Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 46: Menolak Nasi Goreng


__ADS_3

Baik Hamam maupun Datul seperti sama-sama menjaga jarak. Datul yang tersakiti sama sulitnya mengenyahkan Hamam dari pikirannya. Tertolong ada Tomi yang jadi selimuran.


Sedangkan bagi Hamam? terbiasa di repoti Datul, sekarang dia semakin merasa kehilangan. Tidak ada yang di ajak beli cilok atau seblak di pinggir kali. Hamam merasa uangnya hasil pasang judi online jadi tidak bermanfaat.


Kalau ada Datul dia senang, ada yang bisa di ajak kemana-mana. Termasuk di ajak gantangan burung. Lagipula Datul anaknya penurut dan mudah di kibulin. Jarang sekali Datul menolak jika di mintai pertolongan. Meski kalau di mintai tolong seringnya minta upah. Tidak apa, Hamam selalu punya banyak uang hasil judi online.


Hah, kenapa jadi mikirin Datul sih!


Hamam menyugar rambutnya yang basah oleh keringat. Melamun lagi bisa-bisa timnya kalah. Hamam lagi main sepak bola antar kampung. Meski tidak merebutkan piala AFF, tetap saja mereka harus menjunjung tinggi kehormatan desa.


Hamam fokus lagi menggiring bola, sepak kanan sepak kiri, melaju meski di hadang lawan.


"Yoyoyo... artis kita dari Korea Selatan uwuuuuu.... Giring, giring, giring.... dan...."


Satu tendangan lagi menuju gawang, tapi konsentrasi Hamam buyar manakala sekelebat bayangan Datul memakai seragam SPBU melintas di bonceng dengan tubuh condong ke depan. Biasalah pakai motor nungging.


"Auchhhhhh.... tidak! sayang sekali bola di rebut oleh lawan!" suara komentator sama sekali di hiarukan Hamam.


Itu beneran Datul, masih pakai seragam, baru pulang ternyata dia.


"Woi Mam, konsen dong ck!" teman Hamam satu tim nampak kesal, gara-gara eksekusi Hamam yang gagal memasukan bola dan malah bengong, untung tampan jadi nggak bisa di samakan dengan sapi ompong.


"Sori, sori"


Datul di bonceng sama Tomi, mereka itu apa benar-benar serius pacaran


Dasar bocah itu!


***


Datul yang hari itu di antar pulang ayang-ayangan, tidak tahu jika di perhatikan Hamam dari lapangan hijau.


"Masuk dulu, aku bikinin minum"


"Enggak usah, gue langsungan aja ya, janjian sama Nani, dia minta nonton filmnya bang Nicholas, Lo jangan iri ya, kemaren kan kita udah nonton duluan"


"hmmm paham aku, giliran sama selingkuhan nontonya setan-setan, kalo sama pacar wajib yang roman-roman gitu ya"


"Iya dong, wajib itu... hahaha..." Tomi ingin menowel dagu Datul tapi lebih dulu di hempaskan oleh pemilik dagu.


Datul mencelos, hubungan aneh, meski Tomi mengumbar cinta di mulut entah mengapa Datul biasa saja. Malah susah baper kalau sama Tomi. Tidak memunculkan getaran-getaran aneh di hatinya, apalagi gempa. Anggap Datul sedang memanfaatkan Tomi saja, dan Tomi tidak keberatan di manfaatkan. Lumayan ngirit ongkos juga kalau punya selingkuhan rajin antar jemput.


"Mai, boleh minta sesuatu nggak,"


"Apa? jangan aneh-aneh, tetanggaku di sini julid-julid"


"Lo pikir gue mau minta apa?"


"Cium misalkan"

__ADS_1


"Najis, nggak minat gue minta ciuman Lo, ciuman lo pasti asin"


Datul terkekeh, tingkat gilanya bertambah jadi sableng. "Asin upilku, kalau ciumanku kayaknya pahit"


"Mending minta upil aja, nih aku kasih" Datul tanpa malu memasukan jarinya ke lubang gua, mencari harta karun di sana setelah itu mengacungkan di muka Tomi.


"Jauh, jauh ah, jijik gue, mending pulang!"


Datul terkekeh lagi. "Ati-ati... perasaanku nggak enak"


"Dih, selingkuhan nggak ada akhlak"


Gara-gara mau di kasih upil, Tomi lupa mengatakan mau minta apa. Mereka berpisah di depan rumah Datul. Datul baru masuk rumah saat punggung Tomi menghilang di belokan gang yang memaksa mobil mundur dulu apabila bersimpangan dengan mobil lainnya.


***


Malam hari, Datul keluar rumah karena ingat persediaan obat nyamuknya habis. Datul berjalan lewat lorong sempit yang cukup gelap. Baru jam delapan, masih terlalu awal untuk jadi penakut. Lagipula kalau ada apa-apa tinggal teriak, pasti orang-orang kampung yang jademan langsung gercep menolong.


"Tul!"


Baru kali ini Datul merinding. Suara itu terdengar serak-serak misterius. Meski dari tadi dia mensugesti otaknya kalau ini masih awal untuk jadi penakut. Datul tidak mau menoleh. Suaranya terlalu menyeramkan.


"Tullll!"


Datul mempercepat langkahnya. Sial, lorongnya kenapa terasa jauh. Suara itu semakin mendekat di belakangnya.


Datul memberanikan diri untuk membalikan badan untuk memastikan, dan akan berteriak sekuat tenaga jikalau itu memang setan atau pocong Jepri yang jahil.


"Aghhhh.... eummmbbbbbb...." Mulut Datul di bekap.


"Jangan teriak, ini aku"


Punggung Datul terpojok menyentuh dinding rumah yang masih kasar. Bersamaan dengan itu, Datul menatap sepasang mata yang dia kagumi. Mata milik Mas Hamam. Keduanya saling menatap dalam.


Mas Hamam, kenapa dia masih menemui aku.


Anjir, ini kenapa dadaku rasanya berdegup kayak gini!


Hamam yang tidak tahan untuk tidak menemui Datul. Apalagi setelah apa yang dia lihat tadi sore. Tomi dan Datul terlihat semakin lengket.


"eummbbb.... eummmbbb..."


"Aku lepas, tapi jangan teriak, oke?"


Datul mengangguk. Dia mau berkompromi, tapi jantungnya tidak. Sedekat ini dengan Mas Hamam membuat dirinya gila. Wangi tubuh Hamam tercium menguar, mungkin baru mandi karena Datul hafal ini bau wangi sabun Nuvo yang bungkusnya berwarna hijau. Datul menyukai apa saja yang ada pada diri Mas Hamam. Semuanya! Tuh, Datul jadi tergoda lagi. Wes angel, angel!


"Apaan sih Mas Hamam!" bentak Datul sengit.


"Kamu menghindari ku hah?!"

__ADS_1


"Memang seharusnya begitukan?"


"Ckkk!"


"Ayolah Tul, balik kayak dulu lagi, kita asyik b?temenan aja"


"Ya aku sih biasa aja, mana ada menghindari, emang kenapa sih, kog Mas Hamam yang malah bingung sendiri"


"Iya biasa aja kamu bilang, soalnya sekarang ada yang udah rajin antar jemput"


"Kalian pacaran?" tembak Hamam.


Datul malas sebenarnya, malas sekali. Menjelaskan ini itu lagi. Sama malasnya kayak reader yang jarang ninggalin jejak.


"Hooh, aku dan Tomi jadian, tepatnya aku jadi selingkuhannya"


Hamam mendelik. Datul kesurupan apa sampai mau jadi orang ketiga.


"Ka--- kamu, ini bukan Datul yang aku kenal" Hamam kecewa. Kecewa karena teman baiknya jadi jahat.


"Coba deh kamu jadi Nani, gimana perasaan mu, di selingkuhi itu pasti sakit, kamu nggak kasihan?"


"Enggak, ngapain!"


Dalam hati padahal Datul merasa bersalah. Apalagi dia sudah paham bagaimana rasanya di sakiti. Di duakan berkali-kali. Kata-kata yang keluar dari mulut Datul hanya temeng, agar dia terlihat kuat.


Datul ingin Hamam berpikir kalau dirinya sudah berubah. Tujuan Datul agar Hamam muak dan menjauhi dirinya. Bukan malah kayak gini lagi.


"Baik, terserah kamu sekarang. Yang jelas sebagai teman, aku sudah tegur kamu"


Masih saja jawabnya gitu, andai Mas Hamam bilang, stop Datul, sama aku aja, langsung tak gasss Masss!


Datul diam. "Sudah tidak ada yang pengen Mas Hamam bicarakan lagi, jadi permisi aku mau beli obat nyamuk"


"Ayo makan nasi goreng"


"Tidak sekarang Mas, aku lagi diet"


Huh, baru kali ini Datul nolak makanan. Eman-eman aslinya.


_


_


_


Terimakasih yang masih betah di sini😪


Pengen cepet-cepet kelarin cerita ini😌

__ADS_1


Tapi apa daya, seringnya saya tak berdaya🤯


__ADS_2