Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Martabak dan Terang Bulan


__ADS_3

Sampai di wilayah kecamatan Sambi, Maya menepuk pundak Adi.


"Mas, cari martabak dulu yuk"


Adi mendengus kesal, tapi juga tidak bisa menolak.


'Itu perut apa karet sih, dari tadi makan melulu', gerutu Adi sambil berhenti di sebuah kedai martabak di selatan jalan raya.


Maya langsung turun. Kebetulan lagi sepi, cuma ada 2 pembeli dan tinggal membungkus sepertinya.


"Mas, martabak telur super jumbo 1 sama terang bulan rasa keju coklat 1 dan coklat susu 1 ya?", ujar Maya sambil duduk di kursi tamu.


"Assiaapp non, di tunggu ya", jawab mas mas penjual martabak tak kalah alay dengan si Didik.


Adi masih nangkring ganteng diatas motor nya.


"Mas ,sini...", teriak Maya sambil menepuk kursi plastik di sebelah nya.


Adi turun, lalu mengambil rokok Diplomat favoritnya sambil duduk di sebelah kiri Maya. Menyulut nya, dan bersantai melemaskan otot-otot.


Adi tidak sadar saat Maya selfi dengan background kedai martabak. Otomatis Adi juga kejepret foto selfi alay ala Maya.


Sekretaris CV Barata Konstruksi itu rupanya tak ingin melewatkan momen sekecil apapun saat bersama Adi.


Karna menemukan momentum bersama Adi itu ibarat memancing ikan di air keruh. Sulitnya bukan main.


Lagipula martabak ini juga termasuk rencana Maya untuk mendekati anak Adi. Karna Maya tau, Cinta sangat suka martabak dan terang bulan.


Setelah menunggu satu jam, akhirnya pesanan Maya hampir selesai. Tinggal menata dalam kotak makanan.


"May, emang buat apa sih beli martabak dan terang bulan sebanyak itu?


Itu perut muat apa?", tanya Adi kepo.


"Enak aja, emang perut ku karet apa?


Ini itu gak buat aku mas", jawab Maya sambil mengambil duit 100 ribu dari dompet Hermes KW nya.


"Lha terus buat siapa dong?


Bos Alex? Pak Dedy?", Adi masih penasaran.


"Bang Alex gak suka martabak. Papa gak boleh makan yang manis-manis, takut gula nya naik", jawab Maya sambil mendekat mas mas penjual martabak.


"Berapa mas?? ".


"68 mbak, martabak 30 sama terang bulan nya masing masing 19 ribu. Jadi total 68 ribu", ujar mas mas penjual martabak seraya menerima duit 100 ribu dari Maya.


Setelah menerima kembalian 32 ribu, dan 3 kotak makanan, Maya bergegas menuju motor Adi. Si empunya motor sudah stay at motor sambil merapikan helm nya.


"Mas, tolong pegang sebentar", Maya menyerahkan kotak makanan. Adi menerima nya, lalu Maya memakai helm retro.


Setelah beres, Maya segera mengambil kembali kotak makanan berisi martabak dan terang bulan dari Adi.


"Mas sebelum pulang, mampir dulu ke rumah mu", kata Maya sukses membuat Adi mendelik.


Hahhhh


"Mau ngapain?",Adi tak paham.


"Udah jalan aja. Ribet amat pakai tanya segala. Buruan", ucapan bossy ala Maya meluncur indah.


Adi menggerutu dalam hati.


Motor Adi melesat cepat, di perempatan lampu merah kecamatan Selo, Adi belok kiri.


Saat melewati jalan depan rumah Heni, ternyata si Heni lagi duduk di teras tapi Adi tak melihat.


Heni yang hapal motor Vixion kesayangan Adi memandang tajam ke arah motor Vixion yang menghilang di kegelapan malam.

__ADS_1


'Mas Adi sama siapa tuh? Kog kelihatan mesra banget', batin Heni seraya menyambar hpnya.


Buru buru membuka aplikasi WA dan mencari kontak Adi.


*Assalamualaikum Mas Adi


Mas Adi sama siapa tuh*?


cling..


Centang dua abu abu.


Heni menanti balasan Adi dengan tidak sabar.


Sampai di rumah Adi segera memarkir motornya. Maya bergegas turun.


Kriettttt..


Pintu rumah terbuka. Wajah Bu Siti terlihat setengah mengantuk.


Mendengar motor Vixion kesayangan ayahnya, Cinta yang asyik nonton TV segera berlari ke ruang tamu.


"Ayaaaahhhhh", teriak gadis kecil itu menghamburkan ke Adi.


"Kan nunggu ayah pulang", jawab Cinta sambil memeluk leher ayahnya.


"Itu siapa yah?", tanya Cinta menunjuk Maya.


Adi sampai lupa dengan Maya.


"Sorry May, yuk masuk dulu.


Cinta, itu Tante Maya. Teman kerja nya Ayah".


Adi lalu menurunkan Cinta dari gendongan nya.


"Cinta, salim dulu sama Tante Maya", bocah itu menurut.


Adi masuk ke rumah sambil menggandeng tangan Cinta, di ikuti Maya mengekor di belakang.


Begitu masuk rumah Bu Siti segera mendekati anaknya.


"Ini siapa le kog malam malam kamu ajak kemari? ", tanya Bu Siti setengah berbisik.


Jam sudah menunjuk pukul 21.00


"Sekretaris kantor Adi Bu. Ini kenalkan namanya Maya, adik bos Alex. Maya ini ibu ku", ujar Adi memperkenalkan mereka.


"Owalah adik nya bos Alex ya?


Cantik sekali", ujar Bu Siti sambil mengulurkan tangannya.


Maya buru buru mencium punggung tangan Bu Siti. Ini camer ku, batin Maya setengah gugup.


Maya langsung menyerahkan kotak makanan berisi martabak dan terang bulan pada Bu Siti.


"Apa ini May?", tanya Bu Siti sambil tersenyum.


"Itu itu martabak dan terang bulan Bu, untuk ibu sama Cinta iya sama Cinta", Maya gagap gara gara salting abis.


"Waduh merepotkan saja. Terimakasih loh May.


Cinta bilang terima kasih sama Tante Maya", perintah Bu Siti ke Cinta.


"Terimakasih Tante Maya", ujar Cinta membeo.


Jantung Maya sepertinya mau copot karna berdetak kencang terus.


'Yes, selangkah lagi aku jadi nyonya Adi', batin Maya bahagia.

__ADS_1


"Bu, karna sudah malam, saya mohon pamit. Saya pinjam mas Adi sebentar ya buat nganterin pulang", ujar Maya sopan.


"Ya sudah gak apa apa. Nanti jangan ngebut jalan nya. Asal selamat sampai di rumah", ujar Bu Siti.


"Permisi Bu,


Wassalamu'alaikum"


"Walaikumsalaam"


Usai pamitan, Adi langsung men-start motor Vixion kesayangannya. Maya langsung naik. Lalu motor Vixion itu melesat menembus gelap malam menuju kota Patria.


Cinta tersenyum senang mendapat martabak sosis campur kesukaan nya.


Dengan lahap, gadis kecil itu sudah menghabiskan 3 potong martabak.


Sementara Bu Siti tersenyum simpul, sambil mengunyah terang bulan.


Maya tersenyum bahagia saat di jalan. Tangan nya mendekap tubuh Adi. Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di kediaman Barata di kota Patria.


Satpam keamanan kompleks perumahan mengenali Maya, dan melambaikan tangan saat melihat Maya masuk diantar Adi.


Saat sampai di rumah, Maya memencet bel pintu gerbang. Wati, ART keluarga Barata tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.


"Gak mampir dulu mas?", tanya Maya sambil memegang lengan Adi.


"Sudah malam May, gak enak sama tetangga", tolak Adi halus.


"Ya udah mas Adi hati hati, jangan ngebut", Maya mundur selangkah.


Adi hanya mengacungkan jempol nya lantas memutar motor Vixion kesayangannya keluar dari kompleks perumahan.


Malam ini terasa sangat sepi. Adi terus memacu kuda besi nya melintas di jalan raya.


Setengah jam berlalu, Adi sudah kembali ke habitat aslinya. Bu Siti dengan mata merah, membuka pintu lalu kembali ke tempat tidur nya.


Adi memasukkan motor Vixion kesayangannya itu. Mengunci pintu dan menuju tempat tidurnya. Saat melintas di ruang TV, kotak martabak telor masih terbuka dan beberapa potong masih tersisa.


Perut Adi yang keroncong, segera membantai habis potongan martabak yang ada.


Malam semakin larut, Adi bergegas berdiri dan menuju ke kamar nya. Badan nya pegal sekali seharian di perjalanan.


"Waktu nya tidur"..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Iya nih memang waktu nya tidur ya..


Author juga mulai ngantuk.


Selamat beristirahat readers

__ADS_1


Have a nice *****..


__ADS_2