
Datul tidak tahu, apa sekarang ini saatnya dia memetik buah hasil kesabarannya selama ini.
Dilema jerawat yang tidak ada habisnya, dilema pengangguran bertahun-tahun, sampai jatuh guling-gulingnya dia menjalin hubungan dengan seorang pria.
Di bohongi, di sakiti, di hina, di khianati. Dan terakhir di tipu dan nyaris kehilangan motor yang menjadi satu-satunya benda berharga yang dia punya. Lalu Tuhan dengan baik hatinya, memberikan calon suami dengan spesifikasi sempurna seperti Mas Hamam Amirul Mukminin. Mendekati sempurna ding, wong Mas Hamam hobinya aneh, main slot dan sejenisnya. Semoga setelah menikah nanti Mas Hamam ganti hobi.
Oh ada satu hal lagi yang patut Datul syukuri. Kata Mas Hamam kalau sudah niatan baik pasti diijabah dan di permudah. Datul pusing memikirkan biaya nikah. Dan lima bulan itu waktu yang sangat singkat untuk Datul bisa menabung. Datul nyaris stress sendiri sampai Pak Farkhan membawa kabar gembira.
Tidak menyangka sama sekali kalau Bapaknya itu bakal dapat uang warisan. Warisan dari nenek moyang katanya. Entah nenek moyang yang mana Datul juga tidak paham. Yang jelas kata Pak Farkhan uang itu cukup untuk mantu Datul. Hihihi, Alhamdulillah.
Mas Hamam? Duh Datul semakin tidak cinta bagaimana. Mas Hamam semakin perhatian dan semakin lengket dengan Datul. Persiapan acara lamaran di rumah Datul pun Mas Hamam ikut bantu. Jauh-jauh hari beli ini, beli itu. Padahal di rumahnya sendiri juga sedang sibuk.
Di rumah Datul ramai saudara dan tetangga yang sibuk memasak makanan untuk acara nanti malam. Ada yang sedang mengupas bawang dan bumbu dapur lainnya, ada pula yang sedang sibuk mengaduk jenang puyur dan kawan-kawan.
Calon laki-lakinya bukan anteng di rumah sendiri malah glesotan di dekat Datul. Padahal Datul juga tak kalah sibuk. Untung saja banyak yang membantu, meski di sambi rasan-rasan. Datul cukup peka kog, ada yang ghibahin dirinya. Tapi masa bodoh, fokus saja untuk menjemput kebahagiaan.
Kembali ke kesibukan Datul. Karena banyak yang membantu, Datul jadi kerja yang ringan-ringan saja. Seperti sekarang, dia membatu melipati kardus snack yang akan di isi camilan untuk tamu nanti malam. Sedangkan Mas Hamam duduk di sampingnya sambil main game di hpnya.
"Mas, kamu enggak guna di sini, pulang sana!" usir Datul. Alis laki-laki tampan itu hanya naik turun tanpa menjawab. Masih fokus ke hp. Jari-jarinya terlihat lincah sekali memainkan game perang-perangan.
Zida sepupu Datul cekikikan di depan mereka.
"Hla biar aja kenapa sih Mbak Datul. Jarang-jarang bisa lihat Mas Hamam dengan jarak dekat. Sebelum di teken sama Mbak Datul, bolehlah aku dan yang lainnya lihat buat yang terakhir kali, hehe..."
"Ck! anak kecil jangan genit!"
Bukannya mundur, Zida malah menjadi-jadi.
"Ugh... Mas Hamam sayang banget ya sama Mbak Datul? sayangnya di bagi-bagi buat aku enggak bisa?" goda Zida. Datul langsung melempari Zida dengan kulit jeruk yang tadi dia makan.
Mas Hamam terkekeh, kelihatannya sudah selesai mainannya. Hpnya dia kantongi. Siap membalas candaan Zida.
"Emang kamu berani? calonku ini galaknya kayak serigala betina kalo lagi ngamuk"
"Emang Mbak Datul punya cakar, wkwkkwkw... di samain serigala...blekkk!"
"Diam Mas jangan di jawab! Zida edan kog"
"Haha ... bukan cuma punya cakar, wong dia juga hobi gigit" Zida terbahak.
"Sambil bilang auuunggg enggak? Hahaha... btw, Mas Haman di gigit apanya hayo? leher atau bibir?"
"ZIDA!!!" Datul melotot sambil ngomel-ngomel. Mas Hamam langsung mengiting kepala Datul. Jadilah kepala Datul di ketek Mas Hamam.
"Calon pengantin di kurangi marah-marahnya"
__ADS_1
"Kamu sih Mas, pulang sana, malah jadi bahan becandaan Zida tau! lepasin!"
"Ecieeee... malah bermesraan!"
"Zida stop! bisa tolong pergi dulu, aku mau ngomong sama ayang ku, please"
"Oke-oke saya pergi, bye Mbak Datul... Auuuuunngggg!" ejek Zida menirukan serigala sebelum kabur pergi. Jadilah Mas Hamam dan Datul hanya berdua di ruang tengah.
"Abaikan dia!"
"Khem! Datul, asal kamu tahu, dari tadi tuh perasaan ku enggak enak, enggak tahu kenapa"
"Kenapa memang?"
"Entahlah, di sini rasanya sakit banget" tangan Mas Hamam memegang dada kirinya. Maksudnya hatinya sakit kali ya? Tapi tanggapan Datul malah lain.
"Mas Hamam masuk angin? atau punya riwayat jantung? ngomong Mas, kita bisa ke dokter sekarang kalau Mas sakit" Datul panik sendiri.
"Eitts, aku cuma khawatir sama kamu bukan mau jantungan Datul!"
"Hehe... habisnya Mas Hamam mengagetkan, dari tadi perasaan enjoy aja sama hp, tiba-tiba ngeluh sakit, ya kan akunya enggak kaget"
"Perasaanku tidak enak, hatiku tidak tenang kalau enggak lihat kamu, maksudnya itu"
"Ngaco kamu Mas. Perempuan gila mana yang mau ninggalin kamu hah?"
"Kamu kira kita lagi main film India? tiba-tiba pernikahan batal karena pengantin wanita kabur?"
"Hmmm... entahlah, aku merasa akan terjadi sesuatu yang besar, tapi sudahlah mungkin ini cuma perasaan ku saja" Mas Hamam berusaha mengusir perasaan tidak enak itu sendiri.
Mas Hamam menatap Datul lekat-lekat. Gadis itu semakin hari semakin cantik di mata Mas Hamam. Padahal aslinya kalau orang lain yang lihat ya biasa saja. Wong jerawatnya masih ada. Ditatap seperti itu Datul jadi salah tingkah.
"Eumm, emmm..."
"Mau ngomong apa hah?"
"Jangan bilang kalau malah Mas Hamam yang ragu," Datul membuang muka sebagai pengalihan. "Awas saja kalau Mas Hamam batal nikahin aku, aku enggak segan-segan buat nyantet Mas Hamam"
"Dih sadis!"
Hp Mas Hamam berdering. Laki-laki tampan itu terlihat malas-malasan mengangkat. Datul melongok ingin tahu siapa yang menelepon.
"Woah... angkat Mas dari ibu" Mata Datul membola melihat nama calon mertua yang dia segani.
"Paling nyuruh pulang" Mas Hamam mau tak mau mengangkat telepon itu. Benar saja ibunya langsung ngomel dari seberang sana
__ADS_1
"Iya ibu, iya... habis ini pulang"
"Hmm ... iya..."
Tut! panggilan berakhir.
"Ibu pasti marah kan, kamu sih ngeyel malah glesotan di sini"
"Hehe... iya. Aku pulang ya..."
"Dari tadi kan aku udah usir"
"Ah tapi nanti aja deh, masih kangen. Boleh peluk enggak sih? mumpung sepi"
"Apaan sih, gaje!" Datul sebenarnya ingin, tapi malu. Lagipula gimana kalau ada yang melihat.
Kelamaan mikir. Mas Hamam langsung merengkuh tubuh Datul ke dalam pelukannya. Rasanya menenangkan sekali memeluk Datul mentul-mentul. Tanpa sadar tangan Datul ikut melingkari tubuh Mas Hamam yang selalu wangi. Menghirup wangi tubuh laki-laki yang dua bulan mendatang akan menjadi suaminya. Sampai si pembuat onar datang lagi.
"Wakk! aku kira kalian lagi cakar-cakaran, eh eh ternyata malah pelukan!"
****
Malam harinya, Datul bersama keluarga besarnya sudah siap menyambut rombongan keluarga Mas Hamam. Rumah Datul di dekor sedemikian rupa cantiknya. Lampu-lampu di buat terang benderang.Seperti sedang ada pawai, tamu mereka datang beriring-iringan dengan membawa buah tangan yang beraneka ragam. Acara lamaran Datul tidak bisa di bilang sederhana. Keluarga Mas Hamam tidak main-main memberikan hantaran pernikahan.
Bingkisan pakaian bagus, perhiasan, bingkisan makanan tradisional, buah-buahan, komplit dan seakan tidak ada putusnya di berikan untuk pihak perempuan. Bahkan Datul juga di beri dua ekor kambing dan dua ekor ayam. Meriah, sampai membuat tetangga Datul tergumun-gumun. Yang iri biar iri sekalian. Tapi kalian tahu siapa yang paling tersakiti pas acara itu? Masih ingat Ella? ya sepupu Datul sang antagonis. Yang pernah menghina Datul tidak laku karena punya wajah jelek jerawatan. Gadis itu besengut di pojokan sambil ngunyah tisu sangking jengkelnya. Wkwkekek....
Malam itu Datul terlihat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna pastel. Wajahnya berseri sangking bahagianya. Mas Hamam sampai tidak kedip melihat Datul yang cantik. Ibunya Mas Hamam sampai harus menyenggol lengan anaknya dan berbisik.
"Kondisikan burungmu nak!"
Mas Hamam hampir tersedak ludahnya sendiri. Tobat, punya ibu yang ngomongnya terlalu fulgar.
Acara demi acara berjalan lancar. Cincin emas dengan berat lima gram melingkar manis di jari Datul. Semua bertepuk tangan dengan senyum mengembang.Tidak ada yang menyangka, Datul gadis berjerawat si buruk rupa, akan menikah dengan Hamam, laki-laki paling tampan sekabupaten Kendal.
Jodoh memang rahasia ilahi. Dua bulan lagi mereka akan menikah. Huftttt.... lega rasanya.
_
_
_
Happy engagement Mas Hamam dan Maidatul Khan🥰🥰🥰
Kalian ikutan ucapin dong👉 lewat komentar ya😁
__ADS_1