Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 49: Basah-basahan


__ADS_3

Mobil elf hijau pupus itu memasuki kawasan pantai di Gunung kidul, langit masih gelap. Penghuni mobil yang semenjak naik memilih ngorok, kini membuka mata mereka lebar-lebar. Belum ada yang berani untuk banyak berceloteh, sadar belum pada gosok gigi. Takutnya bau mulut di pagi hari menguar terus bikin muntah-muntah.


Cuma sepertinya Tomi yang tidak sadar diri, di pipinya ada bekas iler yang mulai mengering. Luwak satu itu malah meregangkan tangan sambil menguap hebat.


"Ahhhh.... kita sudah sampai ternyata..."


"Pagi Mai, morning kiss dong!"


Dih, jeleh banget...


Maidatul menjauhkan diri. Mana lehernya terasa mau putus, kaku karena kelamaan jadi bantal si luwak. Istilah jawanya, Datul tengengen lur. Buat noleh sedikit saja sakitnya luar biasa.


"Buruan turun! si Anj- pagi-pagi udah modus, ulap dulu tuh iler Lo!" Gilang misuh-misuh.


"Iya sabar kenapa sih, marah mulu dari berangkat, nih gue buka dulu pintunya,"


Yang lain hanya mendesah berat. Males melerai. Gilang kerepotan dengan pacarnya yang manja. Mau turun dari mobil saja minta di gendong kek orang lumpuh. Udah gitu agak genit si ceweknya Gilang. Diam-diam berani curi pandang pada Hamam yang lebih bersinar.


Satu persatu mereka keluar dari mobil. Meregangkan tubuh dan meraup udara sebanyak-banyaknya. Masih pagi, udara pantai begitu segar. Deburan ombak terdengar menyambut dari tempat mereka berdiri. Mereka sudah tak sabar menjijakkan kaki di pasir putih dan basah-basahan di air laut yang pasti asin.


"Oke gaess, yang mau ketoilet bisa ke toilet dulu, yang mau subuhan, bisa subuhan dulu, noh ada mushola," Kali ini Dwi bersuara bak tour guide.


Karena mereka berpasang-pasangan, kasak kusuk sempat terdengar, ada yang buru-buru minta ke toilet ada juga yang kegirangan langsung lari ke arah pantai.


"Ingat ya, kita kumpul jam delapan buat sarapan bareng, sekarang yang mau mojok-mojok gue kasih waktu dulu, serah kalian mau mojok di lubang yuyu, atau lubang buaya sana, yang jelas jam delapan tepat harus kumpul lagi di sini, oke"


"Siap!"


"Siap Pak ustadz" Dwi geleng-geleng di panggil begitu, pasalnya hanya karena tidak mau dekat-dekat dengan perempuan dan berstatus jomblo tulen, dia di anggap priyayi oleh teman-temannya yang sentet.


"Mai sayang, Lo mau subuhan dulu? atau ke toilet may be?"


"iya, ayok!"


"Gue tunggu di gazebo aja gimana? gue juga blom pengen pipis soalnya"


"Enggak subuhan?"

__ADS_1


"Enggak, lagi M gue"


"Muales maksud kamu?" Datul jengah. Padahal dia lebih respek sama cowok yang masih ingat kewajiban meski jelek rupa.


"Gitulah Mae, gue kalo sholat malah panas sendiri"


"Iyalah... Lo kan setan" sambar Hamam yang melewati mereka sembari mengalungkan kain sarung.


"Gue nggak kenal Lo!"


Datul malas jadi penonton orang adu mulut padahal mulutnya masih pada bau jigong. Dia pilih ngacir pergi, lagian juga udah kebelet pup.


****


Sinar mentari pagi malu-malu muncul dari sudut langit Timur. Berpasang mata takjub menikmati mahakarya Tuhan yang pemurah. Mereka sudah duduk di bibir pantai dengan kaki telanjang. Ini sungguh romantis jika Datul benar-benar dengan laki-laki yang dia puja. Sayangnya dia malah bersama luwak.


"Mai, indah ya?"


Datul mengangguk sedikit lalu meringis. Lehernya masih sakit.


"Gombal, geli aku dengernya"


"Serius gue Mai, lihat sini Mai, tatap mata gue"


Datul mana bisa nengok kesamping. "enggak, leherku sakit Tom, tengengen gara-gara sepanjang jalan tadi buat sandaran kamu"


Tomi ngakak. "Mai, lama-lama Lo malah kayak babi ngepet, yang enggak bisa nengok"


Tuh mana ada pacar kayak gitu. Gitu kog Datul di suruh sayang, ya nehi. "Dih, mulutnya..." Datul ngambek, membuang pandangan.


Subhanallah.... harus ya Mas Hamam enggak pakai baju gitu...


Datul malah salfok lihat Hamam yang berlari-lari kecil sambil telanjang dada. Baru kali ini Datul melihat tubuh Mas Hamam yang mulus. Lengannya terbentuk otot. Meski perutnya tidak kotak-kotak tetap saja menggoda iman Datul yang tipis, Datul nyaris ngeces. Di lihat dari sudut manapun, Mas Hamam lebih enak di pandang.


"Mai, lihat apa Lo! enggak sopan, pacar di sini malah lihat yang lain"


Datul tak bergeming. Aji mumpung bisa lihat Mas Hamam bertelanjang dada.

__ADS_1


"MAI!"


Datul malah membayangkan. Mas Hamam berdiri menghadap pantai, masih bertelanjang dada, lalu Datul datang memeluk tubuh Mas Hamam dari belakang. Menikmati sunrise yang menghangatkan tubuh mereka. Ahhh.... saat itu terjadi, mereka bagaikan Sergio dan Marimar.


"MAIDATUL KHAN!!!"


Gemas, Tomi tiba-tiba mengangkat tubuh Maidatul. Datul kaget, memberontak pun percuma. Tomi membawa tubuh Datul ke dalam air. Dan byurrrrr!!!


Tomi sialan!


Datul mengumpat dalam hati. Mulutnya kemasukan air asin. Tomi menyemplungkan tubuh Datul. Lalu ngakak bahagia. Datul geting banget.


"Ahhh.... Tomi kurang ajar!"


"Hahahaha... rasakan, itu hukuman karena kamu genit,"


"Uhuk! uhuk! asin!" Datul terbatuk-batuk. Banyak juga air yang masuk ke mulut dan hidung. Bajunya sudah kuyup-kuyup.


Datul harus balas dendam. Dia mendorong tubuh Tomi kuat-kuat. Luwak itu malah lebih cepat menarik tangan Datul. Datul terhuyung, malah jatuh di atas tubuh Tomi.


BYURRRRR....!!!!


Mereka jatuh bersamaan. Sial untuk Datul. Tomi yang bahagia sekali. Menikmati momentum basah-basahan bersama gadis yang dia sukai separuh hati. Karena separuh hatinya lagi milik Nani.


Dari kejauhan, lagi-lagi ada hati yang memanas. Hamam tidak bisa mendengar Datul misuh-misuh. Suara apapun di sana hanya terendam suara ombak. Di matanya mereka terlihat bahagia dan menikmati waktu bersama.


Ckk... tidak bisa di biarkan! aku harus culik Datul kayaknya....


-


-


-


to be continued....


Enggak sempet ngedit... semoga kalian suka🤯

__ADS_1


__ADS_2