
"Boleh saya minta nomor hpnya?"
Hati Datul nyut-nyutan. Bagaimana bisa kemarin dia berpikir Mas Hamam tertarik padanya? Tidak ill fill berada di dekatnya saja itu sudah keajaiban. Jelas saja Mas Hamam lebih tertarik pada Tiva, sahabatnya itu lebih segala-galanya.
"Hmm... gimana ya Mas, saya bilang ke Tiva dulu, ga enak kalau langsung ngasih, gimana?"
"Gitu ya?" Hamam sedikit kecewa lalu mengangguk maklum.
"Kalau gitu kamu catat nomor saya, nanti kalau dia udah kasih ijin, kamu bisa langsung kirim ke saya"
"Saya ga bawa hp mas"
"Oh oke, saya yang catat nomor kamu berarti"
Datul masih bengong. Rasanya berat sekali. Di saat kita diam-diam mengagumi seseorang dan bahkan dalan kurun waktu yang lama, terus tiba-tiba orang yang kita kagumi itu malah tertarik pada sahabat kita sendiri. Nyakitin ga sih!
"Bengong lagi? Ada apa sih kawan?" goda Hamam yang lagi-lagi bisa merasakan jika Datul seperti memikul beban sebesar dunia.
Kawan kepalamu peang mas!
"Ehh... sori, 081889203122"
"081889203122" eja Hamam lagi "Oke saya miscall ya, nyambung, makasih Datul..." ucap Hamam dengan senyum unyu menggemaskan.
Datul jadi merinding. Apa aslinya Mas Hamam crunchy seperti ini? Tak kasihan apa sama jomblowati macam Datul!
"Saya udah bayar, pulang dulu ya mau bobok siang, thanks sebelumnya"
"Makasih Mas traktirannya," Dih, untuk menjaga ketampanan mungkin kali ya, butuh banget cowok bobok siang. Hamam melambaikan tangan lalu berjalan santai meninggalkan Datul.
Huhh... berat, berat...!
****
"Halah, ga usah Tul! Belum kenal juga... masak udah minta nomor segala"
"Ya makanya belum kenal itu, dia pengen kenalan sama kamu"
"Aku malu, terus nanti kudu gimana?"
"Ya tinggal bales aja kalau dia chat,"
"Males sih, ga usah aja, males ribet juga" Untuk cewek secantik Tiva, Datul yakin banyak cowok yang rajin mengirim pesan pada temannya itu. Pantas saja jawabnya males.
"Mas Hamam ganteng hlo Tiv..." Sumpah Datul merasakan perih di dadanya. Beruntung mereka telponan. Jadi Datul tidak terlalu payah menyembunyikan ke cenutan hatinya sendiri.
"Masak? ganteng mana sama Jungkook Bts?"
"ini Lee Jong-suk kearifan lokal tau!"
Ativa terdengar terkekeh geli. Gadis itu memang agak sulit di dekati. Meski termasuk jomblo, dia itu jomblo berkualitas.
"Gimana boleh ga?"
"Ga usah, males ribet,"
"Beneran ga boleh nih?"
"Up dulu, sibuk garap tugas nih"
"Hehe... ya udah kalau ga boleh"
"Ya udah ya aku tutup, mandi dulu, udah gerah nih pulang ngampus"
"Woke... woke... bye...bye... Tiva"
"Bye..." Lalu sambungan terputus.
Datul bahagia sekarang. Bak pemain antagonis sangking bahagianya dia sampai guling-guling di atas kasurnya yang empuk.
__ADS_1
Ah... lega... ga jadi sakit hati kalau begini ceritanya. Tinggal bilang ke Mas Hamam kalau dia di tolak. Tiva ga mau diajak kenalan. Kelar!
Sori Mas Hamam, sepertinya kisahmu harus berakhir sebelum di mulai! Hahahaha....
Datul tengkurap lalu mengambil gawainya itu lagi. Mengetikkan sebaris pesan.
[Mas sori ya, ini Tiva ga ijinin bagi nomor]
Send!
Beberapa menit menunggu tak ada balasan.
Huh, ya sudahlah...
****
Malam harinya, pintu rumah Datul di ketuk. Datul yang masih mengganti channel TV dengan jari kakinya terpaksa bangkit. Datul sendirian, Bapaknya sedang kumpulan RT di rumah tetangga sebelah.
"Ya Monggo!" cicit Datul saat membukakan pintu.
Datul membelalakkan mata, Hamam berdiri dengan menyodorkan sekantung makan. Semacam tusukan sate. Apa itu sate? kenapa Hamam membawakan sate? Laki-laki ini aneh juga, chat Datul tidak di balas. Tahu-tahu nongol.
"Nih buat kamu!"
"Hah? apa ini?"
"Sosis-bakso bakar" jawab Hamam enteng.
"Dalam rangka?"
Tak menjawab pertanyaan Datul, Hamam berdecak kecil lalu memprotes Datul. "Ini saya ga di suruh masuk dulu?"
"Ga ada Bapak, di luar aja kalau mau ngobrol" Padahal ingin sekali Datul menyeret Hamam ke dalam kamar. Tapi Datul harus berperan menjadi gadis lugu nan sopan dong di depan Mas Hamam.
"Oh... Oke!"
"Kenapa repot bawa jajan segala sih?"
Apa ini sogokan? jangan-jangan Mas Hamam masih belum nyerah minta kontaknya Tiva, aisshhhhh....!
Mereka duduk lesehan di lantai depan rumah. Karena sudah di bawakan jajan, Datul tahu diri memesankan minum ke warung Mbak Minem. Lalu membuka bungkusan sosis bakar yang tadi di bawa Hamam.
"Di makan Mas, gimana, ada apa lagi?"
"Saya sudah chat Mas Hamam hlo... ga di bales!" ketus Datul. Mereka tidak pernah sedekat ini. Sedikit aneh sih.
"Saya beli ini buat kamu, kamu aja yang makan" Hamam mendorong tumpukan sosis yang sudah di buka bungkusnya.
"Mana habis sebanyak ini, di makan bareng kan juga ga apa"
"Ga begitu doyan saya..."
"Sori ga bales, tapi masak dia ga ngasih ijin sih? emang udah punya pacar dia?"
"Hlah? dia cuma bilang males ribet, belum pengen punya cowok mungkin, yang ngantri sih banyak Mas" satu tusuk sosis sudah di lahap Datul. Dapat jajan gretongan, ya di makanlah!
"Pasti, wajahnya manis gitu! kalem meneduhkan!"
Alamak, hati Datul kretek-kretek mendengar Mas Hamam memuja gadis lain. Lanjut icip bakso bakarnya. Lahapan kedua.
"Saya masih penasaran sama dia, pengen temenan dulu aja gitu... masak langsung ga mau sih dia..."
"Kamu ga bilang ke dia kalau saya tampan?"
UHUK!!!!
Datul tersedak pentol bakso. Astaga, mulutnya orang tampan. Narsis juga ternyata.
"Eh... minum, minum dulu!" Hamam menyodorkan gelas milik Datul. Sekuat tenaga Datul minum. Mana bakso bakarnya pedes lagi, sampai hidung pedesnya, gila!
__ADS_1
"Pelan makannya, toh saya ga minta! bisa ke selek gitu ya..."
Ga sadar diri banget woi! Kalau Mas Hamam ga narsis kayak tadi, Datul juga slow makan bakso bakar.
"Udah saya bilang yo Mas, tapi tetep ga mau kog" jawab Datul setelah bisa menguasai rasa pedas di lidah dan hidungnya. Ah beruntung tadi sempat ambil tisu dulu, jadi ga malu-maluin gegara ingus yang ikutan meler.
Bahu Hamam merosot. Kecewa banget dia. Meski begitu sepertinya dia belum mau menyerah.
"Kalau dia ga kasih ijin, kamu aja yang ngasih nomornya, please...."
Tuh... ternyata ini maksud sate dan bakso bakar yang dia bawa. Datul sih main nerima aja. Di suap begini kan jadi ga enak mau nolak.
Pikir-pikir dulu deh. Datul terdiam.
"MAS HAMAM!!!!"
Datul dan Hamam menoleh hampir bersamaan. Dari arah barat datang Ella dengan mata berbinar. Saudara sepupu Datul itu mendekat. Dan dengan tak tahu dirinya langsung ikutan duduk di sebelah Hamam. Datul membuang muka malas.
Tahu gitu bener tadi geret aja tuh Mas Hamam ke kamar.
"Iyuhhh... Mas Hamam kog bisa-bisanya nongkrong bareng Mbak Datul sih!!!" ujar Ella dengan nada centil.
Hamam terlihat risih, dan malah meneguk minumannya sampai habis.
"Datul, nanti saya chat kamu. Pulang dulu ya!"
Sokorrrrr.... di kacangin cowok tampan!
Dalam hati Datul bersorak. Alih-alih menjawab pertanyaan Ella, Hamam memilih pulang.
"Mas Hamam nyebelin! kog malah pulang sih!"
Elle menggerutu.
Datul buru-buru membereskan gelas dan mengembalikan pada yang punya.
"Woi, Mbak Datul!!!! Kenapa Mas Hamam bisa nongkrong di sini?"
"Ngobrol apa kalian!?"
"Dih kepo!"
"Huh! Mbak Datul jangan kepedean ya! Jangan besar kepala hanya karena Mas Hamam ngajak ngobrol, ga pantes tahu!"
"Jomplang Mbak! Ibarat Mas Hamam itu langit, Mbak Datul mah apa? POLUSI!!!"
"Nyenyenyenye... terserah! males ribut sama kamu!" Datul menggotong jajanan yang di berikan Hamam tadi. Cepat-cepat dia masuk dan mengunci pintu.
Ella mencak-mencak kayak orang gila.
"Mbak! minta oi! Bakso bakarnya!"
Brak! Brak! Brak!
"MBAK! Dasar pelit! Awas, aku aduin ke Ibuku nanti!"
Enak aja! tak akan saya bagi bakso bakar dari Mas Hamam, apalagi sosis Mas Hamam! Mantul!
"Eh.... sosis Mas Hamam?"
Datul mesam-mesem di balik pintu, kenapa pikirannya jadi mesum sih!
.
.
.
.
__ADS_1
Oke reader terseyeng, like, komen, vote, ini hari Senin hlo barang kali ada yg mau ngevot🙈....suwun🙏🙏🙏🙏