Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 63: Mas Hamam Lagi


__ADS_3

Yeaayyy... udah di kontrak dong si Maidatul😘


Doakan lancar ide biar bisa tiap hari update.


Happy reading 😘


"Sayang, eummm... aku harus mengatakan apa? ini hadiah yang sangat luar biasa"


"Mas Ali suka?"


"Sangat..."


Datul bergetar saat tangan Mas Ali yang kokoh membelai wajahnya. Di tambah tatapan matanya yang mampu menenggelamkan Datul hingga ke kerak bumi. Datul merasa sangat istimewa malam ini.


"Terimakasih ya sayang"


Mereka melanjutkan makan. "Mau aku suapin?" Goda Mas Ali.


Datul menggeleng pelan. Pengen tapi... malu. Mas Ali juga tidak bisa memaksa. Mana wajah Datul sudah merah gitu hanya karena di tatap Mas Ali. Entah, apa Mas Ali punya ajian semar mesem ya? Baru begitu saja Datul sudah klepek-klepek.


Meski lidah Datul merasakan betapa lezatnya daging steak itu, tapi mana mengenyangkan. Rasanya makanan itu hanya menyenggol usus Datul belum sampai lambung udah lapar lagi.


Ponsel Mas Ali bergetar. Laki-laki itu meminta ijin untuk telpon di luar dengan alasan di dalam terlalu bising, apalagi suara musik band lokal yang sedang tampil, malah glontangan kayak emak-emak marah ngelempar panci dan kawan-kawan.


"Sebentar ya..."


Entah telpon dari siapa dan apa yang di bicarakan, Datul tidak tahu. Saat Mas Ali keluar untuk menelpon, Datul sibuk ngremusi es batu kristal dari gelasnya. Sesekali pandangan Datul menyapu tamu dari meja lain. Tapi tidak ada yang Datul kenali.


Mas Ali kembali masuk dan langsung merapatkan diri di samping Datul. Nyaris berjongkok. Debaran hati Datul semakin tidak karuan.


Apa malam ini Mas Ali akan melamarku?


Posisi Mas Ali seperti aktor laki-laki yang sedang akan melamar kekasihnya.


"Eh... Mas Ali mau apa?"


Enggak mungkin juga kan Mas Ali mau garukin telapak kaki Datul yang gatal karena kutu air. Ngapain jongkok!


"Datul, ini sumpah aku minta maaf banget"


"Minta maaf?" Raut wajah Datul jadi kacau, pikirannya kejauhan ternyata.


"Aku... aku harus pergi dulu. Ibuku masuk rumah sakit, baru aja adikku memberi kabar"


Datul bisa melihat raut khawatir di wajah Mas Ali. Jelas sekali. "Oh... kalau begitu Mas Ali harus cepet nyusul,"


"Kamu enggak apa aku tinggal di sini?"


Eh... enggak bisa ya sekalian di cangking gitu...


Meski begitu yang keluar dari mulut Datul berbeda tiga puluh derajat. "Enggak pa-pa Mas, lagian aku juga udah selesai makan"


"Atau Mas Ali mau aku temeni? kita ke rumah sakit sama-sama"


"Eumm... enggak usah, nanti kamu kemalaman malahan, lagian rumah sakitnya jauh dari sini"


"Maaf ya sayang, kita jadi sebentar tok gini"


Padahal tadi Datul kepengen pulang agak malam. Dia sudah dewasa, pergi juga resmi pamit sama Pak Farkhan. Tapi mau gimana, darurat kondisinya, Datul harus paham kondisi.


"Santailah Mas"


Santai ketombe ku! Umpat Datul dalam hati.


Mas Ali meraih punggung tangan Datul lalu mengecup di sana dua kali bergantian.


Cup!


Cup!


"Aku pergi dulu, kamu hati-hati pulangnya"


"Kabari kalau nanti kamu sudah sampai sana, semoga Ibu Mas Ali baik-baik aja"


"Amin, makasih"


"Aku pergi dulu"


Mas Ali tentu saja tidak melupakan kado pemberian Datul, yang dia lupakan justru membayar tagihan makan malam mereka.

__ADS_1


Datul berkaca-kaca, karena itu berarti dia yang harus membayar makanan mereka.


Lumrah Mas Ali lupa membayar tagihan ini, dia pasti kalut memikirkan ibunya.


****


Tanpa sepengetahuan Datul, ternyata Mas Ali tidak pergi ke rumah sakit melainkan menemui teman-temannya yang sedang karaokean dan minum-minum.


"Wuih, dari mana baru nongol! kita udah habis tiga botol, lo baru muncul"


Mas Ali bergabung, baru menjatuhkan pantat di sofa, dua perempuan berbaju kekurangan bahan langsung mengapit Mas Ali. Laki-laki dewasa itu mengusap salah satu paha mulus perempuan di sisi kanannya.


"Biasalah perempuan"


"Yang mana lagi?"


"Adalah bocil, kalian enggak kenal"


Jawaban Mas Ali mengundang gelak tawa tiga orang teman lainnya. Mas Ali tidak mau ambil pusing. Terserah mereka mau nyir-nyir bagaimana. Toh teman-temannya itu biasa ngoceh sesuka hati.


"Udah lo rusak sampai mana?"


"Gue cuma main-main, lagian aslinya enggak nafsu, melon dia terlalu kecil buat gue jamah"


"Hahahaha... iyalah udah biasa mainin bola basket juga tangan Lo"


"Tuh paham, lihat, keren enggak jam tangan gue?"


"Wuiisss... pasti hasil moroti tuh cewek"


Mas Ali hanya menaik turunkan alis. Setelah itu satu perempuan sudah naik di pangkuan. Mereka berciuman panas seperti biasa.


****


Datul misuh-misuh sepanjang jalan. Ternyata saat pergi ponselnya ketinggalan di rumah. Kafe tempat dia makan malam tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tapi kalau jalan ya jauh wong ada sekitar lima kilo. Cari pangkalan ojek pun susah. Datul jalan kaki lewat trotoar. Ingin melepaskan sepatu hak tingginya saja, tapi merasa tidak keren. Gengsi, bedaknya belum luntur masak harus kayak gembel.


Mana harga daging sepotong tadi sangat mahal. Huh... sial sekali aku malam ini...


Tuhan, kirimkan aku malaikat mu, please....


Setelahnya Datul bergidik ngeri. Iya kalau yang di kirim Tuhan malaikat penolong, kalau malaikat pencabut nyawa? Hih!


Datul ketakutan sendiri. Dia tak sadar malah lari, dan bodohnya kakinya keseleo akibat sepatu haknya yang patah. Maklum sepatu murahan.


"Auchhhhhh...!!!" Datul meringis kesakitan. Anehnya orang-orang tidak ada yang berniat membantu, barangkali mengulurkan tangan pun tidak.


Datul bangun sendiri, kali ini dia masa bodoh dan memilih bertelanjang kaki. Jalan terpincang-pincang.


Kenapa nasibku selalu begini, bahagia sedikit, celakanya kebanyakan.


Kring! kring! kring!


Bunyi sepeda, sepedanya roda dua.


Eh, hampir aja malah nyanyi.


"Oi, Tulai Khan!"


"Mas Hamam!" Datul langsung sumringah. Ternyata Tuhan mengirimkannya malaikat penolong sungguhan, bukan malaikat pencabut nyawa. Mas Hamam berhenti di hadapan Datul, masih nengkreng di atas sepeda gunungnya. Doa orang teraniaya memang mujarab. Besok-besok Datul mau doa banyak-banyak. Minta cepat kaya, misalnya.


"Kog nyeker? jalan kaki pula?"


"Ceritanya panjang Mas, sekarang Mas Hamam bisa bantu aku pesen ojek online tidak?"


"Memang kemana ponselmu?"


"Ketinggalan di rumah" Jawab Datul lesu.


"Terus habis dari mana, kog pakai baju kemayu kayak gitu"


"Kalau aku jawab pertanyaan Mas Hamam, ujungnya aku mendongeng Mas" Datul terbawa emosi jadi agak ketus.


"Dih, ngegas! aku juga enggak bawa ponsel tuh"


Bahu Datul lumer menyentuh aspal malam. Sama saja harapan di bantu Mas Hamam pun zonk jadinya. "Yah..."


"Enggak ada pangkalan ojek juga dekat sini, buruan bonceng aku, kalau mau sih"


"Gimana caranya bonceng? ada juga rok ku masuk ruji"

__ADS_1


Mas Hamam menepuk palangan besi sepedanya. Seakan besi itu empuk dan nyaman untuk di buat duduk.


"Emang Mas Hamam kuat?"


"Kuat Tul, kuat! jangan meremehkan aku ya, aku kuat dan tahan lama"


"Ekhem...!" bahasamu Mas, membuat gadis Sholihah sepertiku ini jadi treveloka.


"Maksudnya, sepeda ini mahal, pasti kuatlah nopang tubuhmu dan dosa-dosamu sekaligus"


"Beneran, enggak pa-pa ini?" Datul duduk menyerong di palangan besi. Hatinya geli sendiri, kog berasa romantis ya.


"Hmmm..."


"Pegangan Tul'


Mas Hamam mengayuh sepedanya, karena permulaan jadi sepeda itu belum seimbang.


"Pelan Mas, aku enggak mau jatuh lagi ya"


"Bawel! itu sepatu kamu enggak di buang aja, riweh jadinya"


"Enggak! nanti bisa di lem tau"


"Lem-par aja!" Datul hanya menyebikan bibir.


"Ini Mas Hamam bawa apa sih, kog baunya enak?" endus hidung Datul.


"Martabak telor, jangan minta, itu pesenan emak"


"Ampun, enggak beranilah aku Mas,"


"Heh, cerita kamu habis dari mana?"


"Hmmm... cerita enggak ya. Males aslinya"


"Cerita atau aku turunin aja di sini?"


"Hih, keponan kog"


"Intinya, aku habis makan malam sama Mas Ali, di kafe dekat lampu merah sana,"


"Buaakakkaka... habis makan malam di tempat keren, pulang jalan kaki, bertengkar?"


"Enggaklah, dia buru-buru, ibunya masuk RS"


"Di kibulin kamu Tul, lagian kalo dia cowok baik, harusnya gimanapun yah, anterin kamu pulang dulu kek, enggak malah di gabur, udah kayak burung merpati kamu Tul, mau aja di gabur"


"Nye-nye-nye, males nih, kalau udah di kasih cerita mesti komennya negatif"


"Di bilangin ngeyel! terserah!"


Mas Hamam mengantar Datul sampai gang rumah dengan selamat. Kata Datul kalau sampai depan rumah, dia tidak enak dengan tetangga. Pergi dengan siapa, pulang dengan siapa. Dari pada jadi bahan ghibah mending jalan.


"Makasih ya Mas, Mas Hamam cepet selesai tugas-tugasnya, kalau wisuda aku usahain datang"


"Mau minta kado apa?"


"Gayamu Tul, kayak uangmu udah banyak, yang penting tuh, cicilan motormu jangan sampai nunggak, bisa malu aku sama temenku yang kerja di diler kemarin"


"Iya, aku tertib kog. Mending enggak makan dari pada nunggak setoran"


"Ya udah sana pulang,"


"Bye, Mas Hamam!"


"Hmm..."


Bagaimana bisa aku menghapus nama Mas Hamam, dia yang selalu ada untuk ku.


Kamu tidak pernah mau belajar dari pengalaman mu sendiri, dasar Datul. Nanti kalau sudah patah hati pasti nangis-nangis... merepotkan saja!


to be continue...


_


_


_

__ADS_1


Biasa ya, minta dukungan 😆


love kalian emuachhh😘


__ADS_2