
Seumur hidup Farkhan, tidak pernah merasa di musuhi tetangga seperti ini. Selepas sholat dzuhur berjamaah di mushola, uluran jabat tangannya bahkan tidak di sambut baik oleh jamaah kanan dan kirinya. Dari awal tadi sebenarnya, tatapan mereka sudah terasa tidak mengenakan hati.
Ada apa? kenapa?
Tentu aneh bagi Farkhan. Namun pria gempal nan penyabar itu berusaha menepis pikiran buruknya. Ah, mungkin mereka masih tetap melakukan sosial distancing. Pikir Farkhan. Meski sekarang presiden saja sudah mengijinkan buka masker di outdoor. Tapi tidak salah juga, jika masih ada yang merasa harus menjaga diri.
Farkhan berjalan keluar, memakai sandal jepit swallow bertali hijau miliknya dan bergegas pulang. Melewati warung Mbak Minem yang terlihat beberapa orang bapak-bapak duduk di sana. Tatapan mata bapak-bapak di warung pun sama. Tatapan sinis dan seakan menyiratkan tatapan jijik.
Samar Farkhan mendengar, bisikan halus dari salah satu mulut mereka.
"Anaknya seperti itu kog ya di biarkan saja, huh!"
Farkhan sedikit tercekat. Anak? kenapa anakku? perasaan Datul sehat-sehat saja. Mungkin ini hanya perasaanku saja, mereka pasti sedang membicarakan orang lain. Bukan aku.
****
Sementara itu Ella elo kayak kebo, sedang gencar-gencarnya menebar fitnah. Lihat ada emak-emak yang sedang kumpul sambil mencari uban di bawah pohon mangga saja dia langsung gass gabung. Sengaja.
"Heh La, itu postingan kamu emang bener?"
"Kog bisa Datul kena cacar monyet gitu, perasaan dia itu jarang keluar rumah"
"Budhe! Budhe! jarang keluar rumah kan akhir-akhir ini, kemarin-kemarin kita ga tau dia kemana, bisa saja dia main ke kebun binatang terus nempel deh itu virus, kan?" Meski agak ragu, mereka masih mendengarkan Ella melanjutkan bicara.
"Kalian masih ga percaya? nih aku lihatin fotonya, aku zoom! biar jelas!" Emak-emak itu pun menghentikan kegiatan mencari uban dan ikut melototi layar hp milik Ella.
"Lihat, ruam-ruam bernanah, persis ciri-ciri cacar monyet. Tuh, sampai lipatan leher juga, mana ada jerawat begini!" Hasut Ella lagi. Si emak-emak yang ga tau cara googling pun ikut manggut-manggut. Akibat sering nonton sinetron jarang nonton berita. Jadi ada kabar virus baru langsung latah, terprovokasi. Terlebih Ella bicara sangat meyakinkan sekali.
"Terus gimana ini, Pak RT kayak ga ada pergerakan sama sekali" ucap emak berdaster batik yang merasa, 'sudah saatnya mereka bersuara'.
"Iya, kita itu peduli, kalau memang Datul kena cacar monyet ya harus di bawa ke rumah sakit, di laporkan di dinas kesehatan kalau perlu"
"Gimana-gimana ini imbasnya orang banyak, sekali satu orang tertular, saya lihat di tv kemarin, pasti berlanjut yang lain terjangkit"
Ella mengulas senyum, hatinya merasa puas.
"Betul sekali Budhe! Ella sebagai kaum muda hanya bisa mengingatkan, selanjutnya bagaimana, para tetua yang harus bertindak bukan?"
"Ah, gimana kalau kita demo saja itu Datul, Pak RT kita terlalu cuek, atau lemot sih sebenarnya, kayak gini harus cepet di tangani malah di grup chat bapak-bapak, tadi saya lihat dia ga komen sama sekali, nongol saja tidak, bikin resah"
"Apalagi mereka jualan kerupuk, pasti kerupuk nya ga higienis, duh ngeri!" imbuh emak yang lain .
Si emak berdaster batik pun angkat bicara lagi.
"Kalau begitu kita labrak sekarang aja gimana?"
Ella bersorak gembira, rasakan itu Mbak Datul.
"Boleh! mumpung saya libur kerja ini! Tapi saya di belakang kalian aja ya, ga enak, gimana-gimana kami masih saudara"
"Iya, kamu jadi tim hore-hore saja kalau sungkan!"
"Ayo, saatnya kita tunjukkan aspirasi kita!"
"Iya, hidup emak-emak Tanjung!" seloroh Ella.
Sekitar lima orang rombongan ibu-ibu itu berjalan cepat menuju rumah Datul. Mereka bahkan terlihat berjalan sambil mencincing daster masing-masing. Ella mengekor di belakang. Tekad mereka sudah bulat. Melabrak Maidatul Khan.
__ADS_1
Detik berikutnya, seakan ada tontonan gratis. Di halaman rumah Datul yang tidak seberapa luas itu mereka berkumpul. Kalau tidak ikut bicara, ya mereka menonton. Mbak Minem ga sempat berkomentar, sibuk meladeni pembeli yang ikutan berjubal di warungnya, kelarisan es teh Mbak Minem.
"HEH DATUL!!! KAMI TAHU KAMU DI RUMAH!!!"
"KELUAR SEKARANG!!!"
Farkhan yang baru saja ingin memejamkan mata untuk tidur siang, di buat berjingkat kaget.
Terlebih nama Datul di sebut-sebut. Farkhan berjalan cepat menuju ruang tamu, ingin memastikan. Kemudian mengintip dari balik korden usang miliknya.
Farkhan ternganga, saat bola matanya menangkap kumpulan ibu-ibu dengan raut wajah penuh emosi. Lagi-lagi memanggil nama Datul. Farkhan kalang kabut. Di betulkannya lilitan kain sarungnya. Farkhan harus tanyakan ini pada Datul.
Bapak Datul itu tidak perlu bingung mencari Datul dimana. Datul sudah mirip seekor tikus yang mustahil bakal keluar dari sarangnya jika siang hari seperti ini. Apalagi di luar matahari sedang panas-panasnya.
Tepat sekali, gadis itu bahkan tidur nyenyak dengan dua telinga yang di sumpal headset. Wajah Datul cemong karena bedak adem yang mengering. Kebiasaan jika siang hari begini, bedak adem jadi andalan.
"Astaghfirullah... Tul, Datul!" Farkhan menggoyangkan bahu Datul yang tidur sudah kayak mumi mati. Iyalah kalau mumi hidup pasti lari kalian.
Datul tak bergeming. Dia paling masih bermimpi nikahan sama Hamam. Farkhan mencopot dua sumpalan benda hitam dari telinga Datul. Suara warga berdaster di luar sana sudah mengerikan di telinga, yang di teriaki namanya malah asyik tidur.
"DATUL!!!!" Farkhan terpaksa berteriak tepat di lubang telinga anak gadisnya. Datul mulai terusik.
"Hmmmm?" nyawa Datul belum berkumpul sepenuhnya. Mata Datul juga belum terbuka sempurna. Jadi hanya gumamam yang keluar dari mulut Datul.
"Kamu punya salah apa hah? di luar banyak orang berkumpul, nyari kamu!" Farkhan semakin resah. Berarti keanehan tadi sepulang jamaah dari musholla ada kaitannya dengan ini.
Datul masih santai, memungut kesadaran. Lalu meregangkan tubuh. Hingga suara kretek pada punggung dan lehernya terdengar sendiri di telinganya. Datul sudah sadar sekarang.
"Apa sih Pak?"
"DATUL KELUAR KAMU!!!!"
"Hah, itu suara siapa Pak? kenapa manggil aku keras banget, ga bisa ketuk pintu apa kalau mau bertamu"
Farkhan gemas sendiri, satu geplakan tidak keras mendarat di paha Datul. Meski begitu Datul mengaduh. Pura-pura kesakitan.
"Bapak juga bingung, itu kenapa para tetangga kumpul di depan, nyari kamu! Kamu punya utang sama mereka?"
Datul menggeleng bingung. Pekerjaan tidak punya mana berani dia hutang. Mau di cicil pakai apa nanti. Pakai bata, pasti mereka juga ga mau. Mending telan ludah aja. Ngempet, kalau pengen apa-apa.
"Eggak, Datul ga ada utang sama mereka. Mereka kayak yang marah-marah, Bapak temui saja sana, Datul takut"
"Ya Bapak mau temui, tapi masalahnya apa Bapak kudu ngerti dulu"
"Mereka itu ibu-ibu berdaster nyeremin, kalau Bapak maju tanpa persiapan bisa habis, rampungan"
Datul yakin ini ada kaitannya dengan share hoax ulah Ella. Itu sebabnya Datul malas meladeni. Datul juga malu memperlihatkan wajah berjerawat di depan khalayak seperti itu. Sampai bosan dia bersembunyi di dalam rumah dua mingguan ini, agar mereka tidak banyak komen. Kalau dia ke depan. Sudah pasti omongan jahat bakal di dengarnya juga. Wong caranya sudah tercium anarkis. Teriak-teriak gitu.
"Heh! kamu malah diam. Datul, seumur hidup Bapak, belum pernah di labrak tetangga, ini kenapa? ya Allah nak... "
"Ini semua gara-gara Ella." Datul meraih hp miliknya yang tertindih bantal, lalu menunjukan chat Ella di grup. Fotonya terpampang jelas di sana.
"Bapak lihat sendiri, ini kelakuan keponakan Bapak yang selama ini Bapak bela"
Mata Farkhan menyipit. Masih tidak paham, foto Datul aja terlihat buram apalagi tulisan di bawahnya. Ruwet kayak cacing.
"Apa itu? Bapak ga jelas,"
__ADS_1
"Hmm... lupa, Bapak kan pandangannya buram, kapan nanti kalau Datul udah punya uang, tak belikan kaca mata Pak"
"Datul ceritakan singkat, Ella kurang ajar nyebarin berita kalau Datul kena cacar monyet, dia kirim foto wajah Datul bahkan di grup chat remaja, semua pada komen jahat, padahal Bapak tahu sendiri ini jerawat bukan cacar gara-gara krim Datul habis dan Datul malu kalau minta uang lagi ke Bapak kalau harus beli"
"Cacar monyet?"
"Iya, Bapak percayakan sama Datul? ini asli jerawat bukan cacar"
"Tentu saja Bapak percaya. Bapak itu pas belum menikah juga sama, jerawatan kayak kamu. Lagian kenapa kamu malu minta uang sama Bapak, Bapak kasih kalau buat beli krim"
"Nih kamu denger, Bapak jerawatan parah gini juga pernah. Ini bakal hilang bersih kalau kamu sudah nikah nanti, punya suami. Bapak sudah buktikan sendiri, sekarang Bapak sudah ga pernah jerawatan"
"Lagian, Ella kog bisa-bisanya nyebarin berita bohong. Keterlaluan!"
Farkhan yang jarang sekali marah, agak terlihat geram siang itu. Dia pikir Datul melakukan kesalahan apa. Tahunya hanya karena jerawat yang mirip cacar.
"Jadi, Bapak mau keluar jelasin sama mereka?"
Farkhan nampak berpikir. Dia juga harus bersikap bijak sebagai orang tua. Jangan sampai keributan di luar tambah semakin ribut. Ngeri!
"DATUL, JANGAN PURA-PURA BUDEK YA KAMU!!!" lagi teriakan itu terdengar.
Datul sebenarnya juga takut, pengen nangis. Kog apes banget, di perlakukan seperti ini.
"Bapak!"
"Sudah kamu tidur saja, pakai ini lagi." Farkhan memberikan headset milik Datul, pria itu bahkan tidak tahu nama benda kecil itu.
"Pintu depan terkunci, mereka ga bakal berani masuk!"
"Bapak ga temui mereka?"
"Enggak, mereka masih emosi. Nanti kalau capek juga pada bubar sendiri"
"Nanti Bapak janji bakal ngomong langsung aja ke Pak RT, apaan mereka main labrak"
"Urusan Pak RT ini buat menenangkan warga, Bapak mau pura-pura ga denger aja, ngantuk, mending tidur"
Datul melongo. Dia kira Bapaknya akan berapi-api, maju ke depan jadi pahlawan yang membela kebenaran. Tapi dengan santainya malah menyuruh Datul tidur lagi. Cintai damai tapi ga mau capek kalau ini mah. Main kalem aja istilahnya. Datul pun menurut. Terkadang, lebih baik diam dulu itu lebih bijak. Dari pada capek menjelaskan pada orang yang masih emosi.
Benar, menit berikutnya suara-suara teriakan emak-emak di luar sana sudah tak terdengar lagi.
Entah siapa yang membubarkan. Kalau Pak RT jelas tidak mungkin, wong orangnya kerja pabrik. Jam siang begini pasti belum pulang.
.
.
.
.
.
.
Maaf kalau update sering lama, habisnya gimana ya... nunggu Ilham datang dulu baru bisa nulis, heheš¤£
__ADS_1