
Datul menggeliat saat lehernya terasa pegal. Pelan matanya mulai terbuka. Tidur yang cukup nyenyak dan nyaman. Nyaman di pelukan orang. Eh...
Benar saja, jadi sejak tadi aku tidur beralaskan dada bidang Mas Hamam? Ughh... balik tidur lagi aja kali ya, tapi ini sampai mana?
Datul batal merem lagi, takut malah kebablasan sampai Jakarta. Padahal jelas pemberhentian terakhir bus itu hanya sampai Semarang. Tepatnya di Terminal Mangkang tipe A.
Mas Hamam masih tenggelam di alam mimpinya, sama dengan penumpang lain yang sebagian besar memilih tidur di banding ghibahin tetangga. Sekilas Datul menikmati pahatan wajah Mas Hamam, tanpa celah.
Keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya, rahangnya, lalu turun ke jakun di leher Mas Hamam yang terlihat menonjol. Datul suka semuanya. Andai Mas Hamam bukan jodohnya, bolehlah di kasih jodoh Mas Hamam K.W tiga.
"Ehem!" itu bukan suara Mas Hamam.
Tapi suara Pak supir dari depan. "Pacarnya mbak?"
Dih kepo!
"Bukan, kakak laki-laki saya kog" Kalau Mas Hamam denger dia pun ogah ngakui aku adiknya. Ga apa ya Mas, demi martabakku, eh martabat ding.
"Oh saya kira..."
Datul pikir obrolan mereka akan berhenti sampai disitu. Ternyata tidak. Pak supir doyan ngobrol nih.
"Masnya tadi perhatian banget, sampai nyelimuti kamu pakai kain sarung, biar kamu enggak kedinginan kali ya"
Datul baru sadar, pahanya yang dari tadi di julidi Mas Haman tertutup kain sarung milik laki-laki di sebelahnya itu.
Makasih Mas, bahkan hal seperti ini kamu perhatiin. Padahal aku yang punya paha tidak nggeh sama sekali.
"I-ya..." Datul sebenarnya risih di ajak ngobrol kayak gitu. Gimana pun Pak supir itu kan juga sedang bertugas, takutnya malah tidak fokus di jalan.
"Mbak, namanya siapa?"
Oh jadi lanjut ngajak kenalan. Batin Datul. Datul menimbang, dan hanya diam.
"Iya kali Mbak nanti kalau ketemu lagi saya manggilnya, Oi Mbak SPBU!!!"
"Kan enggak enak..."
Ya enggak apa sih, nanti aku tinggal gantian panggil, Oi juga Pak supir yang lupa nutup kandang burung.
"Hehe... Datul Mas" jawab Datul menye-menye.
"Siapa? Jumadi?" Ah ngereceh dia. Padahal aslinya sudah jelas. Toh Datul menyebutkan namanya sesingkat itu.
"Ma-i-datul"
"Hehe... Saya Ali, panggil Mas Ali"
"Muhammad Ali?"
Dia menggeleng di sertai kekehan halus. Tangannya masih lincah memegang kemudi.
"Kalau itu petinju, saya versi rakyat jelata nya, jadi cukup Ali"
"Oke, Mas Ali"
"Kamu tidak tanya kenapa saya nyupir di sini, atau apa saya masih nyupir di busway?"
Sumpah, ini Datul merasa sedang di speak-speak. Bau-bau udang di balik bakwan.
Lagi, sepertinya kebanyakan laki-laki itu tidak akan banyak ngomong kalau tidak ada rasa tertarik atau penasaran.
Datul menggeleng tak bersuara. Entah Mas supir bernama Ali itu lihat pergerakan Datul tidak. Sepertinya tidak, soalnya habis itu dia nengok kebelakang.
"Saya kira kamu tidur lagi, enggak ada suara"
Setelah itu mengklakson keras sekali.
__ADS_1
Tiiiiinnnnnnn!!!!!
Tuh jantung Datul jadi berdebar. Klakson bus besar seperti ini memang berpotensi membuat serangan jantung. Terpaksa Datul tanya perihal di atas.
"Memang Mas Ali udah keluar dari busway?"
"Gitu dong, seneng saya ada yang tanya" senyuman selebar daun pisang Mas Ali sunggingkan.
"Saya masih di busway kog, ini jatah libur jadi lumayan buat tambahan"
"Memang boleh seperti itu?" Datul serius tanya, busway milik Pemkot dan PO Nusantara itu dua perusahaan besar hlo. Kog Mas Ali ini bisa lompat-lompat kerjanya, macam kutu aja.
"Bisalah, wong yang punya PO masih saudara saya, hehe..."
Bau kesombongan di sana. Tapi lumrah sih, apa saja bisa asal kamu saudara, asal relasimu orang penting, asal dekenganmu kuat, ini kan negara Indonesia tercinta.
"O..."
Mas Hamam mulai terusik sepertinya dengan suara obralan mereka. Entah sengaja atau tidak, tangannya yang panjang itu hampir saja menonjok muka Datul, saat dia meregangkan tubuh. Pesona laki-laki tampan yang baru bangun tidur memang beda. Indah aja gitu...
"Hoaaahhhh.....! sampai mana kita?"
"Sampai neraka Mas! Tobat deh, tangannya hampir saja nampol mukaku" Datul menggeplak lengan Hamam, sengit dia.
"Hoamm... pantesan aku denger suara setan wanita berisik, bikin sakit telinga, ternyata aku di neraka" celetuk Mas Hamam.
Datul melirik tajam, tidak terima di sebut setan wanita.
"Hih, nyebelin"
Mas Hamam menyondongkan tubuh ke arah Datul. Datul mundur takut di cium tiba-tiba lagi. Padahal Mas Hamam cuma lihat ke arah jendela. Mau memastikan sendiri sampai mana mereka. Apalagi di luar minim cahaya sekali. Petang. Jelasnya wong malam hari.
"Oh ternyata sudah hampir sampai, exit tol"
"Buruan Tul siap-siap, barang-barang kamu jangan ada yang tertinggal" Pawangnya Datul bertitah. Datul cuma bisa nurut. Merapikan kain sarung kenangan bekas di pakai orang tampan sholat. Hmmm... Datul merasa istimewa.
Sambil menunggu Mas Hamam, Datul memainkan ponselnya, hampir saja lupa. Mas Hamam belum mengirimkan foto-fotoku ya...
"Datul!"
"Ya..." Datul mendongak, ternyata Mas Ali yang sudah menyangklong tas hitam, mau langsung pulang kayaknya.
"Boleh pinjam ponselmu?"
"Hah?" Datul di buat bingung sekali lagi. Apa jangan-jangan dia ini jambret modus meminjam? jadi supir hanya sampingan saja ya?
"Malah bengong?" Meskipun was-was akhirnya tangan Datul terulur.
Mas Ali itu mengetik sesuatu, lalu menempelkan ponsel Datul ketelinganya. Seperti menghubungi seseorang. Tapi saat itu juga ponsel di sakunya berdering.
"Sudah masuk! terimakasih ya" Mas Ali mengembalikan ponsel Datul, nyengir lalu dengan percaya diri mengatakan,
"Saya sudah save nomor saya di kontak hp mu, nanti sampai rumah saya telpon ya"
"Hah???"
"Saya pulang dulu, kakak kamu udah datang tuh, bye..."
Datul tidak mau tersipu malu ya, meski tadi sempat membatin dia manis kalau lagi senyum. Tidak! Datul tidak mau tertarik pada supir yang doyan mampir.
Mas Hamam menghampiri Datul. Dari kejauhan tadi dia sempat melihat Pak supir yang sepertinya selesai mengobrol dengan Datul.
"Supir tadi kenapa?"
Datul mengangkat bahu. "Hanya menyapa, pulang yok, capek banget"
Karena tidak mendapat penjelasan yang lebih, Mas Hamam hanya bisa menasehati.
__ADS_1
"Jangan sembarangan percaya sama orang asing Datul"
"Ngerti Mas"
"Oi Mas Hamam, file foto yang di Malioboro belum Mas Hamam kirim hlo"
"Nanti aja kalau sudah sampai rumah"
"Nanti lupa lagi, buruan ahh!"
"Rempong, aku pesen taksi online dulu ini"
Datul menjinjit untuk melongok ponsel Mas Hamam. "Udah dapet tuh, buruan kirim foto sambil nunggu"
Gawat!
"Mas!"
"Iya bawel, ceriwis, nangisan, rempong!"
Mas Hamam mengirimkan foto-foto nyeleneh hasil maha karyanya. Datul tidak sabar membuka file itu.
Satu, dua, tiga... Mas Hamam menghitung dalam hati.
"MAS FOTO APA INI!!!!!"
Foto Datul cuma kelihatan jidadnya, kedua cuma kelihatan lubang hidung, ketiga cuma kelihatan sepatunya, dan banyak foto lainnya yang satupun tidak ada yang potretan full body Datul.
"Apaaa...? itu bagus kan?"
Ubun-ubun Datul memanas, dari telinga keluar asap neraka. Datul jingkrak-jingkrak kayak barongan yang kesurupan. Mas Hamam tidak tahu kalau Datul bisa semenakutkan itu.
"HHAAAAAA.... Ciaaaaa....krauk-krauk!"
Datul menggigit lengan Mas Hamam tanpa ampun.
"Aaauuuchhhh.... sakit Tul! please jangan makan aku"
Datul tidak peduli. Dia marah, jengkel di taraf ubun-ubun, mbededek kalau orang Jawa bilang.
Mas Hamam berlari menghindari Datul. Orang-orang yang ada di sana sampai geleng-geleng kepala. Datul tidak peduli. Dia terus mengejar Mas Hamam.
"Ampun Tul, ampun!"
"Grrrrrrrrrrr.... tidakkk! tidaaakkkk ada ampun!! auuuungggggg!!!!"
Selesai kejar-kejaran Hamam terkapar di lantai. Datul ngesot sambil terus meraung-raung, menangisi fotonya yang satupun tidak ada yang bagus. Hamam menyesali perbuatannya. Lantas meminta maaf.
"Fiyuhh... sori Tulaikhan, janji suatu saat nanti aku bakal ajak kamu ke sana lagi, oke?"
"Huaaaa... huaaaa...."
"Cup, cup, cup, nanti di kira kamu Mbak Kunti yang lagi nangis hlo! tempat ini horor hlo"
Datul tidak peduli. Mas Hamam brengsek!
_
_
_
Happy reading ๐
Tomi pergi datanglah Mas Ali,
Apa sama Mas Ali ini hati Datul akan oleng?
__ADS_1
Komen ya, like dan bagi hadiah...๐