
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, tapi belum juga berganti bulan. Derita karyawan yang hanya mengandalkan gaji bulanan, tanggal tua terasa mencekik hingga bikin perut mules. Tanggal satu pas gajian berasa jadi orang kaya, tanggal duanya udah jatoh miskin lagi.
Kalian gitu enggak?
Saya rasa enggak ya, reader di sini kaya-raya, amin ya Rabb...
Datul bukan tidak bersyukur, tapi mengukur isi dompet. Gajinya yang tidak seberapa sudah mepet buat setoran motor, bayar listrik, bayar air, beli skincare yang hukumnya sudah fardhu ain. Mode hemat on. Bahkan gambar pahlawan di uang kertas yang tersimpan di dompet Datul mulai meringis, mengejek.
Datul mendesah berat, lalu kembali memasukkan dompetnya kedalam tas. Untuk makan siang di tempat kerja dia juga harus menghemat mulai sekarang. Entah kenapa juga sekarang jarang sekali Mas Ali mengirimkannya makanan. Padahal ini saat yang pas bagi Mas Ali memberikan sedekah kepada kaum duafa seperti Datul.
"Oi Mbak Datul, go food Yoh!" Indah bestienya Datul di tempat kerja yang bicara.
Datul meringis, jalankan pesan di aplikasi seperti itu, yang ada biaya pemesanan dan pengantaran, untuk beli nasi kucing saja Datul masih mikir-mikir.
"Eumm... go food ya, emang ada diskon?"
"Diskon pengantaran aja sih ini, makanya mau cari joinan biar hemat" Indah cengengesan.
"Gitu ya, emang mau pesen apa?" Kali aja cocok harganya, batin Datul.
"Nasi ayam kremes, sambel ijo, tahu, plus lalapan, lumayan cuma 20k"
Huh, itu sih mahal...
"Aku enggak dulu deh, coba tawarin ke Ema tuh barang kali mau"
"Emang Mbak Datul mau makan apa?"
"Aku gampanglah nanti, masih kenyang juga"
Kenyang uap solar! duh padahal laper asli, huaaa....
"Ow... yawes kalau gitu, aku ke sana dulu"
Datul mengangguk lalu beranjak mengisi botol minumnya dengan air dari dispenser.
Banyakin minum air putih, biar kenyang. Duh lama-lama aku bisa jadi sapi gelonggongan kalau begini. Tidak apa Datul, kamu masih berjuang, nanti kalau cicilan motor lunas kamu bisa jajan sesuka hati,
Masalahnya ini baru berjalan dua bulan, masak mau merdeka jajan aja nunggu dua tahun ke depan? Keburu tua aku...
Disela menyemangati diri sendiri Datul membuka aplikasi pesan. Pas sekali ada pesan masuk dari Mas Ali. Hal ini yang Datul tunggu-tunggu.
[udah makan?]
Datul senyum-senyum dong. Kalau di balas belum, pasti Mas Ali langsung mengirimi makanan. Enggak jadi kelaparan aku.
^^^[Belum Mas, Mas Ali sendiri udah makan?]^^^
Pasti habis ini di tanya, pengen makan apa? hihihi...
Satu detik, dua detik, tiga detik, sepuluh menit kemudian Mas Ali baru membalas.
[Interval bus kacau gara-gara macet, aku juga belum sempat makan]
Oh... kasihan Mas Ali. Pasti laper banget. Apa memang kita ini jodoh ya bisa pas gini perasaan. Sama-sama laper.
[aku boleh minta tolong?]
^^^[Minta tolong apa Mas?]^^^
__ADS_1
[tolong belikan aku makan dulu, ini aku sampai Tambak aji, biar nanti langsung bisa aku makan, buru-buru aku ini]
Datul ingin menyanyikan lagu Ku menangis ala isteri teraniaya tapi dia kan masih jadi pacar belum isteri. Lagi dia menguatkan hati, demi cinta dan rasa sayangnya.
^^^[Oke Mas, nanti sekalian aku anter ke halte nasinya]^^^
[enggak usah, nanti aku yang ambil ke tempatmu]
Selalu aja Mas Ali ngelarang aku ke temu teman-temannya. Sebenarnya kenapa ya? Apa dia malu punya pacar kayak aku...
Huh, sudahlah Datul. Mikir apa sih?
Mungkin Mas Ali enggak mau aku repot aja.
^^^[baiklah❤️]^^^
[mksh🥰]
Bayangan Indah keluar dari toilet yang tak jauh dari ruang khusus petugas.
"Indah!"
Gadis itu berhenti lalu mendekat ke Datul. "Gimana Mbak?"
"Udah pesennya nasi?"
"Udah, barengan sama si Ema"
"Duh telat kan," gerutu Datul.
"Mbak Datul berubah pikiran? Mau pesen nasi juga? mau aku pesenin?"
"Hooh... ongkirnya berapa sih?" beginah rakyat jelata, mau order online ya harus ngitung dulu.
"Wah, jadi tiga lima dong"
"Hooh Mbak Datul, tadi sih enggak mau diajak bareng"
Wajah Datul masam kayak belimbing yang jatuh dari pohon karena busuk. Menyesal setengah abad ini jadinya.
"Ya udah tolong pesenin satu, enggak lama kan?"
Indah mengeluarkan ponselnya dari saku. Lalu menyodorkan riwayat pemesanan yang ada di aplikasi.
" Enggak, nih punyaku bentar lagi nyampe"
Mata mereka bertumpu pada ojek online berjaket hijau yang baru saja masuk ke area sana.
"Itu pesenanku datang Mbak"
"Oi Mas, sini!"
Menit berikutnya gantian Datul yang menerima bungkusan nasi berkantong plastik putih. Mata Datul berkaca-kaca saat mengulurkan uang untuk membayar pesanannya itu. Semesta ikut-ikutan mendung, kasihan mungkin pada Datul. Mas Go-Jek sampai bingung sendiri, perasaan dia tidak menyakiti gadis di depannya itu.
"Udah Mbak jangan sedih, ini uangnya saya terima ya, terimakasih sudah order, berkat orderan Mbak, saya bisa makan siang" ucap kang Go-Jek tak kalah menyedihkan.
Tak lama setelah kang Go-Jek pergi, Mas Ali datang. Datul buru-buru merubah slide wajahnya dari sedih ke sumringah.
"Pas sekali Mas, ini buat kamu"
__ADS_1
"Makasih ya sayang, aku langsung aja, sisa lima menit aku jalan lagi,"
"Tak tinggal ya..."
Mas Ali menggeber motornya menyisakan asap yang mengepul tepat di wajah Datul.
Ada sedikit kecewa di hati Datul.
Udah gitu doang? Uhuk! uhuk!
Dia bahkan sama sekali tidak bertanya apa aku sudah makan atau belum. Pengen nangees tapi malu.
Acara membelikan makan siang Datul kira bakal sekali atau dua kali. Tapi ternyata tidak. Mas Ali minta di perhatikan. Minta di bawakan sarapan atau makan siang di hari-hari berikutnya.
Demi cinta, katanya...
Datul usahakan atas nama cinta. Mas Ali pacar yang baik, sopan dan tidak neko-neko. Sebelumnya Datul yang di hujani banyak perhatian dan asupan gizi. Sekarang apa salahnya jika dia membalas. Meski berkorban dia yang tidak makan. Meski kehabisan uang dan harus meminjam ke teman. Tidak apa-apa, toh bisa di bayar gajian bulan depan.
Hari esoknya, Mas Ali mengeluh lagi. Tidak punya uang untuk beli rokok. Datul kasihan lagi. Demi cinta Datul membelikan Mas Ali rokok. Rokoknya minta yang mahal, katanya kalau beli yang murah tenggorokannya tidak kuat. Bisa batuk sampai sesak nafas. Datul percaya saja. Dia tambahkan rokok satu bungkus untuk dua hari sekali. Datul senang karena bisa memberi untuk Mas Ali. Anggannya sudah tinggi, Datul berharap di seriusi dalam hubungan ini. Datul pengen nikah kayak teman-temannya yang lain.
***
Hari berikutnya, perut Datul kembali perih. Harusnya dia stok promag yang banyak. Harganya ekonomis di banding beli nasi buat makan.
Teman-teman Datul sampai sudah hafal kalau Datul sering melewatkan makan siangnya. Tubuh Datul juga semakin tidak terurus. Layu kayak tempe kemarin sore. Bulan ini sepertinya dia juga tidak bisa membeli krim. Uangnya kandas buat nutup hutang bulan lalu.
Semoga saja jerawatnya tidak menggila. Datul juga was-was kalau-kalau tambah burik. Tapi demi kesejahteraan Mas Ali, Datul rela berkorban.
"Enggak makan siang lagi Mbak?"
Datul hanya bisa tersenyum getir.
"Ayo ikut, aku yang traktir"
Datul menolak. Hari-hari yang lalu Indah juga sudah sering mentraktirnya. Datul malu kalau begitu terus.
Diam-diam teman-teman Datul yang lain sudah banyak yang bisik-bisik ngomongin Datul.
"Pacar terus di perhatikan, giliran diri sendiri malah di buat kelaparan,"
"Iya kalau aku sih ogah"
"iya, mau aja di bodohin"
Indah bestinya Datul selalu membubarkan temannya yang malah ghibahin Datul di banding membantu.
Datul kembali bekerja dengan perut kosong. Matanya berkunang-kunang. Ini rekor puncak kelaparan yang Datul rasakan. Menyiksa sangat. Kepalanya sampai berdenyut pusing.
Jangan sampai aku pingsan...
Ternyata efek lapar itu sangat mengerikan. Datul baru merasakan ini. Atau ini gara-gara dia sering abai dan membuat asam lambung jadi naik. Perihnya sampai ulu hati.
Mas Hamam, aku rindu... rindu di jajanin kamu...
_
_
_
__ADS_1
Pas di akhir aku ngakak sendiri, membayangkan wajah Datul kelaparan terus yang di ingat Mas Hamam. Wkekekek...
Kapokmu kapan Tul😜