
"Alhamdulillah", ucap Adi sambil tersenyum simpul.
Dia memang berharap memiliki putra setelah memiliki dua putri. Hanya tak menyangka bahwa ia akan mendapatkan dua putra sekaligus. Dia benar benar bahagia.
Indri yang melihat senyum lebar suaminya turut bergembira. Dia tersenyum bahagia.
Sementara Adi dan Indri pergi periksa ke dokter kandungan, di rumah Adi terjadi kesibukan yang padat. Malam itu di keluarga Adi akan diadakan upacara tingkepan atau tujuh bulanan bayi mereka.
Ada Nita, Yu Sih, Bu Sarmi dan Narsih yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bu Sarmi di antar Wawan tadi setelah Adi dan Indri berangkat ke Dokter Herman.
Narsih sedang memarut kelapa, sementara Yu Sih sibuk menggoreng tahu dan kentang. Nita tampak mengupas kulit bawang merah di bantu Diah yang baru saja datang.
Bu Siti tampak membuat adonan tepung untuk roti kukus. Sementara Bu Sarmi memilah sayur yang akan di buat urap.
Pak Puh Bud yang baru selesai memotong ayam jago segera memberikan ayam yang baru disembelih pada Bu Siti.
"Cuma seekor Ti?", tanya pak Puh Bud sambil memandang adik nya itu.
"Ya itu saja Kang ayamnya, soalnya sisanya kita pakai ayam pedaging. Ayam kampung dagingnya ulet, banyak yang tidak bisa mengunyah", jawab Bu Siti sambil tersenyum.
Jeng Retno yang bisnis jualan ayam potong, masuk ke dapur dan memberikan 4 ekor ayam pedaging yang baru di potong.
"Ini jeng pesenan mu. Gak ada ukuran yang 2,5 kg keatas. Ini cuma 2 kilo lebih sedikit", ujar Jeng Retno sambil membuka tas plastik besar yang baru dia bawa.
"Wes gak papa jeng, yang penting ada buat lauknya", Bu Siti tersenyum simpul.
Kemudian Bu Siti mengolah ayam potong itu menjadi ayam kecap.
Adi terus memacu motornya menuju ke rumah. Di belakang, Indri menggelayut mesra. Sepanjang perjalanan nya Adi tersenyum simpul sambil melirik istrinya yang duduk di belakang.
20 menit kemudian, mereka telah sampai di rumah.
Indri langsung turun dari boncengan, begitu Adi memarkir motornya di teras rumah. Dengan perlahan, perempuan itu masuk rumah dengan di gandeng sang suami.
Melihat kesibukan yang ada di dapur, Indri bermaksud untuk membantu, tapi buru buru dicegah oleh Bu Siti.
"Mau ngapain Nduk?", tanya Bu Siti pada mantunya itu.
"Bantu bantu buk, wong lagi repot begini", jawab Indri yang hendak membantu Ibunya yang mulai memilah beras.
"Gak usah Nduk, kamu duduk saja.Kamu tidak boleh kecapekan, cukup doakan semoga acara hari ini berjalan lancar", ujar Bu Siti sambil tersenyum tipis.
Indri menurut saja. Perutnya yang besar benar benar membuat gerakan nya sangat terbatas.
Siang itu, Wawan datang membawa dua kelapa gading yang masih muda.
"Dapat dari mana mas?", tanya Adi sambil tersenyum. Dia tidak tau dimana tempat mendapatkan kelapa gading itu karena kemarin dia muter-muter di sekeliling desa tapi tak menemukannya.
"Dari rumah Lik Jarno Di, ada disana", ujar Wawan sambil meletakan kelapa gading.
Bu Sarmi segera membawakan pisau kecil untuk Wawan menggambar Kamajaya dan Dewi Ratih pada dua kelapa gading itu. Dengan cekatan, Wawan segera menggambar 2 wayang pada dua kelapa itu segera.
__ADS_1
Yu Sih sibuk membersihkan 7 jenis umbi-umbian yang baru dibawa Nanik dari pasar induk. Ada ketela pohon, ketela rambat, uwi, gembili, suweg, bentul dan mbothe. Itu semua termasuk syarat upacara tingkepan.
Bu Siti yang baru saja selesai mengolah ayam, segera meminta semua orang untuk sarapan pagi bersama.
"Monggo semuanya,
Ayo kita sarapan bareng", ajak Bu Siti pada semua orang yang ada di rumah itu. Mereka menuruti ajakan Bu Siti segera.
"Mas, aku minta tolong ambilkan sayap 2 ya", pinta Indri segera.
"Kuahnya dikit atau banyak yank?", tanya Adi sambil mengambilkan nasi untuk istri nya itu.
"Dikit aja mas. Jangan banyak banyak", jawab Indri segera.
Indri menerima piring makanan dari Adi dengan tersenyum manis. Semenjak kehamilan ini, dia memang sangat manja dengan suaminya.
Melihat jam dinding, Adi segera mempercepat makannya. Sebentar lagi Dhea waktunya pulang.
"Kog buru buru mas?", tanya Indri penasaran melihat Adi menyendok nasi dengan cepat.
"Waktunya putri kecil pulang yank. Aku mau jemput dia", ujar Adi sambil mengelap mulut nya dengan tissue.
Indri langsung tersenyum manis mendengar ucapan Adi. Suaminya itu sangat menyayangi Dhea seperti anak kandungnya sendiri.
Tak berapa lama kemudian Adi sudah kembali dengan Dhea yang asyik menyanyi lagu baru yang diajarkan guru paud nya.
"Eh anak ibu sudah pulang", ujar Indri yang segera di sambut dengan salaman dengan mencium punggung tangan Indri.
Indri tersenyum tipis melihat tingkah Dhea yang bernyanyi sambil menari.
Usai menjemput Dhea, Adi segera menjemput Cinta yang kebetulan bersama dengan Novel, keponakan nya. Walaupun berbeda kelas, mereka pulang bersama.
Sepanjang siang itu keluarga Adi sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti malam. Tak lupa sound sistem untuk persiapan acara juga mulai di tata.
Rio yang mendapat tugas mengantar undangan, segera menjalankan tugas dari Adi.
Setelah adzan isya selesai berkumandang dari mushola Kyai Harun, para tamu undangan segera memenuhi rumah Adi. Tidak banyak, hanya sekitar 30 orang.
Adi segera menyalami mereka saat di pintu masuk rumah nya.
Usai tamu undangan telah masuk semua, segera selamatan tingkepan dikeluarkan dari dalam dapur oleh para orang muda yang ikut datang sebagai undangan.
Ada buceng tujuh buah, dengan satu besar dan enam mengelilingi. Jajan pasar 7 rupa, yang tertata dalam kotak jajan isinya lapis, cucur, onde-onde, weci, nagasari, ireng-ireng dan roti kukus. Keleman atau makanan dari umbi-umbian sebanyak 7 jenis, ada singkong, ketela rambat, uwi, gembili, suweg, bentul dan mbothe yang di kukus.
Ada pula rujak buah, jenang merah putih, kupat, lepet dan urap sayuran. Tak lupa dawet juga ada beserta Ingkung ayam kampung, sambel goreng kentang, tahu goreng, mie goreng dan Sego golong. Tak lupa sego brok sebanyak 3 panci juga melengkapi slametan tingkepan itu.
Karena ini juga merangkap upacara 3 bulanan, maka ada 3 tambahan buceng dan nasi gurih dan ayam sayur yang sudah dipotong sebanyak 1 panci. Semua ini adalah wujud permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar si jabang bayi yang di dalam kandungan bisa sehat, dan sang ibu saat melahirkan nanti lancar tanpa kesulitan apapun.
Mbah Sunar segera membacakan hajat niat kajat dengan bahasa Jawa sesuai adat istiadat kota Patria.
"Nyuwun sewu sedoyo mawon,
__ADS_1
Sampun nglempak anggenipun ngaturi poro pisepah sederek sedoyo Dateng dalemipun mas Adi sak kulowargo, Mas Adi gadah kajat niatipun meniko sekul suci ulam sari caos dumateng Kanjeng Nabi Muhammad sohabat sekawan Abu Bakar, Umar, Usman, Sayidina Ali.
Anggenipun caos meniko pinuju pitung sasi anggenipun Indri Hapsari ngandut pasiyanipun Pangeran, Milo sedoyo dipun pengeti meniko mugi mugi saget slamet sedantenipun, slamet ingkang ngandut, slamet ingkang dipun kandut wiwit dinten meniko ngantos selaminipun angsal paseksen panjenengan sedoyo.
Gangsar aturan, Mas Adi gadah kajat niat malih nggeh meniko buceng Pitu meniko pinongko tetenger anggenipun Indri Hapsari ngandut pasiyanipun Pangeran sampun ngancik Pitung sasi setengah, milo sedoyo dipun pengeti meniko, mugi mugi sageto gangsar anggenipun nglahiraken pasiyanipun Pangeran meniko, LAN mas Adi sekeluarga saget jejek langgeng ayem tentrem wiwit dinten meniko ngantos selaminipun angsal paseksen panjenengan sedoyo...."
Setelah Mbah Sunar membacakan hajat niat secara adat Jawa, Adi kemudian membelah kelapa gading yang sudah digambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Kemudian memberikan pada Indri.
Selanjutnya Kyai Harun memimpin pembacaan ayat kursi 7 kali, surat Al Qadr 7 kali dan sholawat nabi kemudian doa.
Usai doa, para tamu undangan segera menata kertas lebar dengan dilambari daun jati. Mereka kemudian membagi makanan yang tersedia.
Adi segera mengambil rokok yang sudah di buka kemudian diberikan kepada segenap tamu undangan. Tak lupa minuman gelas dibagikan kepada mereka.
Usai pembagian kenduri selamatan tingkepan, semua tamu segera keluar dari rumah Adi dengan menyalami Adi dengan mengucapkan kabulo kajate (terkabulah hajat nya).
Setelah para tamu undangan pulang, Adi beserta Wawan, Bu Sarmi, Bu Siti Narsih dan Indri duduk bersama di ruang tamu. Tak lupa Cinta dan Dhea juga ada.
"Di, bagaimana USG nya? Lancar?", tanya Nita yang baru dari dapur.
"Alhamdulillah mbak, tidak ada masalah. Janin dan ibunya sehat kog", ujar Adi sambil tersenyum.
"Cewek apa cowok Di?", tanya Nita penasaran.
"Cowok cowok mbak", sahut Indri sambil melirik ke arah Adi.
"Maksud nya Ndri?", Nita sedikit bingung dengan jawaban Indri.
"Iya cowok cowok mbak, soalnya kembar", jawab Indri sambil tersenyum simpul.
Haaaaaaaahhhh??!!
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf jika lama update nya ya 🙏🙏
Author sedang sibuk bekerja nih, mohon di maklumi ya kak 🙏🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁