Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 12: Tunggang Lari


__ADS_3

Kata almarhumah ibuku dulu, jadi perempuan itu harus senang beberes rumah. Nyapu minimal dua kali sehari, pagi dan sore. Juga harus yang bersih, jangan sampai masih pating jekopros (masih ada sisa kotoran) kalau ingin dapat suami yang guanteng. Terus kalau nyapunya setengah-setengah, ya harus ikhlas dapat jodoh yang brewokan dan kuprus.


Nyatanya Datul terpaksa menyentuh pekerjaan rumah karena hanya ada dia, kasihan kalau Farkhan yang tandang, beliau sudah lelah menggoreng kerupuk. Gelem rak gelem kudu gelemlah si Datul. Padahal hobi Datul tidur dan mageran. Tapi kalau tidak digarap, rumah Datul bisa-bisa jadi rumah hantu.


Maka dari itu Datul menyapu halaman rumahnya yang seminggu ini tidak dia sapu. Mumpung sempat, juga kali-kali ada emak-emak yang lewat terus tersanjung melihat kesregepan Datul yang penuh tipu daya. Lantas berniat menjodohkan dengan anaknya. Boleh, boleh, Datul bersedia kog asal anaknya guanteng. Dih curang!


Masih batin membatin saja Datul sudah di buat terkejut. Mas Hamam melintas. Oh, apa ini jawaban dari harapan-harapanya tadi. Mas Hamam naik sepeda gunung merek Polygon. Ga ecek-ecek, harganya bisa lima Jeti lebih kalau tipe itu. Kelas orang kampung, itu sudah wah banget. Palingan mau ke pasar nyamperin ibunya yang jualan ayam. Naik sepeda gunung gitu Mas Hamam kerennya bertambah-tambah. Ga ada cela emang. Datul ga bohong.


Datul membatin lagi. Sapa ga ya? sapa ga ya? atau pura-pura ga lihat aja... aghhhh... orangnya keburu udah lewat. Wajahnya panik. Datul ga heran kalau dirinya kembali jadi abstrak di mata laki-laki itu. Datul sedikit kecewa lalu memilih melanjutkan nyapu lagi.


Mas Hamam lewat lagi, arah pulang sekarang. Datul masih menekuni sapu menyapu, sok sibuk aja daripada salah tingkah. Yang penting peristiwa hampir tertabrak kereta api kemarin aman. Mas Hamam tidak benar-benar memberi tahu ke Bapak. Datul hutang budi padanya. Kalau ada kesempatan tentu saja Datul berharap bisa balas budi. Begitu kan?


Pekerjaan Datul hampir selesai, agenda berikutnya mandi, sarapan sama sambel terasi, terus berangkat kerja. Dari jarak dua ratus meter. Kog, Mas Hamam balik lagi? Apa Datul boleh baper ini? jangan-jangan Mas Hamam sedang memata-matainya. Apa dia mengkhawatirkan keadaan Datul pasca kemarin? Ngaco kamu Datul!


Hap! Datul membalikkan badan saja, malu sendiri. Mas Hamam melintas lagi menuju pasar. Baru beberapa menit dia balik lagi ke arah rumahnya. Datul jadi pinisilin, penasaran. Apalagi wajahnya panik gitu. Kasihan.


"Mas Hamam!" Laki-laki tampan itu mengerem sepedanya ragu-ragu. Ah kenapa orang dan sepedanya sama-sama tampan sih.


"Saya kira kamu ga tau caranya menyapa orang" ketus kedengarannya memang.


Datul meringis dengan tampang bodoh. "Hihi... ada apa mas, sampai bolak balik gitu..." tanya Datul santai aslinya deg-degan.


Mas Hamam terlihat berpikir sejenak. Ragu menjawab juga, tapi seperti butuh bantuan.


"Ada kucing baru lahiran, anaknya banyak banget di lemari baju saya, saya jijik sama kucing, makanya mau manggil ibu buat mindahin, malah ibu masih di kerubungi pembeli"


Ahay, apa ini saatnya balas budi? Btw, Mas Hamam kog punya sisi lucu juga ya. Kayak bocil yang merajuk sama emaknya terus bingung mondar-mandir ga jelas gitu.


"Masalahnya saya mau ambil baju ganti, mau berangkat kuliah, sial memang, masak iya saya ga ganti baju ke kampus" Mas Hamam manyun-manyun. Bibirnya oi...menggoda selera.


Ga ganti baju juga ga masalah sepertinya, mas Hamam tetep ganteng. Ga mandi sekalipun ga bakal ketahuan kalau belum mandi, apalagi cuma baju...


"Hmm... mau saya bantu mas?" Duh Datul sepertinya belum sadar dengan penampilan gembelnya. Setelan baby doll dengan warna pink yang sudah memudar, apalagi itu bekas buat tidur semalam. Bau iler ga tuh, belum mandi juga kan?

__ADS_1


"Memang kamu ga takut pegang kucing?"


"Aman sih mas kalau itu..." yang ga aman jantungku mas.


"Boleh kalau tidak merepotkan..."


Datul buru-buru mencuci tangan dan menepuk-nepukan kedua tangan pada sisi pahanya. Biar cepat kering. Terus ini Datul mau jalan kaki ke rumah mas Hamam atau naik sepeda saja enaknya? Maksudnya bawa sepeda sendiri miliknya. Ga mungkin membonceng miring di palangan besi depan dada mas Hamam. Kalian pikir ini film India. Ini hidupnya Datul yang penuh derita. Jadi sekarang dia jalan kaki di belakang Mas Hamam yang ********* sepedanya sendiri. Toh Datul sudah tahu rumah Mas Hamam.


Rumah Mas Hamam yang jadi satu-satunya rumah berlantai dua, sekaligus paling megah sekampung Tanjung sari. Akhirnya Datul menjejakkan kaki di rumah itu.


"Mas memang di rumah ga ada orang?" tanya Datul saat Hamam membukakan pintu.


"Kalau ada, ngapain saya repot-repot menyusul ibu!" Benar juga sih, Mas Hamam anak tunggal. Bapak dan ibunya pagi begini sibuk jualan ayam di pasar. Jadilah rumah sepi. Harusnya sih ada Mbak Kotimah, rewang rumah ini. Tapi kemana, mau kepo kog ga penting banget.


Mata Datul menyusuri isi rumah Hamam. Rapi dengan perabotan yang bisa di bilang lebih beragam di bandingkan dengan perabotan di ruang tamu Datul yang hanya berisi satu set kursi kayu dan satu buffet tanpa pernak-pernik apapun. Di dinding ruang tamu ada kaligrafi ayat kursi sekaligus gambar kota Mekah yang mana ada Ka'bah yang di kelilingi ribuan orang yang sedang tawaf. Maklum, Bapak dan ibu Mas Hamam sudah menyandang gelar Haji.


"Sebentar saya ambil kardus dulu ke belakang, nanti pindahin kucing-kucing itu biar gampang"


Datul mengangguk lalu menjatuhkan pantatnya di sofa empuk berwarna coklat tua. Di pikir lagi, kucing itu bakal memindahkan anak-anak sebanyak tujuh kali di tempat yang berbeda. Ah apa boleh Datul berharap, tujuh kali terhitung sebagai masa pendekatan? Datul senyum-senyum sendiri. Datul rasa otaknya geser sedikit paska jomblo.


Begitu kamar dibuka, Datul di buat bersyukur karena mendapatkan kesempatan melihat kamar cogan. Satu ranjang berukuran single dengan sprei biru khas club sepak bola Chelsea FC. Di sampingnya ada meja kecil dengan beberapa buku tebal di atasnya. Lalu ada satu poster kakek tua yang menjulurkan lidahnya, Albert Einstein. Termasuk rapi sih ini. Ga terlihat berantakan sama sekali. Wangi lagi, Datul jadi pengen bobokan di situ. Eh...


"Tuh, kamu buka lemarinya, saya nunggu sini aja" Mas Hamam berdiri agak jauh dari lemari sambil bergidik-gidik ngeri. Sumpah, Datul jadi gemes.


"Meong, meong, meong..."


Saat pintu lemari terbuka penampakan anak kucing menggemaskan menyambut Datul. Ada lima ekor. Datul yang pada dasarnya suka kucing langsung menggendong mereka layaknya adek bayi. Setelah Datul amati anak-anak kucing itu sudah bersih, tidak ada sisa darah seperti kucing yang baru lahir. Datul menggendongnya satu persatu sebelum di pindah ke kardus. Emak kucing ga tau kemana lagi belanja mungkin buat masak entar sore.


"Mas ini kira-kira udah di pindah induknya berapa kali ya, udah bersih gini, artinya mereka ga lahiran di lemari Mas Hamam"


"Mana saya tahu, baru lihat tadi pas buka lemari, cepetan pindahin aja semua" wajah Mas Hamam panik. Rupanya dia benar-benar jijik sama kucing.


Wah, ini Datul lancang ga sih? masuk ke kamar pria tampan sekaligus bertamasya melihat isi lemarinya.

__ADS_1


Omegod lagi, apa itu? Cangcut Mas Hamam? ternyata pakai merek yang itu... haduh...haduh..


kog jadi haus saya....


Wajah Datul memerah akibat otaknya sendiri. Harus cepat-cepat ini. Datul sudah traveling, penampakan luar yang menonjol terbungkus cangcut crocodile, betapa kokohnya? Batin Datul lagi.


Hus! Datul mesum. Skip!


"Mas... pindah kemana ini kardusnya!!!!" karena gugup Datul setengah memekik.


"Bawa turun aja... taruh depan rumah! Hii...! Hiii...!" Hamam masih bergidik jijik.


"O...oke..." Buru-buru Datul keluar. Ga mau lama-lama di sana juga, Datul sudah panas dingin.


Setelah meletakan kardus itu di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah Hamam, Datul tunggang lari pulang. Sepertinya dia harus cepat-cepat mengguyur kepalanya. Agar pikiran-pikiran mesum tadi hanyut bersama air. Keramas juga karena rambutnya sudah apek. Datul baru sadar penampakan dirinya sendiri sekarang. Sambil berlari dia istighfar dalam hati. Gelo... gelo... kenapa sih harus gembel gini saya...


Hamam yang baru menyusul keluar rumah, di buat celingukan bingung karena hanya menemukan kardus berisi anak kucing tadi. Datul sudah tidak ada.


Kemana bocah tadi, pulang ga bilang-bilang, padahal mau tak kasih uang hlo....


Bocah apa! lihat cangcut tersusun rapi di lemari saja otaknya sudah traveling...


Mas Hamam, Mas Hamam... othor geleng-geleng kepala...πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


.


.


.


.


.

__ADS_1


komen, hadiah dan vote... imbalan karena udah lihat cangcut mas HamamπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2