
Cahaya mentari berkilau di atas atap rumah warga yang berderet sesak. Baru kali ini Datul akan pergi melamar pekerjaan membawa tubuhnya sendiri, tanpa teman maksudnya.
Ada perasaan gugup bercampur deg-degan yang luar biasa. Masih ingatkan, belum lama dia hampir terjerumus di dunia malam berkedok warung remang-remang. Meski kali ini sudah di jamin bakal di terima, tapi tetap saja Datul tidak sepercaya diri itu. Belum lagi prahara SKCK, membuat hati Datul tidak tenang semenjak membuka mata.
Datul menyimpulkan tali sepatunya di depan teras. Kepalanya terangkat saat suara motor Ninja Hatori berhenti tepat di depan sana. Datul menghela nafas berat.
Ngapain sih!
Setelah semalaman di buat galau, pagi-pagi sekali hatinya sudah di ajak bergelut lagi. Harusnya dia jangan muncul, agar Datul bisa terus membencinya.
"Ayo aku antar!" Hamam mengulurkan pelindung kepala untuk Datul. Datul merengut tanda tak suka.
"Sekalian mau isi bensin, astaga marah kog ga tamat-tamat" keluh Hamam karena Datul belum juga memberi respon.
Terima? tolak? terima? tolak? Sepertinya Datul butuh sholat istikharah hanya untuk menerima atau menolak tawaran Hamam. Sulit!
Kalau aku terima, Mas Hamam bakal merasa menang dan di maafkan. Padahal aku belum seberapa meluapkan amarah. Tapi kalau aku tolak, itu artinya aku harus jalan kaki sampai gang depan, nunggu angkutan, terus naik sampai pasar sore, terus ganti minibus sampai terminal, lalu jalan kaki lagi sampai SPBU. Rempong days.
"Makanya buruan naik!" seolah bisa membaca pikiran Datul, Hamam dengan semangat kemerdekaan menyambar yakin.
Huh, Datul memang gadis menye-menye, pendiriannya memang tak sekokoh candi Borobudur dan tak setebal alis Sinchan juga. Detik berikutnya Datul sudah membonceng di belakang Hamam. Meski sepanjang perjalanan dia hanya diam seperti batu.
Hamam beberapa kali melirik Datul lewat spion motornya. Gadis itu benar-benar mengembok mulutnya. Jail, Hamam menggeber motornya lebih cepat. Seakan ingin menyusul kecepatan Valentino Rossi saat balap di arena. Datul menjerit, sontak memeluk pinggang Hamam kuat-kuat.
"Mas Hamam mending ganti nama!" teriak Datul keras-keras.
"Apa!?" akhirnya mau buka mulut juga, Hamam drengesan dalam hati.
"MAS GENDENG!"
Bukan mengurangi laju motornya, Hamam semakin memacu di iringi jeritan Datul yang semakin menggila.
__ADS_1
"Uwaaaaaaaa....!!!!!!"
Shittttt....
Bremm...bremmm....breemmm...!!!
Datul masih memeluk erat pinggang Hamam saat motor itu terasa berhenti. Matanya bahkan masih terpejam. Apa aku sudah sampai neraka?
"Turun Tul, aku harus mengantre bensin kalau tidak mau kehabisan"
"Aghh... ti-dak mau, aku takut" ucap Datul masih dengan mata terpejam. Jantungnya lompat-lompat tadi, ga tau jatuh berceceran di jalan atau tidak.
"Hahaha...bilang saja betah peluk-peluk gini, wangikan aku"
Di goda seperti itu Datul bergegas sadar dan melepaskan pelukannya.
"Wangi kemenyan! dasar gendeng!"
"Mas jangan bercanda huh!"
"senyum dulu makanya!"
"Gaje! buruan berhenti ga! malu-maluin deh"
Hamam tidak menggubris dia terus menggoyangkan motor. Nekat melompat bisa-bisa Datul terjungkal.
"Oke stop! aku senyum nih... hihihi...hihihi..."
"Puas?! puas!?"
"Wakakakakak... gitu kan enak... silahkan turun tuan putri Tulai khan" Hamam memiringkan motornya agar Datul lebih mudah turun.
__ADS_1
"Ckkkk.... menyebalkan!"
"Ahai... terimakasih, mulai hari ini dan seterusnya, aku akan memanggilmu Tulai khan, anggap itu panggilan sayang buat kamu"
"Dih, ngaco! sana pulang!" panggilan sayang entudmu! Batin Datul misuh-misuh.
"Dih galak! btw, semangat! semoga lancar ngisi tes tertulisnya"
"Tes tertulis?"
Datul membulatkan matanya lebar-lebar. Kenapa kemarin Hamam tidak memberi tahunya. Mana dia tidak belajar apa-apa. Tanpa persiapan dan ini semua terkesan sat set yang terburu-buru.
"Yups, tadi malam Tomi bilang sebelum tes wawancara nanti ada tes tertulis, may be beberapa soal saja kog"
Datul gemas sekali, "kalau tau begitu kenapa tidak memberi tahuku tadi malam huh!" satu pukulan keras mendarat di lengan Hamam yang kecil-kecil berotot.
"Auchhhh... sakit Tulai Khan!" Hamam mengaduh. "Salah siapa tadi malam tidak membalas chat ku hah"
"Tau ah...!" Datul kehabisan kata-kata. Hanya karena satu pertanyaan 'masih marah?' semalam, dia saja hampir gila. Datul nesu-nesu meninggalkan Hamam yang cengengesan di atas motor.
Lucu banget sih kamu Tul...
_
_
_
Aku lagi badmood banget sumpah😑
Ga di semangatin ayang soalnya😪
__ADS_1