
Bu Sarmi menarik Adi untuk masuk rumah di ikuti Indri dengan kruk nya. Sesampainya di dalam rumah, Bu Sarmi membujuk Dhea agar mau turun dari gendongan Adi. Sedikit ancaman berhasil membuat Dhea mau menuruti Bu Sarmi untuk mandi.
Setelah Dhea dan Bu Sarmi ke kamar mandi, Narsih istrinya Wawan mengantarkan kopi atas perintah Bu Sarmi.
" Om ganteng,
Kenapa pakai repot repot segala sih?
Jadi gak enak deh", protes Indri saat mereka sudah duduk berdua di ruang tamu.
"Tolong menolong itu wajib hukumnya, apalagi menolong calon mertua itu besar pahalanya karena bisa dapat anaknya", ucapan songong itu meluncur mulus dari mulut Adi.
Mulut Indri melongo mendengar omongan Adi.
'Calon mertua? Dapat anaknya? Maksudnya si Om Ganteng adalah....'
Wajah cantik Indri langsung merona merah setelah memahami omongan Adi.
'Dasar pria kejam. Pintar sekali mengobrak abrik hati ku', batin Indri sambil tersenyum tipis.
"Cieee ada yang diam-diam suka nih yee?", goda Adi melihat Indri yang memerah wajahnya.
"Ihhh apaan sih Om, nyebelin banget deh", protes Indri yang tak tahan di goda terus menerus sama Adi. Wajah nya memerah seperti kepiting rebus.
Binar mata Indri tidak bisa di sembunyikan. Entah mulai kapan, Indri menyukai lelaki yang berusia terpaut jauh dengan nya. Ada rasa nyaman saat menerima segala gombalan maut dari Adi. Semakin hari semakin besar rasa sayang dan kagum nya pada duda beranak satu itu.
Adi pun sama. Dia suka kepolosan dan sikap Indri yang apa adanya. Adi tidak pernah menilai seseorang wanita hanya karena sikap manis yang dilakukan saat bertemu dengan nya. Terhadap Maya dan Heni, dia sebatas menghargai. Tidak lebih. Hanya Adi perlu waktu untuk meyakinkan bahwa Indri juga mencintai nya.
Trauma kandasnya hubungan dengan Niken adalah penyebab utama dia berhati-hati dekat dengan perempuan.
"Ayaaaahhhhh"
Teriakan Dhea yang baru saja mandi dan masih memakai handuk mengagetkan mereka berdua.
Bocah cilik itu berlari menghambur ke arah Adi dari dapur. Bu Sarmi yang mengejar nya ngos-ngosan mengatur nafas.
"Ehh anak ayah sudah mandi, kenapa belum pakai baju?", tanya Adi sambil mengangkat tubuh mungil bocah itu ke ranjang.
"Mau dipakaikan sama ayah", ujar gadis kecil itu sambil menggigit tangan nya.
"Dhea, jangan nakal deh. Sana sama ibuk pakai nya", Indri melotot ke arah Dhea.
"Gak mau. Maunya ayah", Dhea tak mau kalah.
"Sudah sudah jangan ribut. Sini ayah yang pakaikan. Mana baju nya Dhea?", Adi mencari baju buat gadis cilik itu.
Bu Sarmi buru buru mendekati Adi sambil mengulurkan baju Dhea. Sebenarnya Bu Sarmi tadi sudah mau memakaikan baju, tapi Dhea keburu kabur ke arah Adi.
Dengan cekatan, Adi memakaikan baju pada Dhea. Gadis kecil sangat menurut pada Adi.
Bu Sarmi dan Indri hanya tersenyum saja melihat Dhea yang sangat jinak saat di dekat Adi.
Sementara itu, di dapur para ibu ibu yang sibuk memasak terus asyik membicarakan tentang Adi.
__ADS_1
"Kata Yati, itu calon nya Indri duda ya yu?", ujar Yu Nem sambil menggoreng tahu. Wanita paruh baya memang pintar mencari bahan gosip.
"Kata Yati sih begitu. Tapi Yo tidak masalah to. Indri janda dan dia duda, Tumbu oleh tutup (Tempayan dapat tutup). Pas to?", jawab Bik Sum sambil memasukkan kayu bakar ke tungku.
Narsih, istri Wawan hanya mendengar saja. Dia memang tak banyak bicara.
"Lha benar itu, kalau Indri gak mau, dia tak kenalkan saja sama Suci. Pasti Suci mau, wong dia ganteng, bos lagi. Siapa yang nolak coba?", sahut perempuan berambut putih yang bernama Sudarti sambil terus mengiris bawang merah.
Yu Nem mendelik.
"Lah, jangan harap Dar. Wong kelihatan kog kalau Indri juga suka sama pak bos itu. Dhea saja lengket gitu. Kita doakan saja mereka berjodoh dan segera di resmikan", jawab Yu Nem.
"Aamiin", sahut Bu Yati yang baru masuk dari pintu belakang usai merampok uang saku yang di terima pak Wito.
"Kamu darimana Ti? Kog tiba tiba ngilang saja?", tanya Bik Sum yang memperhatikan Bu Yati.
Perempuan itu tersenyum lebar. Dia merogoh kantong dasternya dan memamerkan duit 50 ribu.
"Nih, upah Pak Wito dari calon nya Indri. Cuma ngangkut dus dapat 50 ribu".
Para perempuan di dapur langsung heboh.
Bu Sarmi yang baru masuk dapur terheran heran melihat tingkah para tetangga dan saudara nya itu.
"Ada apa to? Kog ribut terus".
"Itu yu, Yati dapat duit 50 ribu. Katanya upah ngangkut dus. Dari calon mantu mu", jawab Sudarti menunjuk Bu Yati yang sedang mengibaskan duit 50 ribu di tangan nya.
Bik Sum segera membungkus nasi dan lauk sesuai permintaan Bu Sarmi.
Sementara itu, Adi dan Indri yang sedang duduk ruang tamu asyik berbincang dengan Dhea sebagai pengganggu. Kadang ada tawa kecil menyertai perbincangan mereka.
Tak terasa sudah jam 5 lebih, hampir magrib. Wawan yang mengundang tetangga sudah kembali. Tampangnya tetap saja di tekuk saat berhadapan dengan Adi.
Adi melihat jam tangannya.
"Ndri aku pulang dulu ya. Besok tak mampir lagi", ujar Adi sambil mengulurkan tangannya.
Indri mengangguk pelan dan meraih tangan Adi lalu mencium punggung tangan nya.
"Dhea, ayah besok kesini lagi ya. Dhea gak boleh nakal", Adi berjongkok sambil mengulurkan tangannya. Tumben Dhea nurut dan mencium punggung tangan Adi. Duda beranak satu itu gemas dan mencium pipi Dhea. Tak lupa Adi memberikan duit 20 ribu untuk jajan Dhea.
"Buukkk ..
Om ganteng mau pulang ini", teriak Indri.
Bu Sarmi buru buru menyambar tas plastik berisi nasi dan lauk sambil berlari menuju teras. Perempuan tua itu segera mendekati Adi.
"Apa ini Bu?", tanya Adi heran saat Bu Sarmi mengulurkan tangannya yang ada tas plastik nya.
"Bukan untuk kamu, tapi untuk cucu ku Cinta. Kamu bawa pulang", jawab Bu Sarmi singkat.
"Terimakasih buk", Adi lalu membuka tas nya dan menaruh tas plastik itu disana.
__ADS_1
Adi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Bu Sarmi menyambut nya.
Usai berpamitan, Adi memacu motornya menuju ke jalan raya. Bu Sarmi terus memandangi perginya Adi sampai di tikungan jalan.
"Mau apa dia kesini buk? Aku tak suka dengan dia", ujar Wawan dengan muka kesal.
"Dia kesini pasti ada perlu sama Indri. Kenapa kamu sewot?", Bu Sarmi mendelik tajam.
"Dia itu sudah menyebabkan kaki Indri retak Buk, pasti dia baik baik sama kita supaya tidak kita tuntut", Wawan melengos kesal.
"Kamu kalau ngomong selalu tidak pakai otak ya? Coba kalau dia tidak ngurusi Indri di rumah sakit, membayar semua biaya nya, membenarkan motornya kang Mis, trus kamu gitu yang menanggung biaya nya?.
Lagian dia kesini tadi membawa sembako, nyumbang banyak untuk tambah slametan bapakmu, apa masih kurang buat mu?", omelan Bu Sarmi seketika membuat Wawan terdiam.
"Goblok boleh tolol jangan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.......
^^^*Nih mumpung lagi senggang, author kasih bonus update chapter selanjutnya untuk reader yang budiman.^^^
😁😁😁😁
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis yah dengan like vote dan komentar nya
Selamat membaca 😁😁😁*
__ADS_1