Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 84: Permintaan


__ADS_3

Meskipun keinginan hati ingin selalu berada di samping Datul, apalah daya ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Bekerja. Bagaimanapun Mas Hamam butuh uang untuk membiayai perawatan Datul selama di rumah sakit.


Selama Mas Hamam bekerja, Zida yang menggantikan menemani Datul. Keponakan Datul yang satu itu sekarang sedang jadi pengangguran yang bermanfaat. Mas Hamam sangat berterimakasih karena Zida mau ikut repot.


Sepulang kerja Mas Hamam langsung ke rumah sakit. Jam menunjukan pukul delapan malam ketika derit sepatu Mas Hamam beradu dengan lantai rumah sakit. Mas Hamam dengan wajah lelahnya tak pernah sekalipun mengeluh. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya. Tempatnya pulang, tempat dimana ada Datul yang masih terbaring lemah.


Mas Hamam tidak tahu kalau Pak Farkhan masih menemani Datul bersama Zida. Biasanya calon mertuanya itu sore hari sudah pulang duluan. Sering encok kalau terlalu lama duduk, maka dari itu Bapak Datul tidak bisa lama-lama menunggui.


Mas Hamam agak rikuh, mana beli nasi goreng cuma dua bungkus. Niatnya buat Zida satu dan dia satu. Tapi tak apalah, nanti Mas Hamam bisa keluar beli lagi.


"Bapak belum pulang?"


"Bapak sengaja nunggu kamu, ada hal yang ingin Bapak bicarakan"


Mas Hamam menoleh ke arah Zida dan gadis itu paham, waktunya cari tempat lain untuk makan nasi goreng yang di bawakan Mas Hamam.


"Bapak udah makan? ini nasi gorengnya masih"


"Bapak masih kenyang"


Wajah Pak Farkhan sangat serius. Dan entah mengapa Mas Hamam seperti mendapat sinyal yang membuat hatinya jadi terusik. Mas Hamam rasanya ingin sekali mengalihkan pembicaraan itu.


"Nak..." Panggilnya lembut. Mas Hamam jadi menunduk tak sanggup menatap mata pria tua yang pasti hatinya sama sakitnya melihat anak gadisnya terbaring tak berdaya.


"Bapak terimakasih sekali, kamu sudah mau bersabar menjaga Datul. Mau repot ini dan itu. Tapi Nak, ada hal yang membuat Bapak berpikir, kami juga harus tahu diri"


"Kamu masih laki-laki bebas sebelum akad pernikahan berlangsung."


"Dengarkan Bapak Nak. Kita tidak tahu kapan Datul sadar. Apa lusa, apa bulan depan atau bulan depannya lagi. Rasanya terlalu tidak adil mengikat kamu Nak. Kamu sudah banyak repot sejauh ini"


Sudah Mas Hamam duga. Bapak Datul tipe orang yang tidak enakan. Sudah pasti pikiran seperti ini menjadi beban perasaannya. Mas Hamam jelas tidak sependapat. Bagaimanapun keadaannya, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan tetap berada di samping Datul, memenuhi janji-janjinya.


"Bapak anggap saya orang lain? Saya bukan anak laki-laki Bapak?"


"Datul pasti bangun, entah lusa atau bulan depan atau bulan depannya lagi, Pak!" Pandangan Mas Hamam beralih menatap Datul yang masih utuh dengan mata yang masih setia terpejam.


"Saya bersedia menunggu, Pak"


Pak Farkhan tergugu, pundaknya bergetar hebat. Laki-laki itu tak sanggup menahan air matanya.


"Kamu anak laki-laki Bapak, Nak, tanpa harus menikahi Datul pun, Bapak sudah anggap kamu anak"


"Kalau begitu jangan paksa saya untuk meninggalkan Datul, saya tidak bisa" giliran mata Mas Hamam yang berkaca-kaca.


"Kamu berhak buat ninggalin dia, Nak. Kamu berhak!"


"Tidak akan Pak! Tidak!"


Mas Hamam semakin memantapkan hatinya. Dia tidak mau berpisah dengan Datul. Dia tidak sanggup.


"Pak, kalau menurut Bapak pertunangan kami belum cukup kuat sebagai ikatan tali suatu hubungan, saya akan menikahi Datul dalam waktu dekat, meskipun dia belum sadar, saya akan tetap menikahinya"


Pak Farkhan semakin tergugu. Bukan itu maksudnya. Dia hanya tidak ingin mengikat Hamam. Tapi kenapa laki-laki muda di sampingnya ini malah membuat keputusan seperti itu.


Mas Hamam merengkuh tubuh gempal laki-laki yang sudah di anggapnya seperti Bapaknya sendiri.

__ADS_1


"Saya pasti menikahi anak Bapak"


****


Di lain hari, kabar Datul kecelakaan jatuh dari lantai dua Terminal Mangkang baru Tomi dengar saat dirinya mampir ke SPBU, tempat dulu Datul bekerja. Maklum, setelah lulus dia ikut saudaranya ke Kalimantan. Bukan untuk menanam pohon sawit di sana, tapi untuk main-main saja. Tomi belum ada keinginan bekerja, mengingat keluarganya sudah punya uang banyak tanpa harus bersusah payah.


Dari Indah dia mendengarkan cerita kronologi Datul jatuh, hingga keadaan Datul yang masih koma di rumah sakit. Tomi sangat shock. Padahal niatnya dia datang ke SPBU itu juga untuk menyambangi Datul. Tomi bahkan membawakan buah matoa yang dia petik langsung dari pohonnya. Datul pernah bilang dulu, kalau seumur hidupnya dia belum pernah makan buah itu.


"Kog gue sama sekali enggak tahu ya..."


"Masnya jarang baca berita apa? wong sampai masuk koran hlo berita Mbak Datul jatuh"


"Oh... Gue emang sering bacanya majalah porno, wajar ke skip itu berita"


Indah ngelus dada mendengar jawaban keponakan bosnya itu. Sungguh terlalu. Rambutnya keriting, tidak tampan, cuma menang pakai baju branded dan mobil kempling.


Tanpa basa-basi juga Tomi memunggungi Indah dan terlihat menelpon seseorang.


"Hallo, dasar temen ****** Lo!"


"Gue ke tempat kerja lo sekarang!"


****


Jam istirahat Mas Hamam gunakan untuk menemui Tomi. Mereka sudah duduk berhadapan di kafetaria kantor Mas Hamam.


"Kenapa lo enggak bilang kalau Datul celaka"


"Memang siapa Lo!?" Mas Hamam jelas ngegas, Datul miliknya. Tomi urusan apa bicara seperti itu. Seakan dia masih menyimpan perasaan untuk gadisnya.


"Gue, orang yang sampai kapanpun sayang sama Datul. Meski nanti dia jadi bini Lo sekalipun!"


"Heh, ayolah! Gue udah baca berita Datul jatuh dari lantai dua, satu bulan yang lalu, dan itu gantung sampai sekarang?"


"Lo enggak urus itu kasus, emang dasar bego!"


Mas Hamam tersentil. Memang satu bulan ini dia lebih fokus menemani Datul dan bekerja. Tidak sadar terlalu pasif, pasrah pada pihak polisi. Tapi setengah ego Mas Hamam tidak mau di salahkan.


"Gue udah kasih keterangan sejelas-jelasnya ke pihak polisi, mereka bilang sanggup ngurus. Gue fokus sama Datul. Gue enggak bisa ninggalin dia terlalu lama"


Tomi mendengus, tidak puas dengan jawaban sahabatnya itu. "Di berita di tulis, lo curiga sama seorang laki-laki, harusnya itu gampang banget kan, datengin tuh laki-laki, buat bonyok atau mampusin sekalian!"


"Pengen, gue pengen kayak gitu. Terus kalau tambah panjang urusan, siapa yang ngurus Datul?"


Tomi kicep. Gemuruh emosi yang tersulut tadi pelan-pelan meredup. Datul gadis biasa, siapa sangka ujian hidupnya melebihi konflik drama Korea.


"Siapa sih laki-laki itu? temen Datul?"


"Bukan, mantan pacar"


"Yang dulu nyolong motor Datul?" Mas Hamam mengangguk.


"Cerita ke gue, versi lengkapnya, gue pesenin Lo kopi lagi kalau entar haus"


Mas Hamam menurut, meskipun jam istirahatnya tinggal beberapa menit saja. Barangkali dengan bertukar pikiran seperti ini, bisa membantu mengurai benang permasalahan Datul.

__ADS_1


BRAKK!!!!!


Tomi tidak sadar menggebrak meja sangking jengkelnya. "Anjing emang itu orang!"


Bukan umpatan itu saja, Tomi misuh-misuh sambil mengabsen seisi kebun binatang beserta kotorannya.


"Gue curiga, kasus ini enggak di terusin penyidikannya, besok kita ke kantor polisi, gue temenin Lo!"


"Gue jadi inget, dulu buat jeblosin dia gue habis uang banyak, polisi enggak mau kerja kalau enggak ada duit"


"Hla itu Lo tahu, kenapa enggak Lo pakai cara yang sama?"


"Berapa sih gaji gue sekarang? gue udah janji sama Datul enggak main judi lagi, paham Lo!"


"Hmm, Lo kere sekarang, maksudnya gitu?"


"Setidaknya gue udah merubah diri"


Tomi berfikir keras. Memang kalau tidak ada uang semuanya terasa begitu syulit.


"Haaa... masih ada cara. Kalau tidak bisa memakai kekuatan uang, setidaknya masih ada kekuatan tenaga dalam"


"Maksudnya?"


"Gue punya paman, pangkatnya Jenderal, kita bisa pakai bantuannya, oke?" Tomi menaik turunkan alis, menganggap ini hal yang mudah.


"Jenderal Sudirman maksud Lo?"


"Seriusan gue, nyet! "


Mas Hamam memijat pangkal hidungnya. Masih mumet. "Apa kata Lo aja, besok kita ke kantor polisi"


****


Keesokan harinya mereka berdua datang ke kantor polisi. Berniat menemui petugas polisi yang menangani kasus Datul. Bukannya di permudah, malah mereka di buat menunggu.


Tomi mondar-mandir tidak sabar. Tadi di suruh nunggu sepuluh menit. Sekarang sudah hampir satu jam, tapi petugas yang di cari belum nongol juga. Mas Hamam menahan diri agar tidak ikut emosi. Efek sering berpuasa kali ya, dia jadi lebih pintar mengontrol emosi.


"Katanya mau pakai tenaga dalam?" Sindir Mas Hamam.


"Ckk! Belum waktunya"


Sampai setengah jam berikutnya, orang yang mereka tunggu keluar dari sarangnya.


"Ternyata tamu saya luar biasa penyabar, mari kita bicara"


_


_


_


_


Gantung ya?😁

__ADS_1


makasih sudah sabar menunggu update 🙏🤗


Love buat kalia🥰


__ADS_2