
Hamam menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nafasnya kasar. Tangannya yang kokoh kini mengayun, mengetuk pintu rumah Datul.
Tok! Tok! Tok!
Nihil. Tak ada sahutan. Hamam mengulangi lagi mengetuk pintu. Apa penghuni rumah benar-benar tidak ada. Gumam Hamam.
Di dalam kamar, jelas Datul mendengar ketukan pintu itu. Tapi enggan untuk membukakan. Meski suara ricuh tadi kini sudah tak terdengar lagi. Justru itu yang membuat dirinya semakin takut. Jangan-jangan itu hanya kamuflase emak-emak yang mendemo dirinya tadi.
Sampai getaran ponsel mengagetkan Datul yang hatinya jelas masih was-was.
"Hmm?"
"Aku di depan rumah kamu, bukain pintu cepet!"
"Ngapain? Mas Hamam mending pergi, aku bisa di hakimi masa kalau sampai keluar"
"Mereka sudah pergi, di luar aman, kalau tidak percaya, biar aku kirim foto terkini"
Hamam tidak bohong, dia mengirimkan foto kondisi halaman rumah Datul yang kini nampak normal.
"Lihat sendiri, harusnya kamu berterima kasih, aku berhasil mengusir mereka semua"
Datul jadi Aziz gagap, gimana caranya Hamam Amirul Mukminin bisa menjinakkan emak-emak yang lebih mirip bom hidup ketimbang manusia.
"sekarang bukain pintu, aku ada perlu ngomong sama kamu"
"Mas Hamam apakan mereka, kog mau nurut sama Mas Hamam?"
"Sudah, ijinkan aku masuk dulu, baru nanti aku cerita, bawel!"
Kali ini Datul tidak bisa menolak, jika benar semua berkat Hamam, Datul tentu harus bersikap baik.
"Iya, tunggu sepuluh menit lagi kalau begitu"
"Heh, kenapa harus menunggu selama itu? apa susahnya buka pintu sekarang"
"Aku baru saja bangun tidur, setidaknya beri waktu sebentar buat menyiapkan wajah agar layak bertemu sama Mas Hamam, oke?"
Hamam mana tahu jika wajah Datul cemong bedak adem. Lagipula Datul juga butuh persiapan ekstra, jangan sampai wajahnya yang buruk rupa terlihat jelas oleh Hamam. Jangan sampai!
-
-
Minta waktu sepuluh menit, nyatanya lima belas menit lebih Hamam menunggu. Para wanita sepertinya punya versi jam sendiri.
Dengan mengucap basmalah, Datul membuka pintu. Buru-buru dia mempersilakan Hamam masuk.
Sedangkan penampilan Datul siang itu sukses membuat Hamam mengerutkan dahi. Memakai kerudung plus cadar, menyisakan mata sipitnya yang hanya terlihat. Namun untuk bawahannya, Datul masih utuh pakai celana pendek.
"Duduk Mas! kenapa malah bengong?"
"Kamu sebenarnya lagi cosplay jadi apa sih? *******?!? ga paham aku, pakai cadar tapi koloran?" sindir Hamam.
Datul cuek, yang penting wajahnya tidak terexpos.
"My name is Maidatul Khan, Khan! dari tenggorokan, dan saya bukan *******!" seloroh Datul, yang malah menirukan dialog Shahrukh Khan dalam film My Name is Khan.
Hamam refleks menyentil dahi Datul yang sekarang semakin terlihat tidak waras. Hingga gadis berjerawat itu mengaduh.
__ADS_1
"Attah! semena-mena ya anda!"
"Biar, kelamaan mengurung diri, sepertinya otak kamu geser, tuh aku benerin biar lurus lagi!" Datul merenggut tanpa bisa membalas.
Hamam mengedarkan pandangan, baru ini dia bertamu ke rumah Datul.
"Sepi?"
"Bapak lagi tidur siang, tadi ramai di luar katanya Mas Hamam yang usir"
Syukurlah kalau Bapak Datul tidur, padahal tadi aku sudah takut di tanyai macam-macam.
"Gimana ceritanya?" tanya Datul antusias setelah keduanya duduk berhadapan di ruang tamu.
Alih-alih langsung bercerita, Hamam malah menyombongkan diri. "Bilang makasih dulu, aku sudah jadi penolong mu kali ini"
"Oke, oke, terimakasih ya Mas Hamam, sudah jadi pahlawan kesiangan untukku hari ini"
"Dih, cukup pahlawan saja, kenapa di tambah embel-embel kesiangan, aku sukses usir mereka hlo!"
"Kan, Mas Hamam datangnya siang, kalau datang pagi, namanya pahlawan kepagian, masuk akal?"
"Garing!"
Datul meringis di balik cadar. "Ga lucu ya?"
"Ga sama sekali"
"Ya sudah, toh aku juga bukan badut. Sekarang cerita, gimana tadi sebenarnya?"
"Nih, ga di kasih minum dulu? kering tenggorokan habis cuap-cuap tadi"
Datul meletakkan segelas air putih untuk Hamam. Ini namanya apa adanya. Adanya air putih. Teh, gula, habis dan Datul belum beli. Pengangguran, pasal tidak punya uang tidak bisa di salahkan. Karena haus, Hamam minum saja itu air suci sampai tandas.
"Ahhh... segar! Kamu tahu tidak, dari kampus aku bela-belain ngebut sampai sini"
"Aku lihat kiriman Ella, anak itu benar-benar" geram Hamam. Expresi wajahnya yang menahan amarah, tentu saja membuat Datul baper.
Benarkah, Mas Hamam sebegitu mengkhawatirkan aku? Dia terlihat marah saat tahu aku di Fatonah, eh... maksudnya fitnah.
"Aku sudah memperingatkannya tadi, kamu jangan khawatir, aku berani menjamin kalau luka di wajahmu bukan cacar monyet, tapi cuma jerawat, benar begitu bukan?"
"Hah? Jadi Mas Hamam belain aku di depan mereka semua?" Datul mesam-mesem dong. Tambah melambung tinggi bapernya.
"Iya, aku juga janji sama mereka, bakal ngasih bukti medis"
"Bukti medis? maksudnya?"
"Ya kamu harus ke dokter, dokter kulit, lalu minta surat keterangan, aku rasa itu cukup mudah"
Bahu Datul merosot, mudah kalau punya uang. Kalau kantong jebol kayak Datul tentu saja itu masalah baru.
"Mas Hamam, itu namanya kamu nyuruh aku pusing dua kali, lebih baik aku di fitnah, aku cukup di rumah saja, tutup kuping mereka mau ngomong apa, sekarang kalau Mas Hamam minta aku periksa ke dokter, aku harus mikir cari uang buat berobat, gimana coba?"
"Mas Hamam sudah tahu sendiri, kalau aku ini pengangguran tulen"
"Mas Hamam pikir, ke dokter kulit itu murah? Kalau punya uang, sudah tiga Minggu yang lalu aku berobat, masalahnya.... ahhh... sudahlah!"
"Pening nih kepalaku!" Kalau tidak sedang berkerudung seperti ini, mungkin Datul sudah menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Heh, Maidatul Khan, dengar ya! Kamu pikir aku cuma omong kosong? Kalau aku berani menjamin, tentu saja aku yang tanggung jawab"
"Aku yang bakal bayar, kamu tinggal berangkat. Kurang baik apa sih aku sama kamu, hah?!"
Datul nampak berpikir sebentar. Maklum, ibarat sinyal, otak Datul itu baru 2G.
"Males ah, nanti pasti ada S&K, udah deh ga mau aku, urusan Tiva udah nyerah, tenan"
"Ga ada, ini semata karena aku kasihan sama kamu. KA-SI-HAN! Ingat itu! jangan baper juga, ga baik buat hati kamu!"
Sial! kenapa juga di perjelas! Bukankah baper itu hak asasi manusia, jahatnya Mas Hamam...
Datul besengut kesal, meski begitu jika di tolak ya sama artinya dia congkak. Lagipula kalau di pikir lagi yang terpenting sekarang memang bukti otentik yang menerangkan jika Datul tidak terjangkit monkey pock.
"Kapan?"
"Besok boleh, kebetulan kuliah kosong"
"Biasa ke klinik mana?"
"Ns Glow"
"Huh, itu artinya kudu pasang togel nanti malam" lirih Hamam, nyaris tak di dengar Datul. Klinik itu terkenal mahal. Bukan hanya harga krimnya saja, tapi dan lain-lainnya. Semua orang sudah tahu, bahkan tidak kaget lagi.
"Hah, apa?"
"Ga apa, aku rasa butuh bawa uang banyak jika ke sana"
"Ya memang... mbok pikir?"
Hamam tersenyum meringis, memamerkan giginya yang putih dan rapi. Duh dek, Datul ga mau kedip.
Dari ruangan lain, suara Farkhan terdengar menggema. "Tul, ada tamu siapa?" Kemudian Farkhan muncul sambil membetulkan sarung yang dia pakai.
"Oh Nak Hamam..."
"He... iya Pak... ganggu istirahat Bapak ya...?" Hamam cengar-cengir.
"Enggak, enggak sama sekali...., Tul kog ga di isi lagi gelasnya Nak Hamam, sana pesenin es teh atau kopi"
"Nak Hamam tumben sekali main kesini"
Dan siang itu, pahlawan kesiangan Maidatul Khan tertahan di sana karena Farkhan mengajaknya mengobrol panjang kali lebar kali tinggi. Tinggal kasih permainan papan catur, maka mereka berdua seperti layaknya ayah mertua dan menantu laki-laki.
Amin, amin, amin,.... batin Datul.
.
.
.
.
.
.
Kencengin like, komen, bagi hadiah yok, soalnya othornya ini mageran😁
__ADS_1