
Hamam mengintai dari kejauhan. Ingin masa bodoh tapi dia terusik. Menurutnya, Datul itu cuma selingkuhan Tomi. Jika terlalu di buat bahagia, Hamam khawatir jika tiba-tiba di tinggal, Datul akan patah hati lalu mati.
Yang Hamam takutkan lagi, Tomi itu buaya. Bisa saja Tomi menjadikan Datul budak hasratnya. Bukan apa-apa, namanya laki-laki. Kesenggol sedikit saja bisa jrengggg. Maksudlah kalian.
Lagi Hamam meyakinkan hatinya jika ini bukan rasa cemburu, Hamam hanya ingin melindungi, itu saja. Datul terlalu polos dan bodoh untuk Tomi yang brengsek. Hamam mentas dari air, dia harus bilas dan ganti baju. Misi menculik Datul sepertinya memang ide yang tepat, untuk memisahkan mereka.
****
Ujung jari-jari tangan Datul sudah mengkerut nyaris medok karena terlalu lama kungkum di air laut yang asin.
"Tom udahan ya, aku mau bilas sekarang"
"Bentaran Mai, istana pasirnya blom jadi, spesial hlo ini gue bangun buat Lo"
"Dih, dari tadi ambruk melulu kog, nggak usah di buatin juga, aku lebih suka di bangunin rumah kayu asal beneran, daripada istana tapi pasir" Datul bakit menepuk-nepuk pantatnya yang banyak pasir karena sedari tadi glesotan.
"Boleh Mai gampang, tapi sebelum minta di bangunin rumah kayu, harusnya Lo mau dulu gue ajak bangun rumah tangga, hahaha..."
"rumah tangga demit? aku ini cuma selingkuhan, sadar dirilah"
"ih... pinter banget sih Mai, jadi gemes... peluk Mai" Tomi manja, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Datul mendesah dalam hati, matanya ikutan sakit lihat kolor ijo Tomi.
"Ogah! aku mau mandi"
"Ntar kesini lagi ya Mai, gue rampungin ini dulu" teriak Tomi saat Datul menjauh.
Datul mencari kamar bilas yang kosong. Semakin siang, pengunjung semakin ramai. Beruntung tadi mereka datang lebih awal, agak siangan bisa-bisa hanya lautan manusia yang mereka lihat.
Datul senang sekaligus puas. Apalagi tadi sudah sempat foto-foto banyak, bagus-bagus juga. Tomi hebat memotret, Datul akui. Diam-diam Datul memanfaatkan Tomi untuk jadi tukang fotografer. Sementara dirinya, lenggak-lenggok berpose. Dari pose duduk cantik dengan background pantai, sampai gaya kayang juga ada.
Datul mengguyur tubuhnya di bawah shower. Seluruh tubuhnya terasa lengket apalagi rambutnya ikutan gembel bercampur pasir. Datul butuh sampo, dan sialnya dia selalu jadi orang yang pelupa. Samponya ketinggalan di tas yang lain.
Ckk... terpaksa samponan pakai sabun mandi, biarin yang penting berbusa...
Lagian juga tidak ada yang bisa di teriaki namanya buat ngambil sampo. Datul tidak tahu saja ada laki-laki tampan yang menunggunya lengah sejak tadi.
Datul sudah bersih, bau wangi sabun Nuvo warna hijau. Dia juga sudah ganti kaos putih dan bawahan jins panjang. Handuk kecil masih bertengger di atas rambutnya yang basah saat dia keluar dari kamar bilas.
"Kamu ternyata di sini?"
Datul agak terlonjak kaget. Bukan kaget hanya karena mendengar suara itu, tapi penampakan orangnya juga. Demi apa, Mas Hamam bisa-bisa bikin bule minder main ke pantai ini. Tampannya itu hlo... enggak ketulungan. Pantas saja namanya tetap terukir di hati Datul meski sudah menyakitkan karena menolak perasaannya.
__ADS_1
"Mas Hamam ngapain disini?"
"Yang lain udah nunggu buat sarapan bareng, aku ke paksa nyusul kalian, mana Tomi?" Hamam pura-pura judes bertanya, padahal aslinya dia sudah tahu kalau si luwak masih di tepi pantai.
"Tadi sih masih main pasir, bentar aku susul dia dulu"
Tiba-tiba Hamam mencekal tangan Datul. "Kelamaan, dia belum mandi juga, mending kamu ikut gabung dulu sama yang lain, entar dia biar nyusul, ayo semua udah laper"
"Eh... tapi nanti Tomi nyari, kasihan dia"
"Dia udah gede Datul, punya kaki dan belum lumpuh, salahnya juga kelamaan enggak bilas-bilas"
Datul hanya bisa menjajari langkah Mas Hamam, satu tangannya masih di tuntun Hamam dan satu tangannya lagi membawa kresek berisi daleman dan pakaian basah. Duh, Datul malu ini, belum cantik, belum sisiran. Kontras banget jalan bareng Mas Hamam yang tampannya seperti penghuni surga.
"Mas Hamam, kayaknya kita salah arah, harusnya kita kearah pintu masuk nggak sih, kenapa kita malah kesini?"
Hamam membawa Datul naik ke bukit karang. Pantas saja Datul mulai curiga.
"Mereka udah pindah nunggu di atas, jalan aja enggak usah banyak tanya"
Datul merenggut, perutnya memang sudah lapar, sudah begitu harus jalan naik dan di judesi. Komplikasi jadinya.
"Ini tangannya harus ya Mas di gandeng?"
"Aku cuma pegangin takut kamu jatuh"
"Hmm... kalau cemas mending pegangin nih kresek Mas, berat nih baju basah" Datul coba-coba barangkali mau, lumayan bebannya berkurang.
Hamam mengambil buntalan itu dari tangan Datul. Mata Datul berbinar karena tangannya sekarang jadi merdeka. Wow, penurut sekali...
Langkah Datul jadi ringan.
Mereka melanjutkan jalan, melewati tangga-tangga kecil yang mempermudah mereka naik ke bukit karang. Di bukit karang yang tidak begitu tinggi itu hanya di tumbuhi pohon waru dan daun pandan. Sepertinya hanya dua tumbuhan itu yang Datul kenali.
****
Sementara di bawah, Tomi si luwak celigukan mencari Datul. Sudah hampir jam sembilan, teman-temannya pasti sudah menunggu. Tomi memilih mencari Datul ke tempat teman-temannya, barangkali gadis itu sudah di sana.
Mandi entar ajalah... koloran doang gini gue juga tetep keren... kemana sih Mai itu? meresahkan!
Tomi menemukan teman-temannya sudah berkumpul di restoran tak jauh dari pintu masuk. Sebagian besar piring mereka sudah kosong. Mereka pilih makan duluan daripada mati kelaparan, konyol dan enggak keren di tempat wisata mati.
__ADS_1
"Eh ***! kalian lihat Mai gue nggak?"
Terdengar aneh. Mereka sontak mencibir Tomi. "Nyelip di kolor Lo barang kali" Ucap Ari yang masih nyisil tulang gurami.
"Nyelip gigi Lo! serius gue, gue udah muter cari di kamar bilas dan sekitarnya, enggak ada"
"Hlah... kemana, bukanya dari tadi Lo kekepin" timpal Gilang.
"Ya tadi sama gue, terus dia bilas duluan, gue tungguin enggak balik-balik"
"jangan-jangan doi keseret ombak bro" timpal teman Tomi lainnya.
Raut Tomi semakin cemas, bawa anak orang kalau sampai hilang bisa kena denda.
"Harusnya yang ilang elo! Lo yang pakai kolor ijo, kenapa malah Mai yang ilang ha!"
"Wakakakakak.... bener, bener banget. Lo sih ngeyel di bilang jangan pakai ijo-ijo, pamali, jadi cewek Lo yang ilang"
"Ah bacot semua...!!!!" Tomi berkacak pinggang. Lalu sadar ada satu orang lagi yang tidak nampak upil hidungnya.
"Hamam, Hamam mana?"
"Dia tadi pamit mau keliling sendirian katanya, minta kita enggak nunggu buat sarapan" Kali ini Dwi angkat suara.
"Hah! brengsek! jangan-jangan dia ajak Mai gue!"
Semua orang mengedikkan bahu. Tidak tahu dan tidak mau cari tahu. Itu urusan Hamam.
"Mending Lo bersih-bersih duluan, mandi sana habis itu makan, udah mirip gembel lo, kileng-kileng"
"Pesenin gue makan sekarang! gue butuh tenaga, kalau bener Mai bareng Hamam, kalian jangan ada yang misah kalau entar gue bonyokin Hamam"
"Sabar bro, minum air kelapa dulu gih"
Tomi menahan amarahnya, dadanya kembali bergemuruh. Makanan sudah tersaji di depannya, sangking emosinya si luwak makan gurame dari kepala sampai ekor di kremus semua. Hihihi... ti ati keselek duri bang luwak!!!
-
-
-
__ADS_1
Hoaaahhhh.... engos-engosan nulis seribu kata doangl, semoga kalian sukaš„°