Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 29: Untung Selamat!


__ADS_3

Sementara itu Hamam memilih kabur dari acara penyuluhan kesehatan warga gang 2. Hari ini dia bersama kelompok mahasiswa lainnya sedang melakukan penyuluhan kesehatan. Hamam adalah salah satu mahasiswa Universitas ternama, program studi kesehatan masyarakat. Wajar dia ikut acara seperti itu. Tapi bukannya bisa fokus mengikuti acara, dia malah terancam di terkam tante-tante girang.


Hamam naik motor mengitari gang, beralasan cari minum dia kabur duluan. Beberapa kali berputar-putar di dalam gang sana Hamam tidak menemukan warung buka.


Aishhh... kenapa tidak dari tadi saja keluar gang, cari Mamamart di ujung jalan. Pantas saja semua warung di sini tutup, area kehidupan malam kog.


Setelah menggerutu di dalam hati, Hamam melajukan motornya lagi. Demi apa, sekarang tenggorokan Hamam benar-benar terasa kering.


***


Nafas Datul dan Siti tersengal-sengal. Lutut mereka bergetar hebat karena lari sekuat tenaga.


"Huuhhhh... tempat apa ini sebenarnya!?" tanya Datul saat istirahat hanya untuk mengatur nafas.


"Uhuk!! aku juga tidak tahu, huhhhh..."


"HAI KALIAN BERDUA BERHENTI!" Sialnya perempuan pemilik warung yang menawari mereka pekerjaan, gigih mengejar.


Ya Datul dan Siti sudah sepakat menolak tawaran itu. Kerjaan tak masuk akal. Tapi wanita itu tetap saja merayu bahkan semakin memaksa. Mereka kabur, lari juga masih di kejar. Hebat juga stamina si ibu warung.


"Lari!!!!!!" teriak Siti sambil menyeret lengan Datul. Padahal rasanya nafas Datul sudah mau putus.


Berlari tanpa arah yang jelas. Trabas apa saja yang ada di depan mereka. Di benak mereka, mereka harus berhasil keluar dari gang itu baru bisa merasa aman.


"Tul, lari lebih cepet ayok!!!"


"Ah, tuyul ini juga udah setengah mati aku lari, huh hah.. huh..."


BRAKKK!!!


Jidat Datul membentur tiang bambu penyangga jemuran. Leher Datul nyaris ikutan nyangkut di tambang jemuran baju. Pemiliknya pasti akan marah nanti kalau tahu jemurannya sekarang sudah terpuruk di atas tanah.


"WADOHHH!!!" Datul hanya sempat mengaduh sebentar. Lalu harus menjajari langkah Siti lagi. Setidaknya dua orang bodoh akan sedikit lebih kuat dibandingkan bodoh sendiri. Datul takut, panik, bingung, sekaligus takut mati konyol di sana. Kalau ibu-ibu tadi orang bener, harusnya tidak memaksa seperti tadi. Pikiran Datul jadi enggak-enggak.


Mereka menoleh kebelakang. Lagi-lagi si ibu masih terlihat. Jidat Datul perih, juga rambutnya terasa ada yang menjambak dari belakang.


"Sit... aku ga kuat lari lagi! Huh...!"


"Datul terus lari aku bilang!"


Nafas mereka tersengal-sengal lagi. Heran, ini kampung atau kuburan.


"Dari tadi ga ada orang lewat yang bisa di mintai tolong, huh... hah... huh... hah!"


"Makanya lari terus... la-ri te-rus..." meski mengatakan itu Siti rasanya juga sudah letih. Matanya mulai berkunang-kunang. Keringat jangan ditanya, tubuh mereka sudah basah padahal tidak turun hujan.


"HAHAHA!!! KETANGKAP KALIAN!!!"


"TIDAKKKKK!!!"


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt...!!!!!!


"Aghhhhh...."


Shiiiiiiittttttttttsssssstttttttsssss...!!!!!


Hamam kocar-kacir mengerem motornya. Untung saja rem motornya cakram. Nyaris menabrak dua orang gadis gila, jantung siapa yang tidak tratapan.


"HEH! KALIAN CARI MATI!!!"


Datul mendongak saat mengenali suara itu. Mata Datul berbinar-binar. Ya dia pahlawan Maidatul Khan, kemarin, hari ini dan mungkin esok.


"Mas Hamam, bawa kami pergi dari sini!"


"DATUL! Sedang apa kamu di sini hah?!!!!"


Datul mendekat lantas menarik Siti juga.


"Nanti aku cerita, sekarang selamatkan kami dulu,"


"HEH, KESINI KALIAN!!!" garang ibu-ibu pemilik warung entah berantah.

__ADS_1


Memahami apa yang terjadi, Hamam lantas meminta mereka segera naik. Karena merasa Datul yang mengenal Hamam, Datul membonceng duluan baru Siti di belakangnya. Motornya satu orangnya tiga. Mereka boncengan sudah kayak cabe-cabean.


"Maju dikit Tul, ini aku di belakang sempit!" pekik Siti tak tahu diri.


Datul merapat ke depan. OMG... ini sekarang dada Datul nempel di punggung Mas Hamam.


Sekalian peluk boleh?


Haduh... haduh... ser, seran jadinya...


"Pegangan!"


Brummm!!!


Motor Hamam melaju kencang, meninggalkan ibu-ibu gendut yang mirip badak karena masih bisa lari sekencang itu.


"SIALAN MEREKA KABUR!!!!"


****


Braaakkk!


"Ahhhhh....!!!"


Hamam meletakkan gelas, setelah isinya tandas tak tersisa. Berhasil kabur dari gang tiga, Hamam membawa dua gadis naif itu ke sebuah warung mie ayam. Mereka butuh minum. Wajah Haman terlihat menahan emosi. Sekarang pandangan matanya menyidang tajam pada Datul dan Siti.


"Apa yang kalian lakukan di sana hah!?"


"Kalian tahu tidak itu tempat apa?!!!"


"Bagaimana bisa kalian berani sekali masuk ke gang itu hah?!"


Datul menunduk, meski sudah meminum es jeruk tenggorokannya terasa masih kering. Ingin menjawab pertanyaan Hamam rasanya sulit. Jidadnya perih, rambutnya juga masih perih. Rasanya rambutnya masih ada yang menjambak dari belakang.


"Iii... it---u, kami tidak tahu" Siti mewakili bicara meski terbata.


"Datul, kenapa kamu diam hah? jelaskan sekarang, atau aku laporin sama Bapak kamu, kalau kamu main ke tempat tidak benar!"


Datul brebes mili, dia memang secengeng itu.


"Mas, biar saya yang jelaskan,"


Siti menceritakan dari awal mereka ke sana. Dari awal pertemuannya dengan ibu-ibu warung terus ditawari kerja jaga warung dengan gaji UMR. Hingga mereka berakhir dengan di kejar-kejar seperti tadi.


"Jadi, begitu ceritanya Mas, kami berdua sama sekali tidak tahu, kami hanya cari kerja, saat di jelaskan jam kerjanya yang aneh karena harus pulang sampai dini hari, kami sepakat menolak"


"Datul ga bisa kalau pulang sampai malam karena pasti ga dapat ijin dari Bapaknya, sedangkan saya kalau kena angin malam biasanya biduran saya kambuh, jadi kami tolak, eh ibunya ga terima malah maksa, kami kabur deh... saya juga masih bingung sampai sekarang" Hamam menyimak cerita Siti dengan raut wajah yang berubah-ubah.


Ya Tuhan, mereka berdua naif atau bodoh sih!


"Datul udah jangan nangis, ini di lap air mata kamu, tapi ini adanya tisu makan.." Siti menyodorkan selembar tisu yang dia ambil di meja.


Datul terima saja, dia memang butuh itu untuk menyeka air mata dan ingusnya.


"Hiks..! Mas Hamam paham kan sekarang. Kami tidak tahu tempat apa itu, aku butuh kerjaan Mas Hamam tahu itu... Hiks, hiks..."


Hamam mengusap wajahnya kasar. Sepertinya memang tepat sekali dia meninggalkan acara penyuluhan kesehatan tadi, sekarang lebih baik memberikan ilmu pengetahuan sosial pada dua orang gadis polos di hadapannya.


"Dengarkan saya sekarang! Jangan pernah lagi masuk ke gang itu, jangan! Itu tadi gang lokalisasi Psk, tahu kalian?"


"Kalian bersyukur bisa keluar utuh dari sana, sembarangan kalian berdua ini!"


"Hah apa!" Ucap Datul dan Siti berbarengan.


"Lokalisasi Psk! P-S-K, harus saya jelaskan lebih detail?"


"Astaghfirullah... " Datul menangkup wajahnya, semakin terisak. Sesulit itu mendapatkan pekerjaan. Hingga nyaris terperosok ke jurang dunia malam. Meski mungkin bisa saja hanya jualan nasi di sana, tapi kemungkinan yang lainnya tentu bisa saja terjadi.


"Bodoh, aku bahkan mengira tadi ada toko boneka Barbie di sana, mana aku tahu kalau ternyata itu..."


"Rumah bordil Maidatul Khan!" potong Hamam. Melihat Datul yang sekarang penampilannya acak-acakan dan ditambah hancur seperti itu, Hamam kembali kasihan tak tega.

__ADS_1


"Sudah jangan nangis, yang penting sekarang kalian sudah aman, besok lagi lebih hati-hati"


"Datul maafkan aku, aku juga nggak tahu, beneran..."


"Kamu ga salah, hiks... nasibku yang jelek, hiks..."


"Nasibku juga..." Siti tampak murung, tapi tidak sampai menangis seperti Datul. Orang memang beda-beda meski kadang bernasib sama.


"Kalian mau makan tidak? saya pesankan mie ayam"


"Eh... tidak Mas, saya mau pulang saja, bisa minta tolong nitip Datul? kayaknya dia masih syok banget, kami tadi barengan naik bis kesini, tapi kalau Mas bisa anterin Datul pulang, tidak apa-apa saya pulang sendirian, tidak mungkin juga kita boncengan kayak tadi, hehe..."


"Omong-omong makasih Mas baik sudah selamatkan kami..." giliran Siti yang mesam-mesem sekarang. Dalam hatinya dia memuji ketampanan laki-laki di depannya sekarang.


"Nggak, aku bisa pulang bareng kamu, hiks..."


"Udah, kamu selesaikan nangis mu dulu, santai, aku nggak apa kog"


Siti melambaikan tangan sebelum masuk kedalam bis berpintu satu berwarna hijau segar. Sekarang Datul hanya berdua dengan Hamam. Karena warung mie ayam itu berada di tepi jalan raya. Tak khayal, mudah bagi Datul melepas kepergian bis hijau yang di tumpangi Siti.


"Jangan sedih lagi, besok coba aku bantu cari-cari kerja,"


"krim kamu masih banyak bukan, kenapa buru-buru cari kerja, sampai percaya saja sama iming-iming gaji UMR" omel Hamam.


Datul merengut. Masih meratapi nasibnya yang susah mendapatkan pekerjaan. Diomeli seperti itu dari tadi, rasanya pengen ikutan hih! Mana tahu Mas Hamam rasanya jadi Datul...


"Mas Hamam, meski skincare ku tercukupi sekarang, hidup itu terus berjalan, aku capek jadi pengangguran! aku pengen punya uang sendiri, pengen kayak yang lain, bisa beli ini, beli itu, beli sepatu bagus, baju bagus, pergi jalan-jalan, nggak kayak aku yang keluar rumah cuma buat nganter kerupuk"


"Mas Hamam pikir pergi ke pesta orang nikahan juga nggak butuh baju bagus? aku nggak mau buat Mas Hamam malu di sana, aku butuh pekerjaan cepat setidaknya buat bisa beli baju yang layak, tapi nasibku buruk... aku sama sekali tidak berguna"


Hening. Hamam ingin menyentuh lengan Datul, ingin menenangkan gadis itu, merengkuhnya seperti yang di lakukan aktor FTV, tapi tangannya kaku. Tidak, itu tidak sopan. Mereka berteman baik, harus tahu batasan. Lagipula ini novel bukan FTV.


"Kamu lupa dengan yang aku bilang kemarin haa? jangan khawatir, aku yang ngajak kamu ke acara itu, aku tahu apa yang harus aku lakukan, kamu cukup manut, bisa?"


Entah kenapa tiba-tiba Hamam bisa segampang ini peduli dengan seorang gadis. Hamam yakin perasaannya pada batas normal seorang teman. Hamam tidak menyukai Datul dalam arti cinta atau tertarik seperti dia tertarik pada Ativa. Beda, Hamam masih bisa membedakannya dengan jelas.


Hamam memandang lekat wajah Datul. Berantakan, wajah berminyak, bopeng dimana-mana. Meski begitu Hamam sama sekali tidak ilfeel atau jijik.


"Jidad kamu kenapa memar?"


Datul reflek memegang jidadnya yang memang terasa perih. "Auchhh... perih, tadi pas lari nabrak tiang bambu jemuran orang"


"Nanti di kompres pakai air hangat"


Hemmm... Datul pengen merona. Mas Hamam seperhatian itu.


"Rambutku belakang juga perih, kayak di jambak"


"Kenapa? sini aku periksa"


Hamam meminta Datul memutar badan untuk memeriksa rambut belakang Datul. Saat itu tawa Hamam pecah seketika.


"Buakkakakakkakakaka..."


"Maidatul Khan, ini kamu kog sempat-sempatnya ngutil kutang orang!"


"Hah!?" Datul melongo saat tangan Hamam melepaskan kaitan kutang yang nyangkut di rambut Datul.


"Pantas saja perih... he...he...he..."


Malu, malu, malu banget ya Allah...


-


-


-


-


🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Ga mau tahu, minta like, komen dan hadiah pokoknya😋


__ADS_2