan sekaligus pintar membuat hati Datul jumpalitan.
.
.
.
__ADS_1
.
ππππ