
Maidatul Khan tidak pernah menyangka bakal sesakit ini kehilangan motor. Tiap kali ingat motornya yang di bawa kabur sang pacar, Maidatul meneteskan air mata. Makan jadi tak enak, tidur pun tak nyenyak.
Bagaimana bisa laki-laki yang di titipi separuh hatinya itu malah mengkhianatinya tanpa ampun. Tanpa ba-bi-bu. Menggondol satu-satunya harta yang Datul miliki. Kecewa tapi tidak bisa membenci. Mana bisa Datul melupakan setiap kenangan yang mereka ukir bersama.
Selalu? Kenapa? Kenapa kisah asmaranya selalu menyedihkan seperti ini?
Perut Datul terasa perih karena lapar. Tubuhnya lemas karena sedari pagi sudah pontang panting. Awalnya mereka sudah datang ke Polsek terdekat, tapi di tolak dengan alasan motor hilang bukan di area sektor mereka.
Oke, Mas Hamam yang full menyanggupi membantu Datul belum menyerah. Kemarin bahkan mereka sudah datang ke kantor leasing untuk melaporkan kejadian ini, jaga-jaga jika motor Datul tidak bisa ditemukan. Jadi bisa di urus untuk masalah asuransi nantinya. Datul ngintil saja, manut, pasrah sama Mas Hamam.
Sekarang mereka sedang antri di Polsek Semarang. Menunggu di panggil. Mas Hamam membukakan tutup botol minuman dingin untuk Datul. Lalu kemudian duduk bergabung dengan gadis yang dua hari ini tidak doyan makan.
"Makan sebentar lagi ya? masih kuat kamu?"
Datul mengangguk kecil. Lalu menenggak minumannya sedikit. Meski perutnya lapar, dia juga sanksi jika bisa makan nanti.
"Masih lama ya Mas?"
"Enggak tahu, tadi aku tanya, di suruh nunggu, perasaan juga enggak ada orang selain kita ya," Kepala Mas Hamam celingukan, menilik ke ruangan petugas yang bakal mereka masuki nanti.
"Aku rasa juga gitu Mas, enggak ada yang keluar masuk dari tadi selain petugas kepolisian"
"Huhhh..." Mas Hamam mendesah berat lalu geleng-geleng kepala. Merasa menjadi rakyat jelata yang sedang di permainkan penguasa.
"Tunggu sepuluh menit lagi, kalau kita masih di suruh nunggu lagi, aku slepet juga mereka!"
Bibir Mas Hamam manyun-manyun, tapi tetap tampan. Kalau sedang tidak sedih, mungkin Datul sudah ketawa bahagia melihat Mas Hamam versi menggemaskan seperti itu.
Keduanya menunggu lagi dengan pikiran masing-masing. Detik berikutnya Datul buka mulut. "Maaf Mas, aku payah, aku sering enggak dengerin nasihat kamu, tapi ujungnya aku malah ngerepotin gini"
"Aku pekewuh sama kamu, entah gimana aku balesnya nanti,"
"Memang aku minta balesan apa dari kamu?"
"Sudahlah, kamu kan emang gitu, gampang di bodohi, aku paham"
"Hmm... memang...."
Ponsel Hamam berdering. Di lihatnya nama pemanggil di sana. Lalu dia berdiri menjauh, memberi jarak dari Datul.
"Iya, masih di sini. Enggak tau gue, tuh polisi dari tadi ngopi doang, udah sejam kali kita di sini"
"Hah, bodoh sih Lo. Mereka mana mau kerja kalau kagak ada cuan, Lo acungin mereka duit rokok baru bakal di garap"
"Serius?"
"Apal gue polah mereka. Dulu gue juga kan pernah ngurus motor ilang, pas itu gue gercep aja minta bantuan Om gue yang tugas di kantor lain, baru deh mereka mau kerja"
"Terus ini Mai gue, eh... maksudnya si Datul, lagi ngapain?"
"Hmm... duduk, banyak diem dia. Kepikiran sama motor terus. Eh, gue enggak ada saudara Polisi, jadi ini gue harus keluar duit?"
"Iyalah, kalau mau cepet"
"Lo enggak mau bantu gitu?"
"Enggak deh, gue takut baper lagi, gue bantu doa aja dari sini, haha..."
"Ah setan lu!"
Kekehan Tomi mengakhiri obrolan mereka. Semalam Hamam memang sempat cerita perihal musibah yang di alami Datul. Maka dari itu Tomi memastikan lagi, sampai mana Hamam membantu Datul. Ternyata baru sampai kantor polisi dan mendapat perlakuan seperti itu. Tak jauh beda dengan pengalamannya dulu. Padahal rakyat yang datang ke kantor mereka itu sudah jelas meminta bantuan. Kenapa terkesan di persulit?
Mas Hamam duduk lagi di sebelah Datul.
__ADS_1
"Siapa yang telpon?"
"Tomi"
"Oh... Mas Hamam ada janji ketemu Tomi?" Barangkali ada perlu, Datul kudu memastikan, toh pasti Mas Hamam ada kepentingan lain.
"Enggak, dia suka gabut jadi ya gitu, palingan ngajak nongkrong"
"Kamu tunggu sini bentar, coba aku tanya lagi ke dalam"
Mas Hamam bangkit lagi dari duduknya, Datul sampai kasihan sendiri melihat Mas Hamam seperti itu. Repot sendiri.
"Mas!" Mas Hamam menghentikan langkah lalu menoleh.
"Makasih ya..." ucap Datul tulus.
"Udah seribu kali kamu bilang gitu..."
Jarang sekali orang mau direpotkan zaman sekarang. Tapi Mas Hamam beda, dia ringan tangan membantu. Entah hanya pada Datul atau pada yang lainnya. Yang jelas Datul selalu mawas diri untuk tidak lagi menaruh hati pada laki-laki tampan itu. Ibarat timbangan, dia dan Mas Hamam terlalu jomplang. Datul sadar diri.
****
Ternyata benar yang di katakan Tomi. Mas Hamam berhasil membaca gelagat petugas berseragam coklat itu. Dih pakai kode belum makan siang segala. Giliran di kasih seratus ribu langsung hijau matanya. Bukan mau menjelekan instansi, ini kan cuma cerita fiksi ya man teman. Jangan baper hlo!
Singkat saja, Datul sudah duduk di kursi di hadapan Pak Pol. Dari nametag sih Datul baca, namanya Fredy. Apa ini Freddy yang itu? jelas bukanlah. Yang itu udah pakai baju orange, meski sidangnya enggak kelar-kelar.
"Coba Mbak ceritakan kronologinya lebih jelas!"
Sumpah mata Datul sudah brambang. Berkaca-kaca pingin nangis lagi. Dengan suara parau dan sisa-sisa kekuatan Datul bercerita.
"Awalnya dia pinjam motor, pamit buat pulang ke Solo, STNK tak kasihke to Pak, saya juga enggak ada kepikiran bakal di tipu"
"Oke, Ali ini siapanya kamu? temen atau pacar?"
"Pa-car-"
"Kamu sudah coba hubungi dia lagi?"
"Sudah. Tapi nomornya sudah tidak aktif lagi Pak."
"Sudah cari ke rumahnya atau tempat kerja?"
"Su-dah, ternyata dia juga sudah di pecat dari tempat kerjanya"
"Di mana tempat kerjanya?"
"Dia driver busway Pak"
"Owalah, driver bus ternyata..." Datul mengangguk kecil.
Setiap keterangan yang dia berikan terasa mencabik-cabik hatinya. Jika kasus ini diperkarakan pidana, bisa jadi Mas Ali akan terjerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman penjara 5 tahun penjara. Sanggup kah Datul? Tegakah Datul melihat laki-laki itu mendekam di penjara?
"Baik sementara ini cukup! Kami akan segera memprosesnya, kalian tinggal tunggu kabar saja dari kami"
"Ekhem! maaf Pak, kira-kira butuh berapa hari? maksud saya, biasanya kalau kasus seperti ini butuh waktu berapa lama?"
Pak Pol Freddy menyandarkan punggungnya di kursi lalu mendesah pelan. Ekspresi di wajahnya terbaca seperti orang yang setengah mengejek. Menyebalkan sekali.
"Tergantung anda mau cepat atau lama, paham maksud sayakan?"
Tangan Mas Hamam terkepal menahan emosi. Muak dengan abdi negara model begini.
****
__ADS_1
Keluar dari kantor polisi, Mas Hamam membawa Datul ke warung makan soto ayam. Tidak terlalu jauh dari kantor polisi tadi, bangunan dengan cat tembok warna coklat tua itu bahkan masih terlihat dari tempat di mana Hamam dan Datul duduk.
"Mas Hamam aja yang makan, aku pesen minum aja"
"Makan! kasihani perutmu,"
Datul agak mengkerut mendengar nada bicara Mas Hamam yang terkesan galak. Bukan Datul tidak peka, dia juga bisa merasakan aura marah saat terakhir Mas Hamam menanyakan perihal berapa lama waktunya pihak kepolisian bisa menemukan motor curian. Datul manut saja mau di pesankan apa.
Selang beberapa menit dua mangkuk soto ayam terhidang di meja mereka. Mas Haman langsung menambahkan sambal dan perasan jeruk. Sedangkan Datul, meskipun lapar dia enggan makan.
"Kamu enggak bakal kenyang kalau cuma nasimu kamu aduk-aduk"
"Mau di suapin?"
Datul terlonjak kaget. Rupanya setelah makan emosi seorang Hamam Amirul Mukminin bisa langsung mereda begitu.
Datul menggeleng. "Aku bisa makan sendiri"
"Kalau begitu di makan!"
Bukannya mulai menyantap, Datul malah meletakkan sendok miliknya. Pertanda gadis itu masih enggan makan.
"Mas, aku enggak apa nunggu motor itu balik, maksudnya agak lama enggak apa-apa, yang penting motor itu ketemu"
"Mas Hamam enggak usah keluar uang lagi buat bayar polisi"
"Hah, kamu pikir mereka mau kerja kalau enggak di kasih uang?"
"Ke enakkan mereka Mas,"
"Udahlah, itu enggak usah di pikirin, mereka itu biasa makan uang haram, tenang aja nanti aku kasih mereka uang haram juga"
"Maksudnya, Mas Hamam mau main judi online lagi?"
"Hmm, cara cepat dapat duit!"
"Iya kalau menang, kalau kalah uang Mas Hamam yang ilang"
"Kamu ngremehin aku? kalau aku mau bandarnya tak bikin miskin aku juga bisa, enggak ada sejarahnya nomor yang aku pasang tidak tembus, bukan soal keberuntungan, aku udah hafal rumusnya, jadi enggak bakal meleset"
"Aku kira Mas Hamam udah berhenti main,"
"Emang sekarang jarang, kemarin sibuk ngurus skripsi, lagian aku pakai uang kayak gitu biasa buat foya-foya doang, misal butuh buat beli spare part motor,"
"Enggak pernah aku buat makan atau jajan, jajanin kamu kayak gini aku pakai uang halal dari emak,"
"Hukumnya sama aja Mas, tetep aja dosa main judi!"
"Paham Bu nyai Datul! nanti tobat deh habis ini"
"Janji?"
"Insyallah.... hehe..."
Datul mencibik. Tidak yakin dengan tobat Mas Hamam. Tidak tahu saja sebenarnya di dalam hati Mas Hamam sudah di niati sungguh-sungguh. Ini bakal jadi permainan judi yang terakhir. Mas Hamam ingin memperbaiki diri. Sembuh dari nakalnya dan menjadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab. Apalagi sirine perintah menikah dari emaknya sudah menyala. Dalam jangka pendek, Mas Hamam harus sudah mendapatkan pekerjaan. Agar bisa membuat hati emaknya agak tenang.
_
_
_
Pasal KUHP kalau salah di koreksi ya gaess...
__ADS_1
Aku enggak pinter masalah hukum😬
Pencet tombol like dan bagi hadiah jangan lupa😘