Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 6: Gara-gara Cilukbaa!


__ADS_3

Datul menyeret langkahnya lagi. Entah sudah berapa kali, dia sendiri sampai lupa. Dua tahun bukan berarti dia berpangku tangan. Rela menghabiskan uang untuk berkali-kali membeli materai dan juga ongkos riwa-riwi. Beginilah nasib orang yang tidak punya skill apa-apa. Tinggi badan kurang, giliran dapat kerja ga cocok dengan pekerjaannya.


Dulu pernah Datul keterima di pabrik sayur. Kerjanya tidak terlalu berat, teman-teman kerjanya juga enak, tapi baru tiga hari bekerja kakinya jadi bengkak gara-gara kutu air. Maklum kerjanya nyuci sayur otomatis kakinya jadi sering kena air, padahal dia juga sudah pakai boots. Alhasil tiga hari kerja seperti gotong royong saja. Mau minta bayaran gimana wong dia juga asal ga berangkat gitu aja.


Sekarang masih sama. Baru beberapa jam saja Datul sudah mundur. Dia sadar sikapnya pecundang sekali. Lantas Datul harus bagaimana?


Ketika masuk ke dalam rumah, Farkhan sedang duduk sendiri menonton televisi. Lelaki yang sudah tua, terlihat rambutnya yang kini telah memutih. Datul jadi sedih, belum bisa membantu apa-apa, belum bisa memberi apa-apa. Yang ada masih merepotkan saja.


"Udah pulang Tul?" tanya Farkhan saat Datul memilih duduk di lantai, di bawah kaki Bapaknya.


"Maaf Pak, Datul membuat kecewa Bapak lagi"


"Kenapa?" suara lelaki tua itu begitu lembut. Datul menilai Bapaknya seperti air yang selalu tenang. Tak pernah marah atau berbicara dengan nada tinggi.


"Sebenarnya Datul sudah keterima bekerja di garmen, udah tanda tangan kontrak untuk tiga bulan ke depan, tapi Datul ini pulang, ga kuat kerjanya berat sama mandornya galak-galak Pak"


"Oh... hla gimana sih galaknya?"


"Belum kelihatan orangnya, suaranya sudah menggelegar Pak, Datul jadi takut duluan..."


Farkhan menyimak cerita putri satu-satunya itu.


"Hla teman kamu itu, Maktun gimana?"


"Dia masih bertahan, Datul kabur pulang"


"Hemft... Yawes mau gimana lagi, wes rak cocok, nak di paksakan yo malah jadi beban"


Selalu begini, datar, yawes, gapapa, ga usah di paksa, belum rejeki. Kata-kata itu malah semakin menyiksa Datul. Kenapa sih Bapaknya tidak memarahinya, Datul ga apa di marahi agar Datul jadi orang yang ga menye-menye seperti ini. Tidak berguna, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa membanggakan. Saat sekolah tidak pernah dapat rangking, giliran lulus dapat rangking 1 kategori pengangguran.


"Pak... udah makan?"


"Sudah, Bapak masak opor ayam, kamu makan sana!"


Sudah tidak membawa manfaat apa-apa, masih juga di kasih makan. Datul yang sedih hanya bisa mengangguk saja.


****

__ADS_1


Sore hari Datul menyapu halaman rumah yang luasnya tak seberapa. Belum mandi juga karena niatnya memang mau bersih-bersih dulu. Sisi kanan rumah Datul itu warung milik mbak Minem, jualan berbagai es dan gorengan, jadi selalu rame yang jajan di sana, apalagi sore gini.


"Mbak Datul!" Panggil Hilda salah satu tetangga Datul sekaligus teman main Datul sejak kecil. Hilda masih duduk di kelas tiga SMA meski begitu dia termasuk lengket sama Datul, kalau kemana-mana mesti ngajak Datul.


"Hai, mau kemana?" Hilda mendekat sambil menuntun keponakannya berusia kira-kira dua tahunan. Anak kecil cantik dan gembul menggemaskan.


"Meh beli es di Mbak Minem, nanti malam jalan yuk Mbak!"


Datul mengabaikan ajakan itu. Meletakkan sapunya lalu cuci tangan sebentar di air kran yang ada di sana. Datul berjongkok, sejajar dengan anak kecil itu yang berdiri.


"Hai Aira... cantiknya gemoy...anaknya siapa sih ini?"


"Cilukbaaaaa....!!!!"


Anak perempuan kecil itu mundur, dan menyembunyikan wajahnya di kaki Hilda.


"Cilukkkbaaaaa....!!!" Niat hati ingin menggoda anak menggemaskan itu. Malah Aira mimbik-mimbik. Dan langsung...


"Huaaaaaaa.... huaaaa....huaaaaa..." Nangis.


"Huaaaa...huaaaa....huuuaaaa...." tambah kenceng dan meronta-ronta di gendongan Hilda yang mungil.


"Mbak Datul tak tinggal dulu..."


"Eh...."


Datul jadi tak enak hati. Kenapa anak itu nangis padahal dia tidak diam-diam mencubitnya hlo tadi. Cuma Cilukba... harusnya anak itu ketawa, kenapa malah menangis.


"Huh, tak tahu diri! Ga punya kaca Mbak!?"


Datul mendelik. Itu Ella, masih bau saudara dengan Datul. Ibu Ella adik kandung Farkhan. Jadi mereka sepupuan. Tapi semenjak ribut perihal tanah warisan, baik Ella dan Ibunya selalu saja memusuhi keluarga Datul.


"Wajah kayak monster gitu, pantas saja anak kecil takut...!" super hot mulutnya. Datul ingin membalas tapi ingat perintah Farkhan.


Jangan di balas, jangan ribut, lebih baik mengalah, dan diam saja!


Datul pun hanya diam lalu meninggalkan Ella yang mencak-mencak karena merasa di kacangin.

__ADS_1


"Heh, Mbak! budek ya!" teriak Ella.


Di warung Mbak Minem banyak orang. Datul yakin mereka melihat dan mendengar dengan jelas sekali. Ella tak tahu malu, di biarkan malah mulutnya semakin menjadi-jadi.


"Hahhh... pura-pura ga denger. Jelek, jerawatan, pengangguran, laki-laki mana yang mau!"


"Kamu pasti jadi perawan tua nanti Mbak!"


Datul menutup pintu sedikit keras. Hatinya panas, ingin membalas kata-kata kotor itu. Tapi kalau dia balas, sudah pasti mereka jadi tontonan. Datul tidak mau membuat Farkhan malu.


Datul menangis sendirian di dalam kamar. Punya saudara dekat, hanya berjarak beberapa rumah saja. Tapi mereka jahat. Mereka selalu memusuhi keluarga Datul. Benar kata pepatah Jawa. Cedak mambu tai, adoh mambu kembang. (Dekat bau tai, jauh bau bunga)


Datul merasakan sendiri. Tidak ada keluarga lain yang bisa di jadikan sandaran, dia dan bapaknya. Hidup berdua dengan sepi.


Nasib, kenapa nasibku menyedihkan seperti ini...


Meski benar yang di katakan Ella, aku jelek, berjerawat, kayak monster, aku pengangguran, tapi apa hak dia mengataiku seperti itu!


Mulutnya jahat sekali! Sampai tega menyumpahiku jadi perawan tua.... hiks... hiks...


Aghhh... Ella elo koyo kebo... sialan!!!!


.


.


.


.


.


.


Mas Hamam aku simpan dulu untuk beberapa chapter ke depan. Saya fokus ke Datul dulu ya...jatuh bangun dia cari kerja, dan kisah cinta yang sama saja gagalnya. Saya yakin pasti ada yang pernah merasakan seperti Datul ini, susah cari kerja. Giliran dapat kerja ga cocok. Cari lagi gagal lagi... tetep semangat ya kalau begitu!


Like dan komen, makasih 😘

__ADS_1


__ADS_2