Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Kerupuk Udangnya Ketinggalan


__ADS_3

Ucapan Dhea sontak membuat semua orang tertawa. Tak terkecuali Adi dan Indri.


"Sudah siap tambah berapa anak lagi Ndri??", gurau Pak Jarno menatap Indri.


Indri cengar-cengir sendiri tak tahu harus menjawab apa. Adi langsung memajukan tangan nya, dan 5 jari mekar semua.


Gerrrrrrr


Kembali tawa menghiasi ruang tamu rumah Bu Sarmi.


Cinta segera mendekati adik baru nya itu. Dhea segera salim dan mencium punggung tangan Cinta. Lalu mereka berdua segera mendekati ayah dan ibunya.


Dhea minta gendong Adi dan Cinta menggelayut mesra di lengan Indri. Semua orang melihat adegan langsung terharu. Cinta seperti menemukan sosok ibu yang tidak pernah dia dapat pada Niken. Sedangkan Dhea menemukan sosok ayah yang tidak pernah dia temui pada Adi.


Bu Sarmi dan Bu Siti sampai berkaca-kaca saat melihat pemandangan itu.


"Mereka pasangan serasi ya jeng?", ujar Bu Siti tanpa memalingkan wajahnya dari pemandangan itu.


"Iya Bu, semoga mereka selalu rukun ayem tentram sampai maut memisahkan", balas Bu Sarmi yang juga terus melihat interaksi janda dan duda itu.


Dari ruang tamu,


Wawan segera memberi kesempatan kode pada kru dapur untuk mengeluarkan aneka jajan dan minuman.


Pisang goreng, pukis pandan wangi, nagasari, bikang, roti kukus serta molen pisang secara berurutan mengalir dari dapur ke ruang tamu.


Nita langsung cekrak cekrek memfoto setiap momen yang ada. Ratu gosip Nanik pun tak kalah. Puluhan unggahan lebay langsung nangkring di postingan FB dan IG nya.


"Bapak Ibu, monggo camilan nya di coba. Asli bikinan sendiri tidak pakai beli", ujar pak Jarno begitu jajan dan minuman sudah terhidang.


Semua orang segera bergerak meraih jajan yang tersaji di piring piring itu.


"Ayah mau itu", ujar Dhea menunjuk pada roti kukus berwarna merah muda itu.


Adi langsung meraih satu roti kukus dan memberikan nya pada Dhea.


Pandangan Cinta pada pukis pandan wangi membuat Indri sadar. Perempuan itu segera meraih piring pukis dan menyodorkan pada Cinta.


"Mbak cantik mau ini?".


Cinta segera mengangguk tanda mengiyakan.


"Ayo ambil nak. Jangan malu-malu. Ini rumah kamu juga loh", Indri tersenyum manis. Cinta segera meraih dua pukis pandan wangi.


Indri pun melakukan hal yang sama. Cuma Adi dari tadi yang tidak menyentuh makanan ringan itu. Melihat itu, Indri langsung ingat bahwa Adi tidak suka makanan manis. Indri segera menjawil Nanik yang ada di belakang nya.


"Nik, tolong carikan tahu atau apa gitu di dapur. Mas Adi tidak suka makanan manis", bisik Indri.


Nanik segera beringsut mundur ke belakang.


"Ada apa Nik?", tanya Bik Sum saat Nanik masuk dapur.


"Itu calon nya Indri, Mas Adi tidak suka makanan manis. Ada gak tahu goreng atau tempe gitu?", Nanik celingukan mencari di semua sudut ruangan.


"Eh aku tadi beli gorengan. Tahu bluntak sama weci. Itu tak taruh di pogo Nik", ujar Bu Yati sambil menunjuk rak gantung alias pogo yang ada diatas kepala Nanik.


Nanik segera mengambil kresek hitam di atas rak gantung dan menuang isinya keatas piring. Lalu segera membawanya ke ruang tamu.


Indri menerima piring berisi tahu bluntak dan weci itu, dan segera menyerahkan pada Adi.


"Khusus buat calon suami ku yang paling ganteng", Indri tersenyum tipis. Adi menerima nya dengan terkekeh geli.


Sambil menyantap jajan, Pak Jarno bertanya pada Pak Puh Bud yang ada di dekatnya.


"Kira kira kapan kita nikahkan mereka Pak?


Kasihan loh si Dhea, sudah ngebet pengen punya adik".


Gerrrrrrr


Tawa terdengar lagi dari ruang tamu rumah Bu Sarmi itu. Indri dan Adi sama sama tertunduk malu.

__ADS_1


"Kami dari pihak laki-laki memasrahkan mengenai kapan mereka ijab kabul pada pihak perempuan Pak Jarno, yang penting kalau bisa secepatnya hehehehe", Pak Puh Bud tersenyum tipis.


Uhuk uhuk


Adi langsung tersedak tahu bluntak akibat omongan Pak Puh Bud.


'Dasar pak Puh. Seenaknya saja mutusin perkara', gerutu Adi dalam hati.


"Pelan-pelan to mas makannya, tuh tersedak kan?", Indri segera meraih teh gelas yang ada di dekatnya dan menyerahkan pada Adi.


Adi segera meminum teh itu dalam sekali tenggak.


"Kalau begitu, malam Rabu depan biar kami yang berkunjung kesana. Memastikan tanggal dan hari untuk ijab kabul anak anak kita", ujar Pak Jarno sambil tersenyum simpul.


"Monggo Pak, kami sekeluarga akan menunggu kedatangan panjenengan semuanya", ujar Pak Puh Bud dengan tangan terbuka.


Wawan kembali memberi kode kepada Narsih istrinya.


Kuartet ghibah di dapur segera menata soto ayam dalam nampan besar.


Nanik segera ikut ke dapur untuk membantu. Lalu Nanik dan Narsih segera menjinjing nampan lalu membawanya ke ruang tamu.


Dengan sopan Wawan menaruh piring berisi soto ayam khas kota Patria pada segenap orang yang hadir di acara itu.


"Monggo, dipun dahar sak wontenipun. Sekecakaken nggeh. (Mari, dimakan seadanya. Dinikmati ya)", ujar Pak Jarno sambil tersenyum simpul.



*visual soto ayam kampung khas kota Patria*


*pict by Google*


Bu Siti dan keluarga nya segera memegang piring masing masing. Mereka mulai menikmati soto ayam nya.


Bik Sum yang di dapur sedang mengingat-ingat sesuatu.


'Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya?'


"Gak lo Dar, cuma aku ngerasa ada yang kurang gitu. Tapi apa ya?"


"Sek sek sek,


Kerupuk udang tadi kamu taruh dimana Ti?", tanya Yu Nem sambil menatap wajah Bu Yati setelah mendengar keluhan Bik Sum.


Mereka berempat segera menoleh toples plastik mika yang ada di ujung meja dapur.


"Ya ampun.....


Kerupuk udang nya ketinggalan", teriak mereka kompak.


Sudarti segera bergegas mengambil toples plastik mika itu dan membawanya ke ruang tamu.


"Ngapunten, kerupuk udang nya ketinggalan", ujar Sudarti sambil tersenyum malu-malu. Usai berkata demikian, dan meletakkan toples plastik mika itu, Sudarti langsung menghilang ke dapur.


Bu Siti tersenyum simpul, sedangkan Bu Sarmi langsung membuka tutup toples plastik mika itu dan menawarkan kerupuk udang tadi pada Bu Siti.


"Monggo Bu, maaf lo ya", ujar Bu Sarmi sambil tersenyum.


"Gak papa jeng. Kita kalau di dapur kan sering kelupaan seperti ini", Bu Siti lalu mengambil sepotong kerupuk udang.


Adi dengan telaten menyuapi Dhea sedangkan Indri juga menyuapi Cinta. Mereka terasa memiliki ikatan batin yang kuat.


"Ayah gak makan?", tanya Dhea yang dari tadi melihat Adi hanya menyuapi nya.


"Nanti ayah makan. Sesudah Dhea kenyang, baru ayah makan.


Iya kan yank?", Adi melirik Indri yang juga menyuapi Cinta.


"Betul itu mas, Mbak cantik juga harus makan banyak biar sedikit gendut ya", balas Indri sambil tersenyum penuh arti. Cinta tak menjawab, tapi setiap suapan Indri dia selalu membuka mulutnya.


Usai acara makan, Pak Puh Bud menatap wajah Adi. Duda beranak satu yang baru bertunangan lagi itu segera melirik jam tangannya, sudah menunjuk angka 21.00.

__ADS_1


Adi mengangguk dan Pak Puh Bud segera berpamitan.


"Kami pulang dulu ya Nduk.


Sampai ketemu hari Rabu depan", ujar Bu Siti pada Indri.


"Iya buk, hati hati nggeh di perjalanan", Indri mencium punggung tangan Bu Siti.


Adi pun menyalami Indri, dan perempuan cantik itu segera melakukan hal yang sama.


Rombongan Adi sekeluarga meninggalkan rumah Bu Sarmi dengan perlahan. Bu Sarmi, Pak Wito, Pak Jarno dan Wawan mengantarkan mereka sampai di pagar halaman rumah.


"Ayah kog pulang lagi buk?", tanya Dhea dengan polosnya.


"Sabar ya nak. Sebentar lagi kita akan bersama ayah setiap hari. Dengan catatan, Dhea tidak boleh nakal", Indri menjawab pertanyaan Dhea dengan lembut.


Nanik yang dari belakang langsung menepuk pundak Indri.


"Woy, selamat ya Ndri. Akhirnya kamu punya jodoh yang baik. Samawa ya".


"Eh biang gosip, belum saatnya bilang samawa dodol. Nanti setelah ijab kabul baru kamu boleh bilang begitu", Indri mulai melepas bulu mata palsu yang di pasang Nanik tadi.


"Lah sama saja sekarang atau nanti, toh kamu sudah pasti jadi nyonya Adi.


Eh ngomong-ngomong kamu sudah pernah gituan belum sama Mas Adi?


Secara kamu janda dan dia duda, sama sama sudah pernah merasakan surga dunia", Nanik nyerocos kayak ember plastik bocor.


Indri mendelik tajam kearah Nanik, sedikit ketus dia menjawab.


"Dasar otak mesum,


Belum saatnya untuk itu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duhh ni keong racun benar benar ya 😁😁😁


Walaupun janda sama duda sudah pernah begituan, belum tentu kalau pacaran langsung kikuk kikuk loh 😂😂😂


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya..


Temani author terus sampai cerita ini end ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2