Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 55: Mari Pulang


__ADS_3

Dari papan bertuliskan jalan Malioboro, Datul berpindah pose ke tengah trotoar. Diantara banyaknya orang berseliweran dia berpose ala-ala candid. Pura-pura sedang berjalan juga dengan pandangan tidak menghadap kamera.


Hewww... gaya banget!


Pokoknya Mas Hamam tidak rela kalau Datul terekspos dalam bingkai foto dengan pakaian seperti itu.


Kali ini Mas Hamam lebih tega lagi. Bukannya mengambil gambar yang bagus, malahan memotret lubang hidung Datul dari bawah. Ngeri, untung enggak ada penampakan upil. Shutt!!! Datul belum tahu ya...


"Sini Mas bagi lihat"


Hamam buru-buru mengantongi ponselnya. "Ughh... nanti aku kirim file, buruan beli oleh-oleh ajalah"


Datul percayakan hasil fotonya pada Mas Hamam. Toh dari tadi Mas Hamam terlihat sungguh-sungguh memotret. "Oii... Ayuk Mas, kita ke arah mana lagi?"


"Sana! sana!"


Mereka mampir ke pusat oleh-oleh. Pasar Beringharjo. Beberapa kali Mas Hamam pernah ke sana. Berbagai macam kerajinan tangan seperti, gelang tali, kalung, cincin bahkan macam gerabah dan pernak pernik rumah bisa di temui di sana. Boleh ditawar juga. Bagi Datul tentu saja ini yang pertama kalinya.


Datul tak sabar memborong oleh-oleh. Lapak yang pertama dia tuju yaitu toko bakpia. Setelah mendapat tiga dus bakpia dia berpindah ke lapak pernak-pernik.


"Mas Hamam bagus enggak ini?" Datul memilih gelang dari bahan kayu gaharu berwarna cokelat pekat.


"Bagus" jawab Hamam singkat. Kayak gitu di Semarang juga banyak Tul. Batin Hamam. Karena malas berdebat dia biarkan Datul membeli. Datul mengambil sepuluh gelang. Mungkin mau di jual lagi kali ya. Gadis itu memang aneh. Buat apa coba.


"Bagi uang dong Mas"


Dan Mas Hamam yang harus bayar lagi. Tidak apa, Mas Hamam royal untungnya.


"Enggak sekalian ambil tuh pensil Inul?"


Datul hanya berdecak. "Ckk!"


Mas Hamam pikir Datul anak SD.


"Udahan yok!"


"Aku belum beli kaos yang ada tulisannya Jogja Mas,"


"Oh... hampir lupa , kamu harus ganti baju" Mata Mas Hamam menyisir toko batik. Dari pada pakai baju seperti itu, lebih baik Datul di belikan daster aja sekalian.


"Kita ke sana dulu ya"


Detik berikutnya mereka ribut lagi. Datul memilih dress batik, tapi kata yang jualan harus beli sepasang karena itu model sarimbit. Sedangkan tahu sendiri Datul jomblo akut. Jadi selingkuhan aja dia di putusin.


"Udah ini ajalah dari pada kelamaan, tiga puluh menit lagi kita harus sudah sampai terminal Datul"


"Mas Hamam jangan gila, ini daster Mas! emang Mas Hamam mau ngajak aku tidur? masak iya aku di suruh pakai daster"


"Ini bocah ngomongnya suka ngaco! gimana kalau kedengeran orang lain, nanti mereka mikir macem-macem"


"Habisnya Mas Hamam rempong, padahal aku mikirnya satu macam aja"


"Kamu udah janji hlo mau pakai baju pilihanku"


"Ya tapi enggak daster juga dong Mas"


"APA? yang sarimbit itu juga sama aja, pasti paha kamu kemana-mana, bagusan ini coba, di bawah lutut lebih aman"

__ADS_1


Penjual yang sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka pusing sendiri.


"Eh Mas dan Mbak kalau enggak niat beli mending pergi ajalah! berkunang-kunang mata saya lihat suami istri labil bertengkar dari tadi"


Mas Hamam dan Datul langsung kicep. Dia kira penjual garang hanya ada di pasar Johar ternyata di sini juga ada. Mereka berdua saling melempar lirikan. Memberi kode untuk kabur saja.


"JADI BELI ENGGAK!!!?" Si penjual ubun-ubunnya udah keluar asap mengepul.


"Enggak jadi Bu, ibunya galak!"


"KABUR MAS!!!"


Mas Hamam melotot. Datul gila fix. Mana pakai ngatain si penjual galak juga. Mereka lari terbirit-birit sambil bergandengan tangan. Sedangkan si ibu terlihat mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Sambil misuh pasti.


Angin menerpa tubuh mereka yang terus lari tak tahu arah. Tak jarang bahu mereka menyenggol bahu orang lain. Hal gila yang Datul lakukan ini, tak akan pernah dia lupakan. Apalagi genggaman tangan ini. Datul sungguh berharap tidak akan melepasnya.


Nafas mereka terengah-engah saat mereka berhenti di ujung jalan yang lumayan sepi. Datul tertawa ngakak tidak ada habisnya.


"Hahahaha... ini luar biasa Mas, baru kali ini aku berani ngatain orang, huh huh... wkwkwkwk..."


"Fiyuhh... jangan di ulangi kegilaanmu kayak tadi, sekarang kita lolos besok-besok bisa-bisa kita di gorok orang kalau menye-menye"


"Hahaha... asli seru banget ini" Mereka tidak sadar kalau tangan mereka masih berpegangan.


Sampai tiba-tiba tatapan mata mereka saling mengunci. Mas Hamam terpana dengan wajah Datul yang penuh keringat. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh helaian rambut Datul yang menutupi mata gadis itu. Lalu menyelipkannya kebelakang telinga Datul. Datul terpana. Apakah ciuman sesi kedua akan terjadi? Datul menutup matanya tanpa sadar. Bibirnya sudah monyong siap di cium sampai...


Cetakkkk!!!


Mas Hamam menyentil jidat Datul.


"Kamu kenapa merem-merem hah? kelilipan?"


Oh... enggak jadi di cium toh...


"A-paaan sih Mas Hamam! jitak aja terus sampai jidatku berlubang"


"Iya, habis itu aku jual otak kamu yang kebanyakan mesum"


Aihhh... kog Mas Hamam tahu... hihi...


"Bengong lagi... ckkk! jadi enggak kebeli kan baju buat kamu"


"Hihi... udah nggak apalah Mas, aku nyaman juga pakai ini,"


"Hahhhh... menang kamu Tul! Buruan jalan lagi, aku pesen taksi online aja ke terminal biar cepet"


Datul bergumam lirih. Perasaan dari tadi enggak mainan apa-apa, kenapa dia merasa kalah. Dasar orang aneh!


****


Hari sudah hampir gelap ketika mereka sampai ke terminal. Bus Nusantara jurusan Semarang bergerak meninggalkan area parkir. Sedangkan Mas Hamam dan Datul belum sempat membeli tiket.


"Jangan-jangan itu bus terakhir, cegat Tul cegat!"


Datul melambaikan tangan. Duh serasa jadi gadis nakal kalau begini.


Bus itu berhenti. Pramugara bus membukakan pintu depan. Datul dan Mas Hamam buru-buru masuk. Saat naik pandangan Datul tertubruk dengan pandangan Pak supir.

__ADS_1


Hih, dia bukannya supir busway yang lupa enggak nutup kandang burungnya?


Cewek pom bensin? manis juga kalau pakai baju kayak gitu


Datul enggan menyapa duluan. Karena hanya kursi di belakang pak supir yang kosong. Mereka berdua duduk di sana. Pramugara bus mendekat untuk menarik tiket. Tapi Pak supir yang entah siapa namanya itu tiba-tiba bersuara.


"Enggak usah di tarik mereka teman saya!"


Pramugara itu pun mundur kembali ke tempatnya. Sedangkan Mas Hamam melongo bingung sendiri. Tambah bingung lagi karena si Datul menimpali Pak supir.


"Eh... apaan sih, bayar Mas"


"Enggak apa-apa Mbak, santai"


"Nanti kalau di marahi pengawasnya gimana?"


Pak supir tersenyum tipis. Datul lihat dari spion tengah. Kalau lagi senyum begitu manis juga. Batin Datul.


Hamam menyimak interaksi dua orang berbeda jenis kelamin itu.


"Mbak masih ngenalin saya kan?"


"Masih, supir busway yang lupa buka tutup tangki solar sekaligus lupa nutup kandang burungnya juga"


"Hahaha...." Pak supir terkekeh sendiri. Hamam mulai terusik.


"stttt.... siapa?" bisik Mas Hamam kepo.


"Pak supir" jawab Datul polos, hlah dia juga tidak tahu namanya.


"Emm... jawaban apa itu Datul!" Enggak niat banget.


"Udah Mas jangan berisik, yang penting kita dapat gratisan, lumayan, nanti sampai Semarang kita bisa beli nasi goreng, yang di depan pom tempat ku kerja enak katanya"


Sungguh Mas Hamam ingin menjitak kepala Datul lagi. Pikirannya makan melulu.


Detik berikutnya Datul tertidur. Seharian jalan-jalan ternyata melelahkan. Mas Hamam sama lelahnya. Kepala Datul beberapa kali terbentur sandaran kaca di sebelahnya. Meski begitu Datul tidak terbangun. Dasar kebo. Mas Hamam yang baik hati tidak tega, akhirnya membawa kepala Datul untuk bersandar di bahunya. Datul hanya menggeliat kecil.


Antengnya kog kalau merem, dasar Datul...


Saat itu pandangan Mas Hamam sempat menangkap tatapan Pak supir pada mereka. Entah mengapa perasaan Mas Hamam kurang cocok dengan laki-laki itu. Dia terlihat curi-curi pandang.


Astaga! rok Datul... pantas saja dari tadi matanya jelalatan!


Buru-buru Hamam membuka ransel miliknya. Mengambil kain sarung dan langsung membungkus tubuh bawah Datul.


Begini lebih aman! Ini gadis juga ngeyel dari tadi kalau di beri tahu.


Mas Hamam dongkol hingga ikut tertidur.


_


_


$


Kalian, ya kalian! kalau enggak komen aku ngambek😌

__ADS_1


__ADS_2