Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 26: Label


__ADS_3

Akan meminta maaf secara langsung apa! Nyatanya Ella sama sekali tidak menemui Datul setelah itu. Bahkan sepertinya Ella dan ibunya semakin sengit pada Datul. Asal ga terang-terangan nyerang Datul seperti kemarin, Datul sebenarnya mending reko-reko budek saja.


Syukur sekarang kondisi sudah terkendali. Emak-emak berdaster yang kemarin mendemo Datul juga sudah insaf. Mereka berbalik mengucilkan Ella karena gadis itu yang awal mula menghembuskan fitnah.


Datul menghembuskan nafasnya kasar. Rebahan sambil menengadah memandang langit-langit kamar miliknya. Merasa berhutang budi pada orang lain memang tidak enak. Hutang uang bisa pay latter alias di cicil, tapi hutang budi di bawa mati. Masalahnya, sekarang Datul merasa hutang dua-duanya pada Mas Hamam.


Gimana caranya aku balas budi?


Huh, aku memang tak berguna!


Kemudian Pak Farkhan muncul dari balik pintu kamar Datul yang sedikit terbuka. Melongok apa yang sedang di kerjakan putri tunggalnya itu.


"Oh, tak kira kamu tidur. Masih pagi, jangan tidur, pamali"


Memiringkan tubuhnya. Datul memang tidak berniat tidur, meski seringnya kalau sudah nempel bantal dia khilaf, molor sampai mencetak peta benua Eropa di bantal.


"Cuma rebahan, bingung mau ngapain Pak"


"Baju kotor sudah numpuk, ga kamu cuci?"


"Belum jadwalnya nyuci baju Pak, kalau di cuci sekarang besok malah bingung mau ngapain lagi,"


"Huftttt..." Farkhan mendesah, terlihat sedang sedih dan bingung. Untung saja Datul masih peka sekarang.


"Bapak kenapa? ada yang bisa Datul bantu?"


Datul merubah posisinya lagi, kali ini dia duduk bersila. Melihat Pak Farkhan dengan raut wajah seperti itu tentu saja Datul khawatir.


"Bapak kepikiran, kerupuk-kerupuk di pasaran sekarang pakai label semua, kerupuk kita hanya di lirik tok"


Ini bukan pertama kali Pak Farkhan mengeluhkan perkara label, kemarin-kemarin sudah, tapi Datul tidak begitu ngeh dan terkesan yaweslah, rejeki sudah di atur tidak mungkin tertukar juga. Sekarang Datul mau tak mau ikut memikirkannya. Dia makan juga dari hasil jualan kerupuk. Kalau pendapatan menurun bisa-bisa dapur Datul tidak mengepul.


Ga bisa makan nanti mati dong. Datul belum mau mati, belum fasih menghafal jawaban jika di tanya Man rabbuka wan man nabiyyuka wa ma dinuka wa ma imanuka wa ma qiblatuka wa man ikhwanuka?


Hih, apa ga ngeri tuh. Sekali ga bisa jawab, urusannya sama malaikat dua.


"Oh... itu... jadi pengennya Bapak juga pakai label merek gitu?"


"Iya, gimana buatnya, kamu bisa?"


Datul berpikir sejenak. Lalu otaknya yang tidak begitu pandai itu menemukan sebuah ide. Meski konyol, tapi sepertinya boleh juga.


"Mau di kasih merek apa Pak?"

__ADS_1


"Sembarang, yang penting ada mereknya,"


"Oke, nanti Datul buatin, tapi minta uang ya Pak buat ngetik di warnet sekalian fotokopi"


"Paham Bapak Tul..."


Datul meringis, sekarang dia merasa jadi pahlawan untuk sang Bapak tercinta.


_


_


Sore hari saat cahaya matahari sudah menghangat, Datul sudah berdiri mengantri di tempat fotokopi tersohor di daerah itu. Bukan tak ada tempat yang lain, tapi di toko ini terkenal miring ongkosnya. Selisih 200 perak, kan lumayan. Tinggal di kali aja fotokopi berapa lembar.


Selembar kertas yang sudah Datul ketik sedemikian rupa, dia serahkan pada mas-mas petugas toko.


"Berapa lembar?"


Datul mendongak saat mendengar suara itu.


"Hoh, kog kamu?" Datul terkekeh saat ternyata mas-mas itu teman SMA-nya.


Laki-laki itu tak kalah mencibir. Apalagi saat melihat tulisan di kertas yang Datul serahkan.


"Hahaha... biarin, bagus ga?"


"Kerupuk pasir Maidatul Khan, renyah, gurih, bebas kolesterol, hahahaha...." giliran Agus yang ngakak setelah bisik-bisik membaca tulisan itu. Kelakuan Datul memang absurd banget.


"Hushhh! kamu tambah jelek kalau ketawa!"


Agus kicep. Langsung mode dingin lagi. "Ehem, jadi berapa lembar?"


"Seratus dulu, tes pasar, kalau laku besok gampang kesini lagi"


Agus melirik Datul sekilas lalu memutar tumit melakukan pekerjaannya.


Sembari menunggu, Datul berselancar di dunia maya. Meski kurang pergaulan, update info terkini minim Datul harus tahu.


"Udah nih!" Agus mengemas selebaran milik Datul kedalam plastik bening. Bayarnya di sebelah sana!"


Datul mendengus. "Padahal mau minta kortingan harga hlo"


"Ga ada," jawab Agus ketus.

__ADS_1


"Hih, teman ga bermanfaat" Datul ngacir ke kasir sebelum dapat lirikan tajam lagi dari Agus.


_


_


Pekerjaan selesai. Datul membusungkan dada bangga, sambil mengayuh sepeda BMX miliknya dia senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru jatuh cinta.


Membayangkan betapa Pak Farkhan akan tersenyum senang, karena kegundahan hatinya kini terselesaikan oleh aksi nyata Datul. Drama kerupuk tanpa label pun selesai. Kini namanya akan abadi sebagai merek kerupuk goreng pasir yang renyah dan gurih. Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa. Hehe...


Diam-diam aku memang hebat!


Datul mesam-mesem. Entah sore ini terasa lebih indahhhhhh aja. Hingga sebuah sepeda terlihat berusaha berjalan menjajari sepeda Datul.


"Ehem...! kayak kenal"


Hlah, ternyata ini sumber keindahan sore ini. Datul semakin mesam-mesem.


"MAS HAMAM!"


"Seneng ya lihat aku? sampe heboh"


"Wakakaka.... ya seneng, seneng banget" Harga diri Datul entah main kemana. Yang jelas dia ga mau nutupi kalau emang seneng. Tadi malam padahal dia mimpi ketemu orang gila, tapi sore hari malah ketemunya orang tamvan, ya senenglah.


Sambil mengayuh sepeda mereka mengobrol. Meski kadang Datul terlihat kesusahan mengimbangi kayuhan Hamam. Maklum dari ukuran ban saja sepeda mereka sudah berbeda.


"Nyoklat yok!"


Itu Hamam yang mengajak. Datul mana berani sekedar basa-basi cari minum, wong uang kembalian fotokopi cuma tiga ribu rupiah, itu juga kricikan koin semua. Datul menimbang dalam hati.


"Aku traktir Maidatul Khan!"


Ah, untung selain tampan Mas Hamam cukup pengertian kali ini. Kalau begini sih Datul yes.


"Berangkat! Hahaha..."


Hamam ikut senyum melihat Datul yang berbinar-binar hanya diajak beli es coklat.


_


_


_

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2