Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 77: Kepastian


__ADS_3

"Katakan, kenapa Mas Hamam tiba-tiba melamarku kayak tadi?"


Mas Hamam kira mereka sudah sepakat. Ternyata Maidatul Khan masih meragukannya. Wanita memang sulit di pahami. Mana tadi lengan Mas Hamam sudah jadi korban.


"Tiba-tiba kepalamu! kemarin-kemarin usahaku kamu anggap apa huh!"


Wajah Datul masih dengan ekspresi datar, padahal Mas Hamam sudah emosi setengah hidup. Datul tentu saja masih ragu, Mas Hamam terlalu mustahil untuk di harapkan jadi suami. Meski selama ini dia selalu baik dan selalu ada untuk Datul. Datul tetap ingin mempertahankan tembok banteng agar hatinya tidak mengalami sakit lagi.


"Entahlah, tapi aku rasa memang ada yang tidak beres sama Mas Hamam--"


"Oh atau, otak Mas Hamam agak geser ke kiri, coba sini aku benerin" Tangan Datul mengudara, akan menyentuh kepala Mas Hamam untuk dia servis sebentar. Siapa tahu setelah di kocok-kocok, isi kepala Mas Hamam balik semula. Mas Hamam auto menghindar.


"Eitts, apa yang mau kamu lakukan, jangan sentuh ya, aku baru sampoan"


"Hih sebentar saja, tanganku bersih kog"


Mas Hamam masih menghindar, menangkis tangan Datul yang tak tahu diri. "Berhenti Maidatul Khan, singkirkan tanganmu!"


"Ayolah sini..."


"Hush! kamu pikir aku enggak lihat tadi, kamu habis ngupiiiil, anjay!"


"Ahhh... katanya cinta, katanya mau nikah sama aku, masak sama upilku aja kamu jijik, sini dekat sini, ayok!"


Sumpah! di mata Mas Hamam, Datul terlihat menakutkan kalau mode ini. Mas Hamam memilih lari lagi.


Kebetulan setelah pulang kerja, Datul ingin ke pantai. Mas Hamam menuruti karena tadi berpikir Datul sudah menerimanya. Bukankah artinya itu mereka sudah jadi sepasang kekasih? Ah ternyata tidak. Datul masih meragukannya.


"Ketangkap! pinjam kepalanya sebentar"


"Tidak! tidak! enak saja mau pegang-pegang" Mas Hamam menangkap tangan Datul. Si empu pemilik tangan malah masih meronta-ronta. Sampai Mas Hamam kehilangan keseimbangan, lantas tubuhnya terhuyung ke belakang. Di ikuti tubuh Datul yang tertarik jatuh menimpa tepat di atas tubuh Mas Hamam.


"Agghhhh...."


Pandangan mereka bertemu. Tubuh Datul merinding disko. Sedangkan Mas Hamam merasa entah mengapa ada yang ikut terlonjak kaget di bagian tubuh bawahnya. Mas Hamam mengkhawatirkan dua telor asin di bawah sana yang ikut tertindih Datul.


"Betah ya rebahan di atas tubuhku?"


Pipi Datul memanas, menahan malu. Mana Datul sempat berpikiran mesum. Bibir Mas Hamam memang menggairahkan sih.


"Ughh... Mas Hamam sih, kepala batu!" ucap Datul beranjak bangun dan menepuk-nepuk lengannya yang penuh pasir.


"Aku ngajak kamu nikah baik-baik, kamu malah main nubruk," balas Mas Hamam yang ikut bangun.


"Eh, itu enggak sengaja ya. Gara-gara Mas Hamam juga, sudah di bilang anteng dulu, aku benerin otak Mas Hamam yang agak mir----"


Cup!


Satu kecupan manis mendarat di bibir gadis itu. Datul tidak siap dengan serangan tiba-tiba.


"Eummb..."


"Dari tadi kamu banyak ngomong!"


"Mas Hamam kamu!"

__ADS_1


"Apa! mau nambah di cium?"


Datul mengkerut, meski jujur enak di cium seperti itu. Tapi Datul takut... takut ketagihan. Wkwkwkwk...


Mereka kembali duduk di tepi pantai. Merasai deburan ombak dan tiupan angin yang memberikan ketenangan.


"Mas aku masih tidak percaya kalau kamu sungguhan pengen nikah sama aku, kasih aku alasan!"


"Mulai lagi?" Mas Haman tidak habis pikir, entah kapan rasa itu datang. Tiap kali dekat dengan Datul mentul-mentul dadanya jadi berdebar. Di tambah ada dorongan ingin menyentuh gadis itu. Di tambah burungnya juga ikutan merespon saat dekat atau ada kontak fisik seperti tadi. Mungkin itu yang membuat Mas Hamam jadi sadar.


Tapi sekali lagi, Datul itu memang bodoh. Tidak bosan bertanya dan selalu minta alasan. Memang Datul itu kayaknya minta di buatkan lagu. Kasih judul cinta tak butuh alasan.


"Habisnya Mas Hamam tidak meyakinkan"


"Terus aku harus cium kamu berapa kali lagi biar kamu yakin?"


Datul yang sadar langsung menggeplak lengan Mas Hamam. "Berhenti mesum ya!"


Mas Hamam terkekeh, "Makanya jangan tanya alasan lagi, laki-laki kalau udah nyium itu tandanya ada perasaan sayang"


"Sayang? nafsuan kali?"


"Beda tipis, hehe..." Mas Hamam nyengir.


Datul terbelalak. "Woahhhh..., kalau begitu, harusnya Mas Hamam sudah ada perasaan sejak kita di Jogja dulu"


Mas Hamam tergagap. "Eh-- itu...."


"Tckkk! tinggal bilang iya, gengsi amat"


Datul gemas sendiri. Di gigitnya lagi lengan Mas Hamam sampai laki-laki tampan itu berteriak kesakitan.


Sudahlah, lebih baik Datul tahunya begitu dulu. Daripada jujur cerita mengenai akan di jodohkan dengan Amanda gigi tonggos.


"Mas berarti ini fix kita jadi sepasang itu?" Tanya Datul malu-malu.


"Iya, kenapa kamu malu-malu. Kita fix pacaran sekarang"


Datul mesam-mesem sekarang. "Kalau begitu, aku mau di gendong, ayo kita susuri tepi pantai"


"Permintaan apaan itu, aku enggak mau"


"Haaa..., kan, Mas Hamam emang enggak pernah serius suka"


"Hahhhhhhh.... wanita yang selalu begitu, enggak di turuti langsung yang paling merasa tidak di cintai"


"Udah buruan, aku gendong sampai kamu puas"


"Hahahah..." Sore itu Datul bahagia sekali. Jika di ingat lagi, biasanya setelah putus dia akan galau berkepanjangan. Tapi kali ini Datul rasa tidak akan. Ada Mas Hamam yang akan menyembuhkan luka hatinya. Datul patut bersyukur.


****


"Mas aku enggak mau ke rumah kamu ah, lagian kenapa harus ketemu ibu kamu secara resmi? toh biasanya aku juga udah ketemu di pasar"


"Di pasar kamu ketemu buat beli ayam potong, kalau kamu cinta sama anaknya ya harus mau datang ke rumah"

__ADS_1


Datul mencak-mencak saat akan di ajak makan malam ke rumah Mas Hamam. Terlalu cepat dan tiba-tiba. Datul bisa mati berdiri kalau begini.


"Memang ibu kamu sudah di beri tahu tentang hubungan kita?"


Mas Hamam mengangguk enteng seperti dosa-dosanya baru dapat diskon dari malaikat.


"Aku cuma bilang sama ibu, kalau aku menyukai salah satu gadis di kampung kita"


Hih, rasanya aku ingin menjitak bibir Mas Hamam. Kalau ketemu sebatas tetangga sih oke aja, ini statusnya pacar anaknya yang tampan rupawan. Apa nanti enggak di tolak mentah-mentah aku ini.


"Mas aku belum siap, sumpah!"


"Ketemunya besok Minggu, ini masih hari kamis, kamu masih punya dua hari buat siap-siap"


"Agh! ketemunya nanti pas jerawatku yang satu ini agak kempes boleh?" tawar Datul lagi.


"Enggak boleh, terlalu lama dan memakan waktu" Bisa-bisa keburu aku di lamar Amanda si gigi tonggos lagi.


"Paling dua mingguan kog, nunggu jerawat ku mateng terus kempes"


"Kamu kira jerawat mu itu mangga? harus nunggu mateng dulu, udahan jangan stres gitu, kamu enggak bakal di tolak"


"Hlah, Mas Hamam yakin banget... kalau di tolak gimana?"


"Kata ibu, calon mantunya enggak kudu cantik, yang penting pendiam, anteng dan dari keluarga yang baik"


"Kamu masuk kategori tuh"


"Aku masuk kategori? jadi menurut Mas Hamam aku enggak cantik?!" Datul besengut sebal, meski sadar memang tidak cantik, tapi maunya kan di puji tidak di hina.


"Hehe... enggak cantik tapi manis kog, sangking manisnya jadi kepengen tak jilati..."


"Hilih!"


Hari yang di takuti Datul akhirnya datang. Mas Hamam menjemputnya sekaligus meminta ijin secara resmi kepada Bapak Datul. Pak Farkhan tentu saja ikhlas lahir batin, anak gadisnya yang tidak cantik di sukai oleh pemuda tampan yang baik seperti Mas Hamam.


Datul sudah cantik dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil. Hatinya terus berdegup kencang sangking gugupnya. Karena rumah Datul cukup dekat dengan rumah Mas Hamam, mereka tidak butuh waktu lama naik motor. Hanya hitungan detik mereka sudah sampai di pekarangan rumah Mas Hamam.


Saat Datul menapakan kaki turun dari motor, saat itu juga ibu Mas Hamam keluar dari rumah. Wanita itu ternyata sudah tidak sabar, ingin melihat siapa gadis yang di bawa anak laki-lakinya.


"Eh... kamu Datul anaknya Pak Farkhan yang jualan kerupuk kan?"


"...."


_


_


_


Kebayang enggak gimana takutnya Datul?


Orang tua Mas Hamam itu juragan ayam potong. Salah satu keluarga terkaya di kampung mereka. Sedangkan Datul? dia hanya anak dari penjual kerupuk. Tidak sebanding meski sama-sama pedagang.


Kira-kira ibu Mas Hamam mau menerima Datul enggak ya?

__ADS_1


Yuk ah komen😁🙏


__ADS_2