
Seharian itu Adi hanya rebahan saja. Walaupun rasa sakit akibat jatuh sudah jauh berkurang, tapi masih juga belum sembuh benar.
Dan Indri yang harus menjemput Dhea dan Cinta karena tidak tega melihat Adi yang masih belum fit.
Keesokan harinya Adi yang sudah mendingan, akhirnya mulai menjalankan kewajibannya. Pagi itu Adi berangkat ke lokasi proyek Bu Rini karena hari ini mulai dropping material. Sebelum ke lokasi, Adi masih sempat mengantar Dhea dan Cinta ke sekolah. Adi melajukan motornya menuju ke lokasi proyek.
Tiinnnn
Tinnn
Suara klakson motor terdengar dari belakang dan dari spion Adi melihat Heni menyusulnya.
Saat mereka berjajar, dengan sedikit berteriak Heni bertanya kepada Adi.
"Mau kemana mas?".
"Ya kerja dong Hen, aku punya kewajiban kog", jawab Adi sambil terus memandang jalan di depan nya.
"Oh iya hati hati mas, jangan ngebut", teriak Heni.
Adi hanya mengacungkan jempol nya kemudian berbelok ke kiri menuju Desa Wentar yang berjarak sekitar 12 km dari rumah Adi. Sedang Heni di perempatan jalan belok kanan menuju ke tempatnya bekerja.
Sepanjang perjalanan, Heni terus membulatkan tekad untuk merebut Adi apapun caranya. 15 menit kemudian, Heni tiba di sekolah. Seorang lelaki dengan kacamata tebal segera menyamperi Heni yang baru turun dari motor matic nya.
"Pagi Bu Heni, duh makin cantik aja", ujar lelaki teman seprofesi Heni. Dia bernama Ridwan. Sudah hampir setahun lebih dia mengejar Heni tapi Heni sama sekali tidak memberikan peluang kepada Ridwan. Sudah segala cara dia lakukan agar Heni mau menerima cintanya tapi Heni sama sekali tidak bergeming.
"Pagi Pak, maaf ini sekolah bukan tempat untuk menampung rayuan gombal bapak yang tidak bermutu", jawab Heni dengan ketus. Dia segera ngeloyor pergi ke ruang guru tanpa menoleh ke arah Ridwan. Dengan wajah suram, Heni langsung duduk di meja nya. Tak lama kemudian Ridwan yang meja nya berdekatan dengan Heni masuk.
"Selamat pagi Bu Heni, pagi-pagi kog sudah kusut begitu? Lagi bad mood Bu?", ujar Umi, salah satu wali kelas 10 yang terkenal genit. Dia sangat bertolak belakang dengan dalam penampilan di banding Heni.
"Pagi Bu Um, ya gimana gak bad mood Bu? Orang pagi-pagi sudah ada setan yang tak suka dengan ketenangan orang", sindir Heni pada si Ridwan.
"Ehhh Bu Heni harus sering baca ayat kursi, biar jauh jauh setan nya", Umi yang tidak mengerti sindiran Heni, langsung antusias dengan pernyataan itu.
"Iya Bu, nanti deh saya bacakan ayat kursi biar tuh setan minggat jauh dari hidup saya", nada bicara Heni terdengar ketus.
Tak berapa lama kemudian para rekan guru hadir di ruangan itu, dan percakapan mereka terhenti setelah bel sekolah berbunyi.
Sementara itu, Adi yang baru sampai di lokasi proyek nampak menunggu sebuah dump truk yang sedang menurunkan batu gebal di pinggir jalan tanah. Sambil menunggu, Adi menyulut sebatang rokok Diplomat favoritnya.
Tak berapa lama kemudian, si sopir menghampiri nya.
"Ini mas Adi ya? Mandor proyek nya?", tanya si sopir dump truk yang berumur sekitar 40 tahun itu.
"Enggeh mas, saya mandor nya. Ada apa mas?", tanya Adi kemudian.
"Saya Wanto, saudara nya Pak Budi. Tadi di pesen sama Bu Rini, kalau nota penerimaan di suruh mas Adi yang tanda tangan", ujar si sopir dump truk itu segera.
"Lah kog saya? Biasanya kan si Lukman atau siapa gitu yang tanda tangan", Adi menatap wajah sopir truk itu sedikit curiga.
__ADS_1
"Mas Lukman sudah di pecat mas sama Bu Rini karena penggelapan material", Wanto kemudian bercerita tentang masalah internal di kantor Bu Rini.
"Owh gitu ceritanya. Pantesan pas uitzet kemarin dia gak ikut. Aku sih udah lama curiga dengan dia, cuma tak simpan dalam hati doang.
Untung mas gak ikut terlibat", ujar Adi sambil mengebulkan asap rokok nya.
"Bu Rini tau nya dari saya kog mas. Ya kita kerja kan cari rejeki mas, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga seterusnya kan?
Kalau banyak tapi jadi masalah, mending sedikit tapi terus ada kalau buat saya mas", Si Wanto ikut menyulut rokok yang baru dia ambil dari sakunya.
"Bener banget tuh mas, kita kerja butuhnya gak cuma hari ini doang", ujar Adi sambil menandatangani nota penerimaan barang dari Wanto.
Seharian Adi menunggui Wanto dan seorang temannya yang bolak balik mengirim batu gebal ke lokasi proyek. Hari ini sudah 8 rit batu gebal yang mereka kirim ke lokasi. Jam 3 sore Adi meninggalkan lokasi proyek untuk menemui tukang kepruk batu nya.
Setelah 15 menit naik motor, Adi sampai di rumah Darsiman tukang kepruk batu andalannya.
Darsiman begitu senang mendengar ada pekerjaan untuk nya. Laki-laki paruh baya berbadan gempal itu langsung menyanggupi permintaan Adi.
Saat Adi hendak pulang, sebuah pesan aplikasi WA masuk ke ponselnya. Adi mengecek nya karena di notifikasi terlihat dari Bu Rini.
Setelah membaca, Adi bergegas menuju ke kantor CV Maju Mapan punya Bu Rini di kota Patria. Dia di suruh mengambil lay out pekerjaan yang sudah jadi.
Gara gara printer nya rusak, Adi terpaksa harus menunggu dibetulkan lebih dulu. Sampai menjelang magrib, baru gambar lay out pekerjaan dia bawa.
Akhirnya Adi menumpang sholat di kantor Bu Rini. Usai sholat, Adi yang kelaparan memutuskan untuk mencari makanan sambil pulang ke kecamatan Selo.
Untung saja, tadi Indri sudah di kabari nya.
"Mas, soto 1 ya, minumnya es jeruk aja", pesan Adi segera.
"Loh mas Adi? Darimana mas?"
Mendengar suara yang sangat dikenal nya, Adi menoleh kearah sumber suara itu. Dan Heni duduk disana. Pantas saja tadi Adi merasa mengenal motor matic yang ada terparkir di depan warung tenda itu.
"Eh Heni. Baru dari kantor bos Hen, ngambil gambar lay out pekerjaan.
Kamu ngapain disini?", tanya Adi kemudian sambil duduk.
"Itu mas dari rumah teman di Tulungagung.
Kog sampai malam gini mas ngambil gambar nya?", tanya Heni penuh perhatian.
"Gara gara printer rusak Hen, jadi lama nunggu perbaikan nya.
Kamu ada urusan apa ke Tulungagung? Tumben banget main sampai jauh?", tanya Adi sambil mengambil sepotong babat goreng yang ada didepan nya.
Heni langsung grogi saat Adi menanyakan hal ini.
"I-itu mas, ya main aja ke rumah teman kuliah", ujar Heni terbata-bata.
__ADS_1
Saat itu, makanan pesanan Adi datang ke mejanya. Saat Adi hendak menyendok nya, tiba-tiba sebuah panggilan telepon menghentikan gerakan nya.
Dari pak Purwadi.
Adi buru buru mengangkat panggilan telepon itu dan meninggalkan meja nya. Dia keluar dari warung tenda itu karena tidak mau omongan nya terdengar oleh Heni.
Saat Adi keluar, sebuah pemikiran melintas di kepala Heni. Sesuatu yang dia dapat dari rumah Desi yang baru didapatkannya langsung dia taruhnya dalam makanan Adi.
'Maaf mas, cuma dengan cara ini aku bisa dapatin kamu', batin Heni sambil memasukkan sisa barang yang baru dia taruh di makanan Adi.
Tiba tiba seorang lelaki kurang waras, masuk ke dalam warung tenda itu. Begitu melihat soto daging itu dia langsung menyantap nya. Pemilik warung yang terlambat mengusir terlihat kesal. 3 orang pembeli yang sedang makan langsung menjauh karena bau badan si lelaki itu.
Adi yang baru saja selesai berbincang dengan Pak Purwadi, berniat untuk segera menyantap makanan nya, tapi melihat orang gila ini memakan soto nya, dia hanya tersenyum saja.
"Maaf ya mas, makanan nya di makan orang gila itu.
Saya buatkan lagi", ujar si mas pedagang soto daging itu segera.
"Iya mas gak papa. Agak cepetan ya? Aku lagi lapar nih", jawab Adi sambil terus memandangi si orang gila yang asyik menikmati soto daging itu dengan lahap.
Heni kesal!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf telat update nya 🙏🙏
Selama beberapa hari ke depan author ada beberapa pekerjaan, mohon maaf jika tidak bisa update teratur ya😁😁🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca kak 😁😁