Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 11: Hampir Mati


__ADS_3

Datul menyeret langkahnya malas. Siang itu mbak Nur memintanya membeli soto ayam di ujung jalan dekat rel kereta api. Tidak terlalu jauh maka dari itu Datul memilih jalan kaki saja.


Datul berjalan sambil bergelut dengan pikirannya sendiri.


Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kini status jomblo lagi-lagi melekat pada dirinya. Datul benci pada masa patah hati seperti ini. Tersenyum tak sanggup, bahagia apalagi. Malas berkerja namun butuh cuan. Ingin rasanya tidur saja di kamar, mengurung diri sepuasnya. Tidak bisakah Tuhan memberi tanda saja siapa jodohnya. Dua kali di sakiti oleh dua laki-laki brengsek sungguh menyesakkan hati Datul. Datul lelah.


Menenteng kantong plastik berisi soto ayam, Datul berjalan menyusuri rel kereta dengan pikiran berkelana. Merutuki dirinya yang bodoh, nasibnya yang selalu tak beruntung dan beribu kekecewaan lainnya.


Kenapa nasibku seburuk ini...


Tut...Tut...Tutttttttttttttttttttttt!!!!!!


Dari kejauhan sebuah kereta api terlihat akan melintas. Datul tidak sadar sedang berjalan di tengah rel kereta itu. Tadinya dia berjalan di pinggir, mungkin pikirannya benar-benar kosong.


Beberapa orang sudah meneriaki Datul. Gadis itu tak bergeming.


Tut...Tut....Tutttttttttttttt!!!!!


Kembali suara itu terdengar nyaring, Datul tetap berjalan dengan tatapan kosong.


"MBAK WOI!!!!"


"ADA KERETA WOI" Datul kali ini mendengar teriakkan itu. Dalam hati dia membatin. Namanya rel kereta api, pastilah buat lewat kereta. Kereta lewat?


Datul membalikan badan, benar hanya beberapa meter lagi dan tubuhnya akan menjadi potongan-potongan daging yang berceceran. Hingga sebuah tangan kekar dengan sigap menariknya dengan kuat.


Tuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttt!!!!!!


Jeng...jeng... jeng...jeng...jenggggg....


Tubuh Datul terjatuh di atas dada bidang milik seorang laki-laki. Datul masih memejamkan mata. Takut. Apakah dia masih di dunia atau malaikat sudah mengajak nyawanya pergi?


Hingga rintihan suara yang mengaduh kesakitan menyadarkan Datul jika dirinya masih hidup.


"Auchhhhhhhh... sampai kapan kamu mau menindih tubuhku seperti ini hah!"


Datul terlonjak, buru-buru dia bangkit namun hanya sanggup terduduk di sebelah laki-laki itu. Beberapa orang mendekat untuk memastikan keduanya. Ada yang menyodorkan air mineral dan ada juga yang berseloroh geram pada Datul.


"Mbak kalau di jalan itu jangan ngelamun! bahaya, gimana kalau tadi mbak ketabrak!"


"Iya mbak, untung ada yang nolong!"


"Wah, lihat masnya jadi terluka gini!"

__ADS_1


"Sudah-sudah, mbaknya ini di minum dulu... kaget pasti" Datul mengabaikan teguran orang-orang itu dan memilih meneguk air yang di berikan salah satu orang itu.


Di film-film harusnya yang marah-marah laki-laki yang menolong dan yang saat ini terluka sikunya. Tapi ini netizen yang marah, dan laki-laki itu malah diam saja, meringis, jelas sikunya berdarah gitu.


"Maafkan saya..." ucap Datul lirih.


"Mbak rumahnya mana?"


"Itu... saya..."


"Ini masnya apa perlu kita bawa ke rumah sakit dulu?" tanya seorang laki-laki yang tadi memberi minum Datul.


"Ga usah Pak... saya tidak apa-apa" Mas Hamam, Datul tertegun, baru kali ini dia mendengar suaranya. Layaknya bintang, selama ini Mas Hamam terlalu jauh dari kehidupan Datul.


"Dia sepertinya tetangga saya, biar nanti kami pulang bareng saja, terimakasih..."


Datul hampir mati ketabrak kereta api bukan kereta bayi. Tapi kenapa dia malah begitu senang. Datul tak salah dengarkan, Mas Hamam menyadari jika Datul tetangganya. Jika ada Maktun, Datul pasti akan memintanya mencabut bulu di hidungnya, agar Datul yakin ini tidak mimpi.


Kerumunan orang-orang itu telah pergi satu persatu. Tinggalah Datul berdua dengan Mas Hamam.


"Mas... terimakasih sudah menolong sa-ya..." ucap Datul gugup. Tanggal berapa ini, Datul ingin mencatatnya, jika hari ini kali pertama mereka berdialog.


"Kamu tahu itu bahaya, ada apa dengan kamu, berjalan di tengah rel dengan pikiran kosong seperti itu!" omel Hamam tiba-tiba. "Saya akan bilang ini sama Bapakmu, Bapakmu yang jualan kerupuk itu kan!"


Datul kira dia tidak akan di marahi seperti di film-film. Ternyata tetap saja sama. "Jangan!!!!"


"Saya tidak mau membuat Bapak saya khawatir" Datul menjeda kalimatnya.


"Saya bekerja di apotek sebelah sana, kalau Mas Hamam mau, mari ikut, saya obati dulu lukanya"


Hamam bangkit dari duduknya. "Tidak perlu! Saya bisa urus ini, dan saya akan tetap bicara sama Bapak kamu, remaja seperti mu sungguh meresahkan!"


"Kenapa? galau? putus cinta?"


"Kamu tidak berpikir untuk bunuh dirikan tadi?"


"A...a... apa?" Datul terbata, tak percaya jika laki-laki tampan yang selama ini dingin dan irit bicara, kali ini terus saja mengomel. Apa selama ini Datul salah menilai?


"Bahaya! kamu perlu pengawasan yang lebih sepertinya... ayo pulang, sekalian saya adukan kamu!"


"Masssss... saya mohon jangan!" Datul memelas, dia bahkan menunduk sambil melipat kedua tangannya.


Hamam berkacak pinggang, "Hishhhhhh!!!!"

__ADS_1


Lalu memilih pergi membuang muka.


Kata orang, doa orang yang sedang susah berpotensi lebih di dengarkan Tuhan. Saat itu juga Datul berdoa dalam hati.


Ya Allah, berikan hamba suami yang seperti Mas Hamam, jika Engkau berkenan Ya Allah, jadikan Mas Hamam suami hamba juga boleh, hamba akan sangat bersyukur, amin ya rabbal alamin...


Soto! Datul setengah memekik... soto ayamnya pecah di atas kerikil-kerikil landasan rel kereta api. Tak apa, Datul bisa beli lagi nanti. Yang penting dia selamat sekarang. Andai saja tidak di selamatkan Mas Hamam, mungkin nasibnya akan sama dengan sebungkus soto itu.


****


Beberapa menit yang lalu...


Hamam akan pergi ke kantor Samsat Kendal untuk membayar pajak motor. Saat akan melintasi jalur kereta api, dia harus berhenti karena palang kereta itu tertutup, menandakan akan ada kereta api yang melintas. Suara bising kendaraan beradu dengan pengeras suara yang memperingatkan siapa saja untuk berhati-hati saat akan melintasi jalur kereta api.


"MASIH BANYAK PERLINTASAN KERETA API YANG BELUM TERDAPAT PALANG PINTU!"


"MAKA BERHATI-HATILAH! TING TONG!!!"


"MBAK WOI" Pekik seorang pengendara motor di sebelah Hamam yang menyadari ada seorang gadis yang berjalan di tengah jalur rel kereta. Hamam menajamkan penglihatannya.


Dia... gadis berjerawat bermata sipit... tetanggaku!


Hamam mencampakkan motornya begitu saja. Dan berlari ke arah gadis itu. Dengan sekuat tenaga dia menarik gadis itu kearahnya.


Tuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttt!!!!!!


Jeng...jeng... jeng...jeng...jenggggg....


Syukurlah, aku berhasil menyelamatkannya...


Gadis yang aneh, beberapa kali saat berpapasan denganku, bukannya menyapa malah ngumpet, terakhir dia menyenggol lenganku saat di alun-alun, bukan meminta maaf malah lari seperti di kejar setan. Sekarang hampir saja dia mati tertabrak kereta. Punya beban hidup apa sih dia? Dasar remaja sekarang!!!!


Ahhhh... sial! siku ku terluka, besok sajalah bayar pajaknya, kotor juga bajuku,....


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Komen yang banyak... vote please hari Senin ini🙏🤭🤭🤭


__ADS_2