
Rasanya Hamam ingin bertanya pada ibunya, apa dulu pas mengandung dia, sang ibu sering nonton film dewa judi? Sampai-sampai dia di anugerahi keakuratan meramal angka togel. Bermodal uang lima ribu rupiah, malam itu Hamam menang empat angka sekaligus. Sepuluh juta rupiah dia dapatkan dengan mudah. Bayangkan saja, tinggal menambahi sedikit saja dia bahkan sudah bisa mengganti motor Datul yang di bawa kabur pacar laknatnya dengan motor baru, cash! No kredit-kredit!
Sekali lagi, ini adegan berbahaya! Tidak untuk di tiru. Jangan habis baca cerita ini njur kalian kepincut main judi online. Jangan ya! kalau kalian yang main, palingan bakal kalah terus, yang ada malah nanti harta kalian habis.
Pagi harinya, Hamam balik ke kantor polisi itu. Membawa sebagian uang haram yang akan dia berikan sebagai sogokan agar petugas itu mau gerak cepat.
"Ambil ini Pak, saya harap dalam satu kali dua puluh empat jam, motor itu di temukan!"
"Masih kurang?"
Dan dengan tidak tahu malunya petugas kepolisian itu mengangguk. Dasar serakah!
"Ini belum cukup. Kalau motor itu ketemu, kalian masih harus membayar sebagai uang tebusan"
"Berapapun itu, saya bakal kasih dengan full senyum"
"Hahahaha... senang sekali saya berbisnis dengan kamu, anak muda"
Makan itu uang haram!
***
Polisi itu ternyata menepati janjinya. Keesokan harinya Datul menerima telpon dari pihak kepolisian. Datul yang sedang sibuk menjemur BH, tidak sadar mencampakkan kain penutup gunung kembarnya itu hingga terkulai menyedihkan di tanah.
Dia kegirangan, mencak-mencak, lari masuk ke dalam rumah, lalu memberi tahu Bapaknya.
"Pak, Bapak!"
Pak Farkhan menatap Datul heran. Kemarin jalankan tersenyum berbinar seperti itu. Ngomong saja Datul tak sanggup.
"Hei, ada apa? ada apa?!"
"Pakkkk... motornya udah ketemu Pak!" Datul menyeka sudut matanya, tidak menyangka motornya akan ketemu secepat ini. Terharu.
Ini semua berkat Mas Hamam.
"Alhamdulillah, syukur ya Allah. Bapak ikut lega. Plong!"
"Huum Pak, aku juga"
"Nang Hamam udah kamu kasih tahu?"
"Habis ini aku kasih tau Pak"
"Iyo, dia yang repot ngurus bantu kamu"
"Di ingat-ingat, buat pelajaran, jangan gampang percaya sama orang"
"Terus itu Alinya berarti ketangkep juga? Di sel atau gimana nantinya?"
Jleb!
Iya katakanlah sejenak Datul lupa. Dia senang motornya di temukan, lalu setelah ini apa? Bukankah di temukanya motor pasti satu paket dengan tercekalnya pelaku?
__ADS_1
Wajah Datul kembali berduka. Dia ingin benci, tapi tidak bisa. Sesak di dadanya kembali bergelayut. Apa tega, dia membiarkan laki-laki itu benar-benar mendekam di penjara?
****
Mas Hamam dan Datul bergegas memasuki kantor polisi itu lagi. Dada Datul bergemuruh luar biasa, saat mengenali punggung laki-laki yang duduk di hadapan Pak Freddy. Mas Hamam seakan bisa ikut merasakan gejolak di hati Datul, laki-laki itu lekas meraih tangan Datul dan menggenggamnya erat.
Oke Datul harus kuat sekarang, ada tangan kokoh yang ready mendukung dan melindunginya.
"Kamu siap?" Datul mengangguk kecil.
Dua pasang kaki itu melangkah berbarengan. Mengikis jarak. Di kepala Hamam sudah tersusun kata-kata pedas untuk menyerang laki-laki penipu itu. Lihat saja!
"Oh jadi ini laki-laki bangsat yang hobi nipu orang!"
Bukan hanya Pak Freddy dan Ali yang menoleh. Mereka melewatkan seorang perempuan yang memangku balita, yang duduk di samping Ali.
"Agh, anda sudah datang. Bagaimana, kami sudah tepati janji kami bukan?"
"Kerja bagus Pak Freddy, saya kira tim anda terlalu mudah untuk mencekal bajingan kelas rendahan seperti dia!"
Ali menunduk, terlihat mati-matian menahan emosinya. Datul bisa melihat itu. Wajah itu terlalu menyedihkan di mata Datul. Mata sayu, dan ujung bibirnya terlihat robek. Apa saat di tangkap dia melakukan perlawanan?
Pak Freddy mengangsurkan dua kursi kosong untuk duduk Mas Hamam dan Datul. Posisi duduk Hamam persis di sebelah Ali, sedangkan Datul aman di samping kanan Hamam. Proses selanjutnya bakal di bicarakan sekarang.
"Siapa perempuan ini?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Mas Hamam. Mewakili pertanyaan yang sejak masuk bergelayut di pikiran Datul.
"Ibu Nita ini, istrinya Ali, dan balita itu anak mereka. Jadi Mbak Datul, selama ini anda di bohongi. Bukankah dia mengaku lajang dan menjadi kekasih anda selama ini," Datul diam, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Huh, semakin hari kasus asmara berujung penipuan semakin marak. Memang susah kalau urusan hati, iyakan!?"
"Jangan menangis! Dia bakal bangga kalau lihat kamu nangis. Kamu kudu kuat! Tunjukan kalau kamu baik-baik saja meskipun di tipu seperti itu!"
Datul ingat ucapan Mas Hamam saat di jalan. Mati-matian dia menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Mas Ali.
"Wah, luar biasa sekali anda ya!? berarti selama ini anda cuma memanfaatkan teman saya? dapat apa saja coba? uang?"
"Hah, saya yakin kalau anda ini juga morotin uang teman saya, enggak malu ya sama burung anda! laki-laki kog ngemis minta-minta!!!"
Jujur, kalau saja bukan di kantor polisi. Mungkin Mas Hamam bakal ajak duel itu Ali. Benar-benar emosi jiwa.
"Dia yang bodoh, saya hanya memanfaatkan peluang!"
"BANGSAT!!!"
Kursi Mas Hamam terdorong kebelakang, Meski di lihat dari postur tubuh, jelas lebih kokoh Mas Ali karena faktor usia. Tapi Hamam tidak akan mundur.
Tangannya mencengkram kerah baju Ali. Emosinya seperti di siram pertamax saat Ali malah terdengar mengejek Datul.
"Pak Freddy, berapa denda yang harus saya bayar jika menonjok muka dia!"
"Saya kasih gratis, karena Mas Hamam rekan yang menyenangkan"
BUGGHH!!!!
__ADS_1
Ali tersungkur. Tubuhnya longsor ke lantai bersamaan jeritan sang istri yang histeris.
"Tolong, jangan pukul suami saya..."
"Ini untuk Datul!"
BUGGHhh!!!
"Ini untuk burungmu yang malu karena punya majikan bangsat!"
BUGGGHH!!!
"Cukup Mas Hamam! Nanti anda capek!" tegur Pak Freddy santai. The power of duit memang hebat. Bahkan petugas kepolisian yang belum lama kenal, bisa seperti bestie.
Dada Mas Hamam naik turun, belum puas sebenarnya. Namun demi menghormati seragam yang di pakai Pak Freddy, Hamam berhenti. Membiarkan Ali yang terenggah dengan muka babak belur. Datul mendekat dan merangkul lengan laki-laki tampan si super heronya.
"Cukup Mas! aku tepati janji, enggak nangis kan?" Mata Datul jelas berkaca-kaca, dari sana Mas Hamam tahu jika gadis itu juga berjuang menahan emosional.
"Saya serahkan dia pada anda Pak, proses lanjutan, empat tahun penjarakan?"
"Ashiappp!"
"Tolong! tolong, saya mohon jangan perkarakan suami saya"
"Saya tahu dia salah, tapi kasihan anak kami"
"Mbak, kasihani anak saya" Perempuan bernama Nita itu memohon di hadapan Datul. Datul jadi kasihan. Bagaimana perasaannya, punya suami yang selingkuh di tambah penipu, maling, pencuri. Hah, Datul sampai bingung harus menyebut apa.
"Jangan dengarkan dia, ayo kita pulang, biarkan laki-laki bangsat itu mendekam di penjara"
"Saya mohon, hiks... Mbak, kasihani anak saya... hiks..."
Meski menangis darah pun Mas Haman tidak sudi membiarkan laki-laki itu terbebas dari hukum. Lagi, Mas Hamam menggandeng tangan Datul, kalau di biarkan lama-lama di sana, pasti dia goyah. Lantas mengasihani mereka.
Semua sudah selesai, aku harap kamu belajar dari ini Mas Ali. Aku memaafkanmu meskipun kamu sangat jahat ternyata.
Datul melirik Mas Ali sebentar, pandangan mata mereka sempat bertemu barang sedetik. Sebelum menjajarkan langkah kaki Mas Hamam dan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Motormu sudah di luar, kita tinggal ambil. STNK juga sudah aku bawa"
Saat mereka sudah berada di parkiran khusus barang curian, saat itu tubuh Datul ambruk. Tulang di kakinya tiba-tiba melunak. Dia menangis sesenggukan. Di bawah kaki Mas Hamam.
"Hah, aku benci lihat kamu nangis!"
_
_
_
_
Happy weekend 🥰
__ADS_1
Sentuh like, komen ya, Miss u all🤗