
Sepulang dari rumah Ativa, Datul kelaparan. Jam menunjukkan pukul sebelas, lebih enam belas menit tujuh detik, saat Datul selesai bersih-bersih diri dan ganti baju kebanggaan. Kaos oblong joger jelek berwarna kusam dan celana kolor selutut.
Datul ingin makan, namun saat membuka mesin penanak nasi, ternyata nasinya tinggal sedikit dan kering, sebab dia sendiri lupa mencabut kabel tadi. Hanya tersisa sepotong tempe kecap dan sebutir telor semur. Mana mau Datul makan itu.
Jalan pintasnya ya mie instan. Datul menyiapkan panci berisi air lalu menyalakan kompor. Suara menyalakan kompor gas saja bahkan terdengar nyaring malam itu. Belum lagi tangan Datul tak sengaja menyenggol tutup panci. Glontang!!!!
Ah, sial! gerutu Datul sambil berjongkok mengambil tutup yang terjatuh. Ternyata suara berisik di dapur sukses membangunkan Farkhan.
Farkhan muncul dengan wajah masih mengantuk, "Tul, kirain kucing. Baru pulang ya kamu?" tanya Farkhan dengan suara lembut.
Hanya tinggal berdua, jadi mereka sepakat masing-masing mereka membawa kunci rumah. Agar Datul tidak menggangu Bapaknya tiap kali pulang malam seperti tadi.
"Hehe... iya Pak, asyik ngobrol sama Tiva, jadi lupa waktu"
"Huh, kulino" (biasa)
Komentar Farkhan hanya Datul balas dengan cengiran seperti biasa. "Bapak mau makan mie? sekalian Datul buatin"
"Enggak, hoammmm..." Farkhan bahkan menguap karena kantuknya. Tapi pria gempal yang penyabar itu sedikit pun tidak marah karena terganggu tidurnya.
"Kamu aja, jangan lupa nanti lampu tengah di matikan kalau kamu mau tidur" ucap Farkhan sebelum kembali ke kamarnya lagi.
Datul menunggu air mendidih sambil mainan hp. Berniat memberi tahu Hamam jika misinya gagal. Namun belum selesai mengetik pesan, Hamam yang rupawan malah telpon duluan.
"Hallo...!"
"Haiiiiii...." Duh manisnya. Seharian Hamam tidak mengirimi Datul pesan, jam-jam malam seperti ini dia seringnya muncul. Datul sudah hafal.
"Gimana?"
"Misi gagal! Ativa tetep nolak ketemu kamu Mas,"
"Hah? gimana ceritanya!? kamu pasti ga sungguh-sungguh minta sama dia"
Datul membuang nafas kasar, Hamam bisa dengar itu.
"Aku sudah nanges-nanges, ngesot, ngemis ga dapat uang, dia tetep ga mau, malahan aku yang ga enak, dia ikutan nangis tadi"
"Hah! kenapa dia nangis juga! kamu apakan dia!" Sial, Hamam mulai ngegas. Seakan tidak terima jika pujaan hatinya meneteskan air mata.
"Sudahlah Mas Hamam, dia itu udah punya orang spesial, mau jungkir balik jungkir lagi balik lagi, dia nolak Mas Hamam! oke!!!"
"Jadi Mas Hamam stop berharap sama dia!" "Cukup sudah, aku ga mau persahabatan kami malah renggang gara-gara aku maksa dia buat ketemuan sama Mas Hamam,"
"Enggak, enggak bisa. Kesepakatan kita, aku mau mundur kalau dia mau nemenin aku kali ini, kalau dia ga mau ya aku ga mau mundur, enak saja!"
__ADS_1
"Dih! maksa!"
"Harus!"
"Ya udah usaha sendiri sana! aku udah angkat tangan!"
"sori, ga bisa bantu lagi"
"Heh, heh, Maidatul!" Hamam setengah memekik. Membuat Datul menjauhkan ponselnya, bisa-bisa Datul budek gara-gara teriakan Hamam.
"Mana bisa seperti itu!?"
"Bisalah! Sekarang jelas dia udah ga mau, Mas Hamam maksa, gimana pun yang ada percuma, bikin capek!"
"Kalau masih ngeyel, yawes usaha sendiri sana, aku udah ga mau terlibat, ga apa gagal dapat suntikan honor perawatan wajah, yang penting ga kehilangan teman,"
Hamam gelagapan. "Ya-yakin? memang sampai kapan kamu mau angkrem di dalam rumah seperti itu? tidak rindu menghirup udara bebas?" Datul sebenarnya memang butuh. Tapi mau bagaimana lagi.
"Hah, sudahlah! aku mau usaha back to nature buat menghilangkan jerawat, tanpa krim-kriman!"
"Hah, apa?" Hamam masih di buat bingung dengan istilah back to nature yang Datul lontarkan.
"Udah! aku matikan, mie ku mbedo-dog kalau ngeladenin Mas Hamam teros!
Datul memutuskan obrolan sepihak. Perutnya lapar, jangan sampai di tambah emosi, bisa-bisa bukan mie rebus yang dia makan, ponselnya sendiri yang Datul kletak!
****
"Mbak! Mbak Datul!"
Datul memperdalam tidurnya. Bahkan dia sengaja menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh bahkan kepala. Ella yang terbiasa bludas-bludus tak segan masuk ke kamar Datul, setelah tadi di bukakan pintu oleh Farkhan.
"Heh! Mbak Datul pantas saja jauh jodohnya, jam segini masih tidur!"
"Bangun Mbak!"
Ella menggoyang-goyangkan tubuh Datul. Datul tak bergeming. Ella penasaran. Menurutnya, sangat aneh penampilan Datul semalam. Ella merasa ada yang Datul sembunyikan, apalagi akhir-akhir ini Datul jarang terlihat di peradaban.
Ella beralih menarik selimut Datul. Datul yang sebenarnya sudah siuman, bertahan dengan memegang ujung selimut yang menutupi wajahnya. Ella tidak mau kalah. Dia semakin kuat menarik. "Lepasin selimut Mbak! aku mau lihat!"
"Mbak Datul kamu sembunyikan apa sih!"
Blasss!
Ella hampir terjengkang setelah berhasil menarik paksa selimut Datul. Rambut Datul awut-awutan, dan wajah Datul yang penuh ruam merah berhasil membuat Ella menganga.
__ADS_1
"OMG!!!! Mongkeypoc!"
"Wait! orang-orang harus tahu ini! ini bahaya! Mbak Datul bisa menulari kami semua!"
Dengan kecepatan cahaya, Ella mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu memotret wajah Datul yang memang penuh bentol-bentol merah hingga leher.
"Heh, Ello elo! kamu pikir ini cacar monyet! Kamu yang monyet!" geram Datul.
"Sembarangan kalau ngomong! ini jerawat biasa! jangan aneh-aneh kamu ya! bawa sini hp kamu!"
Datul sadar jika Ella tadi sempat memotretnya. Kurang ajar sekali memang ini cewek. Datul berusaha merebut hp Ella tapi gadis itu gesit melompat mirip belut.
"Enggak bakal aku kasih! tadi malam mbak Datul pakai kostum squid game, jadi untuk menutupi ini semua?" Mereka kejar-kejaran sampai ruang tamu. Meja dan kursi menghambat pergerakan Datul untuk merebut ponsel Ella.
"Mbak Datul harus isolasi, atau paling tidak di bawa ke rumah sakit, cacar monyet lagi merebak, kalau ada yang tertular, jelas Mbak Datul virusnya, warga harus tahu, Pak RT sekalian!"
"Ella! jangan gendeng! apa maksudmu!"
Ella sangat gesit berlari kearah pintu keluar. Datul yang sedang seperti itu tak mungkin mengejar Ella sampai luar. Apalagi Datul ingat belum mengenakan bra, kebiasaan Datul melepas benda penyangga dua aset gunung kembarnya sebelum tidur.
"Elllaaaaa! awas saja kamu!"
Datul merosot, terduduk di lantai sambil menahan sesak di dada. Masih pagi, perutnya belum kemasukan apa-apa. Datul bahkan belum gosok gigi. Tapi lihatlah bagaimana masalah menyapanya.
****
Tak menunggu hari esok, pagi menjelang siang itu grup chat remaja kampung dengan nama "REMAT" alias Remaja Tanjung itu di hebohkan oleh sebuah kiriman dari Ella. Foto wajah Datul di share dengan keterangan yang menohok ginjal, memecahkan empedu.
Warning! Monkey pox! Wabah cacar monyet di sekitar kita! Jauhi Maidatul Khan, jika tidak ingin tertular!
Di sana juga tertulis, sebuah permohonan agar ketua RT dan RW bisa tegas mengambil sikap.
Hamam yang sedang tongkrongan di kantin kampus dan baru sempat membuka ponsel pun berdecak geram.
"Apa-apaan ini!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Yuhu... tetap jaga kebersihan di manapun berada, kesehatan badan, dan pertebal iman😁