
Indah tertawa kecil mendengar kata kata Maya.
Namun hatinya juga bersyukur bahwa teman SMA nya itu bersama pujaan hatinya. Maya di SMA terkenal sebagai gadis es batu, tidak pernah mengenal cowok sama sekali.
Maya menyantap soto nya dengan lahap. Rasa laparnya mengalahkan ego jaim nya.
Adi melirik ke arah Maya.
"Ini anak lapar atau kesurupan?', batin Adi saat Maya meminta satu porsi soto lagi.
Mereka berempat menghabiskan soto nya, dan berpisah kemudian. Adi dan Maya ke selatan, Dian dan Indah ke utara.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 saat Adi dan Maya meluncur ke kota. Kemana lagi kalau bukan ke kantor CV Barata Konstruksi. Mobil Maya masih terparkir di sana. Adi segera memacu kuda besi nya menuju kesana.
Adi dan Maya tiba di kantor saat Agung mau menutup pintu kantor.
"Lho mas Adi dan mbak Maya balik kesini lagi toh? Tak kira langsung pulang ke rumah", Agung membuka lagi pintu kantor.
"Itu mobil siapa yang jaga Gung? Kalau ada satpam sih gak masalah, kalau gak kan bahaya. Mana di mobil ada berkas berharga lagi",ujar Maya sambil membuka pintu mobil nya.
"Aku numpang mandi dulu ya? Sebentar doang", Adi berlari menuju kamar mandi. Agung terpaksa menunggu Adi selesai mandi sedang Maya memang masih ada kepentingan, memilih pulang lebih dulu.
"Makasih ya Gung", ujar Adi sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
"Ada acara mas? Tumben sekali numpang mandi di kantor", tanya Agung penasaran. Soalnya ini di luar kebiasaan Adi.
"Biasa, ABG Gung. Malam minggu mejeng dong hehehe", Adi terkekeh geli. Segera dia menyisir rambutnya dan memakai baju yang di simpan di ranselnya.
Selesai berdandan, Adi segera keluar dari kantor. Pakaian ganti nya sudah masuk ranselnya. Setelah berpamitan pada Agung, Adi memacu kuda besi nya pelan.
Di warung langganan nya, Adi berhenti. Membeli sebungkus rokok Diplomat favoritnya, dan minuman soda dingin.
"Mau kemana mas? Kog udah rapi gitu?", tanya Bu Yus sambil memperhatikan Adi.
"Ada acara Bu, tadi terpaksa numpang mandi di kantor. Kalau pulang dulu, pasti telat", jawab Adi sambil menyulut sebatang rokok Diplomat.
"Oh pantes aja, pasti acara sama perempuan ya?, senyum Bu Yus penuh arti.
Adi auto salting abis.
'Ini ibuk ibuk punya Indra ke enam ya? Kog tebakan nya jitu melulu', batin Adi.
"E-eh enggak kog Bu, cuma undangan makan malam di rumah teman".
"Hehehehe, kalau di rumah perempuan juga tidak masalah. Kan mas juga sendiri. Iya to?", Bu Yus kembali tersenyum tipis sambil memberikan kembalian uang.
Adi menerima dan segera keluar dari warung.
Bu Yus menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Adi masih di pom bensin dekat kantor. Usai sholat magrib, pria itu duduk di serambi musholla pom itu.
Hatinya bimbang. Haruskah dia ke tempat Depi?
Sementara Depi di rumahnya sudah menyiapkan makanan kecil. Rumah Depi sepi. Ibunya sedang ke tempat kakak perempuannya.
'Malam ini rencana balas dendam pada lelaki brengsek itu harus terlaksana', batin Depi sambil melirik jam dinding.
Ya, dendam Depi pada suaminya membuat nya harus melibatkan Adi.
Ting tong
Ting tong
__ADS_1
Suara bel membuat Depi segera bergegas menuju pintu rumah. Begitu terbuka, wajah Adi terpampang di situ.
"Masuk mas, yuk", sambut Depi sambil tersenyum dan menarik tangan Adi.
Adi duduk di sudut sofa berwarna krim.
"Mau minum apa mas? Kopi, teh atau susu?", Depi menekan suara pada kata susu membuat Adi mengerutkan keningnya.
"Apa aja, asal bukan racun hehehehe", jawab Adi bersenda gurau.
Depi tersenyum tipis dan segera menghilangkan di balik korden menuju dapur.
'Kenapa sepi sekali? Kemana keluarga nya?', batin Adi memperhatikan kondisi rumah itu.
Sementara itu, Depi membuat teh di dapur. Tangan kiri nya merogoh sesuatu dari balik saku jaketnya, dan menaburkan ke minuman untuk Adi. Depi tersenyum simpul.
Kemudian perempuan itu berjalan ke ruang tamu. Dan menaruh minuman untuk Adi.
"Silahkan mas, mumpung masih hangat",ujar Depi sambil duduk di sofa.
"Kog sepi Dep? Kemana keluarga mu?", tanya Adi sambil menyerupai teh buatan Depi. Rasanya agak lain.
'Mungkin beda merk sama bikinan ibuk', batin Adi.
"Ibu ke rumah Kak Siska mas, mungkin nginep disana", ujar Depi sambil membuka jaketnya.
Mata Adi melotot melihat Depi dengan pakaian malam dengan belahan dada rendah. Membuat gunungnya yang besar terlihat jelas.
Adi berusaha mengalihkan perhatian nya.
"Katanya mau minta bantuan. Bantuan apa Dep?.
Depi tersenyum manis, kemudian bercerita tentang kisah rumah tangga nya yang di khianati suami nya.
Adi mendengar semua cerita Depi tapi entah kenapa badan nya terasa gerah. Keringat mulai bercucuran dari kening nya. Adi membuka kancing baju nya.
Depi tersenyum tipis, lalu mendekat ke arah Adi.
"Kalau gerah di buka aja mas bajunya", Depi berbisik mesra di telinga Adi.
Seperti kerbau di cocok hidung nya, Adi menuruti apa kata Depi. Wanita cantik itu menelan ludah sendiri saat dada bidang dan perut six pack Adi terpampang jelas di depan mata nya.
"Eh mas, ke dalam aja yuk. Disini panas biasanya", ucap Depi bagai hipnotis.
Depi menarik tangan Adi dan lelaki itu hanya menurut saja.
Depi menarik Adi ke kamar nya, dan selanjutnya mereka bergelut dengan desahan nikmat dan lenguhan panjang.
Hampir 3 jam Adi menggeluti Depi, melepaskan birahi nya. Saat pengaruh obat itu menghilang, Adi mendapatkan kesadarannya kembali. Depi tertidur pulas di sisinya.
Pelan pelan, Adi memakai pakaian nya. Kemudian melangkah keluar rumah Depi, setelah menutup pintu rumah dari luar.
Adi galau. Dia merasa begitu bodoh. Adi menjalankan motor nya dengan pikiran kosong.
Dan brakk...
Suara keras beradunya sepeda motor membuat Adi tersadar. Seorang perempuan terjatuh. Adi bergegas turun. Di dekati nya perempuan itu dan itu.....Indri, si penjual kopi.
"Ka-Kamu? Gak papa?", Adi kaget melihat Indri jadi korban tabrakan nya.
"Loh om ganteng, kog bisa? Aduhhh..", rintih Indri memegangi kaki kanan nya.
Di belakang Indri, seorang wanita paruh baya mendekat. Dia mengenali wajah Indri. Dia tetangga Indri.
"Lho kenapa Nduk?".
__ADS_1
Adi langsung menyahut.
"Saya yang salah, tolong jaga motor nya Indri. Biar dia saya antar ke rumah sakit".
"Iya iya cepat ya mas".
Dengan bantuan tetangga nya, Indri di naikan ke jok belakang motor Adi. Kemudian Adi memacu motornya ke rumah sakit daerah.
Begitu sampai di UGD, perawat dan dokter segera menolong Indri yang wajahnya pucat menahan sakit.
Adi menunggu dengan harap harap cemas.
Seorang perawat mendekati Adi.
"Keluarga saudara Indri?".
"I-iya sus, gimana keadaan Indri sus?", tanya Adi gugup.
"Saudara tenang saja, hanya retak tulang betis. Setelah di gips, saudara bisa menjenguknya. sekarang kita ke ruang administrasi dulu", ujar suster yang berjalan menuju ruang administrasi. Adi mengikuti nya.
Setelah menyelesaikan administrasi dan membayar biaya, Adi bergegas menuju ruang perawatan. Nampak Indri sedang berbaring dengan wajah pucat. Rupanya perempuan itu masih terpengaruh obat bius saat pemasangan gips tadi. Adi menarik nafas lega. Karena kecapekan, Adi ketiduran di kursi di samping Indri.
Pagi menjelang tiba. Indri terbangun mengerjap matanya berulang kali mencoba mengingat kejadian semalam. Saat ingatan nya pulih, pandangan mata nya justru jatuh pada lelaki yang tidur di kursi di samping nya.
"Om ganteng..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah selanjutnya??
Simak terus guys..
Jangan lupa dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya
__ADS_1
Terimakasih sebelumnya 😁😁😁