Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 70: Raib Bersama Motor Cicilan


__ADS_3

Ada yang cenat-cenut tapi bukan jerawat. Tapi perasaan Maidatul Khan. Kemarin-kemarin nomor Mas Ali masih bisa di hubungi. Pun juga masih lancar berbalas pesan. Tapi dua hari ini Datul di buat ketar-ketir. Aplikasi pesan Mas Ali menunjukan centang satu tiap Datul mengirim pesan. Parahnya nomor telepon reguler juga tidak bisa di hubungi.


Masak iya Mas Ali jadi Bang Toyib yang enggak pulang-pulang. Pamitnya sebentar untuk jenguk ibunya, tahunya sudah dua Minggu berlalu. Memang boleh ijin kerja selama itu?


Masalahnya motor Datul itu hlo, di bawa Mas Ali. Bapak Farkhan yang terhormat juga sudah ratusan kali bertanya, kenapa motor Datul lama di pinjam. Datul sudah berkali-kali juga menjelaskan kalau ibu Mas Ali sakit, jadi belum bisa pulang. Namun Bapak Farkhan yang terhormat tiba-tiba menyeru,


"Jangan-jangan motormu di bawa kabur!"


Kan, Datul jadi berdebar-debar. Sepulang kerja nanti Datul mau minta tolong untuk di antar Indah ke rumah Mas Ali yang tempo hari pernah di sambangi. Sampai pekerjaan mereka selesai dan keduanya tancap gas menuju jalan Sudirman.


"Mbak nomor berapa rumahnya?" Datul yang duduk membonceng di belakang Indah sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Enggak apal nomornya aku, cuma aku masih ingat bentuk rumahnya.."


"Wes toh angel-angel, perumahan bentuk rumahnya kan sama semua Mbak!" Lama-lama Indah emosi juga. Datul malah ngakak.


"Wkwkwkwk... udah toh Ndah, meskipun bentuknya sama semua, nanti pas di depan rumahnya Mas Ali pasti rasanya beda, sinyalku bakal langsung getar"


"Hoek! Bucin sekarat!"


"Kemana ini terusan Mbak?"


"Sek tak ingat-ingat dulu, belok kanan kayaknya"


"Nanti pagarnya warna hitam terus ada sandal jepit putus di depan rumahnya"


"Hih, petunjuk apa itu, sandal jepit putus?"


"Gimana kalau tuh sandal udah di buang ke kali?"


"Wkwkwkwk.... aku yakin belom, siapa yang mau buang wong orangnya yang punya enggak di rumah" Datul terkekeh lagi. Meski kemudian kesulitan menemukan rumah Mas Ali. Ah, ingatan Datul memang seburuk itu.


Setelah berkeliling tujuh putaran. Akhirnya mereka menemukan rumah dengan ciri-ciri pagar warna hitam dan sandal jepit putus. Indah yang jadi supir terdengar menghela nafas berat.


"Kita udah kayak thawaf enggak sih Mbak? tujuh kali baru ketemu"


"Hehe ... maaf, maaf. Agak rancu, ternyata yang pagar hitam bukan cuma rumahnya Mas Ali, kalau ini aku yakin, soalnya tuh masih ada jepitnya, udah gitu..."


"Ekhemm! hatiku jadi berdebar gini"


"Huh, awas aja kalau salah lagi!"


"Enggak, aku yakin yang ini"


"Tapi kelihatannya sepi Mbak, pintunya rapet gitu"


"Iya sih, aku pikir barang kali ada kakaknya yang pulang kesini, tapi kog sepi"


"Tuh Mbak, pager juga di gembok"


Datul berdiri di depan pagar. Memastikan lagi. Ternyata memang pintu pagar itu tergembok. Rumah itu juga terlihat tak berpenghuni, buktinya lampu di luar masih menyala padahal ini masih jam empat sore.


"Iya ternyata di gembok"

__ADS_1


"Eh coba tanya orang Mbak"


Kebetulan ada ibu-ibu lewat menuntun anaknya.


"Maaf Bu, mau numpang nanya" Cegat Datul.


"Gimana Mbak?"


"Hmm... penghuni rumah ini kemana ya Bu? kog sepi?"


Kedua alis ibu-ibu tadi bertaut, membuat dada Datul semakin khawatir.


"Maksudnya penghuni yang terakhir kontrak di situ Mbak, Ali?"


Kontrak? Mas Ali bilang ini rumahnya... dia nyicil tiap bulan...tapi kog...


"Iya Bu, Mas Ali, ini bukannya rumah Mas Ali?"


"Ali ngontrak di sini Mbak, kayaknya udah pindah lagi, soalnya kog ya udah enggak pernah kelihatan, dengar-dengar yang punya juga lagi nyari orang yang mau nyewa"


Dada Datul seperti di tusuk-tusuk jarum pentul. Perih ceklit-ceklit. Satu kebohongan yang cukup membuat dia terkejut.


"Oh...."


"Kalau begitu saya permisi ya mbak, mau mandiin anak"


"Eummm... matursuwun Bu"


Indah yang menangkap sinyal kesedihan di wajah temannya itu langsung menenangkan.


"Ah! kita kenapa sih enggak cari pacar Mbak Datul di tempat kerja dulu!" Indah merasa jadi ketularan bodoh gara-gara Datul.


Datul mulai mewek. Ucapan Bapak Farkhan yang terhormat terngiang-ngiang di telinga Datul. Bagaimana kalau itu terjadi sungguhan. Apa yang harus Datul lakukan? Mengiklaskan? motor itu saja belum lunas angsuran. Datul bingung. Datul tidak paham bagaimana mengurusinya.


"Oi, Mbak Datul kog malah bengong!"


"Mas Ali ngelarang aku datang ke tempat kerjanya, itu kenapa aku enggak ke sana"


"Astaghfirullah,... ya udah terus ini Mbak Datul masih mau nuruti Mas Ali? Masih tetep enggak mau ketempat kerjanya?"


"Ya enggak gitu juga, masalahnya Mas Ali juga enggak ngasih kabar apa-apa"


"Aku bingung kudu jawab apalagi sama Bapakku"


"Ckkk! kalau gitu ayo kita samperin ke tempat kerjanya!"


Datul mengangguk pasrah.


****


Untung Indah itu besti yang penyabar. Jauh dari Jalan Jenderal Sudirman, dia arahkan laju motornya ke jalan Jenderal Urip Sumoharjo. Tidak hitung-hitungan bensin, juga tidak minta di traktir barang beli es kuwut. Meski sebenarnya tenggorokannya juga kering.


"Parkir di mana ini Mbak motornya?"

__ADS_1


"Bawah pohon itu aja, takutnya di marahi orang kalau parkir sembarangan"


"Mayan jauh jalan ke haltenya Mbak"


"Daripada di tubruk bus motormu, Ndah"


"Hmm... Iyo wes"


Motor sudah terparkir adem. Datul dan Indah yang kepanasan sekarang. Meski sudah sore


matahari di terminal masih terasa panas membakar wajah mereka yang sudah kileng-kileng karena berminyak.


Sesampainya di halte, mata Datul memindai aktivitas di sana. Harus bertanya pada siapa? Pada petugas tiket atau petugas cleaning servis yang sejak tadi terlihat santai.


"Buruan tanya Mbak!"


"Enaknya tanya siapa?"


"Gitu aja masih di tanya? coba tanya itu Mbak yang jual tiket aja"


"Oh oke..."


Datul menunggu perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya dulu, di rasa sudah kosong, tidak ada orang antre tiket Datul mendekat.


"Permisi Mbak, mau tanya"


"Mas Ali, driver, hari ini masuk kerja atau tidak?"


"Oii... Mbaknya siapa ya?"


"Saya paca---, temennya, ada perlu sedikit sama Mas Ali"


"Duh, Mas Ali udah enggak kerja di sini sih Mbak. Udah di pecat!"


Duarrrrrrrrrrrrrr!!!!!


Langit terang, bahkan cenderung panas. Tapi di telinga Datul malah terdengar ada petir yang menyambar-nyambar. Seakan ada badai besar yang akan datang. Menerpa dunianya lalu ikut meluluh lantak semua kepercayaan yang selama ini Datul junjung. Dititik ini, masih bisakah Datul berkata dirinya baik-baik saja? Nomor tidak bisa dihubungi, rumah kosong, dan di pecat dari tempatnya bekerja. Mas Ali raib bersama motor Datul yang belum lunas cicilan.


_


_


_


Mau minta tolong dong😁


pembaca Maidatul yang Budiman, adakah yang bersedia jadi admin grup chat aku?


Aku enggak pernah ngurus grup itu, sepi sih, Beberapa orang tok, aslinya butuh bantu promosi, jujur aku down, novel ke tiga ku ini aku rasa semakin baik dalam proses belajar ku menulis, tapi untuk naik agar novel ini di kenal kog begitu syuliiitttt...


I need dukungan kalian buat promosi 🥰🥰🥰


kangen di boom like 😭

__ADS_1


Makasih sebelumnya 😘


__ADS_2