
Datul mengabaikan Hamam yang cengengesan di atas motor. Laki-laki itu bilang akan mengisi bensin dulu baru pulang. Terserahlah mau apa, yang penting sekarang Datul fokus mencari orang yang berkuasa menerima amplop cokelat yang dia kempit sedari tadi.
Datul memindai tempat itu, terlihat para petugas masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Namun karena ini jam berangkat kerja, kebanyakan sepeda motor yang antreannya memanjang. Apalagi sekarang ini bensin pertalite memang susah. Akibatnya ya seperti itu, mengular hingga jalan raya.
Duh tanya siapa ini?
Baru membatin, seorang petugas dengan seragam berwarna hijau pupus melintas. Datul tidak mensia-siakan kesempatan itu untuk bertanya.
"Permisi Mas"
"Iya Mbak, gimana?"
"eumm... mau tanya"
"tanya aja" wah gercep sekali jawabannya yak.
"Saya mau melamar pekerjaan disini, harus ketemu siapa ya?"
"Oh mbaknya mau ngelamar kerja?" Datul manggut-manggut kek burung yang lagi makan ulet bulu.
"Kantornya sebelah sana Mbak, kebetulan Pak Imran juga baru aja datang"
"Pak Imran itu pimpinan di sini?" Datul merutuki kebodohannya. Kemarin juga tidak tanya siapa nama Omnya si Tomi itu. Langsung mau-mau aja saat di tawari kerja.
"Ya iya mbak, masak saya," Datul meringis lagi.
"Langsung masuk aja Mbak silahkan, sepatunya di copot jangan lupa, Pak Imran suka ngomel kalau ada yang lupa ga copot sepatu di luar, bakal tambah ngomel lagi kalau kaos kakinya bau bangkai saat di dalam"
Oke ini informasi penting, berarti besok kalau Datul sudah bekerja di sini dia harus rajin ganti kaos kaki.
"Baik Pak terimakasih"
Kantor Pak Imran hanya sekotak ruangan tertutup berpintu kaca bening. Baru berdiri di luar pintu kaca Datul sudah bisa melihat satu set sofa kulit berwarna cokelat dan satu set meja kerja lengkap dengan orangnya. Kemungkinan besar dia yang bernama Pak Imran.
Benar sekali di pintu kaca tertulis, Harap lepas alas kaki sebelum masuk! Mana di cetak tebal juga.
Datul melepaskan sepatunya lalu mendorong pintu itu pelan. Mau di ketuk, takut kedap suara malah yang ada buku tangannya sakit cuy.
"Permisi Pak"
"Masuk!" Suara yang sangat mengintimidasi. Datul otw merinding. Baru masuk dinginnya AC langsung nyess, dan wangi Shella lavender menguar begitu harum. Datul menghirup dalam-dalam wangi itu, lumayan menenangkan.
__ADS_1
Hemmm wangi....
"Ada perlu apa!?" Alamak Datul lupa sejenak, malah cosplay jadi model iklan gara-gara pengharum ruangan "Shella".
"Eum... eummmm... saya mau melamar pekerjaan Pak, ini surat lamaran saya"
"Oh... kamu temannya Tomi?" Datul mengangguk cepat.
"Pacarnya Tomi?"
"Eh... bukan... bukan Pak, hanya teman"
"Duduk!" karena di perintah, Datul menjatuhkan pantatnya di kursi yang berhadapan langsung dengan laki-laki penuh wibawa itu. Pak Imran di perkirakan Datul baru berusia lima puluh tahunan, masih gagah, necis, klimis, cenderung ganteng. Stop! lancangnya Maidatul Khan menilai calon bos. Maap kakak.
Sementara Pak Imran sedang membolak-balik kertas surat lamaran milik Datul, Datul susah payah mengendalikan pikiran-pikiran negatifnya.
Bagaimana kalau beliau jeli, SKCK ku bodong?
Bagaimana kalau tinggi badanku tidak sesuai kriteria?
Bagaimana kalau jerawat di wajahku membuatnya jijik, lantas menolak menerimaku sebagai karyawannya?
Bagaimana kalau, ahhh terlalu banyak hal yang aku pikirkan. Jujur aku insecure luar biasa.
"Oke, jadi belum punya pengalaman kerja sama sekali ya?"
Sebenarnya sih pengalaman banyak, tapi tahu sendiri Datul kemarin-kemarin kebanyakan ga cocok sama pekerjaannya. Enaknya jawab jujur apa bohong ya?
"Eum... sebenarnya beberapa kali udah pernah ikut kerja, tapi selalu ga bertahan lama" jawab Datul jujur. Mau bohong kog dia ga pinter ngarang cerita, takut malah pusing sendiri.
"Kenapa?"
"Kurang cocok aja Pak, kadang cocok lingkungan kerja ga cocok upahnya, cocok upah ga cocok sama lingkungan,"
"Contohnya?" Datul berharap ini bagian dari tes wawancara jadi paling tidak dia sudah dapat poin. Syukur-syukur tes tertulis di tiadakan.
"Satu contoh, pernah saya keterima di pabrik see food, gajinya besar Pak, tapi kulit saya sensitif sekali, kena amis langsung bubrah jerawat saya, jadi setelah tiga hari bekerja saya keluar"
"Wah ga dapat gaji dong"
Datul meringis. "Ya... hehe... begitulah Pak, gotong royong"
__ADS_1
Pak Imran manggut-manggut lagi. "Sekarang kalau di sini, gajinya di bawah UMR Semarang, libur jatah hanya dua kali dalam sebulan, kamu bisa terima?"
Bagi Datul sekarang yang penting kerja dulu. Membebaskan diri dari kutukan pengangguran. "Ga apa Pak, yang penting saya bekerja dulu, saya capek jadi pengangguran"
Pak Imran terkekeh. Datul punya mimik wajah yang lucu. Blank. Antara mau seneng atau sedih terlihat sama. Tapi bukan kaku jatuhnya, tapi lucu. Bikin gemas gitu.
"Baiklah cukup, sekarang kamu bisa pindah duduk di sana, ada beberapa soal yang harus kamu kerjakan, tes tertulis ya!"
Pak Imran meninggalkan Datul, pria itu masuk kedalam ruangan sebelah lalu keluar membawa setumpuk kertas. Datul sudah berpindah duduk di sofa saat Pak Imran kembali.
"Di kerjakan dulu, waktu kamu satu jam dari sekarang"
Huaaasemmmm... padahal tadi sudah berharap jangan ada tes tertulis. Lalu ini apa?
Mati aku!
Matematika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum, kog udah mirip tes CPNS. Tinggal kurang kewarganegaraan.
Keluar dari sini Datul yakin sekali bakal jadi mumi yang hilang ingatan. Datul sejak dulu menyayangi otaknya, mana pernah dia pakai buat mikir pelajaran yang berat-berat.
Datul setengah hati membaca soal-soal yang seakan ikut menertawainya. Lalu kemudian pintu kaca itu terbuka.
"Selamat pagi every body"
"KEBIASAAN! COPOT SEPATU DULU DiLUAR!!!"
"Halah Om, sepatuku bersih, ga ada tai ayamnya, santai... santai..."
Datul melongo melihat laki-laki yang selalu ceriwis dimana pun dan kapan pun.
_
_
_
_
Udah langsung ketebak dong siapa yang datang.
Ih ini aku kog malah kayaknya jatuh cinta sama si Tomi, jodohkan dengan Datul aja kali ya, hihihi...
__ADS_1
Gimana reader pada setuju ga?😋