Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 35: Maidatul Khan binti Bapak Farkhan


__ADS_3

"Please, bagi kontaknya Datul dong Mam!"


"Lo gila, buat apa!" Hamam mendelik, dia mengenalkan Datul sebagai pacarnya di depan teman-temannya. Tapi kenapa ini malah si Tomi kebelet banget minta nomornya Datul. Ga ada otak emang.


"buat nambah kontak aja sumpah, lo tahu sendiri gue baru ganti nomor"


"ah tai lo, ga bakal gue kasih"


"Kalau ga, kasih alamat rumahnya aja deh" Tomi merengek lagi. Entah apa yang cowok itu pikirkan. Padahal dia sendiri juga udah punya pacar. Ini masih mau ngeributin pacar orang. Ehem! pacar pura-pura maksudnya.


"Ga ada, ga ada! demi apapun, lo ga ada akhlak jadi temen"


"Cih, pelit amat"


"Tau ini tai satu, malu-maluin, jangan sampai pertemanan kita ternodai gara-gara perempuan, catet!" Timpal Gilang. Mereka bertiga sedang nongkrong di kantin kampus. Demi apa seminggu ini Hamam bahkan sama sekali tidak melihat bayangan Datul.


"Udah gue catet sekalian fotokopi F4, tapi taulah semenjak ketemu Mai, hati ini resah gelisah terus bawaanya, apa ini namanya cinta? rindu bila tak jumpa"


Hati Hamam rasanya ada sensasi meletup-letup. "Terus maksud lo, si Nani mau taruh mana?"


"Taruh pada tempatnya lah" Tomi cekikikan. Meski sebenernya dia sedang tidak bercanda. Dalam hatinya dia memang tertarik pada Datul. Tipis-tipis lah kalau Datul mau, si Nani bisa di tinggalkan. Pikir Tomi simple kayak isi otaknya.


Hamam memoles kepala Tomi cukup keras. "benerin otak lo ke tambal ban bentar sana!" kekeh Hamam.


Gilang nyumbang ngakak di sebelahnya. "bener, bener lo Mam! Tomi ga tau diri emang. Mau nikung pacar sahabat liat-liat dong Tom, secara lawan lo itu lebih unggul, di logika aja lo ga masuk"


"eitsss... maka dari itu gue punya peluang. Hamam tampan, oke! gue juga akui, tapi ketulusan gue, beuhhh jangan di ragukan, tulus setulus tulusnya"


"Yeeeeeee..."


"Lagian masak lo ga kasian sama gue Mam, lo bisa bebas milih cewek manapun yang lo mau, kalau lo udah bosen dan ninggalin si Mai, gue siap jadi payung buat Mai"


Hamam tertampar dalam hati. Dia sadar jika ga tulus dan terkesan cuma memanfaatkan Datul selama ini. Belum lagi Hamam paham jika Datul jomblo tulen, kasihan juga sebenarnya. Tapi kalau ngasih kesempatan buat Tomi, sama saja bohong. Jelek-jelek Tomi itu juga kadal.


"Mikir-mikir nih, boleh ya boleh?"


"Ga ada!" Hamam bangkit ingin pulang saja.


"Lang, bayarin es gue, pusing gue denger Tomi ngoceh mulu"


"Dih, pokoknya sebelum Lo kasih nomor Mai, gue bakal ngerecokin lo teros sampai gumoh"


"setan lu ah!" meski begitu mereka tetap tos sebelum berpisah.


"Eh btw, ada yang punya info loker ga,?" tanya Hamam urung pergi cepat-cepat.


"Buat siapa?" itu Gilang yang tanya.


"Adalah sepupu gue, cewek"


Tomi mengendus peluang bagus. Saat mengobrol dengan Datul tempo hari, gadis itu mengatakan kalau dirinya pengangguran. Ahay, batin Tomi.


"Ada, di SPBU mau? Om gue kemarin bilang lagi cari karyawan pengganti, soalnya yang lama baru risen, mau kawin"


Hamam berbinar. "SPBU daerah mana?"

__ADS_1


"Deket daerah lo sih kayaknya, sebelah terminal"


"serius?"


"ngapain gue bohong?"


Giliran Hamam yang ragu, cocok sih sebenarnya. SPBU dekat terminal itu tidak terlalu jauh dari rumah Datul. Tapi kalau Tomi tahu yang bakal kerja si Datul, bakal keranjingan nih orang.


Hamam mengetuk-ngetuk meja beberapa kali. Berpikir keras. Peluang bagus, kalau di tolak dia juga tidak yakin bakal dapat jalan semulus ini.


"Om lo yakin bisa bantu masukin lamaran sepupu gue?"


"Hlah bego! gue tadi bilang apa, Om gue yang nyari, dia itu pimpinan di sana"


"Oke gue tanya sepupu gue dulu, mau apa engga"


"eits... bagi nomornya Datul dulu dong"


"Ogah anjirrrr, gue pulang, ntar gue kabari lagi"


"Ah dasar tai" umpat Hamam kesal.


****


Hamam mengintai rumah Datul yang selalu sepi. Untung ada es dawet lewat. Dia bisa pura-pura beli es dawet biar natural.


Dia itu sebenarnya manusia atau kura-kura sih, betah banget di dalam rumah


Hamam baru menyedot es dawet yang dia pesan, saat Datul keluar rumah dengan menenteng sekarung kerupuk. Hamam buru-buru meletakkan gelasnya dan meninggalkan sejumlah uang sebagai bayaran.


Datul terpaku di sana. Suara yang tidak ingin sama sekali dia dengar lagi.


Jangan nengok! aku ga boleh nengok!


"Datul aku mau ngomong sebentar"


Datul membisu. Mata dan telinganya bersikeras untuk tidak melihat dan mendengar suara itu. Luka hatinya masih menganga. Dan dia sudah memutuskan untuk membenci laki-laki yang mulutnya jahat.


Datul mempercepat langkahnya. Bagaimanapun sekarung kerupuk itu harus segera dia antar ke rumah pemesan. Hamam mengekori Datul, tak peduli dengan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.


Datul berjalan melewati gang sempit. Langkah kakinya masih kekeh tak memperdulikan Hamam. Selain untuk menghilang dari pandangan orang-orang, lewat gang sempit lebih adem. Melipir jalan teduh berkat atap-atap rumah warga yang hanya berjarak sejengkal.


"Maidatul Khan! kamu berhenti atau aku bakal teriak kalau kita ini pasangan kekasih!"


Rasanya Datul ingin menimpuk kepala Hamam pakai karung yang berisi kerupuk yang dia bawa. Tapi Datul masih waras, kerupuk-kerupuk itu sudah pasti yang remuk kena kepala Hamam yang keras. Datul menghentikan langkahnya. Namun masih tak sudi menengok apalagi mengeluarkan suara.


Hening sejenak. Mereka berdiri di gang sempit yang sepi. Hanya ada mereka berdua dan selokan sempit berbau tak sedap.


"Datul, aku minta maaf. Ucapanku tempo hari pasti menyakitkan untuk mu. Aku emosi."


"Aku emosi, dan itu di luar kendali ku" Datul masih sama. Mematung dan tak bersuara.


Hamam sangat keterlaluan malam itu. Sekarang di hati Datul sudah terbangun tembok tinggi untuk laki-laki itu. Berhari-hari Datul membangun tembok itu meski pakai bata ringan yang lebih ekonomis dan irit semen. Datul mulai mensugesti dirinya, layaknya Joker yang mengatakan kalau orang jahat itu lahir dari orang baik yang tersakiti. Tidak akan semudah itu Datul memafkan Hamam. Tidak!


"Tul please, kita sudah berteman cukup lama,"

__ADS_1


"Kalau kamu berat memaafkan aku, kamu boleh gantian maki-maki aku, atau pukul aku sekalian"


"Jangan diam saja Tul, beneran aku menyesal"


Datul tak menjawab. Di kira Hamam sudah selesai dengan omong kosongnya. Datul hanya melirik sinis lalu beranjak pergi.


Tidak di sangka tiba-tiba Hamam mencekal tangan Datul. "Kamu ga bisa pergi sebelum memaafkan aku, ngomong Tul ngomong!"


"Astaga! marahmu ternyata mengerikan sekali" gerutu Hamam.


"Tul, sumpah aku minta maaf beneran..."


"Datul!"


"Maidatul Khan binti Bapak Farkhan!" teriak Hamam yang geram dan malah mengucapkan kalimat absurd seperti itu. Di kira mau ijab kabul kali, sampai pakai binti-binti. Datul pengen senyum karena itu terdengar lucu.


Tapi langsung dia tahan saat ingatannya kembali memutar kata-kata Hamam yang menyakitkan. Datul menyentak tangan Hamam kasar masih tanpa suara.


"Oke, sekali lagi aku minta maaf. Serah kamu mau maafin aku atau tidak"


"Yang jelas aku punya tawaran bagus buat kamu, ada lowongan kerja di SPBU dekat terminal"


"Kalau kamu minat, hubungi aku secepatnya"


"Aku pergi, bau comberan, kamu jangan betah-betah di sini,"


Setelah mengatakan itu, dengan santainya Hamam pergi. Yang jelas umpan sudah dia berikan, tinggal menunggu ikannya untuk memakan umpan itu lalu menang. Hamam yakin sekali Datul akan menerima tawaran itu. Karena satu hal yang paling Datul inginkan, yaitu mendapatkan pekerjaan.


Datul berkacak pinggang setelah punggung Hamam menghilang.


"Beuuuuhhhhhhhhhhhhh... dasar laki-laki ga punya perasaan, jahat, mulutnya julid!"


"Siapa yang mau betah-betah di sini hah! Dia kira aku ini tikus werok yang betah di comberan"


"Tampan-tampan, tapi mulutnya jahat! aku sumpahin jadi perjaka tua!"


"Huaaaaaa... gini banget nasibku"


"Mau jual mahal tapi butuh kerja, huaaaaa...."


Datul frustasi mengacak rambutnya sendiri. Sambil menghentakkan-hentakkan kakinya Datul jalan lagi, kerupuk harus tetap diantar meski dia jengkelnya setengah mati.


_


_


_


_


Semangati aku dong dengan komen kalian😁


FYP, janggal ga sih kalau pas ngobrol sama temen2 kampus Mas Hamam pakai lo gue? sedangkan sama Datul pakai aku kamu?


jadi menurut ku ya, di kampus mereka itu lebih gaul, jadi pakai lo gue biar keren sedangkan kalau sama Datul kan di kampung jadi lumrahnya aku kamu...

__ADS_1


paham ga sih? wkwkekkw aku Yo bingung Dewe Jum🤣😌😌😌


__ADS_2