
Satu, dua , tiga!
Ponsel Hamam berkedip-kedip. Dia yakin sekali Maidatul yang mengiriminya pesan. Setelah berhitung dalam hati dan benar, umpan yang dia lempar sangat mempan.
[ Aku mau coba masukin lamaran itu, gimana caranya? ]
Hanya membaca sebaris pesan itu Hamam sudah cengar-cengir layaknya membaca surat cinta.
[ Wait ]
Balas Hamam singkat. Buru-buru dia menelpon Tomi untuk memastikan sekali lagi.
"Tom, sepupu gue mau nyoba nitip lamaran, gimana caranya, titipin lo atau langsung datang aja?"
"gue udah bilang ke Om gue kemaren, katanya kalau mau secepatnya suruh langsung datang aja bawa lamaran komplit, SKCK terbaru jangan lupa, nanti tinggal sebut nama gue aja, dijamin lancar jaya langsung keterima, hihihi..."
Tomi cekikikan di sebrang sana. Hatinya ikutan berbunga-bunga kalau benar Datul yang datang melamar. Auto gass poll standby di kantor Omnya.
"Oke, oke, thanks banget, lho emang bestai gue"
"tai lo cepirit!"
Giliran Hamam yang terkekeh lalu mengakhiri perbincangan mereka.
[ besok langsung datang aja ke sana bawa lamaran komplit, SKCK terbaru jangan lupa]
[oh ya, bilang aja kamu teman Tomi, pimpinan di sana Omnya si Tomi]
Terkirim. Beberapa detik pesan dari Hamam masih terlihat centang dua dan belum berubah warna biru. Tandanya belom di baca.
Slow respon banget si Datul, biasa juga langsung sat set.
Hamam uring-uringan hanya karena pesannya lama tak di baca.
Ckkkk! masih juga belum di baca. Sebenarnya dia tuh niat ga sih!
Sebal Hamam memilih ngapel Mbah Zeus. Rasanya sudah lama dia tidak main. Lumayan masih ada saldo seratus ribu buat modal awal. Hamam bertekad membuat Mbah Zeus merugi, dia kan punya keberuntungan yang bagus kalau masalah seperti ini. Ciahhh... jangan di tiru ya man teman.
Judi! (judi)
Menjanjikan kemenangan
Judi (judi)
Menjanjikan kekayaan tretet...tretet...
Apapun bentuknya itu haram hukumnya, nanti di marahi Bang Roma.
***
Datul sengaja tidak membuka pesan itu. Sok jual mahal. Untung saja matanya jeli membaca notifikasi pesan yang masuk di atas layar.
Oh ternyata rekomendasi dari Mas Tomi, syukurlah kalau begitu... aku tidak terlalu terbebani rasa berhutang budi pada... males sebut nama ya, aku belum lupa kalau masih gedek sama dia!
Sek, sek, sek, SKCK terbaru! mati aku...mati! jam segini udah pasti kantor polisi tutup, duh gimana nih...
__ADS_1
mana SKCK ku mati karena udah enam bulan lebih nganggur ga dapet-dapet kerja...
Kalau nekat pakai yang lama bakal malu, udah ngelamar pakai jalur ewes-ewes masih ngelunjak ga memenuhi syarat.
Datul menggembungkan pipinya kesal. Bakal galau berkepanjangan, biasanya kalau sedang dilanda kebingungan seperti ini Datul bakal banyak makan dan susah tidur. Jerawat-jerawat di wajahnya bisa semakin tambah subur kalau dia lepas kontrol makan apa saja masuk.
"Mbak, mbak Datul!" itu suara Hilda tetangga Datul. Kalau dia datang bisa di pastikan bakal ngajak Datul pergi.
Datul yang selonjoran di depan tv merasa mendapatkan angin segar. Secara Hilda lebih muda dan kekinian, remaja macam dia pasti penuh inovasi. Beda sama Datul yang otaknya sudah kadaluarsa karena lama tak sekolah dan lama belum dapat-dapat kerja.
"Gimana Hil? kerupuk nih makan..." sodor Datul mempersilahkan Hilda untuk mengambil cemilannya.
"Pas sekali Mbak Datul udah mandi, beli mie lidi yoh" tuh kan apa Datul bilang, bocil satu ini emang, cuma beli mie lidi aja minta di temani.
"Agggghhh... aku lagi bingung banget Hil, mager kemana-mana"
"emang kalau lagi bingung ga kuat jalan Mbak?" tanya Hilda polos. Satu tangannya sudah masuk ke toples yang dipangku Datul.
"Hih! aku bingung sumpah, besok meh ngelamar kerja tapi SKCK mati, mana syaratnya SKCK harus terbaru, maksudnya masih aktif gitu..."
Hilda manggut-manggut ikut mikir sambil ngunyah remahan kerupuk yang terasa lebih asin karena sisa-sisa micin.
"SKCK itu yang buatnya di kantor polisi ya Mbak?"
"Huum,"
"wah ya udah tutup kalau sore gini"
"Hla itu masalahnya, gimana ya? padahal besok pagi-pagi sekali harus udah sampe tempat aku ngelamar kerja"
"Emang mau ngelamar kerja di mana Mbak? SKCK nyusul ga bisa?"
Hilda cengengesan. "o... palingan sana juga ga ngeh Mbak kalau SKCK mati"
"Ga mungkin ga ngeh, wong syaratnya di pertegas gitu, gini-gini aku udah pengalaman ngelamar kerja, meski ga kerja-kerja" urai Datul bernada frustasi.
"wong tulisan masa berlakunya saja mencolok kog,"
Hilda kali ini terpekur. Meski masih abu-abu mengingat bentuk SKCK bagaimana namun tiba-tiba ide licik muncul begitu saja.
"itu berarti ada tanggal kadaluarsanya gitu?"
"Hooh, aku kasih lihat bentar tak ambilkan"
Datul krasak-krusuk membongkar tumpukan map di lemari kayu yang usang.
"kayak gini yang asli, biasanya yang dilampirkan fotokopian sih"
"Ohhhh... paham, paham sekarang aku mbak"
"ini sih gampang di siasati" Hilda tampak yakin sekali. Memberi Datul sedikit harapan.
"Siasati gimana maksudnya?"
"tanggalnya di tutupi mbak sama ketikan tanggal hari ini, habis itu baru di fotokopi, di blandrek kalau Mbak Eni bilang"
__ADS_1
"Hah? emang bisa?"
"Bisalah mbak, pas kapan Mbak Eni pernah ngakali gitu, aku baru ingat, katanya dari pada bikin baru bayar lagi, mode hemat kalau Mbak Eni bilang"
"Mbak Eni, kakak kamu?"
"Iyalah siapa lagi,"
"Eni kan banyak Hil, ah tapi aku takut kalau ketahuan gimana, itu sama aja curang kan" Datul ragu, terlebih melakukan inovasi yang terkesan licik seperti itu.
"rapi Mbak, serahkan saja sama kang fotokopian"
"Ga punya ide lain ya?"
Hilda menghembuskan nafas kasar. Datang minta di antar beli mie lidi doang malah diajak mikir. "Mentok Mbak, bismillah aja"
"Duh gendeng banget, mau ngelakuin dosa di suruh bismillah"
Ngakak dong si Hilda. "Wes ayo Mbak, beli mie lidi sekalian tak anter blandrek SKCK, keburu Maghrib malah nanti dosa kita tambah banyak karena merencanakan kelicikan terlalu lama"
"Hewwww..."
Memang tidak ada pilihan lain. Datul berjanji ini pertama dan terakhir kalinya dia berbuat licik. Pak pol maafkan diriku yang tak berdaya, batin Datul. Lagipula selain kepepet waktu, di pikir juga kepepet uang. Itung-itung hemat biaya seperti kata kakaknya si Hilda.
***
Malam harinya sebelum tidur, Datul sudah selesai menyusun berkas-berkas yang besok akan dia bawa. Setelah baju putih dan celana hitam pun sudah dia siapkan untuk besok. SKCK blandrek juga sudah rapi tersusun di dalam amplop cokelat.
Baru ingat kalau dia belum membalas pesan Hamam. Datul nyengir bangga. Ternyata bisa juga dia mengabaikan Mas Hamam. Itung-itung ini latihan, Datul harus berusaha membiasakan diri. Hamam hanya fatamorgana di tengah gurun yang gersang. Semakin berharap dia bisa semakin gila.
Datul mengetikkan balasan. Semoga saja orangnya sudah tidur jadi dia tidak perlu basa-basi membalas, barangkali yang di sana gercep membalas.
[oke, besok saya pasti datang. terimakasih...]
Klunting!
Kan, kan, gercep bener balesannya.
[ masih marah?]
Jadi, galaulah si Datul sepanjang malam. Memang kalau masih marah, Mas Hamam mau peluk biar ilang marahnya, gitu?
Weekkkkkkk....😌
_
_
_
Aku tuh sayang banget sama kalian yang Sudi baca tulisankan ku ini, kalau ga demi kalian, milis bingit nilis🤯
Ramaikan yok...
Kalian tim Datul-Hamam?
__ADS_1
atau
Tim Datul-Tomi?