Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 82: Insiden


__ADS_3

Datul memeluk tas ransel lungsuran saudaranya dulu. Sementara perjalanan dari rumah hingga Terminal dia rasa sangat jauh. Padahal biasanya cukup lima belas menit saja. Bus yang dia tumpangi entah berapa kali berhenti. Entah berapa banyak orang yang naik turun, semua blur di mata Datul. Peduli setan dengan tatapan aneh orang lain. Nyatanya Datul tak kuasa membendung air mata itu.


Sementara Mas Hamam, setelah dititahkan menyusul Datul ke rumah, laki-laki itu hanya menemukan rumah Datul yang terkunci. Dadanya tiba-tiba terasa sakit dan berdegup tak karuan. Berulangkali dia menghubungi nomor Datul, tapi tidak aktif. Apa benar Datul pergi ke tempat sanggar rias?


Suara Mbak Minem menyentak Mas Hamam.


"Mas Hamam cari Datul?"


"Em... iya Mbak, Mbak Minem ada lihat Datul lewat?"


"Ck, iya tadi lewat... mau kemana sih dia, pakai gendong ransel besar, mau kemah?"


Kan Mbak Minem malah ngajak Mas Hamam main tebak-tebakan. Tambah puyeng kepala Mas Hamam.


"Kemah apa, Mbak Nem kira Datul lagi ikut Pramuka, Ck!"


"Oi Mbak, emang tadi Mbak Minem enggak sempet nanya gitu Datul mau kemana?"


Mbak Minem yang sedang bersiap membuka warung meninggalkan pekerjaannya lantas mendekati Mas Hamam.


"Walah, nanya-nanya nanti di kira saya kepoan Mas, wong tadi cuma lihat sekilas dia naik bus dari depan sana"


"Naik bus? bus apa? Mbak Nem ingat warna busnya?"


Kalaupun ingat ya masak Mas Hamam mau cari itu bus. Membuang waktu dan tenaga. Haduh, Mas Hamam benar-benar blank.


"Sulit sekali pertanyaannya Mas, saya juga tidak begitu jelas busnya warna apa, campur-campur ada gambarnya tiga anak kecil ganteng-ganteng, terus ada tulisan nya apa ya..." Mbak Minem berusaha mengingat lagi.


Mas Hamam menggelengkan kepala, bukan itu jawaban yang dia harapkan. "Maksud saya, Mbak Nem tahu tujuan bus itu kemana?" Itu baru benar.


"Oh, busnya jalan ke timur, sudah pasti arah kota toh Mas"


Itu dia, arah kota pasti semua bus umum habis di terminal dulu. Jelas Datul tidak ke sanggar, karena setahu Mas Hamam, sanggar itu ada di daerah Kendal. Mas Hamam buru-buru melompat ke atas motor. Kecemasannya memuncak hingga ke ubun-ubun. Dia harus bisa menemukan Datul sebelum gadis itu pergi terlalu jauh dan semakin sulit di temukan.


Datul, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu berniat meninggalkan aku hah?


***


Sementara itu bus Datul sudah memasuki Terminal Mangkang. Semua penumpang turun, termasuk Datul. Sejak pagi Ali sudah mengirimkan lokasi pertemuan mereka. Peringatan agar Datul datang sendiri dan agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain pun sudah berulangkali Ali gaungkan.


Datul melangkahkan kaki, masuk ke gedung utama yang lebih mirip aula sangking besar dan luasnya. Di dalam sana hanya satu dua kios yang buka. Lainnya terlihat terkunci rapat. Pun juga cenderung sepi karena penurunan penumpang biasa di drop di jalur luar. Seperti Datul tadi.




Di tempat ini juga Datul dulu memberikan nomor teleponnya ke Ali. Setelah laki-laki itu tebar pesona. Datul tidak menyangka akan kembali ketempat ini menemui orang yang sama namun dengan perasaan yang jauh berbeda. Saat berada tepat di tengah sana, kepala Datul menegadah ke atas. Dan sesosok laki-laki yang dia kenali benar berada di sana.


Memakai topi hitam dan masker duckbill senada. Ali melambaikan tangan. Membuat tubuh Datul bergetar hebat. Siapa yang tidak ketakutan di posisi Datul? Laki-laki yang dulu dia titipi separuh hatinya bisa sejahat ini. Menipu, mengancam, memeras! Cuih!

__ADS_1


Meski begitu kaki Datul tetap melangkah, setapak demi setapak anak tangga dia pijak. Entah bagaimana laki-laki jahat itu bisa keluar dari bui, Datul tidak paham. Yang jelas seumur hidup Datul, dia bersumpah akan membenci laki-laki itu.


Datul sudah berada di lantai yang sama dengan Ali. Hanya beberapa langkah saja jarak keduanya bisa terkikis. Dan Ali yang maju duluan. Derap langkah kaki Ali terdengar mengiris hati Datul yang lemah.


"Hai Maidatul Khan, ternyata kamu masih sama, .... penurut, bodoh, dan mudah di manfaatkan," Kepala Ali meneleng ke kanan, mengintimidasi Datul yang aslinya ketakutan.


"Haishh... tapi aku suka kamu yang seperti ini... ha-ha-ha..."


****


TULIIT.... TULIITTT... TULIIT....!!!!!!!!!


Mas Hamam menggerutu dalam hati. Di saat dia buru-buru kenapa harus kepalang kereta api. Ini sangat menyebalkan. Kalau saja melompati jalur kereta itu tidak berbahaya pasti sudah dia trabas.


Bimmmm! Bimmmm!!! Bimmmm!!!


Budrek sudah laki-laki tampan itu, klakson motornya di tekan berulang kali, padahal hal itu juga tidak bakal membuat petugas membuka palang. Yang ada orang-orang di sebelahnya menatap jengkel karena suara klakson Mas Hamam yang menggangu gendang telinga mereka.


Mas Hamam tidak peduli. Dia ingin secepatnya sampai terminal dan menemukan Datul. Mas Hamam semakin gondok saat kereta yang menghambat perjalanannya, hanya berupa kepala kereta saja. Sudah begitu jalanya lemot kayak jalannya gerry keong milik Spongebob yang pemalas.


"Oh hla ******!!!!"


Bimmmmmm ... !!!!!!!!!


Begitu palang di buka, Mas Hamam tancap gas.


****


"Omong kosong! berikan ponselmu sekarang!"


"Ha-ha-ha... kenapa mesti buru-buru, apa kamu tidak merindukan aku, hah?!"


"Jang-ngan banyak omong, kamu mau uang, aku sudah bawa uang itu, hapus vidio itu sekarang, dan kita akhiri perbincangan memuakkan ini!" Datul melepas ransel yang sedari tadi melekat di punggungnya. Dia campakan begitu saja karena memang berat.


"oh... itu melukai hatiku sayang, ..." Ali semakin mengikis jarak mereka, lebih dekat. Datul memejamkan mata saat laki-laki itu membisikkan kata-kata kotor.


"Aku bisa mengajarimu sebelum kau melakukannya dengan laki-laki bedebah yang menjebloskanku ke penjara, bagaimana? berminat? tubuhmu begitu menggairahkan hssstttt..."


Air mata Datul menetes. Psikisnya di serang bertubi-tubi. Dilecehkan secara verbal membuat darahnya mendidih.


Plakkkk!!!


"Bajingan! Anjing! Cuih! aku tidak sudi kau sentuh!"


Ali memegang pipinya yang terasa kebas. Semakin Datul melawan semakin hasratnya untuk mempermainkan gadis itu semakin tinggi.


"Ternyata kau cukup binal, tak apa aku maafkan, asal tamparan ini kamu ganti dengan satu kecupan saja sebelum kita benar-benar berpisah sayang"


"Auchhhh!!" Datul meringis saat pergelangan tangannya di cekal Ali dengan kuat.

__ADS_1


"Lepas setan!"


"Teriak! kalau kau berani teriak, dalam hitungan detik vidio mu akan viral,"


Ali mengangkat ponselnya ke udara, dengan bangsatnya dia memutar vidio itu. Datul menangis, malu luar biasa. Reflek Datul mencoba meraih ponsel itu. Tapi Ali semakin mengangkatnya tinggi. Membuat tubuh Datul semakin dekat dengan tubuh Ali. Ali semakin mempermainkan Datul.


"Eaaa... sebenarnya kau juga inginkan aku jamah"


"Berengsek! bawa sini ponselnya!"


"Tidak akan... beri aku satu kecupan saja, ayolah!" Awalnya Ali hanya berniat meminta uang Datul saja, tapi sejak melihat vidio Datul dan sering memutar Vidio itu, dia jadi ingin lebih.


Tubuh Ali sudah menempeli Datul, bibirnya sudah hinggap di leher Datul, Datul meronta dan tak sadar langkah kakinya terdesak mundur kebelakang. Meski begitu satu tangan Datul berusaha meraih ponsel milik Ali, dan berhasil.


Ali tidak rela ponselnya di ambil secepat itu, dia berusaha merebut kembali.


"Jangan harap kau bisa memusnahkan vidio itu, percuma bodoh!"


"Kembalikan!"


"Tidak!"


Tanpa sadar tubuh Datul terdesak semakin kebelakang hingga ke pembatas kaca. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Datul terhempas kebelakang. Semua terjadi begitu cepat. Ali bahkan tidak sempat memegangi Datul.


"DATUL!!!!"


Mas Hamam yang baru datang, melihat sendiri bagaimana tubuh Datul tertarik gravitasi bumi dan menghantam keras lantai marmer. Dia juga sempat melihat Ali yang berdiri di atas sana. Apa yang terjadi sebelumnya, Mas Hamam tidak paham sama sekali.


Di separuh kesadarannya Datul masih bisa melihat Mas Hamam yang berlari kearahnya. Hanya dalam hitungan detik, setelah itu semuanya berubah gelap.


Mas Hamam meraung meminta pertolongan. Bau anyir di sekitar tubuh Datul menjadi pertanda tidak sedikit darah yang keluar dari belakang kepala Datul. Gedung yang tadi sepi sekarang ramai berdatangan orang. Beberapa petugas dinas perhubungan membantu mengamankan situasi hingga polisi beserta mobil ambulans yang mereka hubungi datang.


Pandangan Mas Hamam memindai ke atas, sosok Ali yang tadi berdiri dengan wajah shock sudah menghilang. Selang beberapa menit ambulans datang, hati Mas Hamam sungguh miris melihat Datul. Sepanjang perjalanan Mas Hamam memegangi tangan Datul. Entah sejak kapan Mas Hamam jadi cengeng, air matanya di malu terus menetes.


"Bertahanlah, demi aku..."


"Aku mohon bertahanlah..."


_


_


_


_


Ya Allah Datul malah ciloko koyo ngene😭


Memang beda rasanya antara jatuh cinta dengan jatuh dari lantai dua 😭

__ADS_1


__ADS_2