Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 53: Di Gendong Manja


__ADS_3

Embekkkkkk....!!!!!


Embekkkkkkk....!!!!


Telinga kalian tidak salah dengar kog. Itu memang suara kambing yang sedang ngobrol. Sedangkan dua anak manusia yang sejak tadi ribut pilih diam dan menutup hidung mereka sekuat tenaga.


Datul pernah di bonceng Mas Hamam dengan motornya yang keren. Pernah juga pakai mobil mewah, meskipun tidak tahu itu mobil siapa. Tapi hari ini Datul tidak menyangka akan diajak satu mobil bareng dua kambing yang sepertinya sepasang kekasih.


Bagaimana tidak curiga kalau dua kambing itu sepasang kekasih? Satu kambing yang gagah perkasa mirip Mas Hamam sejak tadi ndusel-ndusel menciumi bokong kambing betina. Euhhh... bau apa ya kira-kira? Padahal kambing betina yang punya bulu mata lentik itu cuek rebahan. Entah mungkin karena keasyikan juga di gituin. Enak-enak sedap.


Tau ah kog malah ceritain kambing!


Padahal Datul masih jengkel hlo ini. Mas Hamam menuruti keinginan Datul untuk mengunjungi Malioboro. Oke! Ala backpacker kere, katanya. Cih, bilang aja Mas Hamam pelit enggak mau keluar uang buat ongkos. Padahal tadi Datul sudah baik hati hlo, ngasih telor gudeg milik Datul ke Mas Hamam. Tapi apa balasannya?


Nasib juga kali ya dapet tumpangan bareng embek. Ndelalah kog kursi depan sudah di isi oleh istri Pak supir yang big size.


"Mass au adeg! au utah" Ngomong sambil tutup hidung begitu jadinya.


"Ahan! amu uat! hehe..."


Kuat gundulmu Mas, rasanya mau mati!


Mobil bak terbuka yang mereka tumpangi terus melaju, meliuk-liuk di jalan beraspal yang mulus, semulus pahanya Anya Geraldine.


Andai, andai ya ini. Datul di bonceng Mas Haman pakai motor keren di jalan seperti ini, uhh itu pasti bakal jadi momen terindah dan tak terlupakan. Ini juga tidak terlupakan sih, tapi tidak menyenangkan sumpah. Bau buadek asli ah. Enggak mau ngomong banyak-banyak, mau tutup hidung aja udah.


****


Dua jam berlalu...


Akhirnya mereka sampai di pusat kota. Hamam melambaikan tangan pada Pak supir yang baik hati karena sudah mau memberikan tumpangan, juga pada istrinya yang big size yang dari tadi senyum-senyum menjijikkan. Sedangkan Datul mentul-mentul terkapar di trotoar setelah memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoeekkk.... uhuk-uhuk!"


Mas Hamam yang aslinya merasa bersalah, mendekat dan membantu memijat tengkuk leher Datul.


"Sampe muntah-muntah gini, maap yak!"


Uluh-uluh manisnya, sadar Datul begitu karena dia.


Datul berhenti muntah. Meski matanya masih berkaca-kaca, tenggorokan panas rasa gudeg bercampur sambal goreng tahu.


"Enggak mau tahu, gendong Mas, aku enggak kuat jalan,"


"uhuk! uhuk!" Batuknya di manis-maniskan.


"Dih manja!"

__ADS_1


Datul memasang wajah memelas. Enggak tahu juga kog dia jadi berani manja begini. Efek habis muntah kali ya.


"Ini juga gara-gara Mas Hamam! salah siapa hayo, udah main ***** sembarangan, gaya polll misah dari kelompok, dan sekarang kita jadi gembel di negeri orang"


Telinga Mas Hamam memerah. Harus ya di bahas lagi perihal ***** dadakan tadi. Mana kenceng nyebutnya, Mas Hamam jadi pengen cepet-cepet beli cilok sedandang buat menyumpal mulut Datul.


"Kota orang Datul! kita masih di dalam negeri kali"


"...."


Mas Hamam yang tinggi menjulang, tiba-tiba berjongkok di hadapan Datul.


"Mas Hamam ngapain?"


"Katanya tadi minta gendong, ya ayuk!"


Dosa enggak ya main gendong-gendongan. Tapi Datul pengen juga. Wahai malaikat, minta tolong di skip jangan di catet kalau ini dosa. Janji enggak pakai nafsu kog di gendongnya. Palingan pakai cengar-cengir doang. Ya enggak reader Budiman?


"Memang kita mau kemana?"


"Cari toilet umum dulu, mandi yang bersih, ganti baju, kamu emang mau bau kambing terus-terusan?"


"Habis mandi baru jalan-jalan, terserah nanti kamu mau minta beli apa, asal jangan lebih dari dua ratus ribu"


Datul lompat ke punggung Mas Hamam, menubrukan dadanya yang kenyal-kenyal. Lalu mengalungkan tangannya di sekeliling leher Mas Hamam yang bersih putih tanpa daki.


Hamam berdiri, ternyata Datul cukup berat di tambah ransel yang dia pindahkan di gendongan depan.


"Ughhh... ini asli berat ternyata kamu Tul, kebanyakan dosa kali ya?"


Datul mengeplak lengan Hamam. Enggak keras sih, kan masih mode manja.


"Sembiringin kamu Mas, bilang aja kamu terpaksa gendong, setengah hati, jadinya beban!" Datul jadi ngegass kan.


Hap, hap, hap...!


Langkah Mas Hamam jadi lebih mantap setelah di kata-katain. Macam kuda yang harus di pecut dulu ternyata. Datul berdoa semoga toiletnya jauh, betah banget di gendong. Kalau bisa cari toiletnya sampai ke luar negeri, L.A misalnya. Sekalian nyusul Aa Raffi yang lagi fashion week. Hihi...


Beberapa kali mereka berpapasan dengan gerombolan cewek-cewek muda. Mata mereka, melihat Datul dan Hamam dengan tatapan aneh. Apa karena ini masih sore, jadi di larang umbar kemesraan. Atau pada ngiri ya enggak di gendong pria tampan. Kali ini biarkan Datul menang banyak.


"Eh Mas, pas di bukit karang kamu yang bawa baju basah milikku kan? kamu taruh mana? aku sampe lupa ih"


Mas Hamam menelengkan kepala ikutan mikir. Eh... dimana hayo?


"Enggak tahulah, aku kan di tonjoki si Tomi tiba-tiba, pas turun enggak kamu bawa?"


"Hllaahhhh... aku juga lupa Mas, aku kan mapah Mas Hamam pas itu, mana berat..." gerutu Datul.

__ADS_1


"Kamu juga berat Datul!" sindir Hamam.


"Ya Tuhan Mas, aku baru ingat di dalamnya juga ada dalemanku, bagaimana kalau di pungut orang? terus di buat pesugihan?"


Datul mulai panik. Ini kan di Jogja, meski di sebut kota pelajar aura kejawen masih cukup kental di sini. Jelas Datul panik. Tanpa sadar kalungan lengannya di leher Mas Hamam semakin erat. Mas Hamam tercekik.


"Kamu enggak niat bunuh aku kan Tul? Uhuk!"


"UPS... sori Mas hehe... aku panik mikirin daleman"


"Halah, palingan daleman kamu bau pesing! udah ikhlasin aja!"


Mulutnya Mas Hamam, teganya dirimu Mas!


Bukan malu malah di terus-terusin. Memang kog Datul. Urat malunya jadi urat bakso.


"Yang kayak gitu yang mujarab Mas, asal Mas Hamam tahu"


"Dih!" Hamam malu sendiri jadinya. Enggak sanggup komen banyak kayak netizen.


"Buruan turun!"


"Emang kita udah sampai?"


"Tuh lihat, makanya jangan mikirin daleman terus otaknya, sampai enggak nyadar kalau kita udah ada di pom bensin kan"


Datul cengengesan lalu turun. Enggak ikhlas sih udahan di gendongannya.


"Makasih Mas, aku mandi dulu ya"


"Ya buruan, jangan lama-lama, nanti kita malah ke maleman, gawat kalau kehabisan bus ke Semarang"


"Jangan lama-lama! kalau kehabisan bus kita bisa-bisa tidur di emperan!"


"Okehhh..." Datul ngeluyur, sebelum tuan Hamam ngoceh lagi.


Datul mandi dulu ya kawan-kawan. Jangan ngintip hlo ya!


_


_


_


Maapkan diriku yang enggak bisa rajin up🄓


Makasih ya man teman yang masih setia nunggu Datul, wkwkekk

__ADS_1


love kalian banyak-banyak ā¤ļø


__ADS_2