
Datul membuka kado pemberian dari Mas Hamam. Sepasang flatshoes cantik dari brand ternama. Mata Datul berbinar saat mencoba sepatu itu. Pas sekali, padahal seingat Datul Mas Hamam tidak pernah bertanya berapa nomor sepatunya. Dalam hati Datul memuji kehebatan Mas Hamam yang satu itu.
Bukan maksud membandingkan, jujur ada yang miris di hati Datul. Meski mulutnya kemarin bilang tak perlu kado dari Mas Ali, tapi hatinya sebenarnya ingin. Ingin tahu seberapa peka kekasihnya itu. Bukankah kebanyakan wanita seperti itu? Lain di mulut lain di hati. Lantas kenapa bisa-bisanya Mas Ali menelan itu mentah-mentah? Dan sama sekali tidak memberi Datul kado apa-apa.
Datul menghembuskan nafas kasar. Mencoba ikhlas, dia menyemangati dirinya sendiri agar bisa menerima Mas Ali baik atau buruknya. Lagipula kemarin itu pas di rumah Mas Ali, Datul cukup bahagia menghabiskan waktu bersama. Mereka juga sempat, ekhem! berciuman...
Sudah sejauh itu, Datul mengingkari prinsip-prinsip yang dulu dia pegang teguh. Otaknya yang bodoh, entah mengapa selalu mensugesti kalau itu hal yang wajar. Padahal hal seperti itu sangat dekat dengan perbuatan zina. Hari ini bibir besok bisa menjalar ke zona terlarang lainnya. Haduh... pusing sendiri Datul memikirkan dosa tapi nikmat seperti itu.
****
Seperti janji Datul. Saat tahu Mas Hamam akan wisuda, Datul nekat bolos kerja. Alasan sakit, padahal ingin datang ke acara wisuda Mas Hamam. Beruntungnya lagi, Datul baru dapat dana BSU dari pemerintah. Jadi dia tidak berpikir dua kali untuk membelikan Mas Hamam kado yang mahal. Pun dia tahu balas budi, kemarin Mas Hamam sudah memberinya kado yang mahal, jadi tidak mungkin dia kasih balik barang yang murahan.
Datul membungkus kado berisi jaket Eiger berwarna navy itu dengan rapi dan apik. Harganya di atas 500k. Lumayan kan? Sekarang dia siap pergi ke kampus Mas Hamam. Meski mustahil ikut masuk ke aula dimana wisuda itu di selenggarakan. Tidak apa, Datul bisa menunggu di luar. Toh dia berhasil membujuk Zida agar menemaninya datang. Bocah itu kegirangan malah, katanya mau sambil kecengin mas-mas kuliahan.
Mereka berdua naik busway. Bukan tanpa alasan, selain motor Datul yang sedang di pinjam Mas Ali, selain itu Datul juga belum berani naik motor sampai pusat kota. Ngeri, banyak rambu yang bikin Datul pusing karena tak paham. Sesampainya di sana, gedung aula sudah di tutup. Datul bergabung bareng yang lain. Duduk di luar sambil menonton prosesi dari layar besar yang sengaja di sediakan dari pihak kampus. Maklum tamu undangan hanya untuk dua orang yang past untuk kedua orang tua wisudawan.
"Mbak Datul, lama banget ya acaranya dari tadi adanya sambutan-sambutan, bikin ngantuk" protes Zida yang padahal sudah di sogok minuman chat time dan makaroni ***** biar enggak bawel.
"Namanya juga acara resmi, kalau banyak nyanyi-nyanyinya nanti di kira lagi ajang pencarian bakat"
"Iya juga sih Mbak"
"Eh Mbak, btw nanti gimana kalau kita ketemu Haji Rojak dan Bu haji Hindun, apa mereka enggak bakal curiga kita bisa di sini? maksudnya datang ke acara anak mereka gitu"
"Tinggal bilang aja, kita bestainya Mas Hamam dong, atau bilang aja kita berdua perwakilan dari grup remaja Tanjung sari, bereskan?"
"Hoahhh... kalau aku jadi Mbak Datul ya, mending sekalian ngaku aja jadi pacarnya Mas Hamam, siapa tahu habis dapat ijazah Mas Hamam ijab sah Mbak Datul, hahaha..."
Datul menowel lengan Zida. Susah payah Datul tidak membangun imaginasinya sendiri yang berharap pada Mas Hamam. Bocil satu ini malah enteng banget ngomong gitu.
"Hla aku kie sopo Zid?" aku ini siapa?
"Orang tua Mas Hamam pasti expektasinya tinggi, terlebih mereka itu Haji kaya raya, pasti nanti pengennya dapat besan yang setara, bukan besan tukang goreng kerupuk"
"Hilih, jangan gitu dong Mbak Datul, kayaknya Bapak dan Ibunya Mas Hamam itu baik-baik orangnya, hla wong tiap kali aku disuruh beli ayam di tempat mereka, aku di kasih imbuh ceker, wkwkkwkw..."
"Wkekkwkekwkwkkwk... untung enggak cuma di kasih imbuh kantung plastik ya..."
"Heeh, ceker dua biji, kalau satu doang aku juga emoh. Kalau kata bapakku makan ceker paling enggak ya dua, kalau satu tok nanti pincang, wkwkwkkw...."
Datul ketawa lagi sampai matanya berair. Tidak sia-sia mengajak Zida. Ocehan gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA itu selalu bikin Datul happy. Ya meskipun boros juga karena pasti minta jajan.
Layar kembali menarik perhatian semua orang. Pasalnya prosesi acara inti akan di mulai dengan mengumumkan nama-nama wisudawan berprestasi dengan nilai indeks prestasi yang membanggakan.
"Oi diem Zid, bentar lagi wajah Mas Hamam pasti muncul"
Semua orang fokus menatap layar. Iringan musik lagu Padamu Negeri mengalun mengiringi prosesi. Sumpah, Datul jadi merinding.
"SARJANA HAMAM AMIRUL MUKMININ, FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT, DENGAN INDEKS PRESTASI SANGAT MEMUASKAN"
Riuh tepuk tangan dari dalam gedung ikut membuat Datul jingkrak-jingkrak. Sebagai temannya saja Datul ikut bangga. Meski kelihatannya tidak niat, klenyar-klenyer, hobi main judi online, tapi Mas Hamam itu diam-diam juga pintar.
__ADS_1
"Wah Mas Hamam keren ya Mbak?"
"Banget Zid!" Setelahnya entah mengapa mata Datul berkaca-kaca. Terharu.
Selamat Mas, kamu hebat. Aku bangga dan bakal selalu bangga sama kamu.
****
Tepat jam dua siang acara itu selesai. Pintu aula di buka dan para wisudawan berhamburan menemui keluarga, saudara, teman-temannya yang sejak tadi menunggu di luar. Datul belum berani menyapa Mas Hamam yang sedang berselebrasi bareng teman-temannya. Di samping itu juga masih ada orang tua Mas Hamam. Datul rikuh.
[Slmt Ms Hamam udh jd sarjana, di tggu traktirannya, btw Ms Hamam gnteng bgt pkai toga]
Pesan Datul langsung dapat balasan.
[Dimana kamu heh?]
[Di bwh pohon asem, Mayan sambil nyemil asem yg jatoh, hbs ternyata acr prosesi lama]
[Hmm... tunggu aku kesana]
Tidak syulit bagi Hamam Amirul Mukminin untuk menemukan pohon yang Datul maksud. Pohon asem yang rindang itu juga jadi tempat favorit Hamam saat nongkrong sehabis jam kuliah.
"Hei kalian, kurang kerjaan sampai sini hah?!"
"Hai Mas Hamam, duh gantengnya..." itu bukan Datul yang ngomong, tapi Zida. Datul membeku karena tiba-tiba jantungnya berdebar hebat.
"Hai..." balas Hamam singkat.
"Datul kamu bolos kerja?" Datul mengangguk kecil.
"Hmm... ini buat Mas Hamam, sebelum aku balas ngomel, karena bukannya dapat ucapan terimakasih, malah di omeli" Datul mendengus.
"Btw, selamat Mas Hamam udah lulus jadi sarjana, jadi mahasiswa terbaik juga"
"Hah, apalagi ini? aku bilang enggak usah repot-repot pakai kado, masih aja ngeyel"
"Dih Mas Hamam enggak boleh ngomong gitu, Mbak Datul udah baik kasih kado. Daripada ribut, mending buruan aku fotoin kalian. Bestai kan kalian? hahahha...."
Hamam kicep. Bukan tidak senang Datul datang. Mas Hamam hanya tidak mau merepotkan Datul. Apalagi sampai bolos kerja. Buat apa sih?
"Malah bengong semua, buruan ah tambah panas ini!"
"Mau foto bareng aku?"
"Boleh"
Keduanya berdiri mengikis jarak. Mas Hamam dengan setelan toga dan Datul dengan pakaian semi formal. Baik Hamam dan Datul malah terlihat canggung.
Ini kenapa sih gue? Mas Hamam menggerutu dalam hati.
Duh, jantungku kenapa berdebar kayak gini. Masak hanya karena Mas Hamam pakai toga, aku baper lagi...
__ADS_1
"Satu, dua, lima, senyum!"
Cekrekkk!
Mas Hamam dengan senyum tipisnya terlihat tampan dan mahal, kontras dengan Datul yang tidak sadar senyum terlalu lebar gara-gara hitungan Zida yang sehabis dua, langsung lima.
Datul mencak-mencak melihat hasil jepretan Zida. "Ah hapus-hapus! aku jelek banget!"
"Wkwkkwkwk.... Gigi mbak Datul kelihatan gede-gede"
"Ulangi Mas fotonya..." rengek Datul.
"Enggak usah, emang udah bagus gitu"
"Hahahha... betul Mas Hamam! ini natural banget..."
Datul bersidekap jengkel lalu membuang muka. Mas Hamam dan Zida bagai komplotan kompak yang sukses membuli Datul.
Tiba-tiba. "Nang, le, di cari ternyata di sini"
"Hloh, ada kalian?"
Mampus ini! meski tadi bilang santai, tapi kenapa berasa kepergok gini sih ya Allah?
"Hehe... iya budhe..."
Lalu wajah ibunya Mas Hamam terlihat bertanya-tanya. Meski begitu untungnya tidak langsung menegur Datul. Kayak yang udahlan urusan anak muda.
"Nang, le, bapak ibu mau pulang duluan, kamu kalau masih mau kumpul sama teman-temanmu ndak apa, di tunggu bakul ibu ini,"
"Oh iya Bu, tinggal aja, nanti Hamam gampang, ibu bapak hati-hati"
"Budhe pulang duluan ya Tul, Zida!"
"Enggeh budhe.." jawab mereka barengan. Datul bernafas lega.
"Cari makan ayo, aku traktir"
"Cocok nih Mas, laper emang perutku" pokoknya urusan makan Zida gercep.
"DATUL!!!"
Sebuah suara menginterupsi mereka bertiga. Datul menoleh ke arah suara yang sudah lama tidak dia dengar.
Zida yang tepat di samping Datul langsung berbisik. "Wah Mbak Datul ternyata populer"
_
_
_
__ADS_1
to be continue...
Tiap ngetik jam segini malesnya jadi lapar😪