
Katakanlah Datul ingin menyiksa dirinya sendiri. Alih-alih menolak memberikan nomor Tiva, gadis itu malah jadi kurir setia Hamam.
Seminggu sekali Hamam memelas, meminta Datul mengirimkan hadiah, entah itu sekotak cokelat, bunga atau sebungkus makanan lainnya. Datul yang pengangguran mana mungkin menolak dengan alasan sibuk.
"Tiva masih susah di ajak ketemuan..." sudah jadi kurir masih harus jadi wadah saat Hamam ingin curhat seperti malam ini. Mereka berdua duduk di tepian kali, di belakang gerobak franchise seblak langganan Hamam. Hamam mentraktir Datul seblak sebagai upah jadi kurir, murah sekali 'kan?
"Ya... sampai mulut saya berbusa toh Tiva masih nolak ketemu Mas Hamam."
"Kira-kira kenapa ya?"
"Wajah Mas Hamam tidak meyakinkan barangkali!" Datul lupa sejak kapan dia bisa sedekat ini dengan Hamam. Dekat dalam artian teman nongkrong sekaligus menjadikan laki-laki itu pusat nestapanya.
Bagaimana tidak nestapa, diam-diam Datul semakin dalam mengagumi laki-laki itu. Itu sama sajakan dengan dia menyiksa diri.
"Ckkk..." Hamam berdecak jengkel sebelum kemudian menyendok seblak miliknya sendiri, memasukan ke dalam mulutnya lalu mengunyah makanan berkuah itu dengan lucu. Datul menyukai semua yang ada pada Hamam. Bahkan saat pria itu akhir-akhir ini uring-uringan tak jelas. Wajahnya semakin membuat Datul gemas. Mulutnya yang manyun-manyun, sungguh membuat Datul ingin ikut memanyunkan mulutnya lalu ciuman. Eh...
"Kurang meyakinkan bagaimana? kata orang-orang saya itu tampan, mirip opa-opa Korea. Dimana kurangnya?"
"Justru itu Mas, biasanya orang tampan identik dengan **** boy, jadi mungkin Tiva mikir-mikir kalau tipe Mas Hamam ini player"
"Terus saya harus bagaimana?"
"ganti wajah agar mirip rakyat Indonesia yang menderita dan tertindas?"
Datul ngakak, bahasa Hamam menggelikan sekali.
"Ya ga gitu juga sih Mas Hamam..."
"Nanti malah saya yang bingung, ga ada pemandangan yang bisa di buat cuci mata"
Hamam giliran mencibir. Lalu fokus pada ponselnya sambil makan lagi.
Satu lagi, semakin kesini Datul menemukan sisi Mas Hamam yang kekanakan dan agak gila. Beda jauh dengan kesan dewasa, dingin dan cool. Gila ga sih kalau anak seorang Haji main togel? Hla Hamam itu sering Datul pergoki sedang main judi online. Saat Datul tanya, jawab Hamam itu hanya sekedar hobi. Ada ya hobi main judi online?
Dan yang Datul gumuni tiap Hamam main judi online selalu menang. Apa Hamam titisan dewa judi ya? Keberuntungan selalu ada di pihak Hamam, tidak hanya beruntung memiliki wajah tampan, tapi cari uang kog bagi Hamam terlalu mudah. Meski uang haram sih.
"Mas Hamam ga ada rencana bayarin seblak saya pakai uang haram kan?" Hamam cengengesan.
"Dih, nanti saya bayar sendiri aja! dari pada jadi penyakit!"
"Enggaklah, nanti saya yang bayar, pakai uang dari Bapak, halal. Lagian ini baru aja mau pasang, hasilnya baru keluar tengah malam tau!"
"Coba deh, kasih saya empat angka, biar saya ramal"
__ADS_1
"Ogah, Mas Hamam kira saya orang gila, di mintai nomor togel!"
"Lagian Mas Hamam tuh eman-eman gantengnya, ga bisa apa cari hobi lain, yang lebih keren, terus itu uang judi juga ga baik Mas kalau masuk perut, tubuh Mas Hamam bakal terkontaminasi dosa dan virus, sekarang mungkin belum keliatan efeknya, beberapa puluh tahun yang akan datang, tertimbun jadi penyakit kronis, atau Mas Hamam mau mati kena azab?"
"Gara-gara main togel pria tampan mati dengan tubuh penuh belatung? enggak banget Mas-mas!"
Datul sudah ceramah panjang kali lebar kali tinggi, yang ada Hamam malah ngakak doang. Lalu melahap lagi seblaknya.
"eokkkkkkk amu addd e wkkkkktu agak?" tanya Hamam dengan mulut penuh seblak. Kali ini dia makan dengan suapan besar.
"Kunyah dulu Mas Hamam, baru ngomong! jangan ngajak mikir otak saya buat memahami omongan Mas Hamam, saya ga bisa mikir kalau lagi emosi jiwa gini!" ucap Datul sambil makan lagi. Di pikir-pikir sekarang Datul sudah ga jaim-jaim lagi. Nyaman aja ngobrol sambil makan belepotan.
Hamam bicara lagi setelah berhasil menelan makanan di mulutnya. "besok kamu ada waktu ga?"
"Eummm... saya pengangguran Mas, waktu terlalu panjang bagi saya yang tiap hari hanya guling-guling di kamar"
"Mau ikut saya? tak tunjukkin hobi saya yang lain..."
"Apa? nanti aneh-aneh..."
"Ga ada yang aneh Datul! hobi saya itu manusiawi, aneh itu kalau saya hobi terbang pakai sayap ayam, baru aneh..."
"Kalau itu Mas Hamam ngadi-ngadi, mentang-mentang orang tuanya jual ayam potong"
"Jam berapa?"
"Jam satu, nanti kamu samperin saya ke rumah"
"Kenapa ga saya saja yang di jemput?" lumayan buat pamer sama tetangga, di jemput Mas Hamam yang terkenal tampan sampai kampung sebelah.
"Kamu bukan pacar saya, jangan manja minta di jemput!"
Datul meringis, kadang mulutnya Hamam juga nylekit seperti barusan. Gitu juga Datul terima saja, yang penting masih bisa dekat dengan Mas Hamam.
****
Siang hari saat matahari sedang galak-galaknya. Datul beneran datang ke rumah Hamam.
"Mas Hamammm! Mas Hamammmmm!" panggil Datul diambang pintu yang sedikit terbuka. Tak jauh dari tempat Datul berdiri ada tiga sangkar burung yang di letakkan di sana. Masing-masing berisi burung merpati berbulu abu-abu, coklat, dan yang satunya hitam mix biru bling-bling. Cantik, batin Datul.
Yang di panggil keluar, memakai kaos putih, celana pendek berwarna coklat muda. Lalu memakai topi dan kacamata hitam. Every time, mau siang atau malam Hamam selalu tampan.
"Udah datang, yok kita langsung aja cabut!"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ikut aja... seru pokoknya!"
Hamam mendekat ke sangkar burung tadi, lalu seperti menyapa burung itu sekilas. Kemudian menutup tiga kandang itu masing-masing dengan sebuah kain khusus. Baru kemudian mengintruksi pada Datul lagi.
"Saya boncengin kamu, tapi tolong kamu yang gendong ini ya?!"
Rahang Datul hampir melorot sampai lantai. Dia di minta menggendong sangkar burung. Dosa apa yang Datul perbuat Tuhan? Apes, giliran mau di bonceng cowok tampan harus gendong sangkar burung. Datul mau nangesss saja.
"Agghhhhh... sebenarnya kita mau kemana, kenapa harus bawa burung juga, ga cukup apa bawa satu burung?"
Mulut Datul juga laknat. Maksudnya apa coba?
Hamam auto melongo.
"Eh... maksudnya, saya ga mau gendong kandanpg burung, malu...lagian mana bisa saya bawa itu semua!"
"Belum itu tulisan apa Mas, nyleneh sekali."
"Bukan lelaki kalau ga punya burung"
"Astaghfirullah..."
"Ehhh... ayolah, kenapa malu, keren tahu! sepanjang sejarah belum ada perempuan yang saya bonceng pakai gendong sangkar burung saya, kamu yang pertama, gimana?"
Manis juga mulut Hamam. Datul yang bodoh sekaligus bucin, langsung aja tergelak.
Sejarah ya... saya akan jadi sejarah bagi Mas Hamam...saya mau di ingat terus sama Mas Hamam...
"Oke saya mau!" sahut Datul dengan mata berbinar. Hamam tersenyum merekah. Merasa senang karena Datul bersedia membantunya.
Mereka pun berboncengan menuju tempat perlombaan balap merpati. Datul bahagia meski harus menggendong sangkar burung.
Ahhh... nanti peluk dikit dari belakang boleh ga sih? Hahahaha... bahagianya di bonceng Mas Hamam.
Dasar Datul bucin! Mana bisa meluk kalau kedua tangannya juga di buat memegang dua sangkar yang lain. Ish...ish...ish...!
Anggap ini Datul yang lagi bonceng Mas Hamamππππ Abaikan tangan dan kakinya yang buluk. Datul tak sebuluk ituπππ
Like, komen, bagi hadiah...πππ
__ADS_1