
Di atas bukit karang nan jauh di sana, Hamam dan Datul berdebat lagi. Datul tidak menemukan Gilang atau teman-teman Hamam yang lain. Itu artinya Mas Hamam bohong, Datul menyimpulkan.
"Maksud Mas Hamam apa sih, kayak gini?"
Hamam drengesan dengan wajah bodoh. Pria itu bahkan menggaruk kepalanya sambil a i u bego, karena bingung mau beralasan apa.
"A... itu... em... ya! lihatlah pemandangan di sini baguskan? hehe..." Haman merentangkan kedua tangannya, entah mungkin dia sedang ingin cosplay jadi Shahrukh Khan yang tiap filmnya ada adegan seperti itu, barangkali. Tapi Hamam melakukan itu dengan satu tangan masih menenteng buntalan milik Datul. Jadi jatuhnya malah wagu. W-a-g-u! kalau enggak tahu artinya cari di google.
Datul mencebik. Keindahan yang di utarakan belum bisa Datul nikmati sementara hatinya jelas kesal.
"Kembalikan itu," tunjuk Datul pada buntalan berisi baju basah Datul. "Mas Hamam jangan bertingkah aneh bisa enggak sih!"
Datul merebut buntalan itu, lalu memutar tumit ingin turun. Luwaknya bisa marah kalau tahu dia bersama Hamam.
"Tunggu!"
Lagi, Hamam menarik pergelangan Datul tiba-tiba. Kali ini terlalu kuat, hingga tubuh Datul oleng. Belum lagi landasan di bawah kaki Datul yang berupa batuan karang. Datul hampir tergelincir, buru-buru Hamam menarik ke dua tangan Datul. Dan blasss...
Dada Datul yang kenyal-kenyal menabrak dada Hamam yang bidangnya 7x7 meter kibik. Mata mereka bertemu. Detik melambat, ombak berhenti menggulung. Daun-daun jatuh melambat di sekeliling mereka. Datul hilang akal, tapi bukan gila. Atau sebentar lagi akan gila. Hembusan nafas Mas Hamam terasa begitu dekat. Semakin dekat. Datul bahkan bisa menikmati ketampanan Hamam yang tidak manusiawi itu.
Saat nafas Hamam tepat beradu dengan nafasnya. Datul memejamkan mata tanpa sadar. Bibir Hamam menempel dengan bibir milik Datul. Nempel aja ya... enggak pakai jilat-jilat karena bukan es krim.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik...
Manis, manis sekali... Batin Hamam.
Apa aku berhalusinasi? Batin Datul
Ini gila! sadar Datul.
Datul membuka mata lalu mendorong tubuh Hamam kuat.
"APA YANG KAMU LAKUKAN MAS!!!"
Hamam terlonjak. Apa yang dia lakukan? Dia sendiri bingung, kenapa tiba-tiba bisa nekat seperti itu. Atau terbawa suasana karena sepi? Ah... dia sempat menikmati bibir Datul. Hamam frustasi. Apa barusan dia baru saja melakukan pelecehan terhadap Datul? Sial!
"So--sori, eummm maafkan aku--"
Meski aslinya enak, tapi Datul merasa tidak rela, Hamam tidak mencintainya lalu kenapa dia mencuri ciuman pertama Datul. Padahal Datul sudah menjaganya selama dua puluh dua tahun dia hidup. Datul naik pitam.
Bug! Bug! Bug!
Datul membabi buta memukuli Hamam. Dada Hamam, lengan, punggung, semua jadi samsak kemarahan Datul. Kecuali wajahnya Mas Hamam, Datul tidak mau membuat wajah yang mulus itu lecet. Jangan sampai.
"Kamu jahat Mas! Kamu jahat!"
Bug! Bug! Bug!
"Maaf, please maafin aku Tul"
"Enggak, kamu jahat! jahat sama aku!"
"Aku tidak senga---j"
BUG!
Hamam tersungkur, Datul menjerit.
BUG! BUG! BUG!
__ADS_1
Kali ini bukan pukulan kecil yang tak berarti milik tangan Datul. Ini bogem mentah tangan laki-laki yang sedang beneran jadi luwak garang.
"Anj*** Lo!"
BUG!
"Brengsek!!!"
BUG!
"Busuk!!!"
BUG!!!!
"Gue mampusin sekalian Lo!!"
BUG!!!!!
"Berhenti Tom! please berhenti!" Datul menangis, kasihan melihat Hamam yang sebentar lagi babak belur atau bisa-bisa bakal sekarat. Tomi mengabaikan Datul yang memohon. Hamam bisa saja membalas pukulan Tomi, tapi dia tidak mau membalas. Dia merasa pantas di pukul. Lontaran kata-kata kasar yang keluar dari mulut Tomi, layan dia terima.
"Tolong! tolongggggggggg...." serak Datul meminta tolong tapi tak satu pun orang datang.
BUG!!!
Tomi menendang tubuh Hamam yang sudah tersungkur di tanah. Dengan nafas yang naik turun berat. Ternyata memukuli orang melelahkan juga. Ngos-ngosan.
"Uhuk!!!" Hamam muntah air karena baru saja tendangan Tomi mengenai perutnya apalagi perutnya belum terisi. Datul sudah tidak peduli sekalipun ikutan kena tendang. Dia menubruk tubuh Hamam. Melindungi tubuh Mas Hamam yang begitu dia cintai.
"Minggir lo Mai!!!"
"Hiks...hiks.... berhenti aku mohon... please... berhenti....hiks...hiks...."
"Enggak!!!"
"MINGGIR!!!"
"Pukul aku sekalian kalau itu bisa bikin kamu puas!"
Tomi membuang muka. Menyebalkan sekali melihat gadis yang dia gilai di cium temannya sendiri.
"BRENGSEK!!!!"
Braiiikkkkkk!!!
Kaki Tomi menendang bebatuan kecil yang berdebu. Maidatul membela bahkan malah melindungi Hamam. Tomi sangat sangat kecewa. Hatinya ikutan patah. Apa ini yang namanya, tak selamanya selingkuh itu indah? Ini terlalu cepat, cepat sekali.
"Kita putus Mai, detik ini gue udah enggak mau kenal Lo ataupun si brengsek itu!"
"Hiks... hiks..." Datul tidak menjawab apa-apa.
Tidak apa dia di putuskan, toh memang dia belum menaruh hati pada Tomi. Tapi justru dia merasa bersalah, luwaknya terlihat terluka, Datul menggores luka pada hati laki-laki yang menjadi payung saat dia di hantam badai hujan.
Maafkan aku Tom... maaf....
Tomi pergi meninggalkan Datul yang memeluk Hamam dengan air mata yang tak surut.
Ternyata Lo memang dalem banget cintanya sama si tai itu Mai...
Meski sakit hati, gue rela ngelepas Lo karena bukan gue yang ada di hati Lo...
__ADS_1
Pukulan itu semoga bisa bikin Hamam sadar, sadar kalau sebenarnya dia juga cinta sama Lo!
Huh!!! lumayan bisa bikin wajah Hamam bonyok! sekalian biar gantengnya ilang! Gue enggak terima jadi orang yang jelek sendiri!
Cuih!!!!
***
"Mas! Mas...hiks... jangan mati dulu Mas!"
"Uhuk! uhuk!!!!"
Hamam terbatuk-batuk. Matanya perlahan terbuka. Dada Datul yang kenyal-kenyal sejak tadi menempel-nempel di tubuh Hamam. Datul tidak peka sama sekali. Hamam mati-matian untuk tidak berpikir kotor. Dasar perawan satu ini.
"Aku beneran mati kalau kamu peluknya kenceng banget kayak gini, uhuk!"
Datul mengendurkan pelukannya. Situasi macam apa ini, di bohongi, di cium tiba-tiba, lalu di buat nangis. Ah... random, enggak jelas banget. Datul pengen ganti author aja. Ini author enggak jelas banget. Eh....
"Huaaaaa.... huaaa... Mas Hamam mukamu jadi penyok... eman-eman ya Allah..."
"Hushhh... shiithh...! udah jangan nangis Tul, berisik banget, perih nih mukaku"
Srooooottttttt!!!!
Datul menyeka ingusnya yang meler pakai kaos Hamam. Nanggung, sekalian baju Hamam aja yang kotor.
"Jorok Tul ah!" meski begitu Hamam tidak bisa menghindar, tubuhnya masih lemas. Biar saja di pukuli, yang penting Datul dan Tomi sudah putus. Diam-diam Hamam lega dan senang.
Aku tetap tidak memiliki perasaan apapun pada Datul, dan ciuman tadi, anggap saja aku hanya terbawa suasana yang memang mendukung... bener kata pak ustadz, berduaan dengan lawan jenis sangat berbahaya karena orang ketiganya pasti setan. Ya, aku rasa begitu....
"Maaf Mas, karena aku pertemanan kalian berdua jadi rusak... hiks... aku enggak pantes sebenernya... aku ini siapa hah? huaaa..."
"Yaaa... nangis lagi... mending kamu cari bantuan sana, atau gimana... bisa-bisa aku mati beneran ini Tul"
"Kog Mas Hamam jadi galak! nyebelin! kamu Mas sama luwak sama saja, kalian berdua nyebelin! hihhhh!"
Datul bangkit, mencampakkan tubuh Hamam yang tadi bersandar manja di dadanya yang kenyal-kenyal.
"Aku pengen pulang!"
"Heh, heh! kamu kira kita dimana?"
Datul menghentakkan kaki sebal. Dia lupa sedang ada di tempat yang jauh. Jalankan arah pulang, arah keluar dari pantai ini saja dia tak tahu.
"Bantuin please... please Maidatul Khan..." ucap Hamam manja meski wajahnya sudah babak belur. Matanya bahkan mirip mata panda hasil tonjokan si luwak. Tomi tega sekali melukai wajah Mas Hamam kesayangan.
"jijik aku dengernya Mas!"
Meski begitu Datul mendekat lagi ke Hamam, lalu membantu memapah laki-laki yang tingginya sangat menjulang itu. Sejenak keduanya tidak membahas ciuman mereka, meski sebenarnya di benak keduanya masih terngiang-ngiang jelas.
-
-
-
Apa yang kalian rasain baca part ini?
Masih sebel enggak sama si luwak? atau malah sebel sama Mas Hamam?
__ADS_1
semoga kalian sukaš„° Bantu ramaikan yuk, Maidatul Khan aku kontrak di sini, tapi belum Lolos review... help me, help meš„“