
Tubuh Ali terkapar, layaknya anak kucing yang baru saja tertabrak mobil dan tidak ada yang menyelamatkan. Nafasnya putus-putus. Laki-laki itu bahkan sempat berpikir akan segera bertemu malaikat pencabut nyawa lalu masuk neraka.
Bisa saja sebenarnya kalau Mas Hamam mau. Tinggal memerintahkan orang-orangnya untuk mencincang tubuh Ali, lalu membuangnya ke pantai Maron. Tidak akan ada yang curiga, toh mereka sudah profesional dan pantai itu seperti pantai mati, karena jarang sekali orang menapakkan kaki di sana.
Kenyataannya, Mas Hamam punya cara sendiri untuk membuat Ali kapok seumur hidup. Di sisa kesadaran Ali, Mas Hamam meminta laki-laki itu untuk mengakui kesalahannya.
Si Cindil menyandarkan tubuh Ali yang sudah letoy di pojokan, lalu mengarahkan kamera yang mengekspos wajah penuh luka-luka hasil karya mereka. Sementara Mas Hamam sudah menyelesaikan nyanyiannya. Laki-laki itu hanya menonton. Tidak mau mengotori tangannya.
"Akui semua ke busukanmu! atau kau akan berakhir jadi santapan anjing!" tegas Cindil. Yang lain tergelak, menertawakan Ali yang tidak berdaya.
Laki-laki licik itu menangis, "Hmb... ampuni aku, aku mengaku salah,"
"Aku menjebak Maidatul, uhuk!" Darah segar muncrat dari mulutnya.
"Ak-uu... sengaja merekamnya sa-at mandi"
"UHUKK!!!"
Tidak puas dengan jawaban itu, Cindil menjambak rambut Ali dari belakang. Tentu wajahnya dia amankan, jangan sampai ke shoot kamera. Dia bisa kaget sendiri melihat wajahnya yang jelek jika ke shooting tanpa sengaja.
Ali mengerang kesakitan. "Hasmmmbbb... sumpaah...! aku ti-dak ada salinan ya--ng lain, lepas aku mohon!"
Cindil menjambak lebih kuat lagi, sampai rasanya nyawa Ali ikut ke cabut.
"Di-a jatuh sendiri, ka-mi sempat rebutan pon-sel saat itu, lalu, dia jatuhhhhhhh"
Mas Hamam memejamkan mata. Emosinya tergugah, manakala membayangkan tubuh Datul yang terlempar dari atas lalu menabrak lantai tepat di depan matanya sendiri waktu itu.
Kali ini Mas Hamam sudah tidak tahan, dia maju bersamaan dengan Tomi yang mematikan kamera.
BUG!
Satu pukulan keras tepat mengenai tulang hidung Ali. Darah segar kembali bercucuran dari lubang hidung laki-laki itu. Lalu Ali merasa semuanya menjadi gelap.
****
Mas Hamam bukan pembunuh. Dia laki-laki tampan yang sampai kapanpun akan terlihat baik, meski sebenarnya ada sisi menyeramkan yang tidak banyak orang tahu. Bagaimana dia mengenal preman-preman menyeramkan, yang siap menghabisi nyawa seseorang hanya dalam satu kali perintah.
Intinya saja, preman-preman itu Mas Hamam kenal saat dirinya mengadakan penyuluhan kesehatan di lingkungan lokalisasi. Berlanjut sering tongkrongan bersama, lalu iseng-iseng Mas Hamam meramalkan nomor togel. Curut yang waktu itu ikutan masang nomor hasil ramalan Mas Hamam, bak ketiban durian runtuh. Tembus lima puluh juta sekaligus. Sedikit pun Mas Hamam tidak minta pajak. Sejak saat itu Curut menjunjung tinggi pertemanan mereka. Menghormati Mas Hamam layaknya bos besar.
Ali masih hidup. Mas Hamam yang baik membawanya ke rumah sakit yang sama dimana Datul di rawat. Menanggung semua biaya administrasinya, padahal dia yang membuat laki-laki itu hampir meregang nyawa. Meski harus ngutang dulu dari uang Tomi. Tak apa, toh bisa di cicil dari uang gaji bulanannya nanti.
__ADS_1
Ali membuka mata perlahan. Setelah beberapa jam yang lalu tidak sadarkan diri. Ali di operasi karena tulang hidungnya yang patah, bibir yang robek, begitu juga tulang tangan kanannya yang geser. Sehingga sekarang harus di beri penyangga.
Begitu sadar Ali beringsut ketakutan. Melihat siapa laki-laki yang duduk melipat kaki di sofa seberang sana dengan santai menatap ke arahnya.
"Kenapa ekspresi mu seperti melihat hantu begitu, huh!"
Yang di tanya bukannya menjawab malah langsung mewek. Wah, dimana laki-laki songong yang dulu sering mengatai Mas Hamam sebagai bocah.
"Apa? apa kau ingin aku memainkan lato-lato saat ini?!"
"Ini rumah sakit, suaranya nanti bisa mengganggu pasien yang lain, kapan-kapan saja ya, nanti aku mainkan lato-lato spesial buat mu!" Ucap Mas Hamam beranjak mendekat.
Ali menggeleng lemah. Sedikit pun dia tidak mampu mengeluarkan suara. Hanya bisa menelan ludahnya sendiri yang terasa pahit.
****
Menit berikutnya, Mas Hamam mendorong kursi roda, membawa Ali keruangan Maidatul Khan yang masih belum sadar juga bak sleeping beauty yang tidur abadi.
Hanya di luar, melihat Datul terbaring lewat kaca transparan. Mas Hamam tidak rela membawa Ali masuk kedalam.
Melihat kondisi Datul yang mengenaskan, Ali meneteskan air mata. Tersedu-sedu. Rasa bersalahnya kian besar. Entah, sepertinya Tuhan memberikan hidayahnya saat itu. Ali menyesali perbuatannya sungguh-sungguh. Mas Hamam bisa melihat dan merasakan atmosfer penyesalan itu.
"Maafkan aku, aku banyak salah sama kamu, hoaaaa.... hoaaaa...."
"Heh orang tua! diam sekarang atau pita suaramu aku putus!"
Nyali Ali menciut. Dia masih sayang nyawa. Tangisannya perlahan mengendur.
"Aku berjanji setelah ini tidak akan menampakan wajahku di hadapan kalian,"
"Memang sudah seharusnya begitu!"
"Tolong, sampaikan maafku pada Datul" Mas Hamam hanya ber-hmm ria.
Semuanya sudah berakhir. Meski tidak menjebloskan Ali ke penjara, pelajaran yang Mas Hamam berikan cukup setimpal. Toh keluarga Datul sudah legowo menerima ini semua sebagai kecelakaan yang tidak di sengaja. Mengenai kesembuhan Datul, mereka pasrahkan pada yang kuasa.
Biarkan berita mengenai seorang gadis yang terjatuh dari lantai dua Terminal Mangkang menggantung dan menguap begitu saja. Seiringnya waktu masyarakat pasti akan lupa, karena jelas Maidatul Khan bukan siapa-siapa. Bukan publik figur ataupun selebgram yang sariawanan saja bisa di jadikan konten.
Mas Hamam menyambut hari esok dengan dada yang lebih lega. Berharap kebahagiaan akan segera hadir mengantikan kesedihan yang datang bertubi-tubi tempo hari.
****
__ADS_1
Satu bulan kemudian. Ruang ICU dimana Maidatul Khan terbaring bagai sleeping beauty abadi, di hiasi dengan bunga hydrangea berbagai warna. Putih, hijau, pink, dan biru. Wanginya menyeruak hingga lorong bangsal rumah sakit.
Hari ini Mas Hamam akan membuktikan janjinya pada seorang laki-laki tua yang begitu ia hormati. Mas Hamam akan menikahi putrinya.
Tidak bisa di gambarkan bagaimana terharunya Pak Farkhan. Bahkan Zida yang menjadi saksi hidup perjalanan asmara Datul, sudah menangis sesenggukan sebelum acara di mulai.
Mas Hamam datang bersama kedua orang tuanya. Hatinya begitu mantap untuk melangsungkan pernikahan tepat di tanggal yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Meski resepsi pernikahan mereka akan di undur, entah kapan. Yang terpenting adalah pelaksanaan akad pernikahannya bukan?
Maidatul Khan sudah aku bilang bukan, kau tidak akan bisa lari dariku. Lihatlah, hari ini aku begitu tampan. Sebentar lagi aku akan menjadi suami mu. Ckk! Setelah ini, aku tidak mau tahu, kau harus bangun!
"Apa bisa kita mulai sekarang?" Tanya Pak penghulu.
Pernikahan ini di hadiri oleh orang terbatas sebab akan di laksanakan di ruang ICU. Dari pihak Mas Hamam hanya kedua orang tuanya dan satu orang Pak Dhe, kakak dari ayah Mas Hamam. Sedangkan dari pihak Datul, hanya Pak Farkhan, Pak lek dan bulek yang merupakan orang tua Zida. Semua mengangguk berbarengan. Lalu satu persatu memasuki ruangan di mana Datul berbaring.
Mas Hamam menatap Datul sekilas, gadis itu hanya memakai pakaian pasien berwarna putih, terlalu mustahil memakaikan Datul kebaya dengan kondisinya yang sekarang. Untung Zida berinisiatif memesan hiasan kepala yang cantik dan memakaikannya di rambut Datul. Meski wajah pengantin pucat karena sama sekali tak tersentuh make-up, setidaknya dengan hiasan itu Datul terlihat sedikit di dandani. Begitu saja Datul sudah terlihat cantik di mata Mas Hamam.
Detik berikutnya, Mas Hamam menjabat tangan penghulu dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maidatul Khan binti Muhammad Farkhan dengan maskawin tersebut, tunai.”
"Sah!"
"Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama‘a bainakuma fi khairin..."
Tidak ada yang tidak terharu dan tidak menangis menyaksikan pernikahan ini. Para perawat yang ikut menjadi saksi meski hanya melongok dari ambang pintu saja ikut meneteskan air mata.
Mereka kagum dengan kesetiaan mempelai pria, yang tetap menikahi calon pengantinnya, meski tidak tahu dengan pasti kapan gadis itu akan sadar. Mungkin mereka akan terus mengingat kisah ini, sebagai sejarah karena baru kali ini, ada pernikahan yang di lakukan di ruangan ICU, di rumah sakit tempat mereka mengabdikan diri.
_
_
_
Hiasan rambut yang di pakai Datul, tapi Datul tanpa make-up ya,😑
Love buat Mas Hamam & Datul😭
Pernikahan yang harusnya di penuhi kegembiraan dan suka cita, terpaksa di lakukan dalam kondisi yang seadanya 😑
__ADS_1
Andai Datul tertidur abadi, Mas Hamam kasihan ya, auto jadi duda ting-ting😔